
Shica Mahali
Perlahan kedua mataku terbuka. Aku menatap ke sekeliling. Tidak ada siapapun dikamarku. Semalam Reynaldi pergi keluar. Entah kemana dia pergi.
Aku bangkit dari ranjang sambil membenarkan lingerie yang kupakai.
Sungguh..
Semalam aku sudah seperti seorang jalang saja.
Tapi apa aku salah telah mencintai suamiku sendiri?
Aku mencintai Reynaldi..
Tapi aku juga mencintai Raihan..
Jika bisa diukur, aku mencintai Reynaldi sebesar 30% dan Raihan 60%
Raihan masih mengganggu pikiranku.
Entahlah..
Sekarang aku terjebak didalam perasaanku sendiri..
Raihan..
Reynaldi..
Hatiku pada Raihan dan pikiranku pada Reynaldi.
Aku pun memilih mandi. Setelah selesai mandi, aku memilih sarapan dan menggambar sketsa taman di belakang mansion.
Ada Lilly yang menemaniku. Dia salah satu pelayan Reynaldi. Kami cukup dekat sejak pertama aku ke mansion ini waktu Joshua menjualku malam itu.
Ah! Jika suatu hari aku bertemu Joshua, aku akan menghajarnya.
Sayang sekali dia pergi ke Amerika setelah menjualku.
Dasar sialan!
Lilly gadis muda yang usianya sekitar 19 tahun, dia sangat polos dan jujur. Dia juga baik dan peduli.
"Nyonya sketsa pemandangan itu sangat Indah.. Aku menyukainya" kata Lilly semangat.
Aku tersenyum. "Terimakasih.. Ini.. Jika kau mau kau bisa memilikinya" kataku sambil memberikan kanvas hasil goresanku pada Lilly.
"Benarkah? Nyonya baik sekali.. Terimakasih banyak" kata Lilly semangat.
Sedikit demi sedikit aku memahami bahasa Perancis. Ya walau kadang aku masih harus bertanya pada Zack, kepala mansion.
Semua pelayan memang menggunakan bahasa Inggris jika berbicara denganku, tapi ada juga sebagian pelayan yang tidak bisa berbahasa Inggris berbicara dengan menggunakan bahasa Perancis termasuk Lilly.
"Baiklah, sekarang aku mau bertanya sesuatu padamu " kataku pada Lilly.
"Iya, Nyonya silakan " jawab Lilly.
Aku menatap ke sekeliling. Takut ada yang menguping pembicaraan kami. Kemudian aku sedikit berbisik pada Lilly. "Apa Reynaldi pernah membawa wanita ke mansion ini? "
"Emm.. " Lilly menatap ke sekeliling. Kemudian dia juga berbisik padaku.
".. Sebenarnya ada.. Tapi Nyonya jangan bicara pada Tuan ya.. Karena kalau Tuan marah, Tuan bisa sangat menakutkan" bisik Lilly. Aku terkejut dan rasanya dadaku sesak mendengar jawaban Lilly.
"Iya.. Tidak masalah.. Katakan saja" kataku.
"Tuan sering membawa wanita yang berbeda-beda ke mansion ini, tapi Tuan tidak memiliki hubungan yang jelas dengan mereka " jawab Lilly.
Dadaku makin sakit setelah aku mendengarnya.. Sepertinya aku benar-benar cemburu.
Dasar menyebalkan dia!
"Tapi Nyonya, setelah Joshua membawa Nyonya kemari, Tuan tidak lagi membawa wanita.. Tuan tidak pernah terlihat bersama wanita lain setelah mengenal anda.. " kata Lilly.
Aku terkejut..
"Mungkin Nyonya adalah cinta sejatinya Tuan" kata Lilly.
Kedua pipiku memanas. Aku yakin sekarang sudah memerah.
"Baiklah, terimakasih informasinya" kataku.
Lilly tersenyum kemudian membungkukkan badannya dan berlalu.
Aku duduk di sofa yang tersedia disana.
Setelah menikah dengan Reynaldi, apa aku akan berdiam diri seperti ini?
Apa tidak ada yang bisa aku lakukan? Papa pernah menyuruhku memegang perusahaan cabangnya, tapi sekarang mungkin tidak bisa karena aku sudah menikah dan tinggal jauh dari Indonesia.
Tidak masalah, ada Kak Regar yang lebih mampu dariku.
Seorang pelayan wanita menghampiriku. Dia membungkukkan badannya.
"Maaf Nyonya Adiwijaya, ada kiriman dari seseorang untuk anda" katanya sambil memberikan sebuah amplop berukuran sedang.
Aku menerimanya. "Siapa yang mengirimnya? " tanyaku.
"Saya tidak tahu, Nyonya" katanya menjawab pertanyaanku.
"Emm.. Baiklah, terimakasih " kataku.
Dia membungkukkan badannya kemudian berlalu.
Aku penasaran apa isinya. Karena kulihat tidak ada nama pengirimnya. Aku pun membuka amplop tersebut dan melihat isinya.
Aku terkejut melihat apa yang ada didalamnya.
Ternyata foto-foto yang tidak pantas dilihat.
Apalagi foto itu adalah foto-foto Reynaldi bersama wanita yang berbeda. Pose mereka sangat panas dan tidak pantas.
Dadaku terasa sesak melihat itu. Tanpa sadar, aku meremas foto-foto itu dan melemparnya ke lantai.
Menyakitkan sekali melihatnya..
Meski aku tahu, itu kejadiannya pasti sudah lama karena kulihat tubuh Reynaldi masih bersih dari tatto.
Pandanganku mengabur dan selanjutnya yang kurasakan adalah buliran-buliran hangat membasahi kedua pipiku.
Apa ini rasanya cemburu?
Kenapa sesakit ini?
Aku bahkan belum pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya saat aku masih bersama Raihan.
Difofo itu, kulihat Reynaldi bergitu bahagia dan puas dengan wanita-wanita murahan itu.
Sementara dia tidak bahagia saat bersamaku.. Selalu ada masalah diantara kami..
OK, sekarang aku tidak mengerti dengan jalan hidupku sendiri, Reynaldi mencintaiku, aku mencintai Raihan dan Raihan tidak mencintaiku..
Cinta segitiga ini membuatku gila lama-lama.
Lalu..
Siapa jodohku sebenarnya?
Aku sudah lelah bermain perasaan seperti ini. Aku merasa terlalu banyak menyakiti orang lain dan aku merasa aku telah menyakiti diriku sendiri.
Masalah selalu datang dengan tiba-tiba, penyelesaiannya sangat lama, namun masalah baru selalu muncul dengan cepat dan tanpa henti..
Aku lelah..
Lelah dengan semua kesedihan, kesakitan, kekecewaan dan keresahan ini..
Apa aku bisa bahagia?
By
Ucu Irna Marhamah