
Undangan pernikahan Jonathan dan Kezia sudah di cetak, bukan hanya di cetak secara fisik, bahkan Ricky sudah membuat undangan online untuk para koleganya yang ada di luar negri.
"Apa kau tidak punya saudara atau kerabat yang lain Jo? Ibu lihat sedikit sekali undangan yang kau sebarkan!" kata Lika.
"Semua teman-temanku sudah aku kasih Bu, hanya saudara yang dari Medan belum!" sahut Jonathan.
"Kalau begitu kita akan berangkat ke Medan besok, hari Jumat sore, jadi Minggu sore kita sudah balik Jakarta!" ujar Ricky yang tiba-tiba muncul dari lantai atas.
"Papa serius mau ke Medan?" tanya Jonathan terkesiap.
"Ya seriuslah, Papa mana pernah main-main!" sahut Ricky.
"Iya deh Pa!" ucap Jonathan akhirnya.
Setelah masalah undangan selesai, sore itu Jonathan pamit pulang ke apartemennya, ada beberapa undangan yang Jonathan bawa, bermaksud memberikannya untuk Andri dan Beni.
"Gimana kabar Mbak Ratna Bang?" tanya Kezia saat mengantar Jonathan ke parkiran mobilnya.
"Kata Beni, Ratna sudah kembali ke Medan kemarin sore, mungkin Beni sudah berhasil meyakinkan Ratna untuk pulang!" jawab Jonathan.
"Syukur deh Bang, semoga saja Beni bisa serius dengan Mbak Ratna, kasihan Mbak Ratna, dia butuh ada orang yang mendampinginya!" ucap Ratna.
"Waktu itu Bang Jo kasih Ratna uang buat pegangan dia, karena dia cuma bantu-bantu di cafe Mbak Rosi, mana tau di butuh uang, Kezia tidak keberatan kan?" tanya Jonathan.
"Ya Ampun Bang Jo, aku malah senang kali Bang, punya calon suami yang dermawan dan murah hati, pantas saja rejeki Bang Jo bagus, karena Bang Jo tidak sungkan untuk berbagi!" jawab Kezia.
"Kezia bisa saja!" sahut Jonathan tersipu.
"Betul Bang, waktu itu saja Bang Jo kasih Mas Andri dan Mbak Rosi modal untuk memugar cafenya yang terbakar, pakai uang hasil jerih lelah bang Jo! Aku bangga sama Abang!" Kezia kembali memeluk Jonathan.
"Sudahlah Zia, rejeki Abang kalau bukan karena dukungan keluarga Kezia juga tidak akan seperti sekarang ini, Abang menjual banyak rumah kan hanya demi mendapatkan Kezia!" ucap Jonathan sambil mencium pipi Kezia.
Kemudian Jonathan langsung masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya keluar dari rumah besar Kezia.
Jonathan langsung menuju ke cafe Rosi.
Cafe itu terlihat agak sepi, mungkin karena suasana hampir magrib.
Jonathan langsung bergegas menemui Rosi yang sedang duduk di cafe sambil membaca buku.
"Halo Mbak Rosi, sendirian saja nih!" sapa Jonathan yang langsung duduk di hadapan Rosi.
"Eh, ada Bang Jo, minum apa Bang?" tanya Rosi.
"Biasa, kopi susu dingin!" sahut Jonathan.
Tosi memanggil pelayan dan menyuruh untuk membuatkan pesanan Jonathan.
"Sebentar lagi juga Andri datang!" kata Rosi.
"Ini Mbak, aku kasih undangan, datang ya!" Jonathan mengeluarkan sebuah undangan lalu menyodorkannya ke arah Rosi.
"Waah, akhirnya kau jadi menikah juga dengan Kezia Jo! Undangannya mana mewah begini! Pasti nih banyak orang penting yang datang!" cetus Rosi.
"Mbak Rosi bisa saja!" sahut Jonathan.
Tak lama Andri muncul dari pintu cafe, melihat ada Jonathan dia langsung duduk bergabung di meja itu.
"Apa kabar Jo, aku senang akhirnya kau bisa menikah juga dengan Kezia, ujian mu untuk mendapatkan Kezia lulus Jo!" seru Andri.
"Pokoknya kalian harus datang, siapa lagi temanku di Jakarta kalau bukan kalian semua!" kata Jonathan.
Jonathan merogoh ponselnya, berniat akan menelepon Beni untuk mengajaknya kumpul di cafe Rosi.
"Halo Ben, aku tunggu kau di cafe Rosi, aku mau memberikan undangan untukmu!" ujar Jonathan.
"Oke Jo, kebetulan sebentar lagi aku lewat cafe, nanti aku mampir!" sahut Beni.
Tak lama kemudian ponsel Jonathan pun di matikan.
"Bang Jo sekalian makan ya, ini sudah mau malam lho!" tawar Rosi yang sudah kembali dari belakang.
"Iya Mbak boleh, sekalian nanti sama Beni, paling sebentar lagi dia sampai!" sahut Jonathan.
"Ya sudah, aku siapkan sekarang ya, Ayam bakar langganan kan?" tanya Rosi. Jonathan menganggukan kepalanya.
Jonathan melanjutkan obrolannya dengan Andri, karena mereka sudah lama tidak bertemu, apalagi semenjak Andri pindah ke rumah baru.
Tak lama muncul Beni dari arah luar dan langsung duduk bergabung dengan mereka.
"Cepat sekali kau sampai Ben!" ujar Jonathan.
"Aku memang kebetulan lewat jalan ini, kau sudah pesan makanan Jo?" tanya Beni.
"Sudah Ben, Ayam bakar favorit kita, Mbak Rosi lagi siapin tuh!" sahut Jonathan.
Jonathan lalu menyodorkan undangan pernikahannya ke arah Beni.
"Datang ya Ben!" ujar Jonathan.
"Wah, aku beneran tidak menyangka, kau akan menjadi menantu Pemilik perusahaan properti terbesar se Asia Jo! Kau hebat!!" seru Beni sambil menepuk bahu Jonathan.
"Sudahlah! Kalian jangan terlalu banyak menyanjungku! Nanti aku jadi lupa diri!" sahut Jonathan.
"Pasti kau akan bulan madu ke Paris, atau ke Turki, atau ke Jepang! Pasti mertuamu akan memberikan banyak fasilitas untukmu! Aku jadi iri Jo!" ujar Beni.
"Sudah! Dari pada kau iri, lebih baik kau fokus mencari jodoh, sudah dapat belum?" tanya Andri. Tiba-tiba Beni terdiam, raut wajahnya berubah.
"Ada apa Ben? Sorry kalau aku ceplas-ceplos ya!" lanjut Andri.
"Ben, kulihat kau lumayan dekat dengan Ratna, bagaimana perkembangannya?" tanya Jonathan.
Ayam bakar pesanan Jonathan sudah di antar oleh pelayan, mereka kini mulai menyantap makan malam mereka.
"Ratna masih tertutup padaku Jo, padahal aku sedikit mulai teetarik padanya, aku berempati padanya, tapi di dalam hatinya masih ada dirimu Jo!" ungkap Beni.
"Lho, bukannya Ratna kembali pulang ke Medan karena dirimu Ben?" tanya Jonathan.
"Bukan Jo, dia pulang ke Medan karena mendengarkan perkataan mu sebelumnya, dia masih cinta mati sama kamu Jo!" cetus Beni.
Jonathan yang kini terdiam mendengarkan perkataan Beni, tak tau lagi bagaimana caranya membuat Ratna move on dari dia.
****