
Pagi itu Jonathan berziarah ke makam Mamanya yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
Dia mencabuti rumput yang sudah mulai meninggi di sekitar makam Mamanya.
Jonathan bersimpuh di sisi makam ibunya, kemudian dia mengelus batu nisan bertuliskan nama Mamanya.
"Maafin Jo Ma, Jo sudah mengingkari janji Jo, untuk menjaga dan melindungi Ratna!" Jonathan mulai meneteskan air matanya.
"Jo sudah mengenal Ratna sejak kecil Ma, Jo tidak tau bagaimana rasanya jatuh cinta, Ratna itu bagi Jo adalah teman kecil, seorang adik, dan itu perasaan biasa yang Jo rasakan selama ini!" ucap Jonathan.
Laki-laki itu mulai mengusap wajahnya yang kini telah basah oleh air mata. Dia menangis. Mencurahkan isi hatinya di depan makam sang Mama.
"Jo minta maaf sama Mama, kalau Jo sudah mengecewakan Mama, Jo sudah ... sudah jatuh cinta pada seorang gadis, tapi itu bukan Ratna Ma!" Jonathan sudah tak bisa lagi membendung perasaannya.
"Apa Jo salah, dengan perasaan yang Jo alami sekarang? Perasaan yang sulit untuk di lukiskan dengan kata-kata, Jo tersiksa dengan dilema ini Ma!" tangis Jonathan pecah di kesunyian makam itu.
Tiba-tiba, ada yang menyentuh pundaknya dari belakang.
Jonathan menoleh. Binsar sudah berdiri di belakang Jonathan dengan tersenyum.
Kemudian dia ikut duduk bersimpuh di samping Jonathan.
"Kau jatuh cinta sama siapa Jo?" tanya Binsar.
"Eh, itu Bang, sama ... teman kuliah di Jakarta, tadinya aku sangat tidak menyukainya, tapi seiring berjalannya waktu, entah kenapa hatiku selalu mencarinya!" ucap Jonathan.
Binsar menghela nafas panjang.
"Kita memang tidak pernah tau Jo, kemana hati kita akan berlabuh! Dari kecil kau memang sudah terbiasa dengan Ratna, karena terbiasa itulah, kau merasa hambar terhadapnya!" ucap Binsar.
"Jadi aku harus bagaimana Bang?" tanya Jonathan.
"Kau tentukan pilihanmu dari sekarang, kau harus tegas sama Ratna mengenai perasaanmu!" jawab Binsar.
"Sudah Bang! Ratna sudah tau perasaanku, tapi, bagaimana dengan orang tuanya yang sudah terikat perjanjian dengan orang tuaku?" tanya Jonathan lagi.
"Katakan saja terus terang!" sahut Binsar.
"Aku akan melukai banyak orang!"
"Itu resiko yang harus kau tanggung Jo, pilihan kan ada di tanganmu!" tegas Binsar.
"Aku jadi merasa berdosa dengan Mama, mungkin dia sedih saat ini, melihatku seperti ini!" gumam Jonathan.
"Sudahlah Jo, ayo kita jalan, aku traktir kau makan di luar, bukannya besok kau sudah kembali ke Jakarta?" tanya Binsar.
"Iya Bang, hari Senin aku sudah harus masuk kerja! Kalau aku bolos, bisa-bisa aku di pecat!" sahut Jonathan.
Mereka berjalan meninggalkan makam itu.
Jonathan dan Binsar membeli makanan di luar lalu kembali ke rumah Jonathan.
Binsar sengaja menginap di rumah Jonathan untuk menemaninya.
Saat Jonathan sedang mencari surat-surat penting, tiba-tiba sebuah map jatuh dari laci lemari ibunya, Jonathan lantas mengambilnya dan membuka isi dari map itu.
Matanya terbuka lebar saat dia membaca isi dari surat perjanjian itu.
"Bang Binsar!!" panggil Jonathan.
Dengan tergopoh-gopoh Binsar datang menghampiri Jonathan ke kamar mendiang Mamanya.
"Apaan sih Jo? Kau menemukan harta Karun??" tanya Binsar.
"Bukan Bang! Coba Bang Binsar baca ini!!" Jonathan menunjuk tulisan di dalam surat itu.
"Ya Tuhan, jadi Mama mu pernah berhutang sama keluarga Ratna Jo? Ini surat baru di buat lho, lihat tanggalnya tuh, sebulan sebelum Mamamu meninggal!" seru Binsar.
Di situ tertera kalau Mamanya Jonathan memiliki hutang selama sekian tahun, untuk biaya pendidikan Jonathan, sebagai imbalan Jonathan harus bekerja di perkebunan Pak Purba, atau menikahi Ratna, karena orang tua Ratna tau kalau Ratna mencintai Jonathan.
"Aku baru tau Bang, kalau Mama punya hutang sebesar 300 juta sama keluarga Ratna, kenapa Mama tidak katakan padaku, pantas saja Mama berpesan agar aku menikahi Ratna, itu semata-mata karena Mama tidak mau aku susah untuk melunasi hutang-hutangnya!" seru jonathan shock.
"Tenang Jo, kita bicara dengan kepala dingin, kau jangan terbawa emosi!" sahut Binsar menenangkan.
"Apakah Ratna tau hal ini?" tanya Jonathan.
"Mana aku tau?" sahut Binsar.
"Bang, antar aku kerumah Om Purba, aku mau bicara ini pada mereka!" ujar Jonathan.
"Jangan tergesa-gesa Jo! Pikirkan perasaan Ratna!" timpal Binsar.
"Ratna tidak salah, orang tuanya yang salah, menjadikan aku sebagai penebus hutang mereka!" seru Jonathan.
"Sabar Jo, mungkin karena kau ini berharga mahal bagi mereka, semua orang di kampung ini tau, kau berpendidikan, kau tampan, banyak wanita yang mengincarmu, Om Purba curi start duluan, supaya kau jatuh ke tangan putrinya!" jelas Binsar.
Jonathan merebahkan tubuhnya di kasur mendiang Mamanya. Pikirannya benar-benar galau.
Saat hari menjelang sore, Jonathan dan Binsar mengendarai motor menuju rumah Ratna.
"Eeh ... Jo, kau di tunggu dari siang ke mana saja? Ayo masuk Jo! Ratnaa!! Ini Abangmu datang, kau keluarlah dari kamarmu!!" teriak Tante purba.
Ratna muncul dengan wajah pucatnya.
"Kau ini Ratna!! Dandan sedikit kenapa?? Masa Abang mu keren begitu kau begitu kucel? Ganti baju sana!!" Tante Purba mendorong tubuh Ratna kembali masuk ke kamarnya.
"Saya tidak lama Tante!" kata Jonathan.
"Kau jangan sungkan Jo, ini kan calon rumahmu juga, kalau ada kau, Ratna itu kelihatan bahagia, kalau kau tak ada, dia mengurung terus di kamarnya!" cetus Tante Purba.
Tiba-tiba Om Purba muncul dari arah belakang.
"Wah, calon mantu sudah datang, Jo, nanti kalau kau menikah dengan Ratna, perkebunan sawit kau yang mengelolanya ya!" ujar Om Purba sambil duduk di kursi di depan Jonathan dan Binsar.
"Tapi Om ..."
"Sudahlah kau jangan sungkan, kau ini kan pintar Jo, pasti di tanganmu, perkebunan ku akan tambah maju!" kata Om Purba.
Tante Purba datang dengan membawa dua cangkir kopi panas.
Tak lama kemudian, Ratna muncul dari kamarnya sudah dengan pakaian rapi dan sedikit polesan di wajahnya.
Kemudian dia duduk di samping Om Purba.
"Aku dengar, besok kau sudah harus kembali ke Jakarta ya?" tanya Om Purba.
"Iya Om, aku harus kembali bekerja!" sahut Jonathan.
"Dari pada kau kerja sama orang yang hanya mengandalkan gaji, lebih baik kau bantu Om lagi mengelola perkebunan Om yang luas itu!" tawar Om Purba.
"Tapi itu bukan passion saya Om, saya sudah ambil kuliah di Jakarta, saya mau jadi orang maju dan berpendidikan, tau dunia luar, tidak menjadi katak dalam tempurung!" jelas Jonathan.
Om Purba dan Tante Purba Menganggukan kepalanya.
"Boleh saja, asal ... kau lamar putriku secepatnya, aku tidak suka melihat dia sedih kalau jauh darimu!" ucap Om Purba.
Semua yang ada di situ terkesiap mendengar ucapan Om Purba.
"Om, Tante, katakan berapa total hutang Mama saya pada keluarga kalian, aku janji untuk melunasinya asalkan jangan mengekangku lagi!" tegas Jonathan.
****