Heart's Owner

Heart's Owner
Mulai Kontraksi



Hampir setengah harian Daddy Michael dan Mom Diana bertandang ke rumah Jonathan dan Kezia, mereka mengobrol dan membicarakan banyak hal, hingga tak terasa matahari sudah mulai tenggelam.


"Pokoknya Daddy dan Mom Diana akan tetap di Indonesia sampai cucu Daddy lahir, dan Daddy berharap kalian akan datang ke Australia, ajak cucu Daddy!" ujar Daddy Michael.


"Di Australia masih banyak peternakan milik Daddy mu Jo, bahkan perkebunan juga luas, pokoknya kalian pasti betah!" lanjut Mom Diana.


"Aku juga sangat ingin ke sana, pasti pemandangannya sangat indah, tapi tunggu bayiku besar dan kuat, iya kan Bang Jo?!" ujar Kezia sambil melirik ke arah Jonathan.


"Iya Dad, kalian tenang saja, aku juga ingin sekali melihat tanah kelahiran Daddy!" timpal Jonathan.


"Kalau begitu kami balik dulu ke apartemen, supaya kalian bisa beristirahat, Jo, jaga cucu Daddy!" ujar Daddy Michael yang langsung berdiri dari tempat duduknya. Mom Diana mengikutinya.


"Hati-hati Dad!" seru Jonathan sambil melambaikan tangannya saat Ayah kandungnya itu sudah mulai menyalakan dan melajukan mobilnya.


Jonathan dan Kezia akhirnya kembali ke atas untuk beristirahat.


Kezia membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya, sementara Jonathan berbaring di sampingnya sambil terus mengusap perut Kezia yang sangat besar itu.


"Anak Papi Kalau lahir jangan buat Mami sakit ya, kasihan Mami sayang, sudah sembilan bulan bawa-bawa dedek kemana-mana, jangan susah lahirnya ya Dek!" ucap Jonathan sambil terus mengelus perut Kezia.


"Iya Papi!" sahut Kezia dengan suara yang di buat seimut mungkin.


"Sayang, sebelum dedek lahir, bang Jo boleh tidak menengok dedek untuk yang terakhir? Sebelum Bang Jo benar-benar puasa, kan setelah Kezia lahiran Bang Jo tidak mungkin menggagahi Kezia!" pinta Jonathan.


"Bang Jo apaan sih? Orang sudah mau lahiran masih ingat saja yang begituan!" sungut Kezia.


"Lagi pula tidak ada larangan dari Dokter kan?" ujar Jonathan meyakinkan.


"Memang tidak ada larangan, tapi Bang Jo bisa kan tahan nafsu sedikit, lagian juga perutku sudah sebesar ini Bang!" sergah Kezia.


"Bang Jo lagi ingin Zia, pelan-pelan deh, janji, sebentar saja, hanya menyalurkan hasrat yang terpendam!" ujar Jonathan.


Akhirnya Kezia menyerah, Jonathan kalau sudah seperti itu, jarang bisa menolaknya, bisa-bisa dia akan pusing tujuh keliling.


Untuk menyenangkan hati suaminya, akhirnya Kezia memberikan kesempatan Jonathan untuk menengok sang bayi di dalam rahimnya. Hingga Jonathan sampai pada puncaknya dan dia mulai terkulai lemas.


Kemudian kembali Jonathan mengelus perut Kezia yang besar dan agak keras itu, mengusap-usap bayi yang sedari tadi terus bergerak dengan lincah di dalam perut ibunya.


Kezia yang merasa nyaman saat Jonathan terus mengelusnya akhirnya mulai tertidur.


Jonathan yang juga lelah karena hampir setengah harian menemani Daddy Michael dan Mom Diana juga ikut memejamkan matanya dan tertidur.


Waktu sudah menunjukan jam satu dini hari.


Tiba-tiba Kezia merasa perutnya mulas sampai menembus ke belakang, pertama-tama dia masih bisa menahan rasa sakitnya karena masih jarang, lama kelamaan rasa sakitnya makin menjadi-jadi.


"Bang Jo!" panggil Kezia sambil mengguncang tubuh suaminya itu.


Jonathan tak bergeming karena dia tidur sangat nyenyak sekali.


"Bang Jo!" Kezia sekali lagi memanggil suaminya itu, sambil menepuk lembut pipi Jonathan.


Jonathan akhirnya pindah posisi dengan tidur miring, dan kembali terdengar suara dengkuran halusnya, Jonathan tetap tertidur.


Akhirnya Kezia berhenti membangunkan Jonathan, dia hendak turun dari tempat tidurnya untuk berdiri agar rasa sakit di perutnya berkurang.


Baru saja Kezia berdiri di lantai, sesuatu mengalir dari pangkal pahanya, tapi itu bukan pipis. Kezia mulai panik.


"Bang Jo!" seru Kezia dengan suara keras.


Jonathan langsung melompat dari tempat tidur karena kaget mendengar suara teriakan Kezia.


"Ini air apa ya Bang, kenapa aku jadi seperti ngompol begini?" tanya Kezia bingung sambil memegangi perutnya.


"Waduh! Bang Jo tidak tau, perut Kezia sakit tidak?" tanya Jonathan.


"Sakit Bang, sudah dari tadi, tapi Bang Jo tidak bangun-bangun aku bangunkan!" keluh Kezia.


Jonathan lalu menengok ke arah jam dinding, masih sangat subuh, bahkan saat ini baru mau jam 2 dini hari.


"Kezia mau Bang Jo antar sekarang ke rumah sakit?" tanya Jonathan.


"Tapi masih gelap Bang, besok pagi saja!" jawab Kezia.


"Tapi itu bagaimana dengan air yang mengalir?" tanya Jonathan sambil menunjuk cairan bening yang menetes di lantai.


Kezia lalu mengambil ponselnya dan mulai berselancar di internet, mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


"Bang, ini air ketuban Bang, kata internet, kalau air ketuban sudah pecah, bayi harus segera di lahirkan!" ujar Kezia.


"Ya Tuhan Zia, kalau begitu sekarang kita ke rumah sakit, Bang Jo tidak mau terjadi apa-apa pada Keiza.


Dengan cepat Jonathan langsung mengangkat Kezia dalam gendongannya, lalu segera keluar dari dalam kamarnya.


"Bang Jo balik ke kamar dulu! Bang Jo belum pakai baju dan masih pakai sarung! Walau panik harus sadar dong Bang!" seru Kezia.


Jonathan lalu segera balik ke kamar dia lalu segera memakai bajunya dengan cepat, lalu kembali menggendong Kezia sampai masuk ke dalam mobil.


Rasa mulas yang Kezia rasakan kembali muncul, walaupun sudah beberapa saat lamanya sakit itu hilang.


Saat rasa sakitnya timbul, Kezia mulai menarik nafas dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.


"Sakit Bang!" keluh Kezia.


"Sabar sayang, sebentar lagi kita sampai, kalau sakit Kezia boleh lakukan apa saja pada Abang, boleh gigit, pukul atau Jambak tidak apa-apa Zia, asal Kezia jangan kesakitan terus!" ucap Jonathan sambil tangan yang satunya tidak berhenti mengelus perut Kezia.


Tak lama mereka telah sampai di rumah sakit, tanpa menunggu, Jonathan langsung membawa Kezia ke ruang bersalin.


"Dokter!! Suster!! Tolong istri saya mau melahirkan!!" teriak Jonathan.


Beberapa suster keluar dari ruangan itu. Mereka langsung membawa Kezia berbaring di tuang bersalin itu.


"Di mana Dokter Adam??!" tanya Jonathan panik.


"Dokter Adam sebentar lagi akan di hubungi Pak, Bapak tenang saja dulu, kami akan memasang infus untuk Bu Kezia, ini air ketubannya sudah pecah ya Pak?!" tanya suster balik.


"Iya Sus, tolong supaya istriku tidak kesakitan lagi, kasihan dia!" sahut Jonathan.


Tak lama kemudian, Dokter Adam datang dengan tergopoh-gopoh.


Kemudian Dokter Adam mulai memeriksa bagian dalam Kezia dan mengontrol detak jantung sang bayi.


"Ini baru pembukaan dua Pak, masih lama prediksinya, bisa sampai besok belum tentu lahir, harus di bantu dengan induksi!" ujar sang Dokter.


"Dokter, kasihan istriku, bagaimana caranya untuk mengurangi rasa sakitnya, dia begitu kesakitan Dokter, padahal baru pembukaan dua! Pokoknya kalau terjadi apa-apa, akan ku tuntut rumah sakit ini!'" sungut Jonathan.


"Bang Jo jangan lebay, aku sakit tapi kadang masih hilang, apalagi kalau sudah pembukaan banyak, bisa nangis Bang Jo, Dokter jangan dengarkan keluhan suami ku yang lebay itu, aku tidak apa-apa!" ujar Kezia.


****