
"Selamat ya" kata Rangga dan Jane sambil menjabat tangan Reynaldi dan Shica bergantian.
"Terimakasih " kata Reynaldi pendek.
"Aku sangat sedih.. Waktu itu kau pergi ke Perancis tanpa memberitahuku" kata Jane.
Shica tersenyum. "Saat itu aku membutuhkan ketenangan " jawab Shica.
"Dan akhirnya kalian bertemu? Aku tidak mengira kau akan menikah dengan Tuan Reynaldi yang merupakan atasanku" goda Jane. Reynaldi tersenyum sambil merangkul pinggang istrinya.
"Ya, karena kadang jodoh itu datang dengan tiba-tiba.. Jodoh bukan tentang siapa Cinta pertama.. Tapi siapa Cinta terakhirmu" kata Reynaldi sambil menatap Shica penuh arti. Shica mengalihkan pandangannya. Menghindari tatapan Reynaldi.
Jane dan Rangga saling pandang.
"Kau benar" kata Rangga pada Reynaldi. Reynaldi mengangguk.
"Kalian pacaran? " tanya Shica menyelidik.
Rangga dan Jane saling pandang kemudian tersenyum.
"Ya.. Begitulah" jawab Jane.
Shica tersenyum geli. "Semoga kalian juga cepet nikah ya" kata Shica sambil tersenyum.
"Tentu saja.. Kami akan menyusul kalian secepatnya " jawab Rangga. Jane tersipu malu mendengar jawaban Rangga.
"Baiklah kami harus mencari minuman" kata Rangga sambil merangkul pinggang Jane kemudian berlalu dari hadapan pasangan itu.
Regar dan istrinya serta putri kecilnya menghampiri mereka.
"Selamat " kata Regar sambil menjabat tangan Reynaldi.
"Terimakasih " kata Reynaldi. Priyanka juga menjabat tangan Reynaldi.
"Selamat ya.. Semoga kalian bahagia" kata Priyanka.
"Terimakasih " jawab Reynaldi.
Regar beralih pada Shica dan memeluk adiknya dengan erat.
"Kebahagiaan akan menyertai hambanya karena Allah.. Bukan hanya ditentukan oleh manusia itu sendiri " bisik Regar.
"Terimakasih.. Kak" kata Shica.
Regar melepaskan pelukannya. Shica melambaikan tangan pada Megha. Tapi Megha malah bersembunyi dibelakang ibunya.
"Sayang.. Itu tante Shica.. Kamu lupa? " tanya Priyanka lembut sambil merayu putrinya agar mau menemui Shica.
"Tante cantik? " tanya Megha.
"Iya.. Mungkin karena make up-mu, Megha jadi tidak mengenalimu " kata Regar sambil menahan tawanya.
Reynaldi tersenyum. "Kemarilah" kata Reynaldi sambil menggendong tubuh mungil Megha.
"Istriku ini adalah tantemu.. Lihatlah kedua matanya.. Yang tidak akan berubah setiap memandangmu.. Kau pasti melihat Cinta di matanya untuk dirimu" kata Reynaldi.
Shica tahu Reynaldi sedang mengatakan perasaannya. Shica mengalihkan pandangannya.
"Kalian akan menginap disini kan? " tanya Regar.
"Tidak.. Malam ini kami akan pulang ke mansionku" jawab Reynaldi.
"Kenapa Buru-buru? " tanya Regar.
"Pengantin membutuhkan waktu bersama" kata Priyanka.
"Iya seperti itu" jawab Reynaldi sambil tertawa geli.
"Tante cantik sama om ganteng mau pergi? " tanya Megha.
"Kami akan kembali lain kali untuk menemuimu" kata Reynaldi sambil mengecup pipi Megha dengan hangat.
Sikap Reynaldi pada Megha mengingatkan Shica akan sikap Raihan pada Lala.
"Jangan pergi" kata Megha.
"Megha, lihat Eyang Ratna membuat banyak makanan untuk kita.. Kamu pasti suka ayo " kata Regar sambil menggendong Megha dari Reynaldi.
Mereka pun berlalu.
"Baiklah.. Permisi" kata Priyanka kemudian menyusul suaminya.
Reynaldi dan Shica pun kembali duduk.
"Setelah semuanya selesai, kita akan pergi ke mansionku.. Dan tinggal selamanya disana " kata Reynaldi.
"Mansionmu? Yang di Indonesia? " tanya Shica.
"Yang di Perancis" jawab Reynaldi. Shica terbelalak.
"Kenapa ke Perancis? Kenapa tidak disini saja? " tanya Shica.
"Kenapa? Bukankah kau pernah bilang kalau kau ingin tinggal di Paris? Memiliki anak dan hidup selamanya disana?" tanya Reynaldi.
Shica tidak menjawab.
"Semua barang-barangku dan hal penting lainnya ada di Perancis.. Mau bagaimana lagi" sambung Reynaldi.
Shica sangat kesal. Saat ini keegoisan tengah melanda pikiran suaminya.
Dua orang pria berjas menghampiri pasangan pengantin itu. Shica dan Reynaldi pun bangkit.
"Hai, kawan.. Ternyata kau bisa menikah juga ya" kata salah satu dari mereka sambil menjabat tangan Reynaldi dan Shica bergantian.
"Tentu saja, semua orang pasti akan menikah setelah menemukan jodohnya, bukan? " jawab Reynaldi.
"Tentu kami tahu itu.. Kami pikir kau akan tetap nakal dan suka wanita " kata salah satu dari mereka.
Reynaldi mendengus kesal. Shica menautkan alisnya.
"Apa-apaan mereka membicarakan hal bodoh di pernikahanku! " batin Shica.
"Itu dulu.. Sekarang aku sudah berubah.. Aku berubah untuk istriku" kata Reynaldi.
"Ya.. Aku bisa melihatnya " kata temannya Reynaldi.
"Istrimu sangat cantik sehingga kau tidak lagi tertarik pada wanita bayaran" kata temannya Reynaldi.
Shica sangat kesal.
"Iya kau menang banyak " kata yang satunya lagi.
"Mungkin kalian menyukai hidangan yang tersaji di sebelah sana" kata Shica sambil menolehkan kepalanya kearah meja hidangan.
Mereka berdua saling pandang. Karena ucapan Shica yang secara tidak langsung mengusir mereka dari hadapannya. "Baiklah Nyonya Adiwijaya" kata salah satu dari mereka. Kemudian mereka berdua pun berlalu.
Shica mengerutkan keningnya mendengar mereka menyebut dirinya Nyonya Adiwijaya.
Melihat kebingungan istrinya, Reynaldi pun bicara, "Tidak perlu bingung.. Kau harus terbiasa dengan panggilan Nyonya Adiwijaya.. Karena sekarang kau adalah istri seorang Tuan Adiwijaya.. Maka nama belakangmu bukan Mahali lagi, melainkan Adiwijaya" kata Reynaldi.
Shica menatap Reynaldi kemudian dia mengalihkan pandangannya.
Acara pun selesai. Aldi sudah berganti pakaian. Dia mengenakan kemeja putih dan dilipat sampai sikut.
Begitupun dengan Shica. Dia mengenakan dress selutut berwarna putih.
"Kami akan pergi" kata Shica pada Ridan dan Ratna. Ratna memeluk Shica.
"Jaga dirimu baik-baik ya.. Kami akan merindukanmu.. Jika ada apa-apa, katakan pada kami" kata Ratna.
"Tentu saja.. Terimakasih " kata Shica sambil membalas pelukan Ratna kemudian memeluk ayahnya juga
"Aku pasti akan merindukan kalian " kata Shica.
Ridan membelai lembut rambut putrinya.
Shica tersenyum kemudian dia menggandeng tangan Reynaldi. Mereka pun berlalu memasuki mobil.
Mobil tersebut melaju meninggalkan rumah besar Mahali.
Shica melambaikan tangannya. Ratna juga melambaikan tangannya.
"Hmm.. " Ratna bergumam setelah mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya.
"Relakan dia bersama Reynaldi.. Bukankah kau sendiri yang menghalangi hubungannya dengan Raihan dulu? " tanya Ridan.
"Cukup! Aku sungguh menyesal! Iya.. Ini salahku! " teriak Ratna frustasi.
"Tuhan adalah skenario yang mutlak.. Kau terlalu banyak ikut campur.. Sekarang biarkan Tuhan yang membuat akhir yang bahagia untuk putri kita" kata Ridan.
Sementara itu, mobil Reynaldi berhenti di pelataran mansion Adiwijaya yang berada di Jakarta.
"Secepatnya kita akan ke Perancis " kata Reynaldi sambil keluar dari mobilnya.
Shica menghela napas berat kemudian keluar dari mobil mengikuti Reynaldi memasuki mansion.
"Emm.. Kenapa sepi? " tanya Shica.
"Ayahku dan kakakku tidak tinggal lagi disini.. Mereka akan pindah ke Amerika.. Kau bersamaku disini hanya berdua.. Dan beberapa pelayan yang bekerja pagi sampai sore saja.. Malamnya, mereka akan tinggal di rumah di samping mansion ini" jawab Reynaldi.
"Ta.. Tapi kenapa? Aku.. Aku takut jika hanya berdua denganmu " tanya Shica gugup.
Reynaldi berbalik dan menatap istrinya. Dia menyentuh kedua bahu Shica.
"Apa yang kau takutkan? " tanya Reynaldi.
Shica mengalihkan pandangannya tidak ingin dia menatap Reynaldi karena takut.
"Apa kau takut pada diriku? " tanya Reynaldi dengan tatapan sayu.
"Bu.. Bukan begitu.. " jawab Shica gugup.
Reynaldi menyentuh punggung Shica yang terekspose karena memakai dress dengan punggung rendah.
"Emm.. Aku.. Aku belum mandi" kata Shica sambil menghindar dari Reynaldi dan berlalu.
"Aku tidak mau kau menolakku malam ini " kata Reynaldi.
Langkah Shica terhenti. Dia terlihat cemas.
"Setelah mandi, pakai pakaian yang sudah aku sediakan dan masuk ke kamar kita" kata Reynaldi kemudian berlalu menaiki tangga.
Shica berdiri terpaku. Dia bingung..
Disisi lain dia belum rela dengan statusnya yang baru..
Dan disisi lain pula, sekarang dia harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri dari Reynaldi Alexander Adiwijaya.
By
Ucu Irna Marhamah