Heart's Owner

Heart's Owner
Kemarahan Keluarga Ratna



Om Purba dan Tante Purba terkesiap mendengar pernyataan Jonathan. Termasuk Ratna.


Mata mereka menyorot tajam ke arah Jonathan.


"Berani sekali kau bicara seperti itu, mentang-mentang kau sudah bekerja di Jakarta kau jadi sombong Jo!!" sentak Om Purba.


"Maaf Om, aku bukan sombong, aku juga baru tau kalau Mama punya hutang dengan Om dan Tante, kenapa kalian tidak mengatakan sejak awal?" tanya Jonathan.


"Hei Jo, seharusnya kau berterimakasih pada kami, dari kecil Mama mu Morat marit cari uang kesana kesini, sementara dengan enaknya kau di titipkan di sini, kalau bukan karena supaya Ratna ada teman main, mana sudi aku mengurus anak orang!" cetus Tante Purba.


"Kalau begitu, ambil saja rumah peninggalan Mama untuk melunasi hutang, toh aku juga tidak tinggal lagi di rumah itu!" cetus Jonathan.


Om Purba dan Tante Purba langsung tertawa serempak.


"Jo ... Jo ... kau pikir rumah yang kalian tempati itu rumah kalian?? Itu juga adalah rumah hasil belas kasihan kami, Mamamu itu mana punya rumah, seharusnya kalian membayar sewa pada kami!" jelas Tante Purba.


Jonathan tertegun mendengar ucapan Tante Purba.


"Kalau memang Mamaku berhutang dan sampai hari ini belum lunas, kasih aku waktu untuk melunasinya, supaya Mama juga tenang di alam sana!" ujar Jonathan.


"Bukan hanya hutang uang, kau juga hutang Budi pada kami!!" cetus Tante Purba lagi.


"Berapa harga hutang Budi yang harus aku bayar?" tanya Jonathan.


"Sombong kali anak ini!!" sengit Om Purba.


"Cukup!!" tiba-tiba Ratna berdiri dari tempat duduknya.


"Hei Ratna sayang, kenapa anakku?" tanya Tante Purba sambil mendekati Ratna.


"Biarkan Bang Jo pergi, aku menolak perjodohan ini, Bapak dan Mamak tidak perlu lagi memikirkan aku mau berjodoh dengan siapa!!" Ratna langsung lari sambil menangis dan masuk ke kamarnya.


"Kau lihat itu Jo!! Kau sudah menyakiti hati anakku!! Aku tak Sudi memaafkanmu, sekarang kau pergi saja!! Jangan lupa secepatnya hutang Mamamu di lunasi, berikut bunganya!!" seru Om Purba sambil berdiri dan menunjuk pintu keluar.


Jonathan dan Binsar langsung beranjak dari tempatnya.


"Ingat Jo!! Kau masih punya waktu untuk berpikir!! Ratna itu paling cantik di kampung ini, harus nya kau itu bersyukur!! Banyak pemuda yang berniat melamarnya, bahkan mereka jauh lebih kaya darimu!!" seru Tante Purba.


"Maaf Tante, cinta dan uang itu dua hal yang berbeda, Tante jangan menganggap semuanya bisa beres karena uang, Tante salah besar!!" ujar Jonathan yang langsung keluar dari rumah itu.


"Kurang ajar kau Jo!! Awas saja kalau hutangmu tak lunas, aku tuntut kau biar di penjara!!" teriak Om Purba.


Tanpa menoleh lagi, Binsar dan Jonathan langsung melajukan motornya meninggalkan rumah keluarga Ratna dengan cacian dan sumpah serapah dari mulut mereka.


"Kau berani sekali Jo!" kata Binsar.


"Paling tidak hatiku sedikit lebih tenang!" sahut Jonathan.


"Besok jam berapa kau berangkat?" tanya Binsar.


"Jam 7 pagi Bang!" sahut Jonathan.


"Aku antar kau ke bandara naik motor ya, cuma agak pegal dikit, tapi lebih hemat Jo!" tawar Binsar.


"Trima kasih Bang!" sahut Jonathan.


****


Jonathan merebahkan diri di tempat tidurnya, matanya belum bisa terpejam, suasana di sekeliling rumah itu sangat sepi dan mencekam, mungkin karena di pedesaan yang jauh dari keramaian.


Jonathan menatap ponselnya. Sudah berapa hari ini dia jarang berkomunikasi dengan Kezia.


Jonathan mulai menekan tombol nomor ponsel Kezia, untuk mengobati sedikit rasa rindunya.


"Halo Bang Jo!" terdengar suara yang dirindukan Jonathan, laki-laki itu tersenyum.


"Halo Zia, belum tidur?" tanya Jonathan.


"Belum lah Bang, baru juga jam 8, masih ramai gini!" sahut Kezia.


"Oh iya, Bang Jo lupa kalau Kezia di Jakarta, di sini dari jam 6 sudah sepi!" kata Jonathan.


"Bang Jo baik-baik saja kan?" tanya Kezia.


"Iya Zia, nanti lah kalau kita sudah ketemu, Bang Jo cerita banyak sama Kezia!" kata Jonathan.


"Zia ..."


"Ya?"


"Tidak kangen sama Bang Jo?" tanya Jonathan. Terdengar Kezia tertawa.


"Dih si Abang, baru juga berapa hari Bang, lebay ah Bang Jo mah!" ujar Kezia.


"Tapi Abang kangen lho, belum pernah kangen sama orang, baru sekali ini tau ternyata kangen itu berat!" kata Jonathan.


"Haha Bang Jo kebanyakan baca novel nih!" seru Kezia.


"Zia, kirimin foto Kezia dong, pengen di pandang sebentar sebelum tidur!" kata Jonathan.


"Tidak mau ah, nanti jadi ..."


"Jadi apa hayoo ... negatif aja deh pikirannya!" sungut Jonathan.


"Udah deh bang, besok juga ketemu, Bang Jo pulang besok kan?" tanya Kezia.


"Iya!"


"Ya sudah, sabar dulu kangennya, udah deh Bang, tuh Papaku dah melotot liat aku telepon kelamaan!" ujar Kezia.


"Oke deh, pengen peluk tapi tidak ada orangnya!" kata Jonathan.


"Peluk guling saja Bang!" ledek Kezia.


"Ah Kezia bisa aja, good night ya ... jangan lupa mimpiin Abang!" ucap Jonathan.


"Oke Bang ... good night!" balas Kezia.


Setelah telepon dengan Kezia, Jonathan langsung tertidur dengan memeluk gulingnya sambil tersenyum.


****


Pagi datang berkunjung, Jonathan sudah mengemasi barangnya dan di masukan ke dalam tas ranselnya, sementara Binsar sudah menunggunya di ruang tamu.


Setelah selesai, mereka langsung keluar dari rumah, Jonathan mengunci pintu rumahnya lalu memberikan kuncinya pada Binsar.


"Aku titip barang peninggalan Mama ya Bang," ujar Jonathan.


"Iya Jo, kau tenang saja!" sahut Binsar.


Dari arah depan rumah, seorang gadis berlari-lari mendapati Jonathan dan Binsar dengan nafas tersengal-sengal.


"Ratna!??" seru Jonathan dan Binsar bersamaan.


"Bang Jo, aku minta maaf atas sikap bapak sama Mamak ya, ini untuk Bang Jo bisa mencicil hutang ke Bapak dan Mamak!" Ratna mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tasnya.


"Ratna, apa ini?" tanya Jonathan.


"Ini uang tabunganku dan perhiasan milikku, Bang Jo jual saja saat sampai di Jakarta, lalu uang nya di transfer ke bapak, aku tau di Jakarta gaji Bang Jo masih UMR, terimalah Bang, supaya Bapak dan Mamak tidak terus memandang rendah Abang!" kata Ratna.


"Maaf Ratna, Abang tidak bisa menerima ini, Ratna simpan saja!" tolak Jonathan sambil mendorong kembali tangan Ratna.


"Tapi Bang ...!"


"Kalau Ratna melakukan ini, sama saja Ratna menambah lagi hutang Abang ke keluarga Ratna, walaupun orang tua Ratna membenci Abang sekarang, tapi Abang selalu menghargai Ratna!" ucap Jonathan.


Air mata Ratna berjatuhan, lalu spontan dia jatuh ke pelukan Jonathan.


"Maafin aku ya Bang ... Maaf, maafin Bapak dan Mamak juga!" isak Ratna.


"Iya Ratna, Abang tidak pernah sedikitpun membenci keluarga Ratna, apalagi Ratna, kalian baik selama ini sama Abang, cuma situasi yang membuat jadi tidak baik, Ratna jangan sedih ya!" ucap Jonathan sambil mengusap punggung Ratna.


"Iya Bang, sampaikan salam aku buat Kezia ya, walau Abang tidak mencintaiku, bolehkan aku menganggap Bang Jo sebagai kakakku? Kakak yang selalu menjaga dan menyayangi adiknya?" tanya Ratna.


"Iya Ratna, sejak dulu Abang selalu menyayangi Ratna dan menganggap Ratna itu adik Abang, yang harus Abang jaga dan lindungi!" ucap Jonathan.


"Trima kasih Bang!"


****