Heart's Owner

Heart's Owner
Kejar Target



Pagi itu setelah Jonathan selesai membagikan brosur di sekitar tempat kosnya, dia langsung bergegas menuju ke kantor dengan sepeda motornya.


Sesampainya di kantor, Rita sudah mencegatnya di pintu lobby.


"Selamat pagi Jo, bisa ikut ke ruangan ku sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan padamu!" kata Rita.


"Sekarang Mbak?" tanya Jonathan.


"Tahun depan!! Ya iya lah sekarang, kamu ini gimana sih Jo!" sahut Rita sambil berjalan mendahului Jonathan ke arah lift, Jonathan mengikutinya dari belakang.


Mereka langsung masuk ke dalam ruangan manager Marketing.


"Duduk Jo!" titah Rita sambil duduk di kursi kebesarannya. Jonathan lalu duduk di hadapan Rita.


"Ada apa sih Mbak?" tanya Jonathan penasaran, karena baru kali ini Rita memanggilnya.


"Itu lho Jo, aku lihat selama beberapa Minggu penjualan rumahmu meningkat drastis, bahkan kau sudah menjual 75 unit rumah dalam waktu hampir sebulan ini!" kata Rita.


"Itu juga masih kurang Mbak, nanti sehabis dari kantor aku mau prospek lagi, kalau perlu aku tidak usah pulang ke kosan, karena besok hari terakhirku Mbak!" ungkap Jonathan.


"Memangnya siapa yang memberikanmu target segitu banyak Jo? Perusahaan hanya menargetkan minimal satu rumah dalam satu bulan!" ujar Rita.


"Pak Ricky Mbak, itu adalah target pribadi dia untuk aku, supaya aku bisa melamar putrinya kalau targetku tercapai!" jawab Jonathan.


"Putri Pak Ricky? Kezia maksudnya? Jadi yang kau maksud pacarmu itu Kezia Jo??" tanya Rita dengan suara sedikit bergetar.


"Iya Mbak, maaf aku baru bilang sekarang, kalau aku berkoar-koar, aku takut pak Ricky marah!" sahut Jonathan.


Rita diam dan tertegun mendengar ucapan Jonathan. Ada guratan rasa kecewa di raut wajahnya.


"Apa mimpimu tidak terlalu tinggi Jo untuk mendapatkan Kezia, dia anak boss besar lho?!" tanya Rita.


"Aku tidak perduli dia anak siapa Mbak, walaupun dia anak tukang becak aku tetap cinta sama Kezia!" Jawab Jonathan.


Rita kembali terdiam, entah apa yang dipikirkan wanita itu.


"Kalau begitu aku keluar ya Mbak, aku masih punya sedikit waktu untuk mengejar mimpiku, trimakasih, selamat pagi!" ucap Jonathan sambil beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Rita.


Rita hanya termangu menatap kepergian Jonathan.


Jonathan terus berjalan cepat menyusuri koridor kantornya.


Besok adalah hari terakhirnya menggenapkan targetnya, selama hampir satu bulan dia sudah berhasil menjual 75 unit rumah, itu juga di kerjakan hampir tanpa istirahat.


Jonathan prospek ke pasar, rumah sakit, terminal, stasiun, dia konsisten menyebarkan brosur dan memasarkan rumah yang akan di jualnya.


Namun sudah bekerja keras, belum juga bisa mencapai 100 unit rumah yang bisa dia jual, hanya 75 rumah, itu pun belum seratus persen jadi semua.


Sore itu setelah pekerjaan kantornya selesai, Jonathan langsung meluncur ke daerah wisata, berniat akan menyebarkan brosur dan memprospek banyak orang untuk membeli produknya.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrrt


Ponsel Jonathan bergetar, dia langsung merogoh ponselnya, ternyata Kezia yang meneleponnya, wajah Jonathan langsung berubah cerah.


"Halo sayang, kangen ya sama Bang Jo, maaf bang Jo harus kejar target lagi nih, Kezia doain Abang ya!" kata Jonathan.


"Iya Bang, tapi ini kan sudah malem Bang, jangan terlalu di porsir Bang, nanti Bang Jo bisa sakit!" sahut Kezia.


"Kezia tenang saja, pokoknya besok Bang Jo mau datang ke rumah Kezia, berapapun hasil yang Bang Jo dapatkan, kalau memang Bang Jo harus mundur, karena tidak mencapai target, Bang Jo ikhlas Zia, yang penting Bang Jo sudah berusaha semaksimal mungkin!" ungkap Jonathan.


"Bang ... masa Bang Jo mundur sih?" tanya Kezia sedih.


"Zia, laki-laki itu di pegang dari perkataannya, walau Bang Jo mundur mengejar Kezia, bukan berarti Bang Jo tidak cinta Kezia lagi, kalau jodoh, pasti akan ada jalan yang lain!" jawab Jonathan.


"Iya Bang ... trimakasih atas perjuangan Abang untuk aku!" ucap Kezia.


*****


Hingga menjelang subuh, Jonathan hanya berhasil menjual 3 unit rumah, tubuhnya sudah mulai gemetar karena terlambat makan dan kurang tidur.


Keesokan harinya Jonathan bangun dan kembali menyebar brosur di dekat kawasan pabrik, hingga hari menjelang malam, Jonathan baru menghentikan aktifitasnya, karena waktunya sudah habis.


Jonathan hari ini hanya berhasil menjual dua unit rumah.


Di sana, seluruh keluarga Kezia sudah berkumpul, menunggu hasil kejar target Jonathan.


"Kau pucat sekali Nak, minum dulu ini, kau pasti lelah!" ucap Ibu Lika sambil menyodorkan segelas susu hangat untuk Jonathan.


Jonathan langsung meneguk susu hangat itu hingga tak tersisa.


"Bagaimana hasil kerjamu marketing??" tanya Ricky. Mereka semua duduk di ruang tamu.


"Sebelumnya saya minta maaf Pak, sudah genap satu bulan, saya hanya mampu menjual 80 unit rumah, itu juga dengan susah payah dan kerja keras!" jawab Jonathan.


"Jo, itu juga sudah pencapaian yang luar biasa, kau marketing yang hebat!" hibur Lika.


Sementara Kezia duduk menunduk dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya.


"Hmm, jadi bagaimana? Kau ingat kan bagaimana kesepakatan kita??" tanya Ricky.


"Ingat Pak! Kalau saya gagal melaksanakan syarat yang bapak ajukan, saya akan mundur mengejar Kezia!" Jawab Jonathan.


"Kau yakin akan mundur? Anakku banyak yang mengantri lho untuk melamarnya, kau tidak takut Kezia akan di rebut pria lain??" tanya Ricky lagi.


"Tidak Pak, saya mundur bukan berarti tidak cinta, dan Kezia juga pasti masih cinta sama saya, saya hanya mengaku kalah di hadapan Bapak karena gagal memenuhi syarat, saya tidak akan mengingkari perkataan saya sendiri!" jawab Jonathan.


Semua orang yang ada di ruangan itu berwajah sedih, terlebih lagi Kezia.


"Hmm, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Ricky sambil menatap wajah Jonathan.


Jonathan lalu berdiri dari tempatnya.


"Sesuai janji saya, saya akan mundur mengejar Kezia, Kezia ... walau Bang Jo mundur, tapi Bang Jo akan tetap cinta sama Kezia!" ucap Jonathan.


Lalu Jonathan melangkah gontai meninggalkan tempat itu, ingin cepat pulang untuk beristirahat.


Kezia nampak mulai menangis di pelukan ibunya.


Tiba-tiba Ricky berdiri dari tempatnya. Dia lalu berjalan menyusul Jonathan yang kini sudah ada di halaman depan rumah itu. Lika menggandeng tangan Kezia lalu ikut keluar dari tempat itu.


"Marketing!!" panggil Ricky. Jonathan menoleh.


"Ada apa lagi Pak? Kepala saya pusing, sepertinya saya drop karena terlalu memforsir tenaga saya, saya mau pulang, urusan kita sudah selesai kan?" tanya Jonathan.


Ricky lalu berjalan menghampiri Jonathan, lalu memeluknya erat.


"Kau calon menantu yang hebat Jo! Aku bangga padamu, aku titip Kezia padamu, kau jagalah dia dengan baik!" ucap Ricky.


"Pak Ricky tidak lagi bercanda kan, aku gagal lho pak menjual 100 rumah!" ujar Jonathan tak percaya.


"Sebenarnya aku tidak bersungguh-sungguh mengajukan syarat itu, aku hanya mengujimu saja, sejauh mana kau gigih mengejar putriku!" ucap Ricky.


"Jadi ... saya sudah dapat restu dari bapak??" tanya Jonathan terkesiap.


Ricky tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Jonathan langsung memeluk Ricky dengan erat.


"Wah, trimakasih calon mertua!! Saya janji akan menjaga amanat dari calon mertua!!" seru Jonathan senang.


"Sudah! Kau periksa ke dokter sana! Tubuhmu panas sekali, Kezia, antar calon suami masa depanmu ini ke dokter sekarang juga!! Badannya sangat panas!!" titah Ricky.


Bersambung ....


*****


Hai guys ...


Selalu di tunggu nih like dan vote nya ...


Ayo dong biar Author tambah semangat ...


Trimakasih ...