Heart's Owner

Heart's Owner
Kedatangan Mario



Pagi-pagi sebelum ke kantor, Jonathan mampir ke cafe Rosi yang saat itu baru buka, sekedar untuk mengisi perutnya yang kosong karena belum sarapan.


Kebetulan di situ ada Andri, yang juga nampak sedang sarapan di cafe istrinya itu.


"Eh Jo, kemana saja kau, belakangan jarang kelihatan!" sapa Andri.


Jonathan tersenyum lalu duduk di depan Andri. Seorang pelayan langsung mengantarkan menu sarapan untuk Jonathan.


"Maklum Ndri, lagi ngejar proyek meluluhkan calon mertua hehe!" sahut Jonathan cengengesan.


"Wah, kau ini Jo, percaya diri sekali, tapi aku salut padamu Jo, aku dukung perjuangan cintamu!" ujar Andri sambil menepuk bahu Jonathan.


"Thanks Bro, Oya, aku mau nitip transfer bisa Ndri? Aku sudah mengajukan rekening baru tapi belum jadi!" kata Jonathan.


"Bisa lah Jo, kau mau transfer kemana?" tanya Andri.


"Ke Medan, mau bayar cicilan hutang terakhir!" jawab Jonathan.


"Lho, hutang mu sudah mau lunas Jo? Cepat juga kau melunasi hutang!" ujar Andri.


"Entahlah Ndri, aku juga bingung kok hutangku cepat lunas, tapi sudahlah, yang penting setelah ini aku akan menabung, supaya bisa cepat melamar Kezia!" ungkap Jonathan.


"Ciyee ... yang udah tak sabar mau menyusulku!" goda Andri.


"Mbak Rosi mana Ndri?" tanya Jonathan.


"Tuh di belakang! Biasa sibuk ngurus karyawan, memangnya kenapa cari Rosi?" tanya Andri balik.


"Mau nitip brosur rumah Ndri, aku ada target 100 unit rumah bulan ini terjual, itu syarat yang di berikan pak Ricky untukku kalau aku mau jadi menantunya!" sahut Jonathan. Andri tertawa.


"Jo ... Jo ... aku belum pernah mendengar ada marketing yang bisa menjual 100 unit rumah dalam sebulan! Tapi aku tetap mendukungmu kok!" kata Andri.


"Makanya aku mau kerja lembur Ndri, sebarin brosur di seluruh kota Jakarta, di media sosial, masa iya tidak mencapai target!" ujar Jonathan sambil mengunyah makanannya.


"Pak Ricky itu pintar Jo, coba kau hitung, kalau komisi rumah kau dapat 20 juta saja satu rumah, kalikan seratus rumah, kau punya 1 milyar komisi, pak Ricky tentu tidak keberatan karena kau sudah memegang uang 1 M di tanganmu!" jelas Jonathan.


"Hmm, apapun itu pokoknya aku akan terus berusaha! Sudah Ndri, aku jalan dulu ke kantor ya! Nanti sore aku baru kasih uang untuk di transfer ke Medan!" Jonathan lalu beranjak dari duduknya dan mulai mengendarai motornya yang di parkir di depan cafe itu.


Setelah Jonathan memarkirkan motornya di parkiran, dia bergegas masuk ke dalam lobby kantor itu dengan penuh semangat.


"Bang Jo!" panggil Lusi dari meja resepsionis. Jonathan menoleh ke arah Lusi.


"Ada apa Mbak Lusi?" tanya Jonathan.


"Ada yang menunggumu di lantai dua, di ruangan direksi!" kata Lusi.


"Siapa yang menungguku pagi-pagi begini?" gumam Jonathan.


"Sudah, kau temui saja Bang!" kata Lusi.


Jonathan langsung bergegas naik menuju lantai dua ke ruang direksi.


Ruangan itu nampak sepi, Jonathan perlahan membuka pintu ruangan itu, seorang laki-laki sudah duduk di sebuah kursi dengan menghadap komputer di hadapannya.


Melihat kedatangan Jonathan, laki-laki gagah dan tampan itu langsung berdiri dan menjabat tangan Jonathan.


"Hai Jo! Apa kabar Jo!" sapa laki-laki itu. Jonathan terperangah.


"Pak Mario?? Kapan sampai di Jakarta??" tanya Jonathan.


"Duduk dulu lah Jo, kita ngobrol dulu sebentar!" sahut Mario. Jonathan lalu duduk di hadapan Mario.


"Jadi kau kesini dalam rangka apa?" tanya Jonathan.


"Aku baru tiba kemarin sore, Pak Ricky tiba-tiba menyuruhku datang, katanya aku harus mentraining para marketing di sini, tentu saja aku senang, apalagi aku akan bertemu dengan putrinya Pak Ricky!" jelas Mario.


Tiba-tiba wajah Jonathan berubah mendung, dia tidak mungkin mengatakan pada Mario kalau Kezia adalah pacarnya, itu sama saja melanggar perjanjian, Karena sebelum syarat terpenuhi, Jonathan di larang keras ngaku-ngaku kalau dia calon menantunya Pak Ricky.


"Eh, tidak, kalau begitu aku permisi keluar dulu, ada yang mau aku kerjakan!" ujar Jonathan sambil beranjak pergi dari ruangan itu. Mario menatapnya dengan tatapan heran.


Jonathan langsung berjalan menuju ke pantry, dia mulai membuatkan susu hangat seperti yang sudah di sepakati sebelumnya.


Setelah selesai, Jonathan langsung menuju ke ruangan Pak Ricky di lantai lima, Pak Ricky terlihat baru datang ke ruangannya. Dia tersenyum melihat kedatangan Jonathan.


"Wah, ternyata kau rajin juga marketing!" ujar Ricky sambil mulai duduk di kursi kebesarannya.


Jonathan lalu meletakan segelas susu hangat itu di meja kerja Ricky.


"Nah, sekarang kau mulai pijitin punggung ku!" titah Ricky.


"Baik Pak!" sahut Jonathan patuh.


Lalu dia segera berdiri di belakang Ricky dan mulai memijiti bahu dan punggung Ricky.


"Pijatan mu enak juga marketing!" puji Ricky.


"Pak, kenapa Bapak menyuruh Pak Mario datang kesini? Bapak sengaja ya mau panas-panasin saya?" tanya Jonathan.


"Lho, dia itu kan memang di perlukan di sini, selain menyandang gelar top marketing di Singapore, dia juga pemilik saham di perusahaan ku di Singapore!" jelas Ricky.


"Tapi dia bilang bapak akan perkenalkan putri bapak padanya! Kan Pak Ricky tau kalau saya pacar anak bapak!" protes Jonathan.


"Sudahlah! Kalian bersaing saja secara sehat, tunjukan kemampuanmu di depannya, anggap saja dia saingan mu! Supaya kau lebih semangat!" sahut Ricky.


"Bapak curang!" dengus Jonathan, tangannya terus memijiti punggung Ricky hingga Ricky nyaris ketiduran.


Jonathan terus memijiti punggung Ricky hingga tangannya pegal.


"Pak! Ini sudah setengah jam lho saya pijitin Bapak, saya balik Pak! Nanti Mbak Rita marah-marah sama saya, belakangan dia sering marah-marah Pak!" Ricky kaget dan langsung membuka matanya.


"Ya ampun! Kok aku jadi ketiduran, padahal aku mau meeting sama Mario ini!" ujar Ricky.


"Kalau begitu saya boleh keluar ya pak!" kata Jonathan.


"Oke! Kau keluarlah!" sahut Ricky.


Jonathan segera beranjak ke arah pintu keluar.


"Marketing!" Panggil Ricky. Jonathan menoleh.


"Trima kasih ya!" ucap Pak Ricky.


Jonathan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera keluar meninggalkan ruangan itu.


Jonathan terus berjalan ke arah lift untuk turun ke lantai dua menuju ruang briefing.


Saat Jonathan sudah di lantai dua, dia melewati ruang direksi yang ada Mario di dalamnya, matanya menoleh ke arah pintu kaca.


Jonathan terkejut saat melihat Mario tengah mengobrol dengan seseorang, dan seseorang itu ternyata adalah Kezia. Mereka nampak akrab.


Tiba-tiba dada Jonathan bergemuruh dengan sangat cepat.


"Hei! Kau ngapain berdiri di situ??" tanya Rita yang tiba-tiba datang sambil menepuk bahu Jonathan. Jonathan kaget.


"Eh, Mbak Rita, tidak kok, aku cuma lewat!" sahut Jonathan gugup.


"Itu tamunya Pak Ricky dari Singapore kan, dengar-dengar dia akan di jodohkan dengan putrinya pak Ricky lho, kau lihat kan tadi, mereka kelihatan serasi!" kata Rita.


Dada Jonathan semakin panas.


*****