Heart's Owner

Heart's Owner
Menunggumu



Ricky terpana melihat laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan gagah berani itu.


Matanya menyiratkan keheranan.


"Kenapa kau menanyakan Kezia??" tanya Ricky sambil menatap tajam ke arah Jonathan.


"Karena dia rekan kerja saya Pak! Wajar kalau saya ingin tau kondisinya sekarang! Lagi pula, dia itu karyawan tapi semua orang mengacuhkannya termasuk bapak!" kata Jonathan.


"Mulai sekarang, kau jangan tanya-tanya Kezia lagi! Aku sudah memecatnya!!" tegas Ricky yang langsung melangkah meninggalkan Jonathan yang masih shock mendengarkan perkataan Ricky.


Jonathan melangkah gontai keluar dari pintu lobby itu lalu berjalan ke arah sebrang jalan.


Sementara Kezia yang telah hampir sampai di depan kantor Papanya, langsung menghentikan mobilnya saat dia melihat Jonathan yang menyebrang jalan menuju ke tempat kosnya.


"Rin! Itu Bang Jo!" seru Kezia.


"Lah, dia kelihatannya baru pulang kantor!" ujar Erin.


"Rin, kita ke tempat kos nya dia saja yuk, aku mau ngobrol sebentar!" Kata Kezia.


"Malas Ah, aku pulang duluan saja, nanti aku jadi nyamuk lagi!" sungut Erin.


"Please Rin, kamu tidak usah masuk, nunggu di kedai kopi saja, aku traktir deh, kau boleh makan dan minum sepuasnya!" ujar Kezia.


"Huh, dasar! Kalau ada maunya saja!" sungut Erin yang akhirnya mengiyakan permintaan Kezia.


Mereka lalu putar balik, mobil di parkir di depan kedai kopi Rosi, yang kini berganti nama menjadi Rose cafe.


"Kau tunggu di cafe itu, kalau kau bosan kau bisa balik ke mobil, eh Rin, kau bisa menyetir mobil kan? Nanti aku bilang depan Bang Jo kalau itu mobilmu ya?" tanya Kezia. Erin melotot.


"Kau ini, kenapa tidak jujur saja sih kalau kau ini orang kaya, anak pemilik perusahaan tempat dia bekerja?" sungut Erin.


"Tidak! Aku tidak mau dia jadi minder dan malah takut untuk dekat denganku!" sahut Kezia.


Setelah mereka sepakat, Kezia segera turun dari dalam mobilnya dan langsung berjalan kaki masuk ke sebuah gang tempat kos Jonathan.


Jonathan sudah nampak masuk ke dalam kamar kosnya, dengan perlahan dan hati-hati, Kezia mengetuk pintu kamar itu.


Tok ... Tok ...Tok ...


Tidak ada sahutan dari dalam, sampai beberapa kali Kezia mengetuk pintu, barulah pintu mulai di bukakan.


Ternyata Jonathan baru selesai mandi, bahkan dia masih mengenakan handuk yang hanya di lilitkan di pinggangnya.


Saat melihat Kezia datang Jonathan terkejut, matanya terbuka lebar.


"Oh my God Kezia! kau tunggu sebentar, aku pakai baju dulu!" Seru Jonathan sambil kembali menutup pintu kamarnya.


Kezia tersenyum sambil duduk di bangku depan kamar Jonathan. Sekilas dia melihat tubuh Jonathan, ada desiran aneh yang dia rasakan saat melihat tubuh Jonathan yang padat atletis dengan dada bidang yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu.


Tak lama kemudian Jonathan keluar dari kamarnya sudah dengan berpakaian rapi. Aroma sabun mandi terhirup harum di Indra penciuman Kezia, membuat gadis itu semakin nyaman ada dekat Jonathan.


"Kau panjang umur Kezia, baru tadi aku menanyakanmu pada Pak Ricky, kau sudah muncul di depanku!" kata Jonathan. Kezia terkejut.


"Hah?! Kau tanya apa sama Pak Ricky?" tanya Kezia cemas.


"Aku tanya kenapa kau tidak masuk kerja, katanya kau di pecat, aku tanya nomor ponselmu, tapi dia tidak memberikannya, Dasar pemilik perusahaan arogan! Sembarangan dia memecat karyawannya!!" seru Jonathan.


"Lain kali jangan berurusan dengan Pak Ricky lagi!" cetus Kezia.


"Kenapa?!"


'Karena dia Papaku!' batin Kezia.


"Aku kan sudah datang!" sahut Kezia.


"Iya, untung kau datang! Sudah lama juga kita tidak ketemu ya!" ujar Jonathan.


"Bang Jo, untuk apa menanyakan nomor ponselku?" tanya Kezia.


"Aku ingin tau kondisimu, aku pikir kau sakit Kezia, ternyata kau di pecat!" jawab Jonathan.


"Tidak, aku sedang mengurus skripsi ku, juga tugas kuliah, ada beberapa yang harus ku kejar, jadi jangan salahkan Pak Ricky ya!" jelas Kezia.


"Apakah kau mau aku bantu?" tawar Jonathan. Kezia tersenyum lalu menoleh ke arah Jonathan.


"Memangnya Bang Jo bisa membantu?" tanya Kezia balik.


"Oya? Wah ... Kuliah di kampus aku saja Bang! Ada program S2 nya juga lho!" ujar Kezia antusias. Dia tak menyangka kalau Jonathan adalah seorang sarjana.


"Hmm, nanti kalau dapat jatah libur dari kantor, sekarang ada target penjualan, minimal dalam sebulan closing 1 unit rumah!" jelas Jonathan.


"Kalau dalam hal itu, aku juga bisa membantumu bang!" sahut Kezia.


"Oke, kita deal ya saling membantu!"


"Siapa takut??"


Mereka berdua kemudian saling menjabat tangan tanda kesepakatan.


"Sudah mau malam bang Jo, aku pamit ya, tadi aku numpang mobil teman, dia menunggu di depan cafe Mbak Rosi!" kata Kezia.


"Iya, aku antar ya!" Ucap Jonathan yang langsung merapatkan pintu kamarnya dan berjalan mengiringi Kezia mengantarnya sampai di depan.


"Bang Jo!"


"Ya?!"


"Gimana kabar pacar Bang Jo?" tanya Kezia.


"Baik!" singkat Jonathan.


"Kapan kalian bertemu lagi?" tanya Kezia lagi.


"Entahlah, aku juga tidak tau!" sahut Jonathan.


"Memangnya bang Jo tidak kangen?"


"Bagaimana mau kangen, sehari empat kali dia telepon!" jawab Jonathan.


"Hah?! Bang Jo juga suka telepon dia?" Jonathan menggelengkan kepalanya.


"Tidak pernah, Oya Kezia, aku boleh minta nomor ponselmu tidak?" tanya Jonathan.


"Untuk apa?" tanya Kezia balik.


"Sekedar untuk bertanya kabarmu!" sahut Jonathan.


"Sini ponselmu Bang!" Kezia menadahkan tangannya. Jonathan memberikan ponselnya pada Kezia.


"Aku akan simpan nomorku di sini ya!" Kezia mulai menyimpan nomornya di dalam ponsel Jonathan. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu.


"Bang Jo, kenapa di ponselmu ada fotoku? nanti kalau pacarmu tau bagaimana?" tanya Kezia.


Jonathan langsung mengambil ponselnya dari tangan Kezia.


"Nanti aku hapus! Waktu itu kan aku masih dendam padamu karena kau mengerjai ku!" tukas Jonathan.


"Hmm, aku kira kau kangen denganku!" gumam Kezia.


Setelah pamit, Kezia langsung naik kedalam mobilnya, Erin sudah menunggunya dengan wajah cemberut.


"Sekalian aja pulang pagi Kezia!" cetus Erin.


"Sorry! Ayo jalan dulu Rin, nanti di ujung jalan sana baru aku gantian nyetir!" kata Kezia.


Dengan wajah cemberut Erin melajukan mobil Kezia sampai di ujung jalan. Lalu mereka pun bertukar posisi.


Setelah mengantar Erin sampai di tempatnya, Kezia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.


Setelah memarkirkan mobilnya, Kezia langsung masuk kedalam rumahnya yang nampak sepi itu, dia jalan menuju ke kamarnya.


Tapi sebelum sampai ke kamarnya, Ricky sudah berdiri untuk mencegatnya.


"Eh Papa!" sapa Kezia kaget.


"Hmm" Gumam Ricky. Kezia tau Papanya sedang ingin bertanya sesuatu.


"Aku mandi dulu ya Pa!" kata Kezia. Dengan gerakan cepat Kezia langsung berjalan menuju ke kamarnya dan langsung mengunci pintunya.


"Keziaaa!!"


****