
Mario yang terkejut saat melihat Jonathan yang di cium oleh Kezia, lantas langsung menghampiri ke arah mereka.
"Jadi yang kau maksud kekasih hatimu itu Kezia Jo??" tanya Mario.
Kezia langsung duduk kembali di tempatnya dan melanjutkan aktifitas makannya. Sementara Jonathan hanya menganggukan kepalanya karena merasa menang.
"Yah, Kezia itu pacarku, kau lihat saja cincin yang dia pakai, itu kan yang aku beli waktu bersamamu kan di Singapore!" ujar Jonathan.
Mario lantas menoleh ke arah jemari Kezia yang memang tersemat cincin itu.
"Kenapa kau tidak katakan padaku Jo, kalau dia adalah pacarmu?? Jadi aku juga tidak usah susah-susah datang ke Jakarta hanya untuk memenuhi undangan pak Ricky!" Wajah Mario nampak kecewa.
"Sudahlah, kenapa jadi saling ribut? Bang Jo ini cemburu padamu Pak Mario, karena kau mengobrol dan jalan bersamaku!" tambah Kezia.
"Kalau begitu aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengganggu hubungan kalian, aku akan mundur teratur kalau begini!" ujar Mario.
"Aku doakan kau bisa cepat menemukan jodohmu Bro!" kata Jonathan sambil menepuk-nepuk bahu Mario.
Setelah mereka selesai makan, mereka lalu segera bergegas kembali ke kantor.
Setelah sampai di kantor, Mario langsung kembali ke hotel tempatnya menginap, dia masih terlihat shock saat mengetahui kenyataan bahwa Jonathan adalah kekasih Kezia, wanita yang selalu di tunggunya, yang selama ini ingin di jodohkan oleh Ricky.
"Sekarang sudah tidak cemburu lagi kan Bang!" kata Kezia saat mereka selesai dari kantor.
"Tidak, kan sudah di kasih ciuman hangat sama Kezia, trima kasih ya ciumannya tadi, di jamin Bang Jo tidak bisa tidur nanti malam!" sahut Jonathan.
"Sebenarnya aku melakukan itu hanya untuk membuktikan ke Abang, kalau ..."
"Kezia cinta sama Abang!" potong Jonathan cepat.
"Iiih Bang Jo asal tebak saja deh!" sungut Kezia. Jonathan terkekeh melihat ekspresi Kezia yang wajahnya mirip kepiting rebus.
Tring ... Tring ...
Bunyi notifikasi terdengar di ponsel Kezia. Gadis itu langsung membuka ponselnya dan membacanya.
'Kezia, kau datanglah ke hotel Anggrek tempatku menginap, kamar nomor 202, Papamu menunggu di sana!'
"Siapa Zia?" tanya Jonathan.
"Pak Mario, katanya Papa ada di hotel menungguku!" sahut Kezia.
"Untuk apa Pak Ricky menunggumu di hotel? Bukankah tadi dia sudah pulang duluan?" tanya Jonathan heran.
"Entahlah Bang, aku coba telepon Papa deh!" sahut Kezia.
Kemudian Kezia mulai menghubungi ponsel Ricky, namun ponsel Ricky tidak aktif.
"Tidak aktif bang, mungkin Papa memang menungguku di sana, kalau begitu aku langsung ke hotel itu deh bang!" kata Kezia.
"Bang Jo ikut Zia!" ujar Jonathan.
"Ngapain sih Bang? Nanti ketemu Papa berantem lagi!" sahut Kezia.
"Bang Jo mau nyebar brosur di parkiran hotel Zia, siapa tau ada yang mau beli rumah, lagian kan di hotel itu efektif juga buat prospek!" kata Jonathan.
"Hmm, terserah deh Bang!" ujar Kezia akhirnya.
Jonathan lalu menitipkan motornya di parkiran kantor, lalu dia naik mobil bersama dengan Kezia.
"Kezia tau tidak, bang Jo dalam seminggu ini sudah berhasil menjual 10 rumah lho, kebetulan waktu itu Bang Jo prospek di pasar tanah Abang yang ramai itu, itu juga para ibu-ibu yang minta selfie baru deh mereka mau ambil rumah di Bang Jo!" ungkap Jonathan.
"Ya ampun Bang, sampe segitunya, tapi masih kurang 90 rumah lagi bang, masih banyak!" ujar Kezia.
"Tenang saja Zia, Bang Jo masih punya waktu tiga Minggu lagi buat kejar yang 90 rumah itu, walaupun mustahil, siapa tau ada keajaiban!" ucap Jonathan.
"Amin deh Bang, suka deh lihat Bang Jo yang gigih dan pantang menyerah, cowok aku macho banget!" ucap Kezia sambil mencium pipi Jonathan yang sedang mengemudikan mobilnya itu.
"Zia! Jangan buat Bang Jo tambah tidak bisa tidur nanti malam!" sergah Jonathan yang mulai menegang karena seharian ini Kezia banyak memberinya ciuman.
Tak lama mereka sampai di hotel tujuan mereka.
"Aku langsung naik ya Bang, Bang Jo prospek saja dulu, nanti kalau aku sudah selesai aku telepon Bang Jo!" kata Kezia.
"Oke sayang, sana kau temui dulu Papamu, kau juga harus patuh dan taat sama orang tua!" sahut Jonathan sambil mengelus rambut Kezia.
Kezia segera naik ke atas dengan menggunakan lift, sementara Jonathan mulai menjalankan aksinya menyebar brosur demi tercapainya target penjualan rumah.
Kezia naik ke lantai lima hotel itu, dia menyusuri koridor hotel sambil mencari nomor kamar yang di maksud.
Kamar 202 terletak di ujung koridor, perlahan Kezia memencet bel yang ada di depan pintu hotel itu.
Selang beberapa menit kemudian, pintu hotel itu sudah terbuka, Mario muncul dari dalam kamar hotel itu.
"Wah, kau sudah datang rupanya, cepat sekali!" kata Mario sambil tersenyum.
"Ya, tadi aku langsung kesini, mana Papa?" tanya Kezia.
"Kau masuklah dulu ke dalam, beliau sudah menunggumu!" jawab Mario.
Kezia lalu masuk ke dalam kamar hotel VIP yang luas dan mewah itu, dia celingak celinguk mencari sosok Papanya, namun yang di carinya tidak ditemukannya.
"Di mana Papa Pak Mario? Katanya Papa menungguku?" tanya Kezia lagi.
Tanpa di duga, Mario malah menghempaskan tubuhnya di tempat tidur yang berukuran king size itu.
"Lupakan sejenak Papamu itu Kezia, di kamar ini hanya ada kau dan aku!" ujar Mario dengan senyum menyeringai.
Kezia melotot dan bergidik, lalu dengan cepat dia berlari ke arah pintu, namun pintu itu sudah di kunci dengan kartu, dan kartunya sudah di pegang oleh Mario.
"Ternyata kau adalah seorang bajingan!!" jerit Kezia histeris.
"Tenang Kezia, aku bukan bajingan, aku hanya kecewa karena kau lebih memilih marketing amatiran itu dari pada aku!!" seru Mario.
"Tapi caramu ini licik Pak Mario!" sentak Kezia yang kini mulai ketakutan.
"Licik? Sebenarnya aku juga punya dendam pribadi dengan Papamu, karena persaingan bisnis, Papamu sudah membuat orang tuaku bangkrut, dan aku harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang pernah hilang!" jelas Mario.
"Ternyata kau sangat jahat!!" sengit Kezia.
"Aku sudah menunggu sekian lama agar Pak Ricky segera menjodohkan kita, dan aku bisa mendapatkanmu, malah si marketing sialan itu yang mendahuluiku!" cetus Mario.
"Kau brengsek!!" maki Kezia.
Gadis itu merapatkan tubuhnya di tembok hotel, tubuhnya mulai bergetar.
Perlahan Mario bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Kezia, Kezia semakin ketakutan.
Mario menangkap dagu Kezia dengan tangannya. Lalu di tatapnya wajah gadis itu dengan tajam.
"Kalau aku menodaimu sekarang, Papamu pasti akan menikahi kita berdua!" Mario mulai mencengkram kemeja yang di pakai Kezia dan menariknya kasar.
"Jangan! Ku mohon jangan sentuh aku!" mohon Kezia.
Nafas laki-laki itu terasa hangat di wajah Kezia. Dengan tangannya Kezia berusaha meraih ponsel yang ada di dalam tasnya, di menekan sembarang tombol.
"Kau teriak sekeras apa pun tidak akan ada yang mendengar mu termasuk pacarmu yang kampungan itu!" dengus Mario.
bersambung ...
****
Jangan lupa jempolnya dong guys ...
Thank you ...🤗