
Para pelayan mansion Adiwijaya berbasis dengan kepala tertunduk dalam menyaksikan kemurkaan Tuan mereka. Reynaldi melemparkan semua hiasan di ruang tengah sehingga ruang tersebut menjadi berantakan.
Para pelayan semakin ketakutan. Mereka tidak berani sedikitpun mengangkat kepala hanya sekedar melirik pun tidak ada yang berani. Kecuali Zack dengan pandangan lurusnya. Namun dia juga tidak berani melihat Tuannya. Seisi mansion tahu seperti apa sifat pria muda itu.
"Kenapa kalian bisa lalai! Bagaimana jika terjadi sesuatu calon istriku!" teriak Reynaldi.
Tidak ada yang berani menjawab. Karena mereka tidak tahu kemana Shica pergi. Mereka menunduk makin dalam membuat Reynaldi semakin muak. Dia mengepalkan tangannya. Bukan hal yang mudah untuk mendapatkan gadis yang pemberontak seperti Shica. Kini dia harus kehilangan Shica.
Padahal tinggal satu langkah lagi menuju kebahagiannya.
Pernikahan..
"Aku sudah bilang, tidak boleh membiarkan dia keluar dari mansion ini! Apa kalian tidak dengar!! " bentak Reynaldi. Pandangan Reynaldi tertuju pada Zack. Kepala pelayannya, yang sudah belasan tahun mengabdi kepada keluarga Adiwijaya. Yang sudah mengenal Reynaldi sejak bayi.
"Zack.. Apa kau juga tidak tahu? " tanya Reynaldi.
"Maaf, Tuan." jawab pelayan kepercayaannya itu tidak berani menatap Tuannya itu.
"Apa tadi ada seseorang yang datang kemari?" tanya Reynaldi pelan menetralisir kemarahannya.
Kedua pelayan wanita saling pandang. Salah satu dari mereka yang menerima tamu laki-laki yang tidak lain adalah Rangga. Mereka tidak berani bilang apapun atau nasib mereka akan sangat buruk nantinya. Mereka sudah sering melihat kemarahan Reynaldi dan itu sangat mengerikan.
"Dia tidak boleh pergi dari sini.. Dia calon Nyonya di mansion besar ini!" teriak Reynaldi.
Shica yang sedari tadi berdiri di ambang pintu terlihat sedih mendengar ucapan Reynaldi. Dia tidak mengira, kepergiannya yang hanya beberapa jam itu membuat para pelayannya dalam masalah besar. Dia merasa bersalah. Reynaldi pasti sangat sedih setelah pulang dari Italia, seharusnya dia wajah pertama yang dia lihat adalah Shica, calon istrinya. Namun Shica malah pergi untuk menemui Raihan.
Zack terkejut melihat keberadaan Shica. "Tuan," kata Zack dengan pandangan tertuju pada Shica yang berdiri agak jauh didepannya. Reynaldi melihat kearah tatapan Zack. Dia terkejut melihat keberadaan Shica. Reynaldi tersenyum kemudian berlari dan memeluk Shica dengan erat. Melepaskan kerinduan selama dua minggu ini mereka tak bertemu. Para pelayan berlalu pergi memberikan privasi pada Tuan mereka. Shica semakin terlihat sedih kemudian perlahan dia membalas pelukan Reynaldi.
"Aku merindukanmu," kata Reynaldi sambil melepaskan pelukannya kemudian mengecup bibir Shica sesaat.
Namun Reynaldi mengerutkan keningnya. "Kau tidak memakai pelembab bibir? Tidak seperti biasanya." tanya Reynaldi. Shica mengalihkan pandangannya. "Aku.. Kehabisan pelembab bibir." jawab Shica berbohong.
"Tapi kau tetap terlihat cantik," kata Reynaldi sambil kembali mengecup bibir Shica cukup lama.
"Kau darimana?" tanya Reynaldi penuh selidik.
"Aku.. Dari luar sebentar.. Aku merasa bosan.. Jadi aku sedikit jalan-jalan.. Maafkan aku membuatmu cemas, Reynaldi. Dan jangan marah pada pelayanmu, ini salahku karena tidak bilang dulu pada Zack." kata Shica.
Reynaldi tersenyum kemudian membelai lembut rambut Shica. "Jangan meminta maaf, kau pasti kesepian.. Besok kita akan kembali ke Indonesia.. Kita akan menemui orang tuamu dan kita menikah." kata Reynaldi.
Secepat itu?
"Apa?" tanya Shica.
"Tenang saja.. Aku sudah bicara pada Papaku dan yang lainnya." kata Reynaldi penuh semangat.
Shica semakin terlihat sedih. Dia tidak bisa lagi mencari alasan. Dia sudah terlalu banyak memberikan harapan palsu pada Reynaldi. Tapi di sisi lain, dia tidak bisa mengabaikan Raihan.
"Ada apa? Apa masih ada sesuatu yang kurang dariku?" kata Reynaldi sambil tertawa. Shica mengalihkan pandangannya. Dia tidak berani melihat ekspresi Reynaldi yang penuh harap.
Reynaldi menangkup wajah Shica agar menatapnya.
"Kenapa? Kau tidak mau, ya?" tanya Reynaldi. Shica tersenyum. "Kita akan kembali ke Indonesia," kata Shica sambil menyentuh rahang Reynaldi.
Reynaldi memeluk Shica dengan erat. "Kita akan bahagia.. Kita akan hidup bahagia.. Aku berjanji.." Shica membalas pelukan Reynaldi. "Terimakasih,"
"Aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu." kata Reynaldi. "Aku tahu," jawab Shica.
Reynaldi melepaskan pelukannya kemudian menatap Shica. "Sekarang katakan.. Kalau kau mencintaiku.. Katakanlah, Rastani." kata Reynaldi. Shica menatap Reynaldi. Dia tidak bisa mengatakannya. Dia tidak sanggup mengatakannya. Dia tidak mau menyakiti hati Reynaldi dengan berbohong. Tapi jujur pun akan menyakitinya.
"Aku mau mendengarnya," kata Reynaldi. "Aku.. Aku mencintaimu juga.. Reynaldi." kata Shica.
Reynaldi tersenyum. "Terimakasih," kata Reynaldi.
Shica tersenyum lesu.
Raihan Alfarizi..
Atau..
Reynaldi Adiwijaya..
Siapa yang akan dia pilih?
Dilema
By
Ucu Irna Marhamah