
Acara pesta pertunangan di tempat kediaman Kezia sudah selesai, para tamu sudah pulang satu persatu.
Petugas Dekorasi juga sudah mulai membereskan ruangan, para saudara dan kerabat juga sudah meninggalkan tempat itu.
Jonathan menghempaskan tubuhnya yang letih di sofa. Wajahnya terlihat lelah karena hampir seharian ini dia jadi pusat perhatian banyak orang.
Jonathan lalu mengecup sebuah cincin pertunangan yang kini tersemat di jari manisnya.
Lika yang melihat Jonathan bersandar di sofa langsung mendekatinya.
"Eh calon menantunya Ibu kok istirahat di sini, di kamar saja Jo, ajak Binsar sekalian!" kata Lika sambil duduk di sebelah Jonathan.
"Iya Tante, tidak apa-apa, sebentar lagi juga mau balik ke apartemen!" jawab Jonathan.
"Mulai hari ini jangan panggil Tante lagi ya, panggil saja Ibu, sama seperti Kezia memanggil Ibu!" ucap Lika sambil memegang pipi Jonathan.
"Ibu ... aku kan belum jadi suaminya Kezia!" tukas Jonathan.
"Tapi Kezia adalah calon istrimu, kalian kan sudah bertunangan!" sahut Lika.
"Terimakasih Bu, aku bahagia ... ibu sudah seperti ibuku sendiri!" Jonathan langsung memeluk Lika.
Lika membelai rambut Jonathan dengan lembut, seperti seorang Ibu yang membelai rambut anaknya.
"Sudahlah Jo, ayo, ajak Binsar istirahat dulu di kamar, setelah itu kalian baru pulang, ganti bajumu, kau pasti gerah terus memakai jas seperti itu!" kata Lika.
Akhirnya Jonathan menuruti perkataan Lika dia mengajak Binsar untuk istirahat sejenak di kamar tamu.
"Aku terharu Jo, mereka semua menyayangimu di sini!" ujar Binsar.
"Apalagi aku Bang, bermimpi saja aku tidak pernah!" sahut Jonathan.
Dalam waktu singkat, rumah Ricky sudah rapi dan bersih, kembali seperti sedia kala.
Kezia yang sudah mandi dan berpakaian nampak sedang video call dengan Nando adiknya di ruang keluarga.
"Payah kamu Do, masa tidak datang ke pesta pertunangan Kakak!" sungut Kezia.
"Sorry Kak, nanti saja pas kakak menikah aku baru datang, hemat ongkos lah kak!" sahut Nando.
"Ah kau ini Do, alasan saja!"
"Tapi aku ikut senang Kak, bisa jadi adik ipar si Abang Marketing itu!" ujar Nando.
"Hei Do, sekarang Bang Jo sudah bukan marketing lagi! Papa sudah angkat dia jadi direktur!" sahut Kezia.
"Ya mungkin malu Papa punya calon mantu Marketing, makanya naik jabatan!" ledek Nando.
"Enak saja! Bang Jo itu kan top marketing, menjual rumah paling banyak, wajar lah dia naik jabatan!" cetus Kezia.
****
Hari sudah menjelang malam, Jonathan dan Binsar bersiap akan kembali ke apartemennya.
"Jo! Kemari lah calon menantuku!" panggil Ricky sambil melambaikan tangannya ke arah Jonathan.
"Iya Pak!" sahut Jonathan yang langsung duduk di samping Ricky.
"Jangan lagi kau panggil aku Bapak, panggil aku Papa seperti Kezia memanggilku!" kata Ricky.
"Tapi Pak, masa di kantor saya panggil Papa?" tanya Jonathan bingung.
"Toh semua orang juga tau kalau kau adalah calon menantuku, panggil Papa saja! Kau akan jadi anak kesayanganku Jo!" Ricky menepuk lembut bahu Jonathan.
"I ... Iya Pa!" sahut Jonathan grogi.
Ricky kemudian mengambil sebuah buku besar, lalu membukanya di depan Jonathan.
"Ini adalah perumahan elit produk perusahaan kita yang ada di Jakarta, kau pilihlah mana yang kau suka, aku akan memberikannya padamu!" ujar Ricky.
"Jangan Pa, ini terlalu mewah, tinggal di apartemen sudah lebih dari cukup!" kata Jonathan.
"Tidak Pa, biar aku membeli rumah untuk Kezia pakai uangku sendiri!" tukas Jonathan.
"Hei, kau lupa kalau calon mertuamu ini developer yang memiliki banyak rumah?? Untuk apa kau membeli rumah lagi??" tanya Ricky.
"Maaf Pa, tapi aku ingin menghidupi Kezia pakai uang hasil kerjaku sendiri!" kilah Jonathan.
Ricky terlihat gemas lalu mencubit pipi Jonathan.
"Kau ini Jo!! Susah dan keras kepala!" sungut Ricky.
"Lagian Papa sih, mentang-mentang banyak rumah, biarkan Jo membahagiakan Kezia dengan caranya!" ujar Lika yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Hmm, belum pernah ada orang yang menolak pemberianku, tapi lihatlah calon menantu kita sayang, dia berani menolak pemberian tulusku!" ungkap Ricky.
"Bang Jo benar Pa, kalau aku menikah nanti, tinggal di apartemen bang Jo juga tidak masalah, untuk apa punya rumah mewah dan elit, kalau yang tinggal hanya kami berdua?" tanya Kezia tiba-tiba.
"Tapi kan Papa malu Zia, masa menantu seorang developer terkenal tinggal di apartemen?" jawab Ricky.
"Sudahlah Pa, ini sudah malam, Jo dan Binsar mungkin capek mau istirahat, masalah rumah kan bisa kita bicarakan lagi nanti!" sergah Lika.
"Baiklah Jo, kau pulanglah, jaga kesehatanmu, minum banyak vitamin, untuk menambah stamina dan daya tahan tubuh!" ucap Ricky sambil berdiri dan menepuk bahu Jonathan.
Lalu dia segera berlalu dari tempat itu.
Jonathan dan Binsar mulai berjalan ke arah mobilnya bersiap akan pulang kembali ke apartemennya.
Binsar sudah terlebih dulu masuk ke dalam mobil Jonathan.
"Bang Jo hati-hati ya!" ucap Kezia saat mengantar Jonathan.
"Iya sayang, calon istri kesayangan Abang!" Jonathan lalu mengecup bibir Kezia. Dia sudah berani karena sudah bertunangan dengan Kezia, dua bulan lagi dia akan menikah dengan gadis pujaannya itu.
"Tumben main sosor aja kayak bebek!" goda Kezia.
"Kan sudah hampir sepenuhnya jadi milik Abang, bahagia rasanya, tidak sabar mau bobo bareng sama Kezia!" ujar Jonathan.
"Hush! Otaknya di tahan dulu! Sudah sana Bang, kasihan Bang Binsar tuh nungguin!" kata Kezia.
"Bang Jo nya belum di cium, masa langsung pulang saja!" kilah Jonathan.
"Cium pipinya ya, muaacch!" Kezia mencium kedua pipi Jonathan.
Setelah itu Jonathan segera naik ke dalam mobilnya.
"Hati-hati Bang!" seru Kezia sambil melambaikan tangannya.
Jonathan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu segera melajukan mobilnya itu meninggalkan rumah Kezia.
"Bahagia banget yang di cium sama calon istri!" cetus Binsar.
"Kau lihat saja Bang!" sahut Jonathan.
"Jo, besok aku balik ke Medan ya!" kata Binsar.
"Lho, kenapa kau buru-buru Bang?" tanya Jonathan.
"Makin lama aku Jakarta, aku makin iri padamu Jo! Lebih baik aku pulang, setelah itu aku mengajukan pengunduran diriku, rencananya aku akan kembali ke Jakarta untuk bekerja di sini!" jelas Binsar.
"Bang Binsar yakin mau kerja di sini? Di Medan sudah enak Bang, sudah jadi PNS!" sergah Jonathan.
"Aku mau mengadu nasib sama sepertimu Jo, siapa tau aku dapat pekerjaan yang bagus plus jodoh juga!" kata Binsar jujur.
Jonathan tertawa mendengar perkataan Binsar.
"Kau ini lucu Bang, urusan jodoh dan rejeki itu urusan yang di atas, asal hidup kita lurus pasti rejeki datang, dan jodoh juga pasti datang!" ujar Jonathan.
"Ah kau ini Jo, mentang-mentang sudah jadi calon mantu kesayangan!" Binsar menyikut pinggang Jonathan hingga pria itu meringis kegelian.
****