Heart's Owner

Heart's Owner
Mencoba Mengungkapkan



Kezia menatap tajam ke arah Jonathan, Kezia juga baru tau kalau Jonathan ternyata menyimpan fotonya, karena diam-diam pun Kezia menyimpan foto Jonathan.


"Kezia, kok diam?" tanya Jonathan mengagetkan lamunan Kezia.


"Eh, Bang Jo, itu, ada bekas makanan di mulutnya!" kata Kezia spontan mengalihkan pembicaraan.


"Masa? Dimana Zia?!" tanya Jonathan.


"Itu!" sahut Kezia sambil menunjuk ke arah mulut Jonathan yang sebenarnya tidak ada apa-apa.


"Kalau lihat langsung di bersihkan saja, jangan ngomong doang!" cetus Jonathan.


"Iiih! Dasar modus!" Kezia mengambil tissue yang ada di meja, kemudian mulai membersihkan bibir Jonathan yang memang tidak ada apa-apa itu.


"Kezia ..."


"Hmm?"


"Sebenarnya, aku ... Aku ... " Jonathan menghentikan ucapannya.


"Bang Jo kenapa? Nyesel ya di tinggal Mbak Ratna? tanya Kezia.


"Oh, bukan! Bukan itu!" sergah Jonathan cepat.


"Terus apa? Aneh nih Bang Jo, kok mendadak gerogi gitu sih?" tanya Kezia.


"Makanya Kezia dengerin Bang Jo dulu! Mulutnya nyerocos terus kayak bebek!" sungut Jonathan. Kezia tertawa.


"Idih! Bang Jo lucu kalau lagi ngambek, mau ngomong apaan sih Bang?" tanya Kezia lagi.


"Sebenarnya ... sudah lama Abang mau ngomong ini, yang ada di hati Abang itu hanya ..."


"Hai! Kalian makan disini rupanya!!" tiba-tiba Beni menepuk bahu Jonathan, sehingga Jonathan terperanjat kaget.


"Hai Ben! Kebetulan nih kita ketemu, itu siapa? Pacar barumu?" tanya Kezia.


Beni dan seorang wanita langsung duduk bergabung dengan Jonathan dan Kezia.


"Iya, kenalin nih!"


"Meti!" Wanita itu memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya.


"Meti, aku Kezia, ini Jonathan temanku!" balas Kezia.


Jonathan hanya mengangguk sambil tersenyum kecut.


"Hei Jo, aku dengar dari Mbak Rita, kau closing lagi ya, hebat kau Jo, bisa langsung kaya kau kalau closing terus!" ujar Beni.


"Itu juga closing dengan orang yang sama, lumayan lah, supaya bisa cepat melamar anak orang!" cetus Jonathan.


"Anak siapa yang mau kau lamar Jo! Apa jangan-jangan orang di sebelahmu itu ya!" goda Beni.


"Jangan sembarangan! Bang Jo baru putus cinta, pacarnya pergi tanpa pamit!" sambung Kezia.


"Sok tau!!" sungut Jonathan kesal.


"Wah, aku turut prihatin Jo, aku kira Kezia sudah jadi pacarmu, saran ku, Lupakan yang lama, gebet yang baru!" Seru Beni sambil menarik tangan Meti beranjak dari duduknya.


"Kalian mau kemana?" tanya Jonathan.


"Cari tempat yang strategis lah buat berduaan, kalian juga kelihatannya sudah saling cocok! Ayo mainkan!" sahut Beni sambil tersenyum menyeringai. Kemudian dia meninggalkan meja itu.


"Sialan si Beni!" sungut Jonathan.


"Bang Jo, kita sudah lama lho di sini, keluar yuk!" ajak Kezia.


Mereka lalu segera keluar dari cafe itu.


Jonathan membawa Kezia berkeliling kota sebentar, lalu mereka berhenti di sebuah taman kota, Jonathan memarkirkan motornya di pinggir jalan itu. Mereka duduk di sebuah bangku taman.


"Bang Jo, Bang Jo ini kan orang Medan, tapi kenapa wajahnya tidak seperti orang Medan kebanyakan?" tanya Kezia.


"Kenapa Kezia tanya begitu? Bang Jo ganteng ya?" Jonathan balik bertanya sambil tersenyum.


"Dih, langsung ge er, iya ganteng biar seneng! Maksudnya muka Bang Jo kayak muka indo, yang belasteran gitu!" jelas Kezia.


"Papaku memang asli orang Australia, Mamaku asli Medan, aku anak tunggal, tapi sejak kecil aku tidak pernah kenal Papaku, karena dia pergi meninggalkan Mama!" ungkap Jonathan, tiba-tiba wajahnya berubah mendung.


"Maafin aku Bang!" ucap Kezia yang merasa bersalah karena menanyakan silsilah Jonathan.


"Tidak apa, Kezia sendiri? Kok wajahnya begitu putih, seperti orang Asia timur!" tanah Jonathan.


"Papaku campuran Taiwan Indonesia, Mamaku asli Indonesia, tapi kini sudah meninggal, Papaku menikah dengan ibuku yang sekarang, dan kami sangat bahagia, karena Papaku dan ibuku saling mencintai!" Kata Kezia.


"Oya? Jadi ibumu itu ibu tiri?" tanya Jonathan.


"Iya, ibuku adalah guru SD ku dulu, dia ibu terbaik melebihi ibu kandung yang bahkan jarang merawat ku!" Mata Kezia tiba-tiba berkaca-kaca saat mengingat masa lalunya.


"Kezia jangan sedih, kapan-kapan Bang Jo main ke rumah Kezia ya, kenalan sama Papa dan ibunya Kezia!" ucap Jonathan.


"Jangan Bang! Belum waktunya!" sergah Kezia.


"Kenapa?" tanya Jonathan.


"Nanti Bang Jo bisa shock!" sahut Kezia.


"Iya hehe, galak!" Kezia menggaruk kepalanya.


"Bang Jo tidak takut sama Papanya Kezia, mana lebih galak dari Pak Ricky? Aku dulu pernah di bentak waktu minta nomor ponselmu, tapi dia baik sih, setelah tau aku kuliah di universitas Satu Nusa, katanya putrinya juga kuliah di sana, aku tidak tau putrinya pak Ricky seperti apa!" ungkap Jonathan.


Kezia langsung melotot mendengar ungkapan Jonathan.


"Sudah Bang Jo! Tidak usah cari tau!" sentak Kezia.


"Memangnya kenapa?" tanya Jonathan.


"Karena ... Ah! sudahlah!" sahut Kezia.


Jonathan menatap dalam wajah Kezia, hingga Kezia menundukkan wajahnya.


Kezia selalu tidak tahan saat mata coklat itu menatapnya.


Jonathan lalu mengambil tangan Kezia, lalu meletakkannya di dadanya. Ada sesuatu yang berdegup di sana.


"Kezia bisa rasakan sesuatu tidak di sini?" tanya Jonathan.


"Apaan tuh bang, biasa saja!" sahut Kezia.


"Masa tidak terasa sih jantung Bang Jo yang berdetak cepat begini!" ujar Jonathan.


"Ada sih Bang!" kata Kezia yang mencoba merasakan dengan tangannya.


"Kurang jelas ya? Kalau begitu coba sini!" Jonathan menarik kepala Kezia hingga menempel di dadanya.


Kezia menedengar suara detak jantung Jonathan yang tak beraturan.


Jantungnya juga sedari tadi sudah berdegup dengan sangat kuat. Apalagi kini Kezia bisa merasakan betapa nyamannya dada bidang itu, dengan aroma maskulin yang membuatnya seperti orang kecanduan. Begitu nyaman dan hangat.


"Debaran yang tidak pernah ada saat dekat dengan Ratna, tapi selalu ada saat dekat dengan Kezia!" bisik Jonathan.


Kezia meremang seketika mendengar ucapan Jonathan.


"Bang Jo ..."


"Kezia tau itu artinya apa?" tanya Jonathan lirih.


"Memangnya artinya apa bang?" Kezia balik bertanya.


"Artinya, hanya ada Kezia di dalam sini, di hati Bang Jo!" ucap Jonathan.


Seketika tubuh Kezia seperti melayang, dia lemas dan nafasnya mulai sesak menahan rasa.


Kezia diam, tidak dapat menjawab lagi kata-kata Jonathan.


"Bang Jo, tapi Mbak Ratna ..." ucap Kezia terbata.


"Aku tidak pernah mencintai Ratna, dia hanya kuanggap sebagai adikku saja!" kata Jonathan.


Jonathan memeluk Kezia dengan erat, membenamkan kepala Kezia dalam dadanya.


"Kalau Bang Jo peluk begini, Kezia bahagia tidak?" tanya Jonathan. Kezia menganggukan kepalanya.


"Bahagia Bang!" sahut Kezia jujur.


"Kezia sayang sama Bang Jo?" tanya Jonathan lagi.


"Bang Jo sendiri, memangnya sayang sama aku?" Kezia balik bertanya.


"Harusnya Kezia sudah tau tanpa Abang harus jawab, mana mungkin Bang Jo simpan foto Kezia di ponsel Abang kalau Kezia bukan orang yang spesial di hati Abang!" sahut Jonathan.


"Iya Bang, aku juga sayang sama Abang, sebenarnya, foto Abang ada di ponsel aku juga, dan aku sangat cemburu waktu Bang Jo jalan sama Mbak Ratna!" ungkap Kezia.


Jonathan semakin erat memeluk Kezia.


"Bang Jo janji, akan bikin Kezia bahagia dan setia sama Kezia," bisik Jonathan.


Drrrt ... Drrrt ... Drrt


Ponsel Kezia bergetar, Kezia langsung mengurai pelukan Jonathan, kemudian langsung mengangkat ponselnya.


"Halo ....!"


"Keziaaa!!!! Dimana kamu!! Kenapa kamu menghilang dari kamarmu!! Pulang sekarang juga!!" Sengit Papa Kezia.


bersambung ...


*****


Kisah ini sekuel dari cerita Pelabuhan Terakhir dan Cinta Selembut Awan...


Yang belum baca bukunya di sarankan untuk membaca supaya ceritanya nyambung...


Yang tidak sempat baca tidak apa-apa...


Tetap dukung Author yaaa....


Love you all 😚💖