Heart's Owner

Heart's Owner
Terjebak Hujan



Menjelang jam 10 malam, mall di Jakarta akan beranjak tutup. Kezia dan Jonathan membereskan meja booth nya, karena pekan depan giliran tim berikutnya yang akan pameran.


"Kezia, tadi Mbak Rita telepon, katanya yang pameran pulangnya naik taksi saja, karena mobil terjebak banjir, hujan lebat sekali di luar!" ujar Jonathan.


"Ya ampun, beneran banjir Bang?" tanya Kezia.


"Katanya sih begitu, kita dari tadi di dalam, jadi tidak tau kalau hujan lebat!" sahut Jonathan.


Drrt .... Drrrt ... Drrrt ....


Suara ponsel Kezia berbunyi, Kezia lalu merogoh tas punggungnya, ternyata Papanya yang meneleponnya.


Kezia langsung menjauh dari Jonathan dan mengusap layar di ponselnya itu.


"Halo Papa!"


"Kezia, kau di mana Nak, Papa jemput ya, ini sudah malam, katanya kau hanya bekerja setengah hari lalu kuliah, tapi kata Rita kau malah ikut pameran sepanjang hari!" kata Ricky cemas.


"Papa tenang aja sih! Nih aku lagi kejebak hujan, nanti aku pulang kok!" sergah Kezia.


"Pokoknya kau pulang sekarang naik taksi Nak, motormu taruh di kantor saja, ibumu mencemaskanmu!" ujar Ricky.


"Udah deh Pa, aku bisa jaga diri, nanti juga aku pulang, Oya pa, aku tidak mau ya Teman-teman sesama marketing tau kalau Papa itu Papaku!" cetus Kezia.


"Tapi kan kamu memang anak Papa Nak, masa kamu tidak bangga sih jadi anak Papa, buat Papa sedih saja!" sahut Ricky.


"Papa jangan baper deh, pokoknya jangan kuatir, aku pasti pulang, dan jangan telepon-telepon lagi!" seru Kezia lalu mematikan sambungan teleponnya.


Lalu Kezia menghampiri Jonathan yang menunggunya.


"Telepon siapa sih, lama amat! Sudah malam tau!" ujar Jonathan ketus.


"Papaku yang telepon, ayo deh jalan, kita cari taksi sekarang!" sahut Kezia.


"Kalau Papamu yang telepon, kenapa harus menjauh segala!" cetus Jonathan.


'Kalau kau tau Papaku siapa, kau pasti akan kaget Bang!' batin Kezia.


Mereka pun berjalan keluar dari mall itu, lampu mall sudah padam, pertanda akan tutup, sementara di luar masih nampak hujan lebat.


Kezia segera memesan taksi online dari aplikasi di ponselnya. Mereka duduk menunggu di tangga di depan mall yang sudah nampak sepi.


"Nanti kalau taksinya datang, Bang Jo duluan yang turun, aku belakangan!" kata Kezia.


"Tidak, kau wanita, harus di dahulukan!" sergah Jonathan.


"Pokoknya Bang Jo duluan, aku maunya belakangan, titik!" seru Kezia.


"Dasar gadis kota! Selalu mau menang sendiri, apa salahnya kalau aku mengantarmu pulang, aku kan laki-laki yang bertanggung jawab!" sanggah Jonathan.


'Karena kalau kau mengantarku, maka kau akan tau siapa aku sebenarnya, kau pasti akan kaget melihat rumah besar ku bang, apalagi kalau kau tau Ayahku adalah pemilik perusahaan tempatmu bekerja ' gumam Kezia dalam hati.


"Ya sudah, kita turun sama-sama saja di tempat kos bang Jo!" ujar Kezia. Jonathan melotot.


"Enak saja! Apa kata orang kalau kau tidur di tempat kos ku, tidak!" tukas Jonathan.


"Kalau kau mengantarku pulang, kau pasti akan di hajar Papaku, Papaku galak tau, apalagi ada laki-laki malam-malam mengantarku pulang!" ujar Kezia.


"Hah? Masa sih Papamu segalak itu?" tanya Jonathan.


"Iya, Papaku kan tentara hehehe!" sahut Kezia sambil cekikikan. Anehnya Jonathan mempercayai itu. Dia hanya manggut-manggut.


Sudah hampir satu jam mereka menunggu, namun taksi yang di pesan tak kunjung datang, Ricky kembali menelepon, namun Kezia malah merijek telepon Papanya itu.


Entah mengapa Kezia merasa sangat nyaman dan senang berada di tempat itu, walaupun suasana sepi dan hujan lebat.


"Kok taksinya tidak datang-datang ya, apa mungkin terjebak banjir juga?" gumam Jonathan yang mulai gelisah.


"Bisa jadi, kita tunggu saja!" sahut Kezia cuek.


"Mungkin bisa Bang, komisi penjualan kan 4 persen, itu lebih tinggi dari pada di tempat lain, kalau kita bisa menjual 1 unit rumah seharga 500 juta, tinggal di kalikan 4 persen saja dan di bagi dua!" jawab Kezia.


"Wah, kau hebat juga, padahal kan kau baru masuk kerja Kezia!" ujar Jonathan kagum.


'Jelas lah, aku kan anak developer!' Batin Kezia.


"Mudah-mudahan kalau komisi cair, aku bisa segera beli motor baru!" gumam Jonathan.


"Amin!" sahut Kezia. Matanya mulai terlihat merah menahan kantuk.


Tak lama kemudian, taksi yang mereka pesan baru datang, ternyata benar, taksi itu terjebak macet parah karena banjir.


Jonathan dan Kezia langsung masuk ke dalam taksi, sementara hujan masih terus saja merintik.


Karena kelelahan seharian bekerja, Kezia tertidur di bahu Jonathan, Hingga mereka pun sampai di tempat kos Jonathan.


Setelah membayar taksinya, Jonathan langsung membopong Kezia yang tertidur dan langsung membawanya masuk ke kamar kosnya dan membaringkannya di kasurnya yang berukuran single bed.


"Huh! Dasar gadis kota menyusahkan saja! Mau diantar pulang kerumahnya malah tidur! Bagaimana aku bisa tau rumahnya! Mana katanya Papanya galak lagi!" gumam Jonathan sambil mulai menyelimuti Kezia.


Jonathan duduk di kursi di sudut kamar kosnya dengan menahan kantuk, Karena tempat tidurnya di pakai Kezia.


Jonathan melihat Kezia yang sedikit menggigil, karena kepalanya sempat terkena air hujan, lalu Jonathan beringsut mendekati Kezia, dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Kezia, Jonathan terkejut karena ternyata Kezia demam.


Dengan cepat Jonathan mengambil sapu tangan handuk dan langsung mengompres dahi Kezia, saat itulah Kezia membuka matanya.


"Kamu demam Kezia, aku akan membuatkan teh hangat untukmu, kau istirahatlah!" bisik Jonathan cemas sambil menaruh kompresan di dahi Kezia.


Dengan cekatan Jonathan membuat teh hangat dari dispenser yang ada di dalam kamarnya itu. Setelah selesai langsung memberikannya pada Kezia dan membantu gadis itu untuk meminumnya.


Kezia tertegun melihat perlakuan Jonathan terhadapnya, ternyata pria menyebalkan yang terlihat dingin dan cuek, bisa juga bersikap lembut dan perhatian. Bahkan pria itu rela tidak tidur asalkan Kezia bisa tidur, namun saat Kezia teringat bahwa Jonathan sudah mempunyai kekasih, ada rasa sedih yang menggelayutinya, perlahan air matapun menetes di pipi Kezia.


"Hei, mengapa kau menangis?" tanya Jonathan sambil mengusap air mata Kezia dengan tangannya. Kezia menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa!" sahut Kezia.


"Kau pasti ingat mantanmu itu ya, sudahlah Kezia, kalau dia bukan jodohmu, kau lupakan saja dia, kau sangat cantik, pasti banyak pria yang akan mengejarmu!" ucap Jonathan. Kezia malah tambah menangis.


'Bukan karena itu Bang!' batin Kezia.


Jonathan menepuk-nepuk bahu Kezia untuk menenangkan gadis itu.


"Kalau kau lapar, aku punya persediaan mie instan, nanti aku akan membuatkannya untukmu, kau mau?" tanya Jonathan. Kezia menganggukan kepalanya.


Jonathan langsung membuatkan Kezia mie instan dengan kompor listrik mini, setelah selesai dia menyodorkan mie instan itu pada Kezia.


"Nih, mumpung masih panas, atau mau di suapi? Kau kelihatan lemas sekali!" ujar Jonathan. Lagi-lagi Kezia Menganggukan kepalanya.


Kemudian Jonathan meniupi mie instan itu dengan bibirnya supaya tidak panas, kemudian perlahan menyuapkannya ke mulut Kezia, ada getaran aneh yang mereka rasakan, namun mereka saling diam dan mengabaikannya.


"Habis ini kau istirahat, besok kita libur, aku akan mengantarmu pulang, kau tenang saja Kezia, jangan takut, walaupun papamu galak, aku akan menghadapinya!" ujar Jonathan.


"Sungguh kau tidak takut Papaku Bang?" tanya Kezia.


"Tidak, karena aku merasa tidak salah, aku melindungimu, aku menjagamu!" jawab Jonathan.


Kezia tersenyum mendengar ucapan Jonathan. Saat mie instan tinggal setengah mangkok, Kezia menghentikan makannya.


"Sudah kenyang bang!" ujar Kezia.


"Baiklah, ini yang setengah aku makan ya!" Jonathan langsung menghabiskan sisa mie instan bekas Kezia.


"Kalau aku tidur, Bang Jo tidur di mana?" tanya Kezia.


"Aku tidak tidur, aku duduk saja sambil memantau kondisimu!" ucap Jonathan sambil meletakan mangkok dan beranjak kembali duduk di kursinya.


*****