
Siang itu setelah makan siang, Jonathan dan Kezia langsung berangkat ke rumah sakit.
Mereka berniat kembali menjenguk Ratna.
"Kezia jangan ngambek dan kabur lagi ya, sekarang Bang Jo ini suami Kezia, yang tanggung jawab sama Kezia!" kata Jonathan.
"Iya Bang, Bang Jo juga jangan maen tinggal aku sembarangan ya, aku ini bukan barang, aku ini istri Abang!" sahut Kezia.
"Iya, bang Jo kan sudah minta maaf, maafin Abang ya sayang!" ucap Jonathan sambil mencium tangan istrinya itu.
Tak lama mereka telah tiba di rumah sakit, ternyata Om dan Tante Purba sudah tiba di rumah sakit, wajah mereka nampak panik melihat anak semata wayangnya yang kini terbaring di rumah sakit.
Perlahan Jonathan dan Kezia masuk ke dalam ruangan di mana Ratna di rawat.
Di dalam ruangan itu juga terlihat ada Beni. Beni yang jadi bulan-bulanan sasaran kemarahan Om dan Tante Purba.
"Selamat siang Om dan Tante!" sapa Jonathan ramah.
"Kau ini saudara macam apa Jo?? Mentang-mentang pengantin baru, tidak punya perasaan melihat saudaranya yang kena musibah!! Dasar!!" berang Tante Purba.
"Lho ini saya datang kemari untuk melihat kondisi Ratna!" ujar Jonathan.
"Alah tak usah basa basi! Kamu sengaja kan Jo mempermainkan hati anakku, mentang-mentang anakku cinta sama kau, kau permainkan perasaannya sehingga dia tidak mau pulang ke Medan!" tambah Tante Purba.
"Tante, Ratna itu mau kerja di Jakarta, bukan karena Jo di Jakarta, katanya di Medan dia tertekan karena selalu di jodohkan sama Tante!" sergah Beni.
"Hei, kamu siapa berani ikut campur urusan orang lain?" berang Tante Purba.
"Saya Beni Tante, salah satu teman dekat Ratna di Jakarta selain Jo!" jawab Beni.
Tante Purba menatap tajam ke arah Beni.
"Beni? Sejak kapan Ratna punya teman laki-laki selain Jo?" tanya Tante Purba.
"Sejak Ratna patah hati dan memutuskan untuk tinggal di Jakarta Tante!" jawab Beni.
"Kau suka sama Ratna?" tanya Tante Purba to the point.
"Iya Tante, apakah kalau saya suka sama Ratna Tante dan Om akan merestuinya?" tanya Beni.
Semua orang yang ada di tempat itu terperangah mendengar perkataan Beni yang lantang dan tegas itu.
"Saya hanya bekerja sebagai manager di perusahaan properti, gaji lumayanlah untuk menghidupi Putri Tante!" jawab Beni.
"Bagus! Kalau kau punya itikad baik, aku tunggu kau melamar putriku di Medan, ajak kedua orangtuamu!" kata Om Purba tiba-tiba.
"Baik Om!" sahut Beni.
"Pak! Kau ini tidak salah cari jodoh anak?? Dia itu masih kere pak!!" sergah Tante Purba.
"Mau sampai kapan kita egois terus Mak? Kasihan Ratna, bisa kabur dia dari kita kalau kita menekannya terus!" ujar Om Purba.
Jonathan dan Kezia sedari tadi hanya menyaksikan tanpa berkomentar apapun.
"Syukurlah kalau Om dan Tante mau terbuka sama Beni!" kata Jonathan tiba-tiba.
"Kau ini Jo, mau apa lagi kau lama-lama di situ, sudah kau urusi saja istrimu, di sini sudah banyak orang!" ujar Om Purba.
"Baik Om, kami memang akan balik, aku senang sudah banyak orang yang memperhatikan Ratna!" kata Jonathan yang langsung menggandeng tangan Kezia keluar dari ruangan itu.
Jonathan terus membawa Kezia hingga ke kantin Rumah sakit, lalu Jonathan segera mengajak Kezia untuk duduk di bangku kantin itu.
"Kita makan so may yuk Zia?" ajak Jonathan.
"Boleh Bang, pesan sana! Aku juga pengen makan sesuatu, mendengar ocehan Tante Purba membuat perutku mual, pantas saja Ratna begitu tidak betah tinggal sama mereka!" kata Kezia.
"Mamaknya Ratna memang cerewet, tapi sebenarnya dia sayang sama anaknya, mau yang terbaik buat anaknya!" kata Jonathan.
"Iya, semua orang tua memang begitu kali ya!" kata Kezia.
Jonathan berdiri untuk memesan dua porsi somay.
Tak lama kemudian somay pesanan Jonathan sudah datang, Kezia makan dengan begitu lahapnya.
"Enak Bang somaynya!" kata Kezia.
"Enak atau laper!" kata Jonathan.
"Dua duanya lah, tapi beneran ini bisa bikin obat stress!!" ujar Kezia yang terus menghabiskan porsi makanannya.
*****