
Setelah selesai makan malam, Ricky langsung menarik Jonathan duduk di ruang keluarga rumahnya itu.
Mereka duduk berhadapan di kursi yang menghadap sebuah meja.
"Ayo Jo! Tunjukan kemampuanmu!" kata Ricky sambil mulai menggelar papan caturnya.
Given dan Gavin sangat antusias menonton pertandingan itu. Mereka bersorak sorai dan bertepuk tangan.
"Ayo Bang Jo! Kalahkan Papa!" teriak Given.
"Iya Bang, langsung saja di skak!" tambah Gavin.
"Hei kalian ini, kenapa tidak ada yang mendukung Papa??" tanya Ricky sewot.
"Kan Papa sudah biasa menang!" sahut Given.
"Ya tapi kan Papa masih butuh dukungan kalian juga kali!" cetus Ricky.
Mereka terus bermain catur sampai waktu sudah menunjukan jam 10 malam.
Jonathan kelihatan sudah menguap beberapa kali karena seharian ini kegiatannya cukup melelahkan.
"Tuh kan Bang Jo sudah ngantuk! Besok saja di lanjut deh!" sergah Kezia.
"Bentar lagi Kezia, tanggung nih!" sergah Ricky.
"Sini Kezia duduk samping Bang Jo supaya ngantuknya hilang!" ujar Jonathan.
Kezia beringsut duduk di samping Jonathan.
"Hei Hei! Jangan dekat-dekat! Jaga jarak!" sergah Ricky sambil melotot ke arah mereka berdua.
"Dih Papa kayak tidak pernah muda saja! Dulu juga suka deket-deketin Ibu kan! Ayo ngaku!" sungut Kezia.
"Sok tau!" ketus Ricky.
"Papa lebih parah, foto ibu di ponsel saja di cium-cium!" tambah Kezia.
"Kau jangan buka-buka rahasia Papa dong Kezia, Papa malu depan calon menantu nih!" sergah Ricky yang tangannya masih aktif memainkan caturnya.
Lika ibunya nampak sedang membuat dua cangkir kopi untuk Ricky dan Jonathan.
Given dan Gavin terlihat masih semangat menyaksikan pertandingan mereka, sementara Tasya sudah tidur dari tadi.
Selama pertandingan skor mereka adalah tiga dan dua, tiga untuk Jonathan dan dua untuk Ricky.
Karena Jonathan sudah menang di atasnya satu poin, membuat Ricky semakin penasaran dan tetap semangat untuk melanjutkan pertandingan.
"Sudahlah Pa, ini sudah malam, kasihan kan Jo, besok harus masuk ke kantor, Papa juga!" ujar Lika.
"Sebentar lagi sayang, aku belum puas kalau belum mengalahkan calon menantumu ini, ternyata dia tangguh juga!" sahut Ricky.
Karena dirinya yang sangat mengantuk, akhirnya jonathan terpaksa mengalah supaya dirinya bisa pulang.
"Skak!!" seru Ricky senang.
"Nah Pak, saya sudah kalah nih, sekarang saya mau pulang ya Pak, barang saya masih berantakan belum di beresin!" kata Jonathan.
"Apa ku bilang, tidak ada yang bisa mengalahkan aku! Sekarang kau boleh pulang Jo! Ingat, besok jangan telat!" ujar Ricky yang mulai membereskan papan catur nya dengan wajah penuh senyum kemenangan.
"Itu skornya sama Pa, cuma di babak terakhir saja Papa menang!" sahut Lika.
"Ah, kau ini sama saja dengan anak-anak, mendukung rival ku!" sungut Ricky yang beranjak masuk ke kamarnya.
Sementara Jonathan bersiap akan kembali pulang ke apartemennya.
Kezia mengantarkan Jonathan sampai di halaman tempat mobil Jonathan terparkir.
"Kezia, sebenarnya tadi Bang Jo mengalah sama Papa Kezia, kalau Bang Jo menang lagi, pasti Papa Kezia makin penasaran!" kata Jonathan.
"Iya Bang, aku juga sudah tau, Papa memang gengsian orangnya kalau kalah, harap maklum ya Bang, tapi sekarang keliatannya Papa sudah sayang sama Bang Jo!" ucap Kezia.
"Syukurlah Zia, Bang Jo bahagia bisa dekat dengan keluarga Kezia, Bang Jo pamit pulang ya sayang!" kata Jonathan sambil mengecup lembut kening Kezia.
"Iya Bang, hati-hati nyetirnya, sudah malam!" sahut Kezia sambil membalas mencium kedua pipi Jonathan.
"Duh senangnya di perhatikan istri masa depan Abang!" ucap Jonathan sambil membelai rambut Kezia.
Jonathan akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan mulai bergerak perlahan meninggalkan rumah Kezia.
Setelah mobil Jonathan hilang di balik gerbang, Kezia baru beranjak masuk ke dalam rumahnya.
****
Keesokan harinya, seperti biasa, Jonathan datang ke kantor dengan penuh semangat.
Semua mata memandang takjub ke arahnya.
Seorang pemuda yang sangat tampan dan gagah dengan mengenakan stelan jas yang di padukan dengan dasi dengan warna senada, membuat banyak wanita yang ada di kantor itu tak berkedip memandangnya.
"Selamat pagi Pak Jo!" sapa Lusi, resepsionis yang selalu duduk manis di meja resepsionis.
"Pagi!" sahut Jonathan.
"Wah, hari ini Pak Jo rapi sekali, hati-hati lho Pak!" kata Lusi.
"Hati-hati kenapa?" tanya Jonathan.
"Hati-hati karena akan banyak godaan yang datang!" jawab Lusi sambil tersenyum.
Jonathan hanya menanggapinya sambil tersenyum, dia lalu segera naik ke atas menuju keruangannya yang ada di lantai tiga.
Saat dia masuk ke dalam ruangannya, dia sedikit tertegun melihat ada secangkir kopi hangat dan setangkai bunga mawar merah yang ada di meja kerjanya itu.
"Hmm, siapa yang menaruh ini di mejaku? Ini benar untukku kan?" gumam Jonathan sambil mulai sedikit meneguk secangkir kopi hangat itu.
Tak lama kemudian, Dita sekertaris Jonathan masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat pagi Pak Jo, ini ada proposal dari pemilik lahan yang ada di bantaran sungai, mohon Pak Jo segera menandatanganinya!" kata Dita sambil menyodorkan sebuah map berwarna biru.
Jonathan lalu membuka dan membaca isi dari map itu, sambil menganggukan kepalanya. Kemudian dia segera menandatangani surat proposal itu.
"Hmm, bagus juga di bangun rumah di dekat kali, kalau desainnya modern, pasti Jakarta akan terbebas dari banjir!" gumam Jonathan.
Lalu dia mengembalikan map itu ke arah Dita.
"Nanti di jam 10 pagi akan ada meeting dengan semua dewan direksi dan staff kantor, jangan lupa datang tepat waktu di ruang meeting ya Pak!" kata Dita mengingatkan.
"Baik, aku akan datang tepat jam sepuluh di ruang meeting nanti!" sahut Jonathan.
"Trimakasih ya Pak!" ucap Dita.
Lalu Dita segera membalikan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu.
"Tunggu Dita, kau tau siapa yang membuat kopi dan menaruh bunga ini di meja kerjaku?" tanya Jonathan.
Dita menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak tau Pak, saya juga belum lama datang!" jawab Dita.
"Ya sudah, kau boleh keluar!" ujar Jonathan. Dita segera pergi meninggalkan ruangan Jonathan.
Jonathan menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya, dia mulai membuka laptopnya.
Mendadak kepalanya pusing saat dia baru menghabiskan secangkir kopinya.
"Duh, kenapa kepalaku pusing begini? Pandanganku juga berkunang-kunang!" gumam Jonathan yang berusaha bangkit dari duduknya.
Dia berjalan perlahan menuju ke sofa yang ada di sudut ruangan itu.
Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya di sofa itu, tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya. Dia pun tertidur tidak lama kemudian.
Tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu, dia langsung mengunci ruangan Jonathan dari dalam, dengan wajah penuh senyuman, orang itu perlahan mulai mendekati Jonathan.
****
Siapakah orang itu??
Lanjut besok ya guys ... dan jangan lupa tetap dukung Author nya biar semangat!
Trimakasih!