
Pagi itu di kantor, seperti biasa Jonathan datang lebih pagi dari yang lain, berhubung kos nya sangat dekat dengan kantornya.
Seperti biasa, para marketing mengadakan briefing sebelum mulai bekerja, apalagi Jonathan akan membagikan materi pada teman-temannya pasca kepulangannya dari Singapore.
Setelah semua marketing berkumpul, Jonathan mulai maju kedepan untuk memberikan materi pelatihan yang akan di terapkan oleh para marketing nantinya.
Dia di dampingi oleh Rita, selaku manager marketing.
Tanpa di ketahui oleh siapapun, Pak Ricky mengamatinya dari balik pintu kaca.
Setelah briefing, para marketing mulai bertugas dengan timnya masing-masing.
"Kau hebat Jo, marketing baru sudah bisa memberikan penyuluhan untuk teman-teman yang lain!" puji Rita sambil menepuk bahu Jonathan.
"Ah, Mbak Rita bisa saja!" sahut Jonathan tersipu.
"Boleh dong nanti siang kita ngopi bareng di cafe sebrang sana!" ajak Rita.
"Ya boleh saja sih Mbak, nanti ku ajak si Beni!" sahut Jonathan.
"Jangan ajak Beni lah, kita saja berdua, ada yang mau aku obrolin juga Jo!" kata Rita.
"Oke deh Mbak, eh, ngomong-ngomong biasanya Pak Ricky itu suka minum apa ya, kopi, teh atau susu?" tanya Jonathan.
"Lho, tumben kau tanya kesukaan minuman Pak Ricky? Mau nyogok naik gaji ya?" tanya Rita balik.
"Bukan Mbak, ini lebih penting dari sekedar naik gaji, ini menyangkut tentang masa depanku!" sahut Jonathan.
Rita mengerutkan keningnya bingung.
"Masa depan? Ah, kau ini buat bingung saja Jo! Pak Ricky itu biasanya suka susu hangat, karena dia kebiasaan suka di buatin susu hangat sama istrinya!" jawab Rita.
"Oooh, oke deh!" sahut Jonathan yang langsung berlalu dari tempat itu.
Jonathan lalu menuju ke pantry dan mulai membuatkan susu hangat untuk Ricky.
Setelah susu hangatnya jadi, dia langsung menuju ke lantai lima, ruangan khusus Ricky.
Jonathan mengintip dari pintu kaca ruangan itu, Ricky masih nampak menatap layar komputernya.
Jonathan lalu segera masuk kedalam ruangan itu.
"Selamat Pagi pak Ricky, ini ada susu hangat untuk Bapak, silahkan di minum Pak, untuk menambah stamina dan daya tahan tubuh!" ucap Jonathan sambil meletakan segelas susu hangat itu di meja Ricky.
"Hei! Sejak kapan kau jadi marketing obat? Sejak kapan juga kau membuatkan aku susu? Kau pikir aku bayi??" sentak Ricky sambil melotot ke arah Jonathan.
"Maaf Pak, bukannya Bapak suka susu hangat ya, kan istri bapak sering membuatkannya untuk Bapak!!' tukas Jonathan.
"Tapi susu hangat buatan istriku lebih enak dari pada buatan mu!" cetus Ricky.
"Coba dulu susu hangat buatan calon menantu Bapak!" sahut Jonathan.
"Kau ini! Keluar kau dari ruanganku!! Pagi-pagi sudah membuatku pusing saja!" hardik Ricky.
"Baik Pak! Silahkan di nikmati susu hangat buatan calon menantu! Doakan juga calon menantu Bapak yang sekarang masih kere nanti akan jadi kaya dan terkenal!" ujar Jonathan.
"Hmm, kau ini percaya diri sekali! Sudah pergi sana! Aku pusing melihat tampangmu! Kezia juga kenapa bisa keblingsut sama orang kayak kamu!! Heran aku!!" sungut Ricky.
Jonathan akhirnya buru-buru keluar karena sudah di usir oleh Ricky.
Setelah Jonathan pergi, Ricky buru-buru meneguk susu hangat yang ada di hadapannya itu.
****
Siang itu, para marketing dan karyawan sedang beristirahat. Rita nampak sedang menunggu Jonathan karena mereka janji mau ke cafe Rosi yang ada di sebrang gedung itu.
Tak lama Jonathan muncul dari lift, dia lalu menghampiri Rita yang masih duduk menunggunya.
"Kau lama sekali Jo!" cetus Rita.
"Maaf Mbak, baru selesai membuat desain brosur aku!" jawab Jonathan.
"Ya sudah, jalan yuk!" ajak Rita.
Mereka lalu berjalan kaki menuju ke sebrang gedung, lalu langsung masuk ke cafe Rosi.
"Kau mau makan apa Jo? Hari ini biar aku yang traktir!" tawar Rita.
"Aku mau makan nasi goreng sama kopi susu dingin mbak!" sahut Jonathan yang memang sedang lapar itu.
"Jo, kapan-kapan aku di ajak dong ke kos an kamu!" ujar Rita.
"Ngapain Mbak?" tanya Jonathan.
"Ya main saja, biar lebih kenal!" sahut Rita.
"Lah, kan kita sudah kenal! Mbak Rita ini lucu suka melawak ya!" kata Jonathan.
"Maksudnya kenal dekat gitu, gimana sih kamu Jo, tidak peka sama sekali!" sungut Rita.
Drrt ... Drrt ... Drrrt
Suara ponsel Jonathan bergetar. Buru-buru dia mengusap layar ponselnya setelah tau Kezia yang meneleponnya.
Jonathan berdiri dan menjauh dari Rita.
"Halo sayang, kau baik-baik saja kan?" tanya Jonathan cemas.
"Bang Jo!! Ngapain makan berdua sama Mbak Rita!!" berang Kezia. Jonathan bingung.
"Lho, kok Kezia tau bang Jo lagi makan sama Mbak Rita?" tanya Jonathan.
"Ya tau lah, aku kan lagi ada di depan cafe Mbak Rosi!" jawab Kezia. Jonathan terkesiap.
"Ya ampun Zia, bilang dong kalau mau kesini, ya sudah, bang Jo ke depan deh!" Jonathan langsung mematikan ponselnya dan bergegas jalan ke depan cafe.
Kezia masih berada di dalam mobilnya. Dia hanya membuka kaca jendela mobilnya itu.
"Bang Jo, aku di larang Papa ketemu sama Bang Jo, jadi aku tidak bisa lama-lama!" kata Kezia.
"Yah, bang Jo jadi sedih Zia, pupus sudah harapan Abang untuk melamar Kezia, padahal tadi pagi Bang Jo sudah membuatkan Pak Ricky susu hangat, tapi dia malah mengusir Abang!" keluh Jonathan dengan wajah sendu.
"Bang Jo gimana sih, katanya mau tetap perjuangkan aku, dan satu lagi, aku tidak suka ya Bang Jo makan bareng sama Mbak Rita, tidak pantas!!" cetus Kezia.
"Tidak pantas kenapa?" tanya Jonathan.
"Tidak pantas karena Bang Jo sudah ada yang punya!" cetus Kezia.
"Kezia jangan khawatir, Bang Jo akan berjuang untuk mendapatkan hati Papa Kezia, walaupun dia seribu kali akan mengusir Abang!" jelas Jonathan.
"Nah gitu dong! Baru pacar yang baik!" puji Kezia sambil mencubit pipi Jonathan.
"Oya, jangan lagi bang Jo makan berdua sama cewek selain aku!" tambah Kezia.
"Oke, nanti aku akan bilang sama Mbak Rita, jangan ajak aku lagi, karena pacar aku marah!" ujar Jonathan.
"Bagus, aku tau dari dulu Mbak Rita ngincer Bang Jo, hati-hati bang!" kata Kezia.
"Bang Jo senang di cemburuin sama Kezia, itu tandanya Kezia sayang sama Bang Jo!" sahut Jonathan berbinar.
"Sementara kita jaga jarak dulu ya Bang!" ucap Kezia.
"Iya sayang, sementara, sambil Abang bisa menunjukan prestasi Abang di depan Papa Kezia!" Jonathan mulai mengecup pipi Kezia.
"Bang Jo yang sabar ya!" lirih Kezia.
"Iya sayang, Bang Jo akan sabar kok! Gantian Abangnya di cium dong!" Jonathan menyodorkan wajahnya.
Kezia lalu mengecup pipi dan bibir Jonathan sekilas.
"Wajah ini, cuma aku yang berhak menciumnya ya Bang, jangan pernah berikan pada siapapun!" ucap Kezia.
"Iya sayang, cuma milik Kezia!" Jonathan kemudian mengecup jemari Kezia yang sudah tersemat cincin itu.
Kemudian setelah itu, Kezia segera melajukan mobilnya meninggalkan Jonathan.
Jonathan kembali masuk ke cafe, Rita nampak cemberut menatapnya.
"Lama banget ngapain sih!!" tanya Rita.
"Maaf Mbak, aku makan di kantor saja, karena pacarku cemburu kalau aku makan sama Mbak Rita!" jawab Jonathan.
Rita langsung membulatkan matanya mendengar ucapan dari jonathan.
****