Heart's Owner

Heart's Owner
Kabar Dari Nando



Pagi itu setelah sarapan, Jonathan dan Kezia berniat pamit pulang ke apartemen mereka.


"Kalian cepat sekali pulang, belum banyak kita ngobrol-ngobrol!" ujar Lika.


"Besok sudah hari Senin Bu, Bang Jo kan harus ke kantor, semua pakaian kantor ada di apartemen!" sahut Kezia.


Jonathan nampak keluar dari kamar setelah dia mengambil tas besarnya dan barang-barangnya.


"Bang Jo kapan main lagi ke sini? Seru tau main sama Bang Jo!" cetus Given tiba-tiba.


"Bang Jo akan sering main kok, kan Kak Kezia juga butuh teman, apalagi sekarang dia lagi hamil!" sahut Jonathan.


"Jadi aku akan punya adik lagi?" tanya Gavin.


"Bukan adik, tapi keponakan, nanti kalian akan di panggil Om dan tante sama anaknya Kak Kezia!" jawab Lika.


"Kita semua masih SD masa di panggil Om dan Tante??" protes Gavin.


Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa.


Tiba-tiba Ricky masuk ke dalam kamarnya, tak lama kemudian dia sudah keluar lagi dari kamarnya sambil membawa serangkai kunci.


"Jo, ini kunci rumah yang kau inginkan, letaknya tidak jauh dari kantor, jadi saat istirahat siang kau bisa pulang ke rumah, ini adalah perumahan premium yang aku bangun, sengaja letaknya aku pilih yang paling strategis!" ujar Ricky sambil menyodorkan serangkaian kunci itu ke arah Jonathan.


"Terimakasih Pa! Zia, ini rumah impianmu Zia, rumah kita!" seru Jonathan senang.


"Kalian bisa segera menempatinya dan pindah dari apartemen itu!" lanjut Ricky.


"Mulai bulan depan, aku akan mencicilnya ke Papa!" ujar Jonathan.


"Baiklah, kau boleh mencicilnya kapan pun, aku tak akan memberi jatuh tempo, aku bukan tukang kredit!" cetus Ricky.


"Aku janji, akan secepatnya melunasi rumah itu!" kata Jonathan.


"Terimakasih Pa!" ucap Kezia.


"Kezia, kau sering-seringlah ke sini, Ibu juga akan sering mengunjungimu, kau pasti butuh teman, apalagi kini kau sedang hamil!" ucap Lika.


"Iya Bu, pasti, banyak yang mau aku tanyakan ke Ibu seputar kehamilan!" sahut Kezia.


"Kezia, doakan Nando adikmu, dia saat ini sedang sedih, Ayahnya sakit keras, sementara dia yang akan ambil alih perusahaan Ayahnya, padahal Nando masih kuliah, umurnya juga baru 20 tahun, dia terpaksa harus lebih dewasa dari usianya!" ungkap Ricky.


"Iya Pa, nanti sesampainya aku di apartemen, aku akan langsung telepon Nando!" kata Kezia.


"Kalau begitu kami pamit Pa, sudah siang, terimakasih atas rumahnya, secepatnya nanti kami akan pindah ke rumah itu!" pamit Jonathan.


"Ya, kalian hati-hati, Jo, jaga kandungan istrimu!" pesan Ricky.


"Iya Pa, siap!" sahut Jonathan yang langsung menggandeng Kezia menuju ke luar di mana mobilnya terparkir.


Ricky dan Lika mengantar mereka sampai di depan pintu.


****


Dalam perjalanan pulang, Kezia tiba-tiba meminta Jonathan untuk menghentikan mobilnya.


Jonathan kemudian berhenti di tepi jalan itu.


"Ada apa sayang?" tanya Jonathan cemas.


"Aku mual Bang kalau jalannya terlalu ngebut, pelan-pelan saja ya Bang!" sahut Kezia yang wajahnya terlihat mulai pucat.


"Kau ingin makan apa sayang, supaya perutmu tidak mual lagi, jangan buat Abang cemas dong!" ujar Jonathan.


"Aku ingin makan yang asam-asam Bang, seperti mangga, rujak, atau asinan, yang segar-segar gitu!" jawab Kezia.


Ketika hampir mendekati apartemen, mereka baru ketemu dengan yang jual rujak, Jonathan langsung membelikannya untuk Kezia.


Seperti biasa, Jonathan akan menggendong Kezia naik ke atas ketika mereka sudah sampai di apartemen itu.


Kezia langsung menyantap rujak yang di belikan Jonathan tadi.


"Wah, Abang tidak di bagi nih!" goda Jonathan saat melihat Kezia makan dengan antusiasnya.


"Abang makan yang lain saja, ini punyaku!" cetus Kezia.


Jonathan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Kezia yang begitu bersemangat menghabiskan rujaknya sendirian.


Setelah menghabiskan makanannya, Kezia langsung telepon Nando melalui video call.


"Halo Nando! Kau apa kabar?" tanya Kezia saat teleponnya tersambung.


"Baik Kak, kakak bagaimana? Sehat-sehat kan? Bang Jo mana Kak?" tanya Nando balik.


Kezia lalu mengarahkan ponselnya ke arah Jonathan yang duduk di sebelah Kezia.


"Halo Nando, kau terlihat kurusan, makan yang banyak Do!" kata Jonathan.


"Iya Bang, mungkin aku kecapean bolak balik mengurus Ayah dan usahanya, di tambah lagi kuliah ku!" sahut Nando.


"Jangan lupa minum vitamin dan makanan sehat Do!" ujar Jonathan.


"Kak Kezia malah kelihatan gemukan, senang ya di nikahi sama Bang Jo!" ledek Nando.


"Kakakmu gemukan karena ada isinya Do, sebentar lagi kau akan punya keponakan!" timpal Jonathan.


"Oya? Selamat ya kak, juga bang Jo, tokcer bener kalian!" seru Nando.


"Kau bisa saja Do, Terimakasih ya!" ucap Jonathan.


"Nando, bagaimana kabar Ayah Martin?" tanya Kezia.


"Ayah, kondisinya makin lemah Kak, dia sudah mulai komplikasi, aku takut, Ayah tidak bisa lagi bertahan lama!" wajah Nando tiba-tiba berubah murung.


"Nando, kau masih punya keluarga di sini, masih ada Papa, ibu, aku dan yang lainnya,kau jangan merasa sendiri Do!" ucap Kezia.


"Terimakasih Kak, selain kalian aku sudah tak punya siapa-siapa lagi!" sahut Nando.


"Do, memangnya di sana kau tidak punya pacar?" tanya Kezia.


"Boro-boro pacar Kak, untuk mengurus diri sendiri dan Ayah saja aku sudah kewalahan, walaupun banyak cewek yang mengejarku, tapi mereka bukan prioritas ku!" jawab Nando.


"Kau ini ternyata dingin juga ya Do jadi cowok, kau boleh kok pacaran, usiamu sudah cukup, aku ijinkan, pacar bisa membuatmu lebih semangat menjalani hidup!" ucap Kezia.


"Belum ada yang cocok kak, sudahlah, kenapa jadi membicarakan itu sih? Sebentar lagi aku akan ke rumah sakit untuk menjaga Ayah, sampaikan salam ku buat Papa dan ibu ya kak, juga adik-adik yang lain!" kata Nando sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Kezia menyandarkan kepalanya di sofa ruang tamu itu.


"Huh, Nando kalau menyinggung cewek, dia langsung kabur!" sungut Kezia.


"Kalau dia belum siap ya jangan di bujuk-bujuk dong Zia!" kata Jonathan.


"Maksudku baik bang, supaya dia semangat hidup, kau lihat sendiri tadi dia terlihat sedih dan putus asa!" ujar Kezia.


"Mungkin benar kata Nando, belum ada yang cocok di hatinya, suatu hari juga dia akan menemukan tambatan hatinya, kita tunggu saja waktunya!" ucap Jonathan bijak.


****