Heart's Owner

Heart's Owner
Masih Menunggu



Setelah Jonathan dan Kezia sampai di rumah sakit, tanpa menunggu lagi Jonathan langsung mengangkat Kezia dalam gendongannya dan langsung berjalan cepat menuju ke poli kandungan.


Seorang suster datang mendekati mereka dan menawari kursi roda.


"Istrinya di taruh di sini saja Pak, dari pada Bapak capek naik ke atas!" tawar suster itu.


"Tidak usah suster, biarkan aku menggendong istriku, dia lebih nyaman seperti ini!" tolak Jonathan.


"Bang Jo, aku belum mau melahirkan, kau jangan berlebihan begini, ayo turunkan aku!" sergah Kezia sambil memukul lembut dada Jonathan.


"Sudah jangan cerewet, tuh mumpung pasien sepi, kita langsung masuk saja!" Mereka kemudian langsung masuk ke ruang praktek Dokter Adam.


"Apakah mulai ada keluhan Ibu Kezia?" tanya Dokter Adam.


"Ini Dok, kadang-kadang perut saya suka kram, dan tadi saya seperti mengalami kontraksi, tapi tak berapa lama hilang lagi!" jelas Kezia.


"Baiklah, sekarang silahkan berbaring, saya akan memeriksa kondisi kandungan Bu Kezia, karena seharusnya prediksi Minggu depan baru mulai ada pembukaan!" kata Dokter.


Jonathan lalu membantu Kezia berbaring di ranjang pasien itu.


Sementara Dokter Adam mulai memeriksa dengan menggunakan alat USG.


"Ini air ketubannya masih bagus, posisi bayi juga bagus, kepala sudah turun ke bawah, hanya tinggal menunggu kontraksi yang sesungguhnya saja Bu!" jelas Dokter.


"Iya Dokter, sebenarnya saya juga sudah tau, cuma suami saya kadang suka berlebihan, dia pikir saya akan melahirkan sekarang!" ujar Kezia.


"Wajar saya Bu, namanya juga anak pertama, pengalaman pertama!":sahut Dokter.


"Jadi kapan bayiku akan lahir Dok?" tanya Jonathan.


"Pak Jonathan sabar dulu, melahirkan itu adalah proses alami, tinggal tunggu saja waktunya, namanya prediksi, bisa kurang bisa lebih, yang penting tetap jaga kondisi dan jangan terlalu khawatir, apalagi stress!" jawab Dokter.


"Baiklah Dok, jadi sekarang kami sudah boleh pulang kan?" tanya Kezia.


"Iya Bu, tunggu sampai kontraksinya lebih sering, lagi pula belum ada pembukaan juga, masih bisa menunggu beberapa hari!' jawab Dokter.


Akhirnya Jonathan dan Kezia kembali pulang ke rumah mereka.


"Mulai besok Bang Jo akan mengajukan cuti ah, supaya Abang bisa jagain Kezia terus!" ucap Jonathan sambil membimbing Kezia duduk di sofa rumahnya ketika baru sampai rumah.


Kezia tertawa mendengar ucapan suaminya itu.


"Bang Jo lucu, di mana-mana yang cuti hamil dan melahirkan itu perempuan, eh malah Bang Jo mau mengajukan cuti juga!" ujar Kezia sambil tertawa geli.


"Biarkan saja orang lain mau bilang apa, Papa Ricky pasti tidak keberatan aku mengajukan cuti, kan demi cucunya juga!" sahut Jonathan.


"Yah terserah Bang Jo deh, yang mau jadi calon Papi, sampai segitunya paniknya!" goda Kezia yang melihat wajah suaminya yang tegang itu.


"Sudah, jangan meledek, sekarang Abang gendong naik ke kamar ya, Kezia harus banyak istirahat, tuh perut sudah sebesar itu, Bang Jo juga tidak tega melihat Kezia jalan dengan perut besar begitu, pasti berat ya sayang!" Jonathan kembali menggendong Kezia naik ke kamarnya.


Setelah membaringkan Kezia di tempat tidurnya, Jonathan kemudian menyelimutinya.


"Bang Jo kupasin apel ya? Kezia mau apa lagi? Anggur mau tidak? Kemarin Abang banyak beli stok buah buat Kezia!" tawar Jonathan.


"Ah, lagi tidak pengen makan buah Bang, aku mau makan nasi saja, dari tadi malah aku belum makan nasi!" ujar Kezia.


"Ya ampun, maafin Abang ya sayang, Kezia belum makan rupanya, Bang Jo pesankan online ya, Kezia mau makan apa?" tanya Jonathan.


"Tidak usah Bang, tadi Mbak Ratna bawakan makanan, ada di meja ruang tamu di bawah, Bang Jo ambilkan itu saja, sayang kalau tidak di makan Bang!" jawab Kezia.


"Baiklah sayang, tunggu ya Bang Jo akan ambilkan!"


Jonathan langsung keluar kamar dan mengambil rantang makanan pemberian Ratna tadi pagi.


Kemudian Jonathan kembali lagi ke atas dengan membawa piring dan peralatan makan.


"Bang Jo suapin ya?" tawar Jonathan.


"Aku makan sendiri saja Bang!" sergah Kezia.


Akhirnya Kezia makan sendiri dengan lahapnya.


"Masih banyak Bang makanannya, Bang Jo makan juga ya, kasihan Papinya dedek kalau lapar!" kata Kezia.


"Jangan Zia, itu makanan Kezia makan saja, nanti Bang Jo gampang bisa pesan online, itu masakan Ratna kan? Bang Jo tidak mau menyakiti hati Kezia lagi dengan makan makanan pemberian Ratna!" ucap Jonathan.


"Maafkan aku Bang, maaf, waktu itu pernah marah sama Abang karena soal makanan!" ucap Kezia. Jonathan membelai lembut rambut Kezia.


"Sudah sayang, Kezia teruskan saja makannya, Bang Jo mau mengecek barang bawaan untuk ke rumah sakit nanti kalau Kezia melahirkan!" kata Jonathan.


Dia kemudian mulai mengecek satu-satu barang yang akan di bawa nanti.


"Kain gendong sudah Bang?" tanya Kezia.


"Sudah!"


"Gurita ibu?"


"Sudah!"


"Pembalut panjang?"


"Sudah!"


"Selimut dan pakaian bayi?"


"Sudah!"


"Popok bayi?"


"Sudah!"


"Kain panjang?"


"Sudah!"


"Oke, komplit ya Bang, jangan lupa itu semua di masukan ke dalam bagasi mobil, supaya tidak ketinggalan saat Bang Jo panik nanti!" kata Kezia.


"Ada yang ketinggalan Zia!" seru Jonathan.


"Apa itu Bang?!" tanya Kezia.


"Semuanya perlengkapan Ibu dan anak, lalu Papinya tidak di pikirkan?" tanya Jonathan balik.


"Maksudnya apa Bang?"


"Pakaian Abang kan belum masuk list Zia, memangnya Abang kalau menunggu Kezia nanti tidak ganti-gani baju??" sungut Jonathan.


"Oh iya Bang, aku lupa, ya sudah, sekalian masukan pakaian Abang, jangan lupa pakaian dalamnya ya Bang, nanti bahaya kalau beberapa hari Abang tidak pakai dalaman, bisa hilang nanti burungnya Bang, dan aku bakalan sedih!" goda Kezia.


Dengan wajah sedikit cemberut Jonathan mulai memasukan beberapa pakaiannya ke dalam tas.


Ting ... Tong ...


Terdengar suara bel dari arah depan rumah mereka.


Jonathan menghentikan aktifitasnya dan langsung turun ke bawah untuk melihat siapa yang datang.


Jonathan sedikit terkejut saat melihat Daddy-nya datang dengan membawa istrinya.


"Hai Jonathan anakku, bagaimana kondisi menantuku?" tanya Daddy Michael.


"Baik Daddy, ayo masuk, Mom ayo silahkan!" ajak Jonathan.


Mereka kemudian masuk dan duduk di tuang tamu.


"Putra kita ini sangat tampan dan ramah, andai dari dulu kau bertemu dengannya!" ucap Mom Diana.


"Dia putra kita satu-satunya sayang, yang akan menemani masa tua kita, bersama cucu-cucu kita nanti!" jawab Daddy Michael.


"Jonathan, Mom ingin melihat menantu Mommy!" kata Mom Diana.


"Oke Mom, sebentar aku bawa dia turun dulu!" jawab Jonathan yang langsung kembali menuju ke kamarnya yang ada di atas.


Bersambung ...


****


Aduh guys ... berat aku kalau mau tamatin Bang Jo, sayang aku sama Bang Jo ini 😘