
Kezia masih duduk termenung di sofa apartemennya, memikirkan perkataan Rosi barusan.
Memang sejak dia menikah dengan Jonathan sekitar sebulanan lalu, dia belum datang bulan, terakhir yang Kezia ingat dia datang bulan sebelum menikah dengan Jonathan, itu juga sudah lama, selama ini karena banyak kejadian tak terduga, Kezia jadi tidak sadar dengan kondisinya.
"Lho Kezia, kok malah bengong, kalau sampai saat ini sejak menikah kau belum juga datang bulan, bisa jadi kau hamil!" kata Rosi mengagetkan Kezia, terlebih Jonathan.
"Hah?? Hamil??" tanya Kezia.
"Begini saja deh, untuk memastikan, kau ke apotik sekarang Jo, beli alat tes kehamilan, nanti kita buktikan dari situ!" usul Andri.
"Tapi kenapa Kezia bisa hamil secepat itu? Rasanya kami belum lama menikah, apa segitu dahsyatnya benihku sehingga membuat Kezia begitu cepat hamil?" tanya Jonathan bingung.
"Yah mungkin kau memang tok cer Jo! Aku salut padamu, dulu saja Rosi Beru bisa hamil setelah kami menikah enam bulan, kalian memang luar biasa!" jawab Andri.
"Sudah, kita buktikan saja sama-sama, cepat Jo kau ke apotik di bawah sana, beli alat tes kehamilan istrimu!" ujar Rosi.
Akhirnya dengan sigap Jonathan berdiri dan langsung keluar dari apartemennya itu, berniat membeli alat tes kehamilan di apotik yang letaknya di lantai bawah apartemennya.
Rosi dan Andri menemani Kezia kembali mengobrol.
Sementara Jonathan yang kini perasaanya sulit di lukiskan dengan kata-kata berjalan cepat dan langsung menuju ke apotik yang di maksud.
Dia langsung membuka pintu apotik dengan nafas sedikit ngos-ngosan.
"Selamat siang Mbak, aku mau beli alat tes kehamilan dong!" kata Jonathan tanpa basa basi.
"Tes kehamilan? Buat pacarnya ya Mas!" cetus penjaga apotik itu.
"Enak saja, buat istriku lah!" sahut Jonathan.
"Ooh buat istri, habis Mas nya kayak orang panik gitu, kirain pacarnya hamil mas, lagian juga Mas nya masih muda banget!" kata si penjaga toko sambil mengambilkan beberapa alat yang di maksud.
"Saya juga bingung Mbak, cepat banget istriku hamil, baru juga bulan lalu kami menikah!" sahut Jonathan.
"Wah, mas nya tok cer juga juga ya, bahagia bener yang jadi istrinya, nih mas ada beberapa alat tes kehamilan, dari yang murah sampai yang mahal, Mas nya mau yang mana?" tanya si penjaga toko.
"Mau yang paling akurat Mbak!" sahut Jonathan.
"Semuanya tulisannya juga akurat, cuma yang mahalan sedikit lebih canggih saja!" kata si penjaga toko.
"Ya sudah, aku mau yang mahal, tidak usah di bungkus Mbak, aku buru-buru istriku menunggu!" ujar Jonathan.
"Oke Mas, selamat ya sudah mau jadi Ayah nih!" goda si penjaga toko sambil menyodorkan alat tes kehamilan itu ke arah Jonathan.
Setelah membayar dan mengambil barangnya, Jonathan dengan cepat langsung keluar dari apotik itu dan langsung menuju ke apartemennya di atas.
Setelah Jonathan masuk ke dalam apartemennya, Kezia terlihat duduk lemas sementara Rosi duduk di sebelahnya.
"Kau lama juga Jo, tadi Kezia muntah lagi tuh!" kata Rosi.
"Maaf, ini aku sudah beli alatnya, bagaimana cara pakainya?" tanya Jonathan bingung.
"Sini, Kezia yang akan melakukannya, Ayo Zia, kita ke toilet, nanti aku akan beritahu cara memakainya!" Rosi langsung menuntun Kezia ke toilet sementara Jonathan menunggu dengan berdebar.
"Wajahmu tegang sekali Jo, biasa saja kali, semua orang juga mengalami itu!" ledek Andri.
"Ah kau ini Ndri, aku cuma sedikit shock dan tidak menyangka saja, akan membuat Kezia hamil, aku ngeri membayangkan dia akan muntah setiap hari!" ujar Jonathan polos.
"Bagaimana sayang hasil tesnya?" tanya Jonathan tak sabar.
"Ya belum kelihatan jelas lah Jo, sabar tunggu 3 menit!" sahut Rosi.
Mereka bersama-sama menunggu di ruang tamu itu, sambil memperhatikan hasil tes kehamilan Kezia.
setelah lewat 3 menit, warna di alat tes kehamilan itu berubah, kini menjadi dua garis merah. Mereka terkesiap melihatnya, Kezia dan Jonathan juga nampak terkejut namun tak dapat menyembunyikan kebahagian mereka.
"Wah positif!!" seru Rosi antusias.
"Benarkah? Jadi aku hamil beneran Mbak Rosi?" tanya Kezia nyaris tak percaya.
"Ya iyalah, ini tuh akurat 99 persen!" sahut Andri.
Jonathan masih nampak bengong tanpa bisa berkomentar apa-apa.
"Jo, segera bawa Kezia ke dokter kandungan, supaya bisa di ketahui usia kehamilannya!" kata Andri.
"Iya Ndri, ini kejutan banget buat aku, tidak menyangka aku akan jadi calon Ayah sebentar lagi, baru kemarin aku merantau ke Jakarta!" ucap Jonathan dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat ya buat kalian, Jo kelihatannya sedang baper dan melow tuh, kalau begitu kami pamit ya, silahkan merayakan kehamilan Kezia berdua saja!" kata Rosi.
"Mbak Rosi terimakasih ya, akhirnya aku bisa hamil seperti dirimu, kapan bayimu akan lahir?" tanya Kezia sambil mengelus perut buncit Rosi.
"Sekitar tiga bulan lagi, tapi aku mau lahiran di kampung Zia, dekat dengan saudara dan kerabat, orang tua juga! Kau sih enak orang tuamu di Jakarta!" jawab Rosi.
"Sudah ayo, kita pulang sayang, mungkin mereka mau menikmati momen berdua!" ujar Andri tiba-tiba yang langsung berdiri.
Akhirnya Rosi dan Andri pamit pulang, kini tinggal Kezia dan Jonathan yang duduk di sofa itu, mereka saling diam dan terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Bang Jo!" panggil Kezia.
"Iya sayang!"
"Kok Bang Jo banyak diam dari tadi? Bang Jo tidak suka memangnya kalau aku hamil?" tanya Kezia.
"Sayang, Bang Jo bahagia banget, makanya sulit di lukiskan dengan kata-kata, Bang Jo hanya tidak menyangka akan secepat ini bisa membuat Kezia hamil!" jawab Jonathan.
"Yah bagaimana tidak jadi anak Bang, Bang Jo sudah terlalu banyak menyimpan benih Abang di perutku ini, sekali main mana pernah Bang Jo cuma satu kali, pasti berkali-kali!" ucap Kezia.
Jonathan langsung beringsut mendekati Kezia dan langsung memeluknya dengan erat.
"Ssst, jangan begitu sayang, Kezia juga suka kan Bang Jo buat melayang ke surga? Mulai sekarang Bang Jo akan menjaga Kezia dengan sepenuh hati Abang, Kezia tidak boleh capek, tidak boleh stress, harus selalu happy bersama Abang, oke??" ucap Jonathan sambil mengecupi jemari Kezia dan wajah Kezia.
"Jangan pernah tinggalin aku ya Bang, tetap jaga hati Abang untuk selalu sayang padaku, dan calon bayi kita!" sahut Kezia sambil menyandarkan kepalanya di dada Jonathan.
"Pasti sayang, untuk urusan hati, jangan di ragukan lagi, Kezia kan tau seberapa berat Bang Jo memperjuangkan Kezia, apalagi sekarang Kezia sudah jadi istri Abang, tanggung jawab Abang!" bisik Jonathan.
"Iya Bang, aku percaya sama Bang Jo, Bang Jo suami dan laki-laki terbaik buat aku!" kata Kezia.
"Sekarang Kezia siap-siap sayang, kita ke dokter kandungan ya, kita lihat calon bayi kita!" ucap Jonathan sambil mengelus dan menciumi perut Kezia yang masih rata itu, sehingga Kezia meringis kegelian.
****