Heart's Owner

Heart's Owner
Jalan-Jalan ke Mall



Dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya, Jonathan datang menghampiri Kezia dan Erin yang sedang duduk di kantin kampus.


"Eh Bang Jo, cepat sampainya Bang, ijin lagi ya sama Mbak Rita?" tanya Kezia saat Jonathan sudah duduk bergabung dengan mereka.


"Kebetulan hari ini tugasku cepat selesai, jadi di perbolehkan pulang cepat!" sahut Jonathan.


"Kezia, Bang Jo, aku ke kelas duluan ya, masih ada tugas yang belum selesai!" kata Erin sambil berdiri dari tempatnya.


"Yah Erin, kok malah pergi?" tanya Kezia.


"Supaya kalian bisa lebih ayik ngobrol nya!" bisik Erin sambil tertawa cekikikan.


Tak lama Erin segera berjalan cepat meninggalkan mereka.


Untuk beberapa saat lamanya Kezia dan Jonathan saling diam dengan kecanggungan masing-masing.


"Sudah beli motor baru Bang?" tanya Kezia sambil melirik ke arah motor Jonathan.


"Iya, sudah DP dari dua Minggu lalu sih, masih ada uang sisa dari daftar kuliah, pas aku gajian dan komisi cair, aku langsung lunasin dan kebetulan surat-suratnya juga sudah keluar, jadi bisa di pakai aman!" sahut Jonathan.


"Bukannya kalau ngurus surat-surat pake KTP Bang?" tanya Kezia.


"Iya Zia, aku pinjam KTP Andri!" jawab Jonathan.


Kezia kembali merasa bersalah, karena telah merusak KTP Jonathan.


"Maafin aku ya bang, gara-gara aku Abang susah ngurus apa-apa!" ucap Kezia menyesal.


"Sudahlah Kezia, yang lalu kau lupakan saja, nanti aku akan cari waktu untuk membuat KTP baru, sekarang kita jalan-jalan saja! Kan surat-suratnya sudah komplit!" sergah Jonathan.


"Asyik dong bisa jalan-jalan!" cetus Kezia.


"Iya!" singkat Jonathan.


Kemudian dia segera membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop coklat dan memberikannya pada Kezia.


"Apa ini Bang?" tanya Kezia.


"Itu uang setengah dari komisi penjualan bulan ini Zia, itu hak kamu!" kata Jonathan.


Kezia mendorong amplop di meja itu ke arah Jonathan lagi.


"Jangan Bang, aku sudah tidak bekerja di kantor itu lagi, uang itu adalah hak Abang!" ucap Kezia.


"Tidak Zia, walau bagaimana kita berdua yang sudah closing hari itu, jadi uang ini adalah milikmu!" tolak Jonathan. Dia kembali memberikan amplop itu ke tangan Kezia.


"Bang Jo, aku masih ada orang tua, kau pasti yang lebih membutuhkan uang itu karena Bang Jo kan merantau ke Jakarta, pakailah uang itu Bang, maka aku akan senang!" Kezia menaruh amplop itu di telapak tangan Jonathan.


"Hmm, apa boleh buat, bagaimana kalau uang ini jadi milik kita berdua saja, jadi kalau kita jalan-jalan atau makan bareng, kita pakai uang ini!" tawar Jonathan.


Untuk menghargai perasaan Jonathan, akhirnya Kezia menganggukan kepalanya.


"Terserah Bang Jo saja deh, tapi uangnya Bang Jo yang pegang ya, pakai saja kalau Abang ada keperluan!" ujar Kezia.


Jonathan menatap Kezia dengan tatapan yang dalam, hingga Kezia menundukkan wajahnya karena tidak tahan melihat wajah Jonathan yang begitu menyihirnya.


"Ternyata kamu baik hati Zia, tadinya ku pikir, kau adalah cewek galak yang menyebalkan, ternyata ... bukan hanya baik, juga cantik ..." gumam Jonathan.


Kezia menggigit bibirnya, tak dapat lagi dia menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.


"Ih, Bang Jo ah!" ucap Kezia malu.


"Hei, wajahmu kenapa merah begitu Zia? Memang benar kok hari ini kamu cantik, pakai dress, wajahnya sedikit di poles, persis kayak mau ketemu pacar!" goda Jonathan.


"Iiih Bang Jo nyebelin!!" sungut Kezia.


"Sorry! Sorry! Kamu makin begitu makin gemesin tau! Habis ini ada kelas tidak? Kita ke Mall yuk, jalan-jalan, nanti malam aku yang traktir deh!" ajak Jonathan.


"Ehm, cie cie yang sudah gajian!" ledek Kezia.


"Tidak apa-apa kan, gajian pertama buat traktir Kezia!" sahut Jonathan.


"Ayo deh Bang kita ke Mall, aku absen kelas saja deh, nanti aku pinjam catatan Sama Erin saja!" ujar Kezia.


"Hmm, nakal!" seru Jonathan.


"Bang Jo yang ajarin nakal!" sahut Kezia.


Mereka pun langsung jalan menuju ke tempat parkir motor.


"Motornya bagus Bang, pinter ih pilihnya!" kata Kezia.


"Sengaja aku pilih yang nyaman buat boncengan, nih pakai helm dulu!" Jonathan menyodorkan helm berwarna pink ke arah Kezia.


"Lah si Abang, kenapa punya helm warna pink segala?" tanya Kezia.


"Sengaja Zia, aku beli dua, satu buatku dan satu lagi buat kamu!" jawab Jonathan.


"Kok Abang yakin banget kalau selalu boncengin aku?" tanya Kezia lagi.


"Sudah deh jangan cerewet! Ayo naik!" ujar Jonathan yang mulai menyalakan motor barunya.


Perlahan Kezia naik ke atas motor Jonathan yang agak tinggi itu, maklum Jonathan membeli motor ninja.


"Kezia, pegangan pinggang aku ya, aku agak ngebut nih!" kata Jonathan.


"Jangan ngebut-ngebut Bang! Mentang-mentang motor baru!" sergah Kezia.


Jonathan hanya menganggukan kepalanya kemudian segera melajukan motornya.


Perlahan Kezia memeluk pinggang Jonathan, ada yang berdesir di dalam tubuhnya, jantungnya berdegup dengan cepat.


Dulu Kezia tidak pernah merasakan perasaan ini walaupun sering berboncengan dengan Robby.


Namun saat dengan Jonathan, Kezia tak kuasa menahan gejolak rasa yang kini tersembunyi dalam hatinya.


Aroma parfum Jonathan yang maskulin seolah menjadi candu baru bagi Kezia, sehingga tanpa sadar, Kezia merebahkan kepalanya di punggung Jonathan.


"Kezia ngantuk?" tanya Jonathan saat Kezia merebahkan kepalanya.


"Makanya pakai jaket Zia! Kasihan kamu kedinginan!" Tiba-tiba Jonathan menghentikan motornya.


Perlahan Jonathan melepas jaket yang di pakainya, kemudian memakaikannya pada Kezia.


"Nanti Bang Jo masuk angin!" kata Kezia.


"Tidak apa-apa, asal jangan Kezia yang masuk angin!" jawab Jonathan.


Kemudian Jonathan kembali melajukan motornya.


Tidak sampai 30 menit mereka sudah sampai di sebuah mall yang cukup besar.


Setelah memarkirkan motornya, Jonathan dan Kezia langsung masuk ke dalam mall tersebut, hawa segar menyejukkan kulit mereka, apalagi mereka habis dari luar yang panas terik naik motor.


"Ah, akhirnya bisa juga merasakan hawa sejuk mall!" gumam Jonathan.


"Bang Jo jarang ke mall ya?" tanya Kezia.


"Iya Zia, dulu di Medan aku tinggal di desa, di dekat gunung, masih jauh ke kota, jadi ya memang jarang ke mall, kecuali saat Ratna ulang tahun, keluarganya mengajak makan di mall!" jelas Jonathan.


Tiba-tiba wajah Kezia berubah mendung saat Jonathan menyebut nama Ratna.


"Bang Jo kangen tidak sama Ratna?" tanya Kezia tiba-tiba.


"Kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?" Jonathan balik bertanya.


"Emangnya tidak boleh Bang!" cetus Kezia cemberut.


"Yah boleh sih, cuma ngapain juga kamu bahas masalah itu!" sahut Jonathan.


Mereka terus berjalan menyusuri sepanjang mall itu, lalu naik ke atas dengan eskalator.


"Lho itu kan si Andri! Sama Mbak Rosi!" Pekik Jonathan sambil menunjuk ke arah Andri dan Rosi yang sedang makan di sebuah restoran.


Mereka langsung menghampiri Andri dan Rosi.


"Hei Andri! Ketauan ya kalian makan sambil mojok begini!" sapa Jonathan mengagetkan Andri dan Rosi.


"Eh kamu Jo, ayo sini gabung!" tawar Andri sambil menggeser posisi duduknya.


"Kalian juga terciduk jalan-jalan berdua!" cetus Rosi.


"Kami baru juga sampai, sekali-kali tidak apa-apa dong kalau jalan-jalan, ngilangin stress!" ujar Jonathan.


"Dulu saja kalian bertengkar, sampai ada adegan lempar uang dan menangis, sekarang kok bisa akur!" ledek Rosi.


"Sudah sayang, jangan godain mereka, nanti mereka tambah malu!" sergah Andri.


"Oya Ndri, jadi kapan nih kalian menikah?" tanya Jonathan.


"Undangannya sudah jadi Jo, nanti aku kasih pas di kos ya, undangan untuk kalian berdua, jangan lupa datang!" jawab Andri.


"Siap! Kami pasti datang!" sahut Kezia bersemangat.


"Oya Jo, kau marketing rumah kan, aku minta dong brosur nya, Pak Gio berencana mau memberikan kami rumah sebagai hadiah untuk pernikahan kami!" kata Andri. Rosi pun Menganggukan kepalanya.


"Pak Gio? Akan memberikan kalian hadiah rumah?? Baik sekali dia, waktu itu dia juga memberikan rumah untuk supir pribadinya!" ujar Jonathan terkesiap.


"Iya, beliau memang baik, makanya tidak heran kalau sukses di usia muda, padahal anak-anaknya masih kecil, bahkan tempo hari istrinya, Mbak Nina baru melahirkan anak bungsu mereka!" tambah Rosi.


"Wah, kalian beruntung sekali, andai pemilik perusahaan tempat aku bekerja seperti pak Gio, pasti aku akan sangat senang, Pak Ricky itu orang nya rada galak dan jutek! Untung gaji dan komisinya besar!" ungkap Jonathan.


Kezia langsung melotot ke arah Jonathan.


"Jadi aku pesan 1 unit rumah darimu ya Jo, supaya kamu juga dapat komisi!" ujar Andri.


"Beres Bro! Asyiik! Aku dapat closingan hari ini tanpa sengaja!" ucap Jonathan senang.


"Pokoknya brosurnya kasih Andri nanti malam ya Jo, aku mau pilih tipe dan modelnya!" tambah Rosi.


"Siap Mbak, kalau gitu kita duluan deh, masih mau jalan-jalan ke tempat lain, kalian teruskan makannya!" pamit Jonathan yang langsung berdiri dari duduknya, di ikuti oleh Kezia.


Merekapun segera berlalu meninggalkan Andri dan Rosi.


Setelah lelah berkeliling, mereka berhenti di sebuah restoran Jepang, Jonathan berniat mengajak Kezia makan di restoran itu.


"Kamu suka masakan Jepang Zia?" tanya Jonathan.


"Jangan di sini Bang Jo, kita cari tempat lain aja yang lebih murah, nanti uang gajimu habis, katanya kau mau kirim uang ke kampung mu?!" tolak Kezia.


"Hmm, sesekali tidak apa Zia, uang untuk di kampung sudah aku sisihkan. Kezia suka makan apa?" tanya Jonathan.


"Kita makan di suka-suka bento saja Bang, di situ lebih hemat dan makanannya pun terjangkau harganya!" usul Kezia.


Akhirnya mereka menuju kesebuah restoran ala Jepang yang namanya familiar di seluruh Indonesia, namun harganya terjangkau, suka-suka bento.


Kezia dan Jonathan duduk di sudut ruangan dengan satu meja dan dua kursi.


Setelah memesan makanan pilihan mereka, tanpa menunggu mereka sudah menyantap dengan lahap pesanan mereka.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ...


Ponsel Jonathan bergetar, sekilas Jonathan melihat Ratna yang meneleponnya.


"Angkat Bang!" kata Kezia.


Jonathan langsung mengusap layar ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo Bang Jo! Besok pagi aku sudah berangkat ke Jakarta! Bapak dan Mamak mengijinkan aku liburan beberapa hari di Jakarta!" Kata Ratna antusias.


Jonathan tertegun sambil memandang ke arah Kezia yang sedang menyantap nikmat makanannya.


****