Don't Leave Me

Don't Leave Me
98





Shica dan Reynaldi bergandengan tangan sambil berjalan menyusuri jalan Raya.



"Sungguh.. Aku tidak percaya, Tuan Adiwijaya seperti dirimu berjalan kaki seperti ini " kata Shica.



Reynaldi hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.



Mereka pun duduk di bangku taman di bawah pohon yang rindang.



"Semoga tidak ada ulat di pohon ini " gumam Reynaldi. Shica yang mendengar itu menoleh kearah Reynaldi.



"Kenapa dengan ulat? " tanya Shica.



"Aku benci ulat" jawab Reynaldi cepat.



Shica tertawa. "Semua orang benci ulat" kata Shica.



Mereka memperhatikan kegiatan orang-orang di sekitar taman kota.



Ada yang sedang berjualan, bermain, berkencan, selfie, dan yang berlalu lalang.



"Apa yang kau lakukan bersama Raihan jika kalian berada di taman kota? " tanya Reynaldi.



"Aku tidak mau membahasnya.. Bukankah aku sudah bilang.. Aku akan melupakan dia dan akan bahagia denganmu.. Jika kau terus mengungkit-ungkit tentang dia, kapan kita bahagia, Aldi? " jawab Shica diakhiri dengan pertanyaan.



"Aku hanya ingin tahu, dan.. " Reynaldi tidak melanjutkan kata-katanya karena Shica melelapkan kepalanya di dadanya.



"Kumohon, jangan bahas apapun yang bisa membuat kita bertengkar.. Jujur saja.. Aku mulai merasa nyaman denganmu.. Jangan sampai rasa nyamanku berubah hanya karena masa lalu yang sudah berakhir" kata Shica pelan.



Reynaldi tersenyum. Dia pun merangkul Shica.



"Oh ya.. Kau bilang kita akan ke Perancis? " tanya Shica sambil mendongkak menatap Reynaldi.



"Iya.. Sore ini" jawab Reynaldi.



"Pasti akan sangat lama didalam jet " gumam Shica.



"Memangnya siapa yang akan naik jet? " tanya Reynaldi.



Shica melepaskan pelukannya kemudian menatap Reynaldi.



"Lalu? Kita naik apa? " tanya Shica.



"Kita akan naik kapal pesiar.. Seperti kataku.. Ini bulan madu" jawab Reynaldi.



"Kapal pesiar? Apa itu tidak berlebihan? " tanya Shica.



"Tentu tidak.. Kita akan melewati selat Inggris.. Kita juga akan ke Inggris dulu untuk menemui ibuku" kata Reynaldi.



"Ibumu? " tanya Shica.



"Iya.. Wanita yang telah memberikan putra tampan ini pada ayahku.. Sayang sekali ayahku tidak pernah menganggapnya.. Sialan" geram Reynaldi.



Shica membelai punggung Reynaldi. "Maafkan aku" kata Shica.



"Kenapa kau minta maaf.. Kau sama sekali tidak bersalah" kata Reynaldi.



Shica menghela napas panjang.



"Ayahku memang suka mempermainkan perasaan wanita.. Berganti wanita.. Dan memiliki banyak anak.. Namun tetap saja.. Aryatama keponakan kesayangannya itu yang dia manja.. " gerutu Reynaldi.



"Aku yakin.. Papa Adi lebih menyayangimu dibandingkan dengan siapapun juga.. Karena kau putranya.. Darah dagingnya.. " kata Shica.



"Emm.. Entahlah.. Mungkin orang lain berpikir kalau keluarga Adiwijaya itu sangat bahagia.. Padahal sama sekali tidak " kata Reynaldi.



Shica terlihat sedih.



"Selama ini aku menderita dengan peraturan ayahku sendiri.. Kau ingat dengan pertemuan pertama kita? Waktu itu aku dalam keadaan babak belur kan? Yang menghajarku itu adalah suruhan ayahku sendiri " kata Reynaldi.



Shica terkejut. "Apa? Benarkah? Ta.. Tapi kenapa? " tanya Shica.



"Karena aku tidak mendengar apa yang dia perintahkan.. Aku tahu ini salahku" kata Reynaldi.



Shica tampak berpikir.



"Namun tenang saja.. Sekarang aku dan ayahku sudah akur.." kata Reynaldi.



"Syukurlah " kata Shica.



"Katakan Alhamdulillah " kata Reynaldi.



Shica tersenyum. "Iya.. Alhamdulillah " jawab Shica.



"Sebelumnya aku merasa sangat kesepian.. Tidak ada yang menemaniku.. Hanya temanku itupun dilingkungan tertentu.. Ada Reynala.. Tapi dia juga sering sibuk.


Hanya aku.. " kata Reynaldi.



Cerita Reynaldi mengingatkan Shica pada masa lalunya yang juga sama. Hanya saja dulu dia bersama Regar.



Usia Regar dan Shica yang tidak terpaut terlalu jauh, membuat mereka menghabiskan waktu bersama meskipun kadang mereka mengeluh karena tidak ada orang tua mereka yang seharusnya mendampingi dan menghabiskan waktu bersama.



".. Namun.. Setelah aku bertemu denganmu waktu itu, aku benar-benar tertarik padamu karena kau mampu hidup dalam kesendirian.. Kau mampu menjalani kehidupanmu sendiri tanpa ada yang bersamamu.. " kata Reynaldi dengan tatapan penuh arti.




".. Kau tidak pernah mengeluh tentang kesendirianmu. Dan saat itu, aku juga menyadari bahwa sebenarnya kau juga kesepian.. Aku mengerti.. Tidak ada di dunia ini makhluk yang bisa hidup sendiri.. Begitupun denganku dan kau.. Kita tidak bisa hidup sendiri.. " sambung Reynaldi.



Shica mencerna kata-kata yang diucapkan Reynaldi.



".. Dan saat itu, aku bertekad untuk membawamu dari kesepian.. Membuatmu berada dalam lingkunganku.. Membuatmu bersamaku.. Sehingga kita bisa berbagai satu sama lain.. Kita tidak akan sendiri lagi.. Karena itu aku menjanjikan kebahagiaan untukmu" kata Reynaldi.



Shica tersenyum. "Aku bahkan tidak menyadari perasaanku sendiri waktu itu.. Kau yang waktu itu adalah orang asing sudah memahamiku.. Kau begitu peka.. " kata Shica.



Reynaldi tersenyum. "Benarkah? " tanya Reynaldi.



"Iya.. Tapi sayangnya kau terlalu pemaksa " kata Shica.



"Biarlah aku pemaksa.. Kadang memaksa itu perlu.. Bukakah kau lebih senang dipaksa? " goda Reynaldi.



"Apanya yang senang? " gerutu Shica.



Aldi tertawa. "Boleh aku bertanya sesuatu padamu? " tanya Reynaldi.



"Tentu saja " jawab Shica.



"Apa kelebihanku? " tanya Reynaldi.



"Tampan, cerdas, pintar, cukup baik, bertanggung jawab, jujur, peka.. Apalagi ya? "Shica tampak berpikir.



"Seksi? Menawan? Mempesona? Kekar? " sambung Reynaldi.



Shica tertawa. "Kalau begitu kau nilai sendiri dirimu" kata Shica.



"Lalu.. Apa kekuranganku? " tanya Reynaldi.



"Pemarah, pemaksa, mesum.. Menakutkan.. Menyebalkan.. Aneh.. Keterlaluan.. Gila.. " Shica menghentikan kata-katanya.



Gila?



Itu mengingatkannya pada Raihan.



"Aneh? Apa kau yakin aku ini aneh? " tanya Reynaldi yang berhasil membuyarkan lamunan Shica.



"Emm.. Iya.. Kau aneh.. Kadang romantis dan kadang mengajakku bertengkar.. Itu aneh kan? " jawab Shica diakhiri dengan pertanyaan.



Reynaldi tertawa.



"Lalu.. Katakan.. Apa kelebihanku? " tanya Shica.



"Apa ya? " tanya Reynaldi sambil menatap Shica dari ujung kaki sampai ujung kepala.



"Ah.. Lupakan.. Aku yakin kau malah berpikir yang bukan-bukan " gerutu Shica sambil mengibaskan kedua tangannya didepan wajah Reynaldi.



Reynaldi tertawa. "Kau juga memiliki kepekaan ya" goda Reynaldi.



"Buka kepekaan.. Matamu yang membuatku takut.. " gerutu Shica.



Reynaldi tertawa. "Memangnya apa salahnya jika aku menatap tubuh istriku sendiri? " gerutu Reynaldi.



"Sekarang katakan.. Apa kekuranganku? " tanya Shica.



Reynaldi menatap Shica penuh makna.



"Kau nyaris tidak memiliki kekurangan apapun dimataku" kata Reynaldi.



Shica mengerutkan keningnya. "Setiap manusia pasti memiliki kekurangan " kata Shica.



"Tapi tidak bagiku.. " kata Reynaldi.



Shica mengerutkan keningnya.



"Hanya tinggal satu.. " kata Reynaldi.



"Apa? " tanya Shica.



"Berikan hatimu padaku"



Shica menatap Aldi begitu dalam. Pandangan Shica tertuju pada pundak Reynaldi.



"Ada ulat di pundakmu! " seru Shica.



"Apa! Benarkah? " Reynaldi terlihat panik. Dia membuka kemejanya dan melemparnya ke bangku taman.



Orang-orang yang lewat memperhatikan Reynaldi yang memperlihatkan tubuhnya yang menggoda.



"Ya ampun.. Kau membuat perhatian mereka tertuju padamu" gerutu Shica sambil mengambil kemeja Reynaldi dan membuang ulatnya menggunakan ranting kecil.



"Ini pakai lagi.. Itu memalukan" gerutu Shica.



Reynaldi terkekeh.



By



Ucu Irna Marhamah