Heart's Owner

Heart's Owner
Kangen



Sudah hampir dua Minggu, Jonathan bekerja seorang diri, sampai ada perubahan tim. Kini dia satu tim dengan Beni.


"Nah Jo, sekarang kau ada rekan kerja, jadi jangan mengeluh tidak ada partner lagi ya!" kata Rita saat mereka selesai briefing.


"Iya sih Mbak, tapi aku penasaran saja, kok Kezia menghilang, apa dia sudah resign ya, tapi kan komisi yang waktu itu belum cair!" gumam Jonathan menduga-duga.


"Penasaran apa kangen!" colek Beni meledek.


"Sudah deh Jo, kau kerja saja yang rajin ya, cari customer sebanyak-banyaknya supaya kau punya tabungan!" sahut Rita sambil melangkah meninggalkan mereka.


Jonathan nampak lebih pendiam dari pada yang lalu, entah mengapa.


Pada saat jam istirahat, mereka makan di kedai milik Rosi yang kini sudah lebih mirip seperti cafe, karena di sana sudah tersedia berbagai menu makanan.


"Mau makan apa Bang Jo dan Mas Beni?" tanya Rosi ramah, sekarang Rosi memiliki seorang asisten untuk membantunya.


"Aku mau Ayam bakar Mbak, kau mau apa Ben?" tanya Jonathan sambil melirik Beni.


"Sama saja lah, ayam bakar!" sahut Beni.


"Minumnya apa nih?" tanya Rosi lagi.


"Aku mau kopi dingin, dan air putih, kau mau minum apa Ben?" Jonathan mencolek Beni yang asyik memainkan ponselnya.


"Sama saja deh Jo!" sahut Beni tanpa menoleh.


Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka pun sudah terhidang di meja.


Merekapun mulai makan dengan lahapnya.


"Jo, kau sudah closing belum?" tanya Beni.


"Sudah Ben, waktu aku pameran bareng Kezia, ada seorang pengusaha yang langsung membeli rumah itu dengan cash!" jawab Jonathan.


"Wah, mantap betul Jo, aku saja sudah beberapa kali pameran dan promosi masih belum ada yang closing!" ungkap Beni.


"Sabar Bro, kita kan baru jadi marketing di sini, kesempatan akan selalu ada!" hibur Jonathan.


Drrrt .... Drrt .... Drrrt ...


Ponsel Jonathan bergetar di atas meja, sekilas Jonathan melihat Ratna yang meneleponnya. Namun dia hanya mengabaikannya saja, suara dering ponselnya di silent.


"Lho, kok tidak di angkat Jo, itu kan pacarmu yang di Medan bukan?" tanya Beni sambil menoleh ke ponsel Jonathan yang masih menyala, ada gambar seorang wanita yang menelepon Jonathan.


"Iya Ben, itu Ratna, aku bingung mau bicara apa lagi sama Ratna, dia meneleponku sudah seperti minum obat saja, pagi siang sore malam!" ujar Jonathan.


"Hah?! Serius Jo! Si Ratna cinta banget dong sama kamu!" cetus Beni.


"Cinta sih cinta Ben, tapi masa setiap detil hidupku di tanyakan olehnya, dia memang baik dan perhatian, tapi entah mengapa aku tidak bisa mengimbanginya!" keluh Jonathan.


"Hmm, jangan-jangan kau sudah pindah ke lain hati Jo!" tebak Beni sambil terus menikmati santapannya.


"Dari dulu memang seperti itu Ben, dari sejak aku di Medan, Ratna selalu perhatian berlebihan padaku, kadang aku risih juga sih terlalu di perhatikan!" sahut Jonathan.


"Kasihan si Ratna Jo, sebenarnya kau cinta tidak sih sama dia, kok bisa pacaran tapi cuek gitu, bingung aku!" cetus Beni.


"Ah, entahlah Ben, aku tidak tau cinta itu seperti apa, selama ini mungkin aku hanya di cintai, hanya menerima, tanpa tau bagaimana rasanya jatuh cinta!" jelas Jonathan. Beni hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah selesai makan, mereka langsung kembali ke kantor untuk menyelesaikan target proyek.


Sebelum naik ke atas, Jonathan mendekat ke meja resepsionis.


"Eh Bang Jo, sorry bang, privasi, gak bisa kasih tau sembarang orang!" sahut Lusi.


"Huh! Kayak orang penting saja! Masa cuma nomor ponsel marketing di rahasiakan sih!" sungut Jonathan sambil berlalu meninggalkan meja resepsionis.


****


Sementara itu, Kezia yang sedang mengejar ketinggalan mata kuliah terpaksa harus pulang sore setiap hari, karena banyak sekali tugas yang harus dia kerjakan, di tambah lagi dengan tugas skripsinya yang belum sempat di sentuhnya, membuat kepala gadis itu pusing tujuh keliling.


"Kalau kesusahan tidak usah di paksa Kezia!" kata Erin sore itu sepulang kuliah, kebetulan sore itu mereka ada jadwal kelas yang sama.


"Papaku akan marah kalau aku tidak bisa menyelesaikan tugas dan skripsi ku!" jawab Kezia.


"Masa marah sih, Om Ricky kan baik, Papa idaman gitu lho!" goda Erin.


"Idaman dalam hal apa dulu? Kalau dalam hal kuliah tetap saja killer!" sungut Kezia.


"Bagaimana dalam hal jodoh??" tanya Erin.


"Hmm, no komen deh, Papaku selektif banget kalau sama teman cowokku, waktu itu saja si Robby pernah di ketusin habis-habisan!" jawab Kezia.


Merekapun segera naik ke mobil Kezia, hendak pulang bareng.


"Rin, nanti mampir sebentar ke kantor Papaku ya, ada urusan!" kata Kezia sambil mulai mengendarai mobil mewahnya.


"Ada urusan atau ada yang mau di lihat!" goda Erin.


"Ah, dua-duanya lah, kangen juga sama Bang Jo, sudah lama tidak lihat wajah galak nya itu!" gumam Kezia.


"Nah kan, ketauan deh!" cetus Erin tertawa.


Sementara itu, sepulang dari kantor, Jonathan berencana menunggu Ricky di pintu lobby kantornya, karena hanya pintu lobby besar itu akses keluar masuk gedung tempat Jonathan bekerja.


Dia hendak menanyakan Kezia yang tiba-tiba menghilang pada Ricky, karena tidak ada satupun orang yang bisa dia tanyai.


Jonathan berpikir Ricky biasanya terjun langsung menangani marketing, pasti dia juga tau mengapa Kezia undur diri.


Lama Jonathan berdiri mondar mandir menunggu Ricky turun dari ruangannya.


Setelah hampir satu jam menunggu, akhirnya Ricky muncul juga keluar dari lift dan langsung menuju pintu lobby. Jonathan pun mencegatnya.


"Selamat sore Pak Ricky!" sapa Jonathan.


Ricky berhenti dan memandang heran pada pria yang berdiri di hadapannya itu.


"Lho, kamu bukannya si Jonathan yang marketing itu? Bukannya para marketing sedang ada tugas luar ya?" tanya Ricky sambil menatap tajam ke arah Jonathan.


"Iya Pak, saya sudah ijin sama Mbak Rita! Saya mau ketemu bapak!" kata Jonathan.


"Ada apa kau mau bertemu dengan saya?" tanya Ricky.


"Begini pak, biasanya saat interview marketing selalu di tangani langsung oleh bapak!"


"Lalu?"


"Ini Kezia sudah tidak masuk dua Minggu mengapa Bapak biarkan? Kenapa sebagai pimpinan tertinggi bapak tidak cari tau keadaan Kezia karyawan bapak? Siapa tau dia sakit atau apa! Kenapa semua orang kelihatan cuek? Kalau Bapak sibuk, berikan saya nomor ponselnya, supaya saya bisa menanyakan keadaannya!" ucap Jonathan lugas dan jelas.


Ricky tertegun mendengar perkataan Jonathan yang begitu berani itu, sambil menggaruk kepalanya yang dirasa tidak gatal.


****