Don't Leave Me

Don't Leave Me
83





".. Bahkan sampai detik ini aku tak mempunyai keberanian untuk menatap matanya lebih lama sebab, aku pernah dibuat cinta oleh pandangannya yang pertama.. "



***




Shica dan Reynala sedang berada didalam mobil.



Reynala fokus menyetir. Sementara Shica menatap jalanan yang dilalui mobil Reyna.



Dia merindukan Indonesia. Tiga bulan dia berada di Perancis. Statusnya masih belum jelas.



Tidak ada kabar dari kedua orang tuanya maupun dari Raihan. Apa mereka tidak mencemaskan Shica?



Shica tahu bahwa Reynaldi membawa semua barang-barang Shica yang bisa dilacak. Reynaldi mengganti semuanya dengan yang baru. Shica benar-benar sudah diculik oleh pria tampan itu.



Selama bersama Shica, Reynaldi membuktikan bahwa dia memang sunguh-sungguh mencintai Shica. Shica juga tidak bisa mengabaikan cinta Reynaldi. Dia tidak bisa membuat Reynaldi sakit meskipun Reynaldi sering menyakiti dia.



Mobil yang mereka tumpangi itu berhenti. Shica terhenyak dan menoleh kearah Reyna.



"Jangan melamun terus, kita sudah sampai di toko buku." kata Reyna sambil menggandeng tangan Shica. Shica tersenyum. "Maaf," kata Shica.



"Tidak perlu meminta maaf, kita sebentar lagi jadi saudari bukan?" kata Reyna riang. Shica terdiam kemudian dia tersenyum.



Mereka-pun keluar dari dalam mobil dan memasuki toko buku tersebut.



Dia melihat banyak sekali buku di rak. Shica sangat terpukau.



"Apa disini ada novel berbahasa Inggris?" tanya Shica.



"Ada, di sebelah sini." kata Reyna. Mereka berdua berpisah untuk mencari buku yang menurut mereka menyenangkan.



Shica menemukan buku yang menurutnya aneh dan unik.



The First of Love



Shica mengambil buku tersebut dan membukanya. Ternyata isinya bahasa Perancis.



Shica menghela napas berat.



"Apa kau perlu buku itu?"



Shica terhenyak mendengar suara bariton itu. Dia pun berbalik. Dia terkejut melihat keberadaan pria itu berdiri disana.



"Apa yang kau lakukan disini, Raihan?" tanya Shica.



Pria yang tidak lain adalah Raihan itu tersenyum.



"Menjemput calon istriku tentunya, apalagi." jawab Raihan. Shica membulatkan matanya mendengar jawaban Raihan.



Ada rasa senang dihati Shica mendengar jawaban Raihan.



Rasa bahagia Raihan datang ke Perancis untuk menjemputnya.



Shica menautkan alisnya. "Kenapa baru sekarang, kenapa tidak sejak waktu itu? Kenapa kau selalu datang terlambat, Raihan?" tanya Shica dengan air mata yang berlinang.



"Aku mencarimu, tapi aku baru bisa menemukanmu sekarang. Kemana barang-barangmu? Aku tidak bisa melacakmu." tanya Raihan.



Shica bungkam.



"Aku mencarimu, begitu juga dengan kedua orang tuamu." kata Raihan.



Shica mendongkak menatap Raihan. "Kau bertemu mereka?" tanya Shica.



"Tidak, tapi aku tahu." jawab Raihan.



Sungguh..



Shica sangat menyesal..



Keputusannya untuk kabur dari Indonesia malah membuatnya terjebak ke dalam situasi yang lebih sulit. Sekarang dia mau bagaimana?



Raihan sudah didepannya.



Apa yang akan Shica lakukan?



"Ayo, kita kembali. Kita akan menikah. Aku akan menemui orang tuamu," kata Raihan sambil mengulurkan tangannya pada Shica.



Shica menatap tangan besar dan kokoh itu. Tangan yang pernah melindunginya, yang pernah mengusap rambut panjangnya kala dia sedih, tangan yang sama yang memeluknya ketika dia dalam ketakutan.



Jika Shica meraih tangan itu, maka semuanya akan selesai. Cinta Raihan dan Shica akan berakhir disini. Tangan Shica bergerak dan akan menerima uluran tangan Raihan, namun sebuah tangan besar lebih dulu menggenggam tangannya.



Shica terkejut dan menoleh ke sampingnya. Ternyata Reynaldi yang menggenggam tangannya sebelum menyeduh tangan Raihan.



Shica terkejut. Bagaimana bisa Reynaldi berada disana?



Sejak kapan?



"Kau? Laki-laki yang ada di apartemen Shica waktu itu?" tanya Raihan saat melihat keberadaan Reynaldi.



Shica mengalihkan pandangannya. Reynaldi tersenyum sambil merangkul pinggang Shica dengan posesif. Shica merasa risih dengan perlakuan Reynaldi, apalagi didepannya ada Raihan.




Raihan menatap kesal pada Shica. Shica tidak berani menatap Raihan maupun Reynaldi. Raihan tidak mengira Shica akan berpaling dan memilih pria yang lain.



"Kami akan segera menikah, dan kuharap kau tidak mengganggu hubungan kami." kata Reynaldi penuh penekanan.



Raihan mengepalkan tangannya. "Kenapa kau berpikir kau bisa menikah dengan Shica?" tanya Raihan.



"Karena aku akan melakukan apapun agar bisa menikah dengan Rastani," jawab Reynaldi penuh keyakinan.



Shica terlihat sedih.



"Lalu, apa kau pikir Shica mencintaimu?" tanya Raihan kesal.



"Ya, tentu saja." jawab Reynaldi dengan percaya dirinya.



Raihan menatap Shica yang sedari tadi hanya diam. Dia sangat kesal.



Raihan melangkahkan kakinya menghampiri Shica. Namun Reynaldi bergerak menghalangi Shica dari Raihan.



Langkah Raihan pun terhenti. "Aku mau bertanya langsung pada Shica, minggirlah." kata Raihan penuh penekanan.



"Kau tidak bisa mendekatinya," kata Reynaldi penuh penekanan sambil menatap Raihan dengan tajam.



Raihan menatap Reynaldi tak kalah tajam.



"Shica, katakan! Apa kau mencintai laki-laki ini, atau diriku!" kata Raihan sambil menatap Shica yang berdiri dibelakang Reynaldi.



Shica tidak menjawab. Sedari tadi dia hanya menunduk.



"Shica jawab aku!" kata Raihan penuh penekanan.



"Shica,"



"Diam! Raihan! " teriak Shica sambil mendongkak menatap Raihan. Reynaldi tersenyum sinis. Shica dan Raihan saling menatap.



"Katakan, apa kau mencintaiku, atau dia?" tanya Raihan.



Shica mengalihkan pandangannya. Kemudian dia kembali menatap Raihan.



"Aku memang mencintaimu Raihan, tapi kenapa kau seolah tidak peduli padaku? Aku pergi-pun kau tidak menyusulku atau bertanya kabarku, kau yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Kau yang sekarang sangat sibuk, kau yang sekarang seorang pengusaha yang bekerja keras dan di perbudak oleh uang. Kau bukan Raihan yang kukenal lagi. Kau bukan Raihan yang peduli pada sekitarmu, hiks, hiks.. " Shica menangis.



Raihan terlihat sedih. Reynaldi mencerna kata-kata yang di ucapkan Shica. Sakit sekali mendengar itu.



".. Hiks.. Hiks.. Kau bukan kapten voli yang kukenal lagi. Kau orang lain, kau orang asing. Kau bukan temanku, aku kecewa. Aku kecewa padamu, Raihan. Aku menyesal pernah mencintaimu, aku menyesal pernah membantumu. Aku menyesal.. Aku menyesal!" teriak Shica histeris.



Raihan terlihat sedih. "Shica kau tidak tahu yang sebenarnya, Shica kembalilah padaku, aku akan menjelaskan segalanya. Dan kau akan mengerti," kata Raihan. Shica terdiam sejenak. Namun dia kembali menatap Raihan.



"Kau tidak tahu, seperti apa perasaanku saat berada disini, waktu itu aku sendirian.. Aku takut, Raihan." kata Shica dengan suara gemetar. Reynaldi berbalik dan memeluk Shica.



"Seharusnya waktu itu kau tidak pergi, kau tidak boleh pergi." kata Raihan sambil menggeleng pelan.  Dia menatap punggung Reynaldi yang selama ini telah melindungi Shica. Melindungi Shica saat dirinya tidak mampu. Shica telah menemukan Reynaldi sebagai cintanya?



Tidak!



Raihan menepis pikiran itu.



"Yang kau katakan memang benar, Shica, tapi seharusnya kau juga tahu. Apa yang kulakukan selama jauh darimu, kau harus tahu. Tapi percuma, kau tidak akan mengerti. Tidak masalah." kata Raihan.



"Cukup! Kau jangan bicara lagi! Lebih baik sekarang kau pergi!" bentak Reynaldi sambil berbalik menatap Raihan.



"Raihan, kau pernah memberikan tiga permintaan untukku. Yang pertama, aku pernah memintamu untuk bersekolah. Sekarang ,aku mau meminta permintaan keduaku kau penuhi. Tolong, berhenti membuatku berada dalam kebimbangan. Aku cukup lama terjebak dalam perasaanku sendiri," kata Shica.



Raihan menatap Shica dengan tajam. "Silakan kalian menikah, tapi sampai mati-pun, kau akan tetap jadi milikku, Shica. Apapun alasannya kau harus menjadi milikku! Kau akan menjadi milikku. Sejak ciuman pertamamu itu kau adalah milikku!" kata Raihan penuh penekanan. Reynaldi mengepalkan tangannya geram.



"Aku bersumpah! Selama napas ini berhembus, selama darah ini mengalir, selama nyawa ini dalam tubuhku, aku akan tetap mencintaimu dan akan memilikimu, Rastani Mahali" kata Raihan sambil menarik tangan Shica.



Shica terkejut. Tubuhnya terhuyung dan berbenturan dengan dada Raihan. Reynaldi menarik tangan Shica yang satunya lagi sehingga Shica terhuyung kearah Reynaldi.



Raihan tidak mau kalah dan menarik Shica.



"Lepaskan tanganmu!" geram Raihan.



"Kau yang harus melepaskannya! "



Terjadi perebutan antara Raihan dengan Reynaldi. Shica berusaha melepaskan diri. Namun mereka berdua tetap bersikeras.



"Lepaskan aku! Kalian menyakitiku!" teriak Shica.



Namun, mereka berdua tetap saling menarik. Shica meringis kesakitan.



Raihan melepaskan Shica karena mendengar ringisan Shica.



Shica terhuyung dan Reynaldi mendapatkannya. Shica menatap Raihan. Raihan juga.



Shica terlihat sedih.



Reynaldi merangkul pinggang Shica dan berlalu sambil mengecup pipi Shica dan meninggalkan Raihan dalam kekesalan. Raihan mengepalkan tangannya geram.



"Kenapa jadi begini, Hhh." gerutu Raihan. Bahkan kini Raihan tidak bisa lagi berpikir dengan baik. Pikirannya melayang membayangkan apa saja yang mereka lakukan selama ini dibelakangnya.



By



Ucu Irna Marhamah