
Pagi itu Jonathan sudah bangun dan langsung memasakan nasi goreng untuk sarapan dirinya dan Binsar.
Binsar terbangun saat mencium aroma masakan yang nikmat.
"Alamak! Sedap kali bau masakanmu Jo!" seru Binsar sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Sejak di sini aku sering coba resep baru Bang! Mana tau nanti kalau sudah jadi suami, kalau istri lagi sakit atau capek kan aku bisa memasak!" sahut Jonathan.
"Huh! Rupanya kau sudah sangat siap menjadi suami siaga! Sepertinya aku perlu berguru padamu Jo!" kata Binsar yang langsung duduk dari posisi berbaringnya.
"Kau bisa saja Bang! Ini sudah matang, makanlah, aku taruh di meja ya Bang!" Jonathan mematikan api dan menaruh nasi goreng yang masih di penggorengan itu ke dua buah piring.
Setelah itu Jonathan meletakan kedua piring nasi goreng itu di meja makan.
Binsar langsung duduk untuk bersiap makan.
"Bang, hari ini aku dan Kezia akan keluar, kau di sini saja dulu ya Bang, bisa nonton, aku pasang WiFi di sini, kau bisa internetan sepuasnya!" kata Jonathan.
"Siap Jo! Asal jangan lupa kau juga sediakan makanan untukku!" cetus Binsar .
"Beres Bang, aku akan pesan makan siang via online, di kulkas banyak buah dan makanan lain kalau kau masih lapar, susu, teh, kopi juga banyak di lemari dapur!" tambah Jonathan.
"Enak sekali hidupmu Jo! Aku jadi betah berlama-lama di apartemenmu ini!" ungkap Binsar.
"Kalau begitu kau lanjutkan sarapanmu ya Bang, aku mau berangkat sekarang, kasihan Kezia sudah menungguku!" kata Jonathan yang langsung berdiri saat dia menghabiskan sarapannya.
Tanpa menunggu lagi, Jonathan yang sudah rapi langsung keluar dari apartemennya.
Dia langsung turun ke bawah menuju di mana mobilnya terparkir.
Baru saja dia masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya, tiba-tiba ponselnya bergetar, melihat dari layar ponselnya itu, Ratna yang menelepon.
Dengan sedikit ragu-ragu Jonathan mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Ratna!"
"Bang Jo ... kata Bang Binsar, besok Sabtu Bang Jo akan bertunangan dengan Kezia, benar begitu Bang?" tanya Ratna.
"Iya Ratna, maaf Abang belum sempat memberitahu Ratna!" jawab Jonathan.
Dari seberang telepon, terdengar suara lirih isak tangis Ratna.
"Selamat ya Bang, aku harap Bang Jo akan bahagia selalu!" ucap Ratna pelan.
"Terimakasih Ratna, Abang juga berharap Ratna akan bisa menemukan kebahagiaan Ratna!" balas Jonathan.
Hening ...
Hanya terdengar sayup-sayup suara isak tangis Ratna, sepertinya gadis itu sangat sedih, karena orang yang sangat di cintainya akan bertunangan dengan orang lain.
"Maafin Abang Ratna ..." ucap Jonathan yang merasa bersalah atas situasi yang menimpanya.
"Iya Bang, apakah Bang Jo cinta sama Kezia?" tanya Ratna meyakinkan.
"Iya Ratna, Bang Jo cinta sama Kezia, Bang Jo berharap Ratna juga bisa membuka hati untuk yang lain ... jangan terus membuat Abang merasa bersalah sama Ratna!" ungkap Jonathan.
"Bang ..."
"Ya ..."
"Bolehkah aku tetap mencintai Abang, walaupun Abang sudah jadi milik Kezia?" tanya Ratna sambil menangis. Kali ini tangisannya terdengar pilu dan sedih.
"Ratna, maafin Abang, sebaiknya Ratna jangan mencintai Abang, tidak pantas Ratna, itu hanya akan membuat Ratna terus tinggal dalam kesedihan, kasihan Kezia kalau tau calon suaminya di cintai oleh wanita lain!" jawab Jonathan.
Jonathan menarik nafas berat ketika selesai berbicara dengan Ratna.
****
Kezia keluar dari kamar ganti di salah satu butik ternama di kota itu, Jonathan takjub saat melihat Kezia keluar dengan mengenakan sebuah gaun cantik berwarna abu-abu yang begitu nampak anggun dan elegan.
"Bagaimana Bang? Cocok tidak?" tanya Kezia sambil memutar tubuhnya.
"Wow! Amazing! Cantik sekali calon istri Abang, bahkan bidadari pun kalah cantiknya sama Kezia!" seru Jonathan terkesiap dan tak berkedip memandang Kezia.
"Ah Bang Jo lebay! Kalau cocok aku mau yang ini Bang!" kata Kezia.
"Iya sayang, ambilah!" sahut Jonathan.
Kezia rupanya tidak banyak pertimbangan, dia bukan tipe wanita yang membuang banyak waktu untuk memilih pakaian, sifat Kezia yang simple itulah salah satu yang membuat Jonathan jatuh cinta pada Kezia.
"Bang Jo tidak mau mencoba jasnya?" tanya Kezia yang menyodorkan pasangan dari gaun itu.
"Itu ukurannya sudah pas sama Abang, nanti kalau Bang Jo coba lagi Kezia bisa tak mau lepas dari Abang!" kata Jonathan.
"Yeee, Bang Jo pede amat sih! Ya sudah deh Bang, cepetan di bayar, habis itu kita ke salon!" ujar Kezia.
Jonathan lalu membayar gaun dan jas itu dengan uang cash.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah salon yang besar dan mewah, salon yang di peruntukan untuk para pejabat dan bos-bos besar.
"Kezia mau potong rambut?" tanya Jonathan.
"Perawatan Bang, biar cantik, Bang Jo juga ya, di cukur cambangnya sedikit, facial, biar tambah ganteng Bang Jo aku!" kata Kezia.
"Tidak usah Zia, Abang bisa cukur sendiri, lagian juga Bang Jo kan sudah ganteng dari sononya, Kezia saja ya!" tolak Jonathan.
Jonathan memang tidak pernah perawatan wajah di salon, selama ini dia hanya tau barber shop untuk mencukur rambutnya.
"Ya elah Bang, biar tambah ganteng, ayo sini aku temani kalau malu sama mbaknya!" Kezia menarik tangan Jonathan untuk duduk di bangku salon yang kebetulan kosong itu.
"Mbak, tolong di permak sedikit calon suami saya, dia tidak terbiasa jadi harap maklum kalau dia agak cerewet dan memberontak!" ujar Kezia.
Mbak yang melayani di salon hanya bisa tersenyum. Lalu dia mulai melayani Jonathan yang di rasa kaku, mulai merapikan rambut dan mencukur bulu-bulu yang ada di wajah Jonathan.
"Sebentar ya Mas, nurut dulu apa yang di bilang pacar!" kata Mbak salon.
"Jangan sentuh wajahku!" cetus Jonathan sambil memalingkan wajahnya.
"Lho, bagaimana bisa saya kerja, kalau di sentuh saja Masnya tidak mau?" tanya Mbak salon heran.
"Bang Jo sayang, ayo dong, jangan malu-maluin ah, apa sih susahnya hanya tinggal duduk dan menikmati!" ucap Kezia sambil menggenggam tangan Jonathan.
"Duh, mau di rapikan saja harus di rayu dulu, ayo Mas, kasihan tuh pacarnya nungguin, dia juga mau facial!" kata Mbak Salon.
Akhirnya dengan sedikit perjuangan, Jonathan berhasil di permak di salon, saat pulang ke rumah, Kezia tak henti-hentinya menggoda dan memandang wajah Jonathan yang kini terlihat kinclong itu.
"Ehm, calon suaminya siapa ini yang gantengnya kebangetan!" goda Kezia.
Jonathan nampak cemberut karena wajahnya di sentuh-sentuh oleh Mbak salon.
"Tercemar deh wajah Abang di pegang-pegang orang, aku kira hanya Kezia saja yang menyentuh wajah Abang ini!" ujar Jonathan.
Kezia tertawa melihat tingkah laku Jonathan yang lugu nya kebangetan.
****