Heart's Owner

Heart's Owner
Persiapan Bulan Madu



Jonathan dan Kezia mulai persiapan paking untuk bulan madu mereka yang akan di laksanakan besok.


Mereka mulai masukan pakaian hangat karena saat mereka berangkat adalah saat di mana di Jepang adalah musim dingin, Jonathan sangat ingin melihat salju.


"Bawa mantel secukupnya saja bang, di sana kan banyak!" kata Kezia.


"Iya Zia, ini Bang Jo lagi bawa persediaan sarung lebih, yakin di Jepang tidak ada sarung!" ujar Jonathan.


"Buat Sapan sih sarung! Di sana orang tidur pakai piyama bang!" kata Kezia.


"Pakai sarung kan lebih adem Zia, jadi Kezia bebas mau main kapan saja!" cetus Jonathan.


"Main apaan sih Bang?"


"Mainin junior Abang!"


"Dih maunya! Udah deh bang jangan macam-macam, kita mau bulan madu bukan pamer sarung!" sungut Kezia.


Setelah selesai, Kezia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya, tiba-tiba perutnya merasa sangat lapar.


"Bang, layar Bang!" ujar Kezia.


"Kau mau makan apa sayang?" tanya Jonathan.


"Sudah lama aku tidak makan di cafe Mbak Rosi, kita makan di sana saja yuk!" ajak Kezia.


"Boleh, tapi sebentar lagi ya, punya Abang belum selesai!" kata Jonathan.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Jonathan malah menyusul Kezia tidur di sampingnya.


Kezia yang melihat Jonathan tidur malah memeluknya dengan erat.


"Sebentar lagi deh bang, mau peluk-pelukan dulu!" kata Kezia.


Kezia pun mulai bermanja-manja dalam pelukan Jonathan, dia membenamkan kepalanya di dada Jonathan.


"Enak juga ya Bang, sekarang kapan pun aku bisa manja-manja sama Bang Jo, karena Abang selalu ada di samping aku!" ucap Kezia.


"Iya sayang!" sahut Jonathan sambil membelai rambut Kezia.


"Bang ..."


"Iya sayang!"


"Mbak Ratna ada di mana ya sekarang? Dia masih di Jakarta atau sudah balik ke Medan?" tanya Kezia.


"Tidak tau Zia, sejak pernikahan kita waktu itu aku sudah tidak tau lagi kabarnya, coba nanti aku tanya si Beni!" jawab Jonathan.


"Bang, kok aku malah ngantuk ya Bang, tapi laper!" kata Kezia.


"Hmm, bilang saja mau minta di gendong lagi ke bawah!" ledek Jonathan.


"Eh si Abang tau aja, tapi ya tidak apa-apa dong gendong istrinya ke bawah, kecuali istri orang lain!" cetus Kezia.


"Kezia mau Bang Jo gendong istri orang lain?" tanya Jonathan.


"Coba aja kalau berani bang!" sahut Kezia.


"Jadi tidak makan di cafe Mbak Rosi?" tanya Jonathan.


"Kezia tidak ganti baju?" tanya Jonathan.


"Tidak usah bang! Masih bagus ini, orang cuma dinner doang kok!" sahut Kezia.


Jonathan kemudian segera berganti pakaian, sementara Kezia masih rebahan di tempat tidurnya.


Setelah selesai, Jonathan segera berjongkok di depan Kezia.


"Silahkan naik tuan putri!" ujar Jonathan.


Dengan sigap Kezia memeluk punggung Jonathan dan langsung melompat ke pelukannya.


Jonathan langsung berdiri dan membuka pintu apartemen, kemudian dia menutup kembali pintu apartemennya itu.


Mereka terus berjalan turun menuju ke tempat mobil Jonathan terparkir.


Selesai Sampai di parkiran, Jonathan lalu menurunkan Kezia di jok bangku depan.


"Yuk turun tuan Putri!" ucap Jonathan.


Kezia lalu turun dan langsung menghempaskan tubuhnya di jok mobil Jonathan.


Setelah itu Jonathan langsung melajukan mobilnya menuju ke cafe Rosi.


Tak lama kemudian mereka telah tiba di cafe Rosi, suasana cafe malam itu tidak begitu ramai.


Kezia langsung memilih tempat duduk kesayangannya.


"Selamat datang di cafe Rosi pengantin Baru!" sapa Rosi dan Andri yang malam itu kebetulan ada di cafe.


"Hai Mbak, kami lapar mau dinner romantis, bisa minta siapkan menu special tidak nih malam ini!" tanya Kezia.


"Tentu saja bisa, tunggu sebentar ya, kami akan menyiapkan yang luar biasa buat kalian, di bangku pojok sana, kalian bisa dansa romantis!" kata Andri.


"Wah bagus dong! Mau ya bang! Nanti kita dansa romantis!" ujar Kezia antusias.


Andri dan Rosi mulai menyiapkan momen Romantis, sementara Jonathan dan Kezia menunggu dengan perasaan berdebar tak karuan.


Tak berapa lama kemudian, suara musik klasik mulai memggema di cafe itu.


Kezia dan Jonathan langsung pindah posisi tempat duduk.


"Ayok bang Kita dansa dulu!" ajak Kezia.


"Tapi Abang tidak bisa dansa Zia, malu Abang ini Zia!" kata Jonathan.


"Yah ayah Abang Mah, ya sudah ikutin aku saja Bang!" ajak Kezia yang mulai menarik tangan Jonathan kearahnya.


Kezia mulai memandu Jonathan untuk berdansa mengikuti irama musik.


Ternyata Kezia sangat piawai dalam berdansa, dalam waktu singkat mereka sudah jadi pusat perhatian.


Gara-gara Kezia dan Jonathan yang berdansa, kini para pengunjung cafe semua berdansa juga apalagi mereka yang datang membawa pasangan masing-masing.


****