Heart's Owner

Heart's Owner
Masalah Ratna



Keluarga Ricky makan di sebuah restoran besar di kota itu, dalam rangka syukuran atas kelulusan Kezia.


Mereka makan bersama sekaligus membahas tentang rencana pernikahan yang akan di langsungkan tidak lama lagi.


"Jo, sebelum menikah ada baiknya kau mengajak kami ke Medan, untuk lebih mengenal daerah kelahiranmu!" usul Ricky.


"Benar Jo, Ibu kan juga ingin melihat tanah kelahiranmu, sekaligus berkenalan dengan saudara atau kerabat mu, sekalian memberikan undangan pernikahanmu!" timpal Lika.


"Tapi aku malu, di kampung aku tidak punya apa-apa, bahkan rumah kami dulu itu juga bukan milik kami!" ucap Jonathan.


"Kenapa Bang Jo harus malu? Bukankah semua hutang Bang Jo sudah lunas di bayar?" tanya Kezia.


"Apa? Hutang?? Hutang apa maksudnya??" tanya Ricky kaget.


Kezia dan Jonathan terdiam, Ricky dan Lika memang tidak tau masalah hutang keluarga ini.


"Begini Pa, almarhumah Mamanya Bang Jo pernah punya hutang dengan keluarga Ratna, untuk menebusnya mereka menjodohkan Bang Jo sama Ratna, tapi Bang Jo menolaknya dan lebih memilih membayar hutangnya!" jelas Kezia.


"Itulah mengapa dulu aku selalu menyisihkan gajiku untuk membayar hutang, tapi tenang saja, semua hutangku itu sudah lunas!" tambah Jonathan.


"Ibu tidak menyangka dulu kau punya beban seberat itu Jo, Kezia itu lebih berharga dari pada hutang mu, ibu kagum padamu!" ucap Lika.


"Kalau begitu, sebelum kalian menikah kita liburan dulu ke Medan!" ujar Ricky.


"Beneran Pa?" tanya Kezia tak percaya.


"Ya beneran lah, sejak kapan Papa suka bohong!" sahut Ricky.


Lika lalu mengeluarkan beberapa desain undangan dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja.


"Kalian pilih mana yang kalian suka, supaya bisa langsung di cetak undangannya!" kata Lika.


"Semuanya bagus Bu, Ibu pilih saja aku pasti setuju!" sahut Jonathan.


"Iya Bu, ini bagus semua, elegan dan mewah, aku malah suka semua!" tambah Kezia.


"Baiklah, segera ibu akan cetak undangannya, pastikan tidak ada kesalahan nama atau apapun ya!" ucap Lika.


Drrtt ... Drrt ... Drrt ...


Suara ponsel Jonathan bergetar, Jonathan langsung merogoh ponselnya di saku celananya, lalu mulai mengusap layar di ponselnya itu.


"Halo!"


"Halo Jo, Ratna ada di Jakarta ya?" Binsar ternyata yang menelepon Jonathan.


"Iya Bang, katanya dia kabur dari rumah, kenapa Bang?" tanya Jonathan.


"Gawat Jo, Om Purba sudah melaporkan ke polisi soal Ratna, kalau kau bertemu dengannya bujuklah dia untuk kembali pulang ke rumahnya, dari pada nanti Tante Purba yang menyusul ke Jakarta, kau bisa di salahkan lagi Jo!" jawab Binsar


"Baiklah Bang, nanti aku akan coba bicara dengan Ratna!" ujar Jonathan.


Lalu Jonathan menutup layar ponselnya.


"Kenapa Bang?" tanya Kezia.


"Bang Binsar, tanyain soal Ratna, dia di cari-cari orang tuanya!" sahut Jonathan.


"Ya ampun, kasihan amat Mbak Ratna!" gumam Kezia.


Setelah mereka selesai makan di restoran besar itu, mereka lalu bergegas pulang ke rumah.


*****


"Bang Jo hati-hati ya!" ucap Kezia saat Jonathan pamit kembali ke apartemennya.


"Iya Zia, Bang Jo mohon ijin setelah ini kau mampir ke Ratna ya, mau membicarakan masalah keluarganya, Kezia ijinin Bang Jo kan?" tanya Jonathan.


"Iya Bang, mampir saja, kenapa harus ijin segala!" cetus Kezia.


"Sekarang Bang Jo adalah milik Kezia sepenuhnya, jadi Abang tidak mau ada yang tersembunyi di antara kita, kita belajar saling terbuka bahkan dalam hal yang terkecil sekalipun!" ucap Jonathan bijak.


"Ya kan memang Bang Jo lebih dewasa dari Kezia, sudah ya, Bang Jo pamit!" Jonathan lalu mengecup kening Kezia.


Kezia langsung memeluk tubuh Jonathan seolah berat untuk di tinggalkan.


"Aku sudah kecanduan Bang Jo nih, jadi bawaannya pengen deket Abang terus!" ucap Kezia.


"Sabar sayang, sebentar lagi!" bisik Jonathan.


"Tapi aku mau cium bibir Bang Jo sekarang ya, sebentar kok, tidak akan membuat Bang Jo on maksimal!" ujar Kezia. Jonathan menganggukan kepalanya.


Pesona Jonathan memang membuat Kezia takluk padanya. Perlahan Kezia berjinjit dan mulai mencium lembut bibir Jonathan yang kemerahan alami.


"Aku sayang sama Bang Jo!" ucap Kezia.


"Bang Jo juga Zia, sudah ya sayang, kapan pulangnya Abang kalau begini terus!" Jonathan lalu mengurai pelukannya.


Kemudian dia segera naik ke mobilnya dan langsung menyalakan mesinnya.


"Bang Jo tidak boleh lama-lama di tempat Mbak Ratna ya!" cetus Kezia.


"Iya, Bang Jo tidak akan lama!" sahut Jonathan.


Kezia melambaikan tangannya saat mobil Jonathan sudah melaju meninggalkan rumah besar itu.


Jonathan langsung menuju ke tempat kos Ratna.


Matahari sudah gelap saat Jonathan sampai di tempat kos Ratna, Ratna sudah pulang dari cafe Rosi, sementara dia memang membantu Rosi di cafenya.


"Ada apa Bang Jo ke tempatku?" tanya Ratna.


"Ratna, tadi Bang Binsar telepon, katanya Bapak dan Mamak Ratna sedang mencari Ratna kemana-mana, bahkan sekarang mereka sudah melaporkan Ratna ke kantor polisi!" ujar Jonathan.


"Aku tidak perduli Bang, aku tidak akan kembali ke Medan, untuk apa kembali hanya untuk menikah dengan pria tua itu!" cetus Ratna.


"Ratna, kau pulang bukan berarti harus menikah dengan Bang Jodi, Ratna bisa saja kan langsung menolaknya tanpa harus pergi dari rumah, orang tua Ratna pasti sangat mengkhawatirkan Ratna, Ratna beruntung masih punya orang tua lengkap!" kata Jonathan.


"Beruntung? Dengan mengabaikan perasaanku dan mementingkan kebahagiaan mereka!" sungut Ratna.


Air mata gadis itu mulai jatuh, Jonathan langsung merogoh sapu tangannya dan menyodorkannya ke arah Ratna.


Ratna mengusap kasar wajahnya dengan sapu tangan pemberian Jonathan.


"Orang tua Ratna pasti sudah tau Ratna di Jakarta dari Bang Binsar!" kata Jonathan.


"Bang Jo yang memberi tau?" tanya Ratna. Jonathan menganggukan kepalanya.


"Mana mungkin Bang Jo menyembunyikan Ratna terus? Cepat atau lambat mereka juga akan tau kalau Ratna di Jakarta, karena Bapak Ratna sudah melaporkan Ratna ke polisi!" jelas Jonathan.


"Bang Jo jahat! Bang Jo sengaja kan bilang sama Bang Binsar soal keberadaanku? Bang Jo tidak mau lagi berurusan denganku! Apalagi sebentar lagi Bang Jo akan menikah!" Ratna kembali menangis.


Jonathan mengusap lembut bahu Ratna, mencoba untuk menenangkan gadis itu.


"Tidak Ratna, sungguh bukan itu maksud Abang, Abang hanya tidak ingin Ratna dalam masalah jika berlama-lama lari dari rumah, apalagi kan Ratna seorang perempuan, Bang Jo juga tidak bisa lagi sepenuhnya menjaga Ratna!" ucap Jonathan.


Ratna kembali menangis tanpa mampu untuk menjawab perkataan Jonathan.


"Baik Bang, sekarang lebih baik Bang Jo pulang! Pulang Bang! Biarkan aku sendiri!" seru Ratna.


"Oke, bang Jo akan pulang, Ratna tenang ya, kalau ada apa-apa atau keperluan apa,. jangan sungkan hubungi Bang Jo!"


Jonathan mengeluarkan amplop berisi uang, lalu memberikannya ke tangan Ratna, setelah itu dia dengan cepat pergi meninggalkan Ratna yang masih menangis di tempatnya.


Saat Jonathan sudah berada di dalam mobilnya, buru-buru dia menelepon seseorang.


"Halo, Beni, tolong kau datang ke kos Ratna malam ini juga, saat ini dia butuh teman, tolong kau temani dia dan berikan dia semangat dan penghiburan!" ujar Jonathan.


****