Heart's Owner

Heart's Owner
Mengantar Ke Bandara



Kezia langsung berjalan cepat keluar kamarnya, di lihatnya Tasya menangis saat Kezia membuka pintu kamar Tasya.


"Tasya maafin kakak ya, tadi maksud Kakak bukannya marahin Tasya!" kata Kezia yang merasa bersalah itu.


"Kak Kezia jahat, masa usir aku dan bentak aku! Aku mau bobo sama ibu saja!" sahut Tasya sambil berlari keluar dan langsung mengetuk pintu kamar ibu dan papanya.


"Tasya jangan!" cegah Kezia.


Namun Tasya semakin keras menangis dan terus mengetuk pintu kamar Ricky.


Tak lama kemudian, Ricky dan Lika keluar dari kamarnya, mereka terlihat heran melihat Tasya yang menangis dan Kezia yang berdiri di belakang Tasya.


"Ada apa ini malam-malam berisik sekali kalian!" hardik Ricky.


"Papa! Kak Kezia jahat, masa tadi aku di usir dan di bentak waktu aku masuk ke kamar Kak Kezia, aku kan tidak bisa tidur!" isak Tasya sambil menyeka air matanya.


Lika langsung memeluk Tasya.


"Kezia! Benar apa yang di katakan adikmu??" tanya Ricky.


"I-iya Pa, tapi aku punya alasan karena Tasya masuk tiba-tiba dan aku jadi reflek menyuruhnya keluar!" sahut Kezia.


"Aku kan cuma mau ikutan main kuda saja kok!" cetus Tasya.


"Main kuda? Sebenarnya apa yang terjadi sih? Papa jadi bingung nih!" ujar Ricky sambil mengerutkan keningnya.


Kezia terdiam tiba-tiba, dia tidak mungkin menceritakan kejadian yang sesungguhnya di depan mereka, bisa malu Kezia.


"Sayang, kau ajak Tasya tidur dulu, biar aku tanya si Kezia, tidak boleh bersikap seperti itu pada adiknya!" titah Ricky.


Lika lalu menggendong Tasya masuk ke kamarnya untuk menidurkannya.


"Ada-ada saja! Besok padahal kami mau berangkat, malah ada keributan di sini!" sungut Ricky.


"Maafkan aku Pa!" ucap Kezia.


Kemudian Jonathan muncul dari pintu kamar nya, dia lalu menghampiri Kezia yang masih berdiri di hadapan Ricky.


"Kalau kau tidak mau jujur, aku akan tanya pada suamimu!" cetus Ricky.


"Jangan Pa!" cegah Kezia.


"Ada apa sih? Papa belum tidur? Besok kan mau berangkat subuh!" kata Jonathan dengan santainya.


"Jo, tadi apa yang terjadi sampai Kezia dan Tasya bertengkar?" tanya Ricky.


"Oh, anu Pa, tadi aku sedang asyik bercinta dengan Kezia, pas sudah di ujung tanduk tiba-tiba Tasya muncul, malah di kira kamu sedang main kuda-kudaan, karena kaget Kezia reflek membentak dan menyuruh Tasya keluar!" jelas Jonathan dengan jujur.


"Kalian ini! Biasakan mengunci pintu kamar di manapun! Jangan main hantam kromo saja, keamanan tidak di perhatikan!" hardik Ricky.


"Maafin aku Pa, Bang Jo kenapa di ceritain semua sih?? Bikin malu saja!" sungut Kezia sambil mencubit pinggang Jonathan.


"Lho, Abang kan cerita apa adanya, memangnya kenapa? Ada yang salah?" tanya Jonathan. Kezia semakin gemas.


"Pokoknya Papa tidak mau dengar lagi ada kejadian seperti tadi, Jo, besok subuh antar Papa dan Ibu ke bandara, sekarang Papa mau tidur, ngantuk!" ujar Ricky sambil kembali masuk ke dalam kamarnya.


Kezia langsung menarik tangan Jonathan masuk ke dalam kamarnya.


"Bang Jo buat aku malu saja!" cetus Kezia.


"Malu kenapa Zia?" tanya Jonathan bingung.


"Kenapa bilang sama Papa yang sebenarnya? Bilang saja kita lagi tidur Tasya tiba-tiba masuk, kenapa harus bilang berhubungan segala sih? Pakai bilang di ujung tanduk lagi! Dasar Bang Jo!" sungut Kezia sambil berbaring membelakangi Jonathan dan memeluk gulingnya.


"Maaf Zia, tapi akan memang betul kenyataannya, kenapa harus berbohong!" tukas Jonathan.


"Bodo amat lah! Aku ngantuk mau tidur!" cetus Kezia yang langsung mulai memejamkan matanya.


"Zia, kita tidak teruskan yang tadi? Tanggung Nih Zia, belum jadi pelepasan masa sudah stop!" tanya Jonathan frustasi.


"Biarkan saja! Aku ngantuk!" Kezia lalu menutup wajahnya dengan bantal.


****


Kring Kring Kriiing


Suara alarm mengagetkan Jonathan, waktu sudah menunjukan jam lima subuh, Jonathan langsung bangun dan bergegas keluar dati kamarnya, sementara Kezia terlihat masih tertidur.


Ricky dan Lika sudah siap duduk di tuang tamu menunggu Jonathan.


"Sudah siap Jo?" tanya Ricky.


"Sudah Pa!" sahut Jonathan.


"Kamu tidak mandi dulu Jo?' tanya Lika.


"Aku cuci muka saja Bu, dingin mandi subuh!" sahut Jonathan.


"Ya sudah, kalau sudah siap ayo berangkat, ini kunci mobilnya!" Ricky lalu memberikan kunci mobil pribadinya pada Jonathan.


"Iya Pa, tapi aku pamit Kezia dulu, tadi dia masih belum bangun!" Jonathan lalu bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya.


"Kezia sayang, Bang Jo berangkat dulu ya mengantar Papa dan Ibu!" pamit Jonathan sambil mengecup kening Kezia yang masih berbaring.


"Hmm" sahut Kezia.


"Kezia masih kesal sama Abang?" tanya Jonathan lembut.


"Hmm"


"Ya sudah, Bang Jo minta maaf deh, Bang Jo berangkat ya sayang!" Jonathan segera melangkah ke arah pintu.


"Bang Jo!" panggil Kezia.


Jonathan segera berbalik, Kezia sudah nampak duduk di tempat tidurnya.


"Peluk aku dulu Bang!" ucap Kezia.


Jonathan lalu berjalan menghampiri Kezia dan memeluknya dengan erat.


"Maafin aku juga Bang, Bang Jo pasti pusing ya tidak jadi pelepasan? Hayi-hati nyetir mobilnya Bang, nanti kalau Abang pulang cepat, aku kasih Bang Jo jatah deh, lanjut yang semalam!" kata Kezia.


"Benar Zia??"


"Benar Bang! Sudah sana berangkat, Papa dan Ibu sudah nungguin tuh!" sahut Kezia sambil mengecup sekilas bibir Jonathan.


Dengan wajah cerah Jonathan langsung keluar dari kamarnya. Ricky dan Lika nampak gusar menunggu Jonathan.


"Kau lama sekali Jo!" sungut Ricky.


"Maaf Pa, biasa adegan suami istri kalau mau berpisah, ayo berangkat!" Jonathan lalu berjalan menuju mobil Ricky yang sudah terparkir.


"Kayak pergi jauh saja, orang cuma ke bandara, ada-ada saja!" ujar Lika sambil menggelengkan kepalanya.


Merekapun segera berangkat menuju ke bandara.


"Jo, nanti di kantor kau tolong gantikan aku untuk memimpin meeting ya!" titah Ricky.


"Iya Pa!" sahut Jonathan patuh.


"Bagus! Itu batu namanya menantu Papa!" ucap Ricky senang.


"Ibu perhatikan Kezia agak gemukan Jo, kau kasih makan apa dia? Apa dia terlalu bahagia menikah denganmu?" tanya Lika.


"Oh, akhir-akhir ini Kezia makannya banyak Bu, sehari bisa empat sampai lima kali!" jawab Jonathan.


"Aneh, padahal dulu Kezia makan sangat sedikit, biar tidak gemuk katanya, kenapa sekarang jadi banyak makannya?" gumam Lika. Dia mulai mengerutkan keningnya seperti orang yang sedang berpikir.


****