
Kezia duduk bersandar di sofa ruang tamunya, akhir-akhir ini perutnya sering terasa kram.
Mungkin karena sebentar lagi Kezia hendak melahirkan. Dia belajar menjelajah di internet, mencari tau seputar kehamilan dan tanda-tanda melahirkan.
Kring .... Kring ...
Telepon rumah Kezia berdering, Kezia lalu duduk bergeser ke arah meja telepon yang terletak di sudut ruangan itu. Dia lalu mengangkat telepon itu.
"Halo ..."
"Halo Kezia, ini Ibu Nak, kapan kau minta Jo untuk mengantarmu ke rumah Ibu? Sudah mau dekat harinya lho kamu melahirkan!" kata Lika dari seberang telepon.
"Aku di sini saja Bu sama Bang Jo, Ibu dan Papa jangan khawatir, nanti kalau sudah waktunya juga semua aku kabarin!" ujar Kezia.
"Tapi kan ini anak pertama Zia, biar Ibu bisa membantumu, atau Kezia mau Ibu yang menginap di sana?" tanya Lika.
"Aku tidak mau merepotkan Ibu, lagi pula Papa terbiasa sama Ibu, kalau Ibu menginap di sini Papa pasti kesepian, kan masih ada adik-adik yang lain, tidak apa-apa Bu, aku bisa sendiri sama Bang Jo, nanti kalau ada apa-apa aku pasti beritahu itu!" jawab Kezia.
"Janji lho ya, Ibu akan tunggu terus telepon dari kamu, pokoknya kamu jangan terlalu capek dan stress, kalau mulai ada kontraksi segera hubungi Dokter!" ujar Lika memperingatkan.
"Beres Bu, tenang saja, aku sudah banyak belajar dari internet!" sahut Kezia sebelum menutup teleponnya.
Ting ... Tong ...
Suara bel dari depan rumah Kezia berbunyi, padahal Kezia baru saja akan beristirahat di kamarnya.
Kemudian Kezia segera berdiri dan beranjak ke arah depan rumahnya.
Saat dia membuka pintu, Ratna sudah berdiri di sana dengan tersenyum ke arahnya, di tangannya ada sebuah rantang susun.
"Mbak Ratna? Ayo masuk Mbak, Dari mana Mbak Ratna tau rumahku?" tanya Kezia sambil menuntun Ratna masuk ke dalam rumahnya.
"Mas Beni yang memberitahukannya, ternyata rumahmu tidak jauh dan besar juga ya Zia, padahal kalian kan cuma tinggal berdua!" jawab Ratna.
"Iya Mbak, tapi sebentar lagi kan sudah tidak berdua lagi!" ujar Kezia sambil mengelus perutnya yang buncit itu, Ratna memandang lekat ke arah perut Kezia.
Mereka kemudian duduk sofa ruang tamu itu. Ratna menyodorkan rantang yang berisi aneka makanan itu ke arah Kezia.
"Kezia, ini makanan buat kau dan Bang Jo, tadi aku masak agak banyak!" kata Ratna.
Kezia membuka rantang makanan itu, lagi-lagi makanan kesukaan Jonathan. Kezia menghela nafas panjang.
"Mbak Ratna, lain kali jangan repot-repot ya, aku bisa masak sendiri untuk Bang Jo!" ucap Kezia.
"Tidak repot kok Zia, sekalian tafibaku memang masak banyak, lagipula kan sebentar lagi kau akan melahirkan, pasti akan capek kan kalau memasak terus, apalagi Bang Jo itu kan makannya banyak, dia butuh asupan makanan yang cukup!" ujar Ratna.
Kezia menatap dalam ke arah Ratna, semua sikap dan perlakuan Ratna jelas menyiratkan kalau Ratna masih mencintai Jonathan, padahal Ratna sudah bersuami. Hal itu membuat hati Kezia menjadi sakit.
"Mbak Ratna, Bang Jo itu suami aku, Ayah dari calon anakku ini, rasanya tidak pantas kalau Mbak Ratna terlalu perhatian sama Bang Jo, walaupun hanya soal makanan!" ungkap Kezia.
Ratna terdiam seketika, ada yang mengambang di pelupuk matanya, mata yang sarat akan suatu perasaan yang tidak pernah terungkap dan tersembunyi.
Kezia menggenggam tangan Ratna yang dingin itu, berusaha memberikan pengharapan.
"Kezia maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk ..." Ratna menghentikan ucapannya.
"Aku tidak marah sama Mbak Ratna, aku hanya kasihan sama Mbak Ratna, Mas Beni pasti sedih jika tau hati Mbak Ratna masih terpaut dengan Bang Jo!" ucap Kezia.
Tiba-tiba Ratna menangis, terpancar kesedihan dari dalam hatinya.
Kezia lalu memeluk Ratna dengan erat.
"Kau benar Zia, aku salah, aku salah, aku benci dengan perasaan ini, maafkan aku Kezia, semakin aku melihat Bang Jo perasaan itu semakin kuat, entah mengapa, sejak kecil aku mengaguminya, hingga rasa kagum itu berubah menjadi cinta, dan aku tidak menyangka perasaan itu begitu kuatnya!" isak Ratna.
"Aduh!" tiba-tiba Kezia memegangi perutnya.
"Perutmu kenapa Zia?" tanya Ratna panik.
"Sakit Mbak, tiba-tiba perutku sakit!" sahut Kezia. Wajahnya berubah menjadi pucat. Ratna terlihat panik melihat perubahan Kezia.
"Kezia, aku antar ke dokter saja ya, siapa tau kau akan melahirkan!" kata Ratna.
"Jangan Mbak, aku minta tolong ambilkan ponselku di atas meja, aku mau telepon Bang Jo!" tukas Kezia.
Dengan cepat Ratna mengambilkan ponsel Kezia yang ada di atas meja, lalu menyodorkannya ke arah Kezia.
Kezia langsung memencet nomor Jonathan.
"Halo sayang, kau baik-baik saja kan? Ini Daddy Michael dan Mom Diana baru sampai, katanya mereka mau menunggu cucunya lahir, kau tidak apa-apa kan sayang?" tanya Jonathan cemas.
"Bang Jo, bisa pulang tidak? Perutku sakit Bang, sepertinya aku mulai kontraksi!" ujar Kezia sambil meringis menahan sakit.
"Iya sayang, Bang Jo langsung meluncur sekarang, tunggu sebentar ya, tahan ya sayang!" Jonathan langsung menutup teleponnya.
Ratna menyodorkan air putih ke mulut Kezia, Kezia meneguknya sampai habis.
"Tarik napas Zia, ini baru permulaan, kau harus kuat demi bayimu dan Bang Jo!" ujar Ratna menyemangati.
"Iya Mbak, sekarang kontraksinya hilang, mungkin ini yang di sebut kontraksi palsu, tapi tetap saja aku harus berjaga-jaga!" kata Kezia.
Ratna membantu membaringkan Kezia di sofa itu.
Tak lama kemudian mobil Jonathan sudah terparkir di depan rumahnya, dengan wajah cemas Jonathan langsung masuk ke dalam dan langsung memeluk Kezia.
"Kita ke rumah sakit sekarang sayang, sekalian bawa tas bayinya, siapa tau kau akan melahirkan sekarang!" ujar Jonathan sambil menciumi perut Kezia.
Ratna menatap ke arah mereka dengan hati yang sedikit bergetar menahan rasa.
Karena cintanya pada Kezia, sampai dia tidak menyadari kehadiran Ratna di sana.
"Bang Jo jangan panik, ini cuma kontraksi palsu, sekarang perutku tidak sakit lagi!" sergah Kezia. Jonathan mengerutkan keningnya heran.
"Palsu? Mau palsu atau asli tetap kau harus ke rumah sakit, aku mau pastikan kau dan bayiku baik-baik saja!" ucap Jonathan sambil terus menciumi perut dan wajah Kezia.
Kemudian Jonathan langsung menggendong Kezia menuju ke mobilnya yang terparkir, lalu membaringkan Kezia di jok samping kemudi, kemudian dia mulai masuk ke dalam mobilnya.
"Bang Jo, itu ada Mbak Ratna, masa mau di tinggal?!" ujar Kezia.
Jonathan tertegun saat baru menyadari kalau Ratna ada di sana dan pintu rumahnya juga masih terbuka lebar.
Dengan cepat Jonathan turun dari dalam mobilnya.
"Ratna, maaf, apa kau mau sekalian ku antar pulang, aku juga lupa mengunci pintu rumahku!" ujar Jonathan.
"Kau antar Kezia saja Bang, aku bisa pulang sendiri!" sahut Ratna.
Jonathan lalu mulai menutup dan mengunci pintu rumahnya dan langsung kembali ke mobil dan melajukannya cepat ke rumah sakit.
****