
Keramaian kota mengisi pandangan mata Lexa yang nanar. Terbesit dalam angannya, kenangan masa-masa melewati jalan ramai. Penuh sesak menghirup debu kota. Menyusuri lorong pemukiman padat, menyapa orang-orang yang dikenal. Hangat. Kemudian berubah menjadi orang-orang dengan tatapan enggan kepadanya. Senyum sapaan mulai luntur rupanya.
Kini, melewati lorong-lorong gelap. Takut akan mata yang sembunyi mengamati langkahnya. Debu kota berubah menjadi pekat. Amat pekat. Hampir saja menutupi pandangan. Lexa bersyukur masih ada bayangannya yang masih setia mengikuti.
Kota menjadi semakin tinggi. Tinggi. Hampir menyentuh hamparan langit. Seperti monster yang siap melahap Lexa yang semakin kecil. Sekali injak, tamat sudah.
Lexa berlari. Menghindar dari gedung-gedung kota yang tertawa terbahak-bahak. Mereka meremehkannya. Lexa hanya bisa berlari, membawa airmatanya yang bercucuran. Kejam sekali mereka.
Lexa masih berlari sekuat tenaga yang dia punya, sampai dia terjatuh menyentuh tanah. Dia melempar pandangan ke segala arah. Yang dia lihat hanya rerumputan hijau. Bergoyang mengikuti angin yang berdendang. Melihat danau jernih mempesona.
Lexa mencoba melangkah, tapi seketika terhenti. Kakinya tertahan oleh sesuatu. Dia lihat kakinya terbenam ke dasar tanah. Terhisap semakin dalam. Lexa menjerit. Dia tak bisa bergerak. Perlahan tapi pasti kedua kakinya sudah tertimbun tanah. Lexa menangis. Lexa memanggil Ratih. Tapi, dimana Ratih? Lexa menatap sekeliling. Kosong. Sepi. Sendiri.
Lexa berteriak. Dia berusaha melepaskan diri dari tanah yang semakin menghisapnya. Tangannya dia hentakkan ke tanah. Memukul tanah agar tanah berhenti menghisapnya. Tapi seakan si tanah tak peduli, kini tanah sudah sampai di perut Lexa. Lexa terdiam. Dia mulai pasrah. Dia tidak akan berteriak dan menangis lagi. Cukup. Lexa sudah menyerah dengan keadaan.
Lexa memejamkan matanya. Tanah yang menghisapnya perlahan mengendur. Tak sekuat ketika dia bersikap menolak, meronta sejadi-jadinya. Lexa membuka mata. Merasakan tanah yang kini bersahabat dengannya. Lexa tersenyum. Tangan yang tadi marah menepuk tanah, perlahan melunak.
Lexa memandang ke depan pasti. Tubuhnya semakin lama semakin turun. Pelan. Menenggelamkan perut dan kini hampir ke dada. Menyisakan kedua tangan setengah dada dan kepalanya. Tapi, ada satu hal yang membuat Lexa tercengang. Ada uluran tangan yang hendak menjangkaunya.
Lexa perlahan mencari asal tangan itu. Mendongak ke atas, menengadahkan kepala. Terlihat sinar matahari yang menyilaukan pandangannya. Ada sosok tubuh yang berdiri disana. Tubuhnya tertutup kilauan sinar matahari.
Angin sepoi-sepoi melambaikan rambut gondrong di depannya. Lexa hanya bisa menyaksikan siluetnya saja. Tubuhnya jelas tergambar sempurna. Tinggi, tegap, dan kokoh. Dia tahu jelas siapa pemilik siluet di depannya.
Tangan Lexa meragu. Hendak meraihnya atau membiarkan tanah menghisapnya. Lexa tertegun sejenak. Kembali memperhatikan sosok di depannya. Kemudian sosok didepannya seperti memberi sebuah isyarat. Dia menganggukkan kepalanya, meyakinkan Lexa agar segera meraih tangannya.
Lexa tak yakin. Tapi tangan didepannya sungguh godaan yang tidak bisa dia tolak. Lexa mendongak lagi. Mengamati sosok siluet di depannya dengan mata yang sayu. Kemudian dengan perlahan meraih tangannya. Tangan mereka saling mencengkeram. Memberi tenaga ke masing-masing tubuh untuk saling membantu.
Lexa berhasil lolos dari pelukan tanah. Tubuhnya berdiri sejajar dengan sosok di depannya. Saling pandang tak dapat terelakkan. Matanya bertemu dengan mata sosok tubuh di depannya. Erick.
**
Lexa terbangun. Dia melihat sekeliling. Masih ada Ratih di sampingnya. Angga terlihat sedang berbicara dengan seseorang dari balik bilik. Lexa mengamati keluar jendela mobil Angga. Dia sedang berhenti di sebuah drive thru.
Angga melirik ke belakang joknya. Tersenyum melihat Lexa yang sedang memperhatikan keluar jendela. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Ratih yang sedang terlelap. Tak lama menunggu. Angga bersiap melaju mobilnya. Kembali menyusuri jalanan ramai ibu kota.
****
Mereka sudah tiba di sebuah Rumah Sakit ternama. Setelah menyantap makanan cepat saji mereka di sebuah taman dibawah fly over. Tidak ada percakapan berarti di antara mereka saat itu, mereka hanya asyik menghabiskan makanan, memuji kelezatannya dan saling bertukar kabar saja.
Angga mengawali langkah pertama memasuki Rumah Sakit. Disusul Ratih yang menggandeng Lexa erat, seperti orang yang tak mau kehilangan. Lexa menuruti langkah kedua orag dewasa itu, matanya tak dia gerakkan ke segala arah. Lexa hanya menunduk.
"Selamat siang Dokter Angga." Sapa seorang berpakaian satpam kepada Angga.
"Selamat siang, Pak" Balas Angga dengan ramah.
Angga, Ratih dan Lexa melewati Satpam dan berjalan ke arah kiri menuju lift khusus pegawai agar lebih cepat sampai ke tujuan.
Angga sudah menyiapkan semuanya. Dia sudah mengatur jadwal temu dengan Dokter Heryawan. Dokter yang akan memeriksa Lexa. Dia adalah dokter senior Angga. Dia orang yang sangat sibuk. Jarang sekali bisa mendapatkan jadwal temu dengannya. Beruntung Angga mengenal sang dokter dengan baik, jadi ada kesempatan untuk Lexa agar bisa mendapat penanganan darinya.
Pintu lift terbuka, Angga mengajak Ratih dan Lexa untuk tetap mengikutinya. Banyak orang rupanya di lantai yang mereka singgahi. Beberapa di antaranya adalah pasien. Selebihnya pengantar atau penunggu pasien.
Angga mengajak Ratih dan Lexa duduk diantara mereka. Ratih dan Lexa berbaur dengan pasien yang lain. Lexa merasa kurang nyaman. Dia terus saja menundukkan kepala, menyembunyikan diri dari lingkungan. Ada trauma tersendiri dalam diri Lexa ketika berada di keramaian. Dia akan butuh waktu lama untuk bisa berbaur dengan mereka.
Ratih masih setia menggenggam tangan Lexa dengan sempurna. Dia benar-benar ahli menjada Lexa. Ratih tahu betul Lexa tidak akan merasa nyaman berada di Rumah Sakit, tapi sebisa mungkin dia berusaha membuat Lexa menjalani perawatan dengan baik. Kesempatan langka baginya, bisa mengajak Lexa ke Rumah Sakit lagi.
Angga terlihat sedang berbicara dengan salah seorang perawat yang berjaga disana. Senyum sang perawat ramah kepada Angga. Mungkin karena sudah lama kenal atau mungkin bisa jadi karena sang perawat terpesona melihat sosok Angga. Ratih mengawasinya. Hatinya sedikit bergejolak melihat ekspresi sang perawat terhadap Angga.
Terlihat si perawat sedang menelpon seseorang, berbicara singkat sambil sesekali terlihat mengangguk mendengar perkataan seseorang dari balik telepon. Kemudian mempersilahkan Angga untuk mengikutinya.
Angga memberi isyarat kepada Ratih agar membawa Lexa bersamanya. Ratih paham, dia menarik Lexa yang sudah terlihat pucat. Ratih memberi senyum manis kepada Lexa, sebagai suntikan energi untuk Lexa agar Lexa tetap tenang. Akhirnya mereka masuk melewati pintu berwarna putih dengan tulisan nam dokter yang dituju.
Lexa sedikit menarik tangan Ratih, seperti hendak mengatakan 'Tidak'. Ratih meyakinkan Lexa dengan menganggukkan kepala perlahan. Lexa sudah pucat pasi. Tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Itu dirasakan Ratih yang menggenggam erat tangan Lexa.
Di pintu sudah berdiri seorang perawat yang mempersilahkan mereka masuk. Senyumnya hangat untuk Ratih dan Lexa, apalagi untuk Angga. Ratih hanya membalas senyum sang perawat kecil.
"Selamat siang, Dok." Sapa Angga memberi salam kepada dokter yang sedang nyaman duduk di kursinya.
Dokter Heryawan melirik Ratih dan Lexa.
"Lexa... Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu?" Sapa dokter itu kepada Lexa yang masih menunduk.
Lexa melirik ke arah dokter yang menyapanya. Lexa ingat, dia adalah dokter yang dulu merawatnya. Mukanya belum berubah masih sama seperti dulu. Mukanya tegas. Umurnya mungkin sudah empat puluh tahun ke atas. Kharismanya masih sama seperti saat terakhir kali Lexa bertemu dengannya.
"Silahkan duduk." Perintah dokter Heryawan.
Angga mempersilahkan Ratih dan Lexa untuk duduk.
"Lexa kemana saja? Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan Lexa. Bagaimana kabarnya Lexa?" Sapa sang dokter lagi.
Lexa mengangguk ragu kepada dokter di depannya. Mukanya masih pucat. Lexa terlihat takut.
"Sudah lama sekali Lexa tidak mengunjungi dokter. Lexa gak kangen sama dokter?" Rayu dokter Heryawan.
Lexa tersenyum kecil.
"Baiklah. Karena Lexa sudah lama tidak menemui dokter, berarti Lexa harus tinggal lama disini. Dokter ingin ngobrol lama dengan Lexa. Dan Lexa gak boleh menolak. OK?!" Pinta dokter.
Lexa menatap dokter tak yakin. Dia melirik Ratih yang memandangnya penuh harap. Angga menyemangatinya dengan senyumnya. Lexa menatap dokter lagi.
Dokter Heryawan sedang menatapnya lekat. Menunggu jawaban yang menyenangkan hatinya. Akhirnya Lexa pun mengalah.
"Baik, Dok." Jawab Lexa lirih.
"Nah, gitu donk. Lexa kan anak baik." Kata dokter Heryawan puas.
Lexa dibantu seorang perawat masuk ke sebuah ruangan. Perawat itu terlihat mengarahkan Lexa untuk berganti pakaian. Memakai pakaian khas pasien Rumah Sakit ternama tersebut, ditemani pandangan Ratih yang terus mengawasi Lexa.
"Sudah berapa lama Lexa tidak mendapat perawatan?" Tanya dokter Heryawan serius.
Angga dan Ratih saling bertatapan. Mereka terlihat tegang.
"Sudah hampir satu tahun, Dok." Jawab Ratih lirih.
"Lexa masih teratur minum obat?" Tanya dokter semakin menelisik.
Ratih diam sejenak. Kemudian menggeleng dengan hati-hati.
Ekspresi dokter Heryawan menggeleng, mukanya sedikit kesal. Ratih mendadak ciut nyali. Dia merasa akan dihakimi oleh dokter.
"Lexa akan menjalani rangkaian tes, untuk mengetahui sejauh mana reaksi virusnya sekarang. Apalagi dia sudah jarang minum obat. Maka besar kemungkinan virus HIV nya sudah meningkat menjadi AIDS." Kata dokter pasti.
Ratih sedikit syok. Matanya terbelalak. Hatinya mendadak berdegup kencang. Angga melihatnya tak tega, dan secara refleks memegang erat tangan Ratih. Ratih tersentak dengan sikap Angga, tapi dia tak kuasa menolak.
"Kita akan tahu hasilnya besok atau lusa. Karena saya harus memastikan betul kondisinya sekarang." Tegas dokter itu lagi.
Ratih mengangguk.
"Bagaimana keadaan Lexa sehari-hari?" Tanya dokter Heryawan penasaran.
"Lexa... Dia, sepertinya baik-baik saja, dok. Tapi akhir-akhir ini, Lexa sering tak sadarkan diri. Kadang dia juga merasa demam. Sering terlihat merasa nyeri di sebagian tubuhnya, tapi saya tidak yakin bagian tubuh mana yang sakit." Jawab Ratih hati-hati.
Dokter Heryawan mencerna jawaban Ratih dengan baik. Dia sedikit terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Memang tidak mudah menangani pasien seperti Lexa. Kita harus benar-benar menjaga perasaannya. Saya yakin anda juga pasti kewalahan menghadapi situasi Lexa, di tengah asumsi masyarakat kita yang di luar nalar." Tegas dokter Heryawan.
Ratih menunduk, Ratih paham maksud sang dokter.
"Kita sebagai care-taker harus pandai-pandai memahami kondisinya. Apalagi Lexa adalah pasien muda. Moodnya harus benar-benar dijaga. Jangan sampai dia merasa tidak memiliki seseorang yang benar-benar mengerti dia." Jelas dokter Heryawan.
Ratih mengangguk yakin. Dia dengan segenap hati akan berusaha membuat Lexa merasa nyaman.