
Telepon selular Martha sudan nyaman di telinga Ratih yang meski nampak canggung berusaha menyapa yang ada si seberang telepon.
"Halo..." Ucap Ratih.
"Halo, Ratih...." Balas Angga lega.
Mereka saling menelan ludah masing-masing. Menghadapi situasi seperti ini membuat mereka tak bisa berkata apa-apa. Nampak sekali keduanya merasa canggung.
Lama mereka saling terpaku dalam keheningan yang mereka buat sendiri. Dan akhirnya Angga sebagai laki-laki yang jantan, berusaha memulai pembicaraan yang sudah dia persiapkan.
"Apa kabar, Ratih?" Tanya Angga lirih.
Ratih terdiam sejenak. Dia seakan meresapi perkataan Angga dengan perasaan yang dalam.
"Baik, dok!" Jawab Ratih singkat.
"Syukurlah..." Ucap Angga, juga dengan singkat.
Mereka terdiam lagi. Mengatur perasaan mereka lagi. Angga menjadi sedih. Dia sudah menyusun kata-kata untuk disampaikan kepada Ratih dengan matang, tapi setelah berbicara langsung dengan wanita yang dicintainya sepenuh hati itu membuat bibirnya mendadak menjadi kelu.
Angga menarik napasnya sangat dalam. Mengatur ritme suara detak jantungnya yang tak menentu. Angga membayangkan dirinya sedang berhadapan dengan Ratih. Saling menatap dalam, melukiskan perasaan mereka yang terhalang oleh keadaan, waktu, dan restu yang terjal.
"Ratih... Aku minta maaf atas kejadian tempo hari, saat orang tuaku datang menemuimu." Ucap Angga yang menahan getir.
Ratih masih terdiam. Dia hanya menunduk dihadapan Angga yang seakan-akan berada tepat menatap wajahnya.
"Maafkan sikap orang tuaku yang pasti membuatmu merasa tak nyaman dan terganggu." Tambah Angga lagi.
"Tidak apa-apa. Itu wajar. Mereka pasti sangat khawatir karena anak kesayangan mereka menghilang entah kemana." Ucap Ratih sambil menyunggingkan senyum santai.
Angga seperti tahu ekspresi Ratih dari balik telepon, dia juga sama-sama tersenyum santai mendengar jawaban Ratih.
Mereka terdiam lagi, membisu di tempatnya masing-masing. Ratih memainkan bibirnya, mencoba rileks dengan situasi yang sedang dia hadapi. Sementara Angga menggaruk kepalanya perlahan, padahal dia tahu tidak ada yang gatal di tubuhnya.
"Ratih..." Sapa Angga.
"Iya..." Ratih sigap membalas sapaan Angga kepadanya.
".... Mama ingin menemuimu." Ucap Angga lemah.
Ratih kaget. Matanya seketika terbuka lebar. Dia tak menyangka Angga akan mengatakan tentang Mamanya saat itu. Mulutnya juga sedikit menganga. Ratih seperti tersihir menjadi patung, napasnya seperti hendak lepas dari raganya. Dia merasa sedikit takut.
"Mama ingin menemuimu, Ratih. Jika kamu mengizinkan, besok saya akan mengantarkan Mama ke rumahmu." Ucap Angga lagi, memberikan penjelasan lagi kepada Ratih perihal Mamanya.
Angga nampak pasrah. Dia akan menerima apapun jawaban dari Ratih. Dia tahu betul, Ratih masih terluka karena sikap Mamanya dulu dan kejadian kemarin pasti menambah luka dihatinya. Dia tak keberatan jika nanti Ratih akan benar-benar menolaknya. Angga sudah mempersiapkan hatinya.
Ratih masih seperti patung. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Mendengar kata Mama Angga disebut, membuat hatinya menjadi ciut. Apalagi jika Mamanya datang bersama dengan Papahnya. Bayangan kemarin saja masih jelas dalam ingatannya. Ketika Papa Angga marah dengan meledak-ledak, dia seperti ingin menelan Ratih hidup-hidup.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menemui Mama. Saya paham. Tapi jika memang ada kesempatan untukku, untuk kita... Maka saya mohon kepadamu untuk memberi Mama waktu untuk berbicara denganmu." Terang Angga.
Ratih menghela napasnya, berat sekali. Dia memikirkan betul-betul jawaban apa yang harus dia berikan kepada Angga.
"Mamamu boleh datang kapanpun yang dia mau. Lagi pula Mamamu juga seperti tamu-tamu yang lainnya, boleh berkunjung ke rumah manapun yang mereka hendak tuju." Jawab Ratih padat.
Angga sedikit lega dengan jawaban Ratih. Meskipun tak tersirat jelas, tapi mendengar dirinya dan Mamanya diterima di rumah Ratih membuat Angga cukup gembira.
"Syukurlah jika memang begitu. Aku akan menghubungi Mama." Ucap Angga.
"Iya..." Jawab Ratih sambil mengangguk sendiri.
Ratih merasa sedikit lega. Rasanya seperti telah menaruh sedikit beban di pundaknya, sehingga beban hidupnya sedikit berkurang.
Sangat tenang hatinya ketika berusaha membuka hati dan pikirannya secara bersamaan. Dia tak memikirkan hari esok akan seperti apa, dia hanya akan menjalani apa yang digariskan hari ini dengan sebaik mungkin. Dia akan membiarkan hatinya menemukan sendiri kebahagiannya.
****
Esok sudah datang dengan cepat. Ratih sudah siap untuk menjamu tamu yang akan datang. Walaupun dia tidak tahu, apakah tamunya akan betah berlama-lama disini. Tapi Ratih harus mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Seperti tekadnya kemarin, akan berusaha memperlakukan takdir sebaik mungkin.
Ratih sudah berdandan sederhana. Memakai dress berwarna merah marun terjuntai sampai ke lutut. Riasan make up nya sangat natural. Hanya berhias blush on dan bedak berwarna natural menghias wajahnya. Sedangkan bibirnya diberi pewarna yang tidak mencolok.
Ratih sendiri tidak tahu kapan tamunya akan datang. Dia hanya tahu kalau Angga akan berangkat pagi, sekitar jam delapan.
Ratih sudah memasak untuk tamunya. Dia sedikit khawatir jika nanti tamunya tidak suka masakannya. Tapi kemudian Ratih meyakinkan dirinya agar tidak perlu mengkhwatirkan hal yang bahkan belum terjadi.
****
Erick masih bersantai di kamarnya. Seperti biasa dia mendekap gitarnya yang sedang dia mainkan. Kali ini dia tidak sedang sibuk mendendangkan lagu, tapi dia terlihat duduk santai di kursi belajarnya sambil mencorat-coret secarik kertas.
Erick terlihat khusyuk sekali. Berkali-kali dia tampak memkirkan sesuatu, lalu segera menulis apa yang ada dipikrannya itu. Tapi kemudian dia coret lagi kata yang baru saja dia tulis. Dan dia berpikir lagi. Hal itu berulang berkali-kali.
Sepertiya Erick sedang merangkai sebuah kata-kata indah yang ada dalam benaknya untuk dia tuliskan dalam bentuk syair yang merdu.
Syairnya sudah hampir tiga bait. Tapi banyak sekali coretan disana. Dia nampak protektif dengan karyanya, sehingga dia tak ingin ada kata-kata yang mengganggu maha karyanya.
Dia bukan seorang musisi yang pandai merangkai kata untuk menjadi sebuah lagu, tapi entah muncul keberanian darimana sehingga Erick memberanikan diri untuk menulis sebuah lagu hasil karyanya sendiri.
Dia tidak berharap lebih dari lagu yang dia tulis itu, bisa merdu dan dapat dinikmati olehnya saja sudah cukup bagi Erick.
Dia memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri. Meregangkana otot leher yang nampak kaku, karena sibuk menunduk menulis lagu. Belum untuk menoleh ke arah gitar yang setia mengiringi lagunya untuk menemukan kunci nada yang pas. Sebuah perjuangan bagi Erick tentunya.
Tak lama akhirnya Erick tersenyum puas. Dia merasa lega dan senang rupanya, guratan penanya sudah menciptakan sebuah karya seni untuknya.
Erick mendongakkan kepalanya menatap langit cerah pagi itu. Tersenyum menyapa biru dan putih yang bergelayut manja di angkasa. Kemudian matanya kembali turun ke bumi, memandang jauh ke arah bawah, tempat favoritnya jika sedang di kamar. Jendela kamar Lexa. Erick kembangkan senyum kecil untuk menghormati sang pemilik jendela.
Dia kembali melirik tulisannya. Mencoba mendendangkan syair yang sudah menjadi sebuah lagu dengan gitarnya. Alunan gitarnya terdengar merdu, tapi kata-kata yang dia pilih menjadi liriknya belum terucap. Erick masih memilih melantunkannya dalam hati.
Erick begitu menikmati suasana dengan iringan lagu yang dia dendangkan sendiri. Melepaskan segala perasaan lewat lagu membuatnya merasa tenang. Erick nampak lepas dan luwes memainkan gitarnya. Sebuah pesan dari perasaan yang tidak lagi dia sembunyikan dalam hatinya.
Erick tenang. Tersenyum menatap dua bunga kecil yang masih berwarna kuning di hadapannya dengan senyum bahagia.