
Mobil Angga mulai melaju, memecah kemacetan jalanan Ibu Kota yang penuh sesak sore itu. Angga berniat ingin mengantarkan Ratih ke tempat Kakaknya.
Ratih terlihat mengamati jalanan. Tak ada earphone di telinganya, yang ada hanyalah tatapan tajam ke sekeliling jalanan Ibu Kota yang ramai.
"Kota ini tidak pernah sepi." Celetuk Ratih.
"Kata siapa??" Jawab Angga.
Ratih menoleh ke arah Angga. Dia terlihat penasaran, kenapa Angga mengucapkan hal itu.
"Sejak kamu gak disini, kota ini sepi." Jawab Angga enteng.
Mukanya tanpa ekspresi. Tapi jelas menunjukkan ungkapan yang tulus dari hati.
"Kamu harus bisa melanjutkan hidupmu dengan baik." Lirih Ratih.
Tatapan Ratih menatap gamang ke arah luar jendela di sampingnya. Dia merasakan Angga benar-benar merasa hampa karenanya. Ratih paham, karena dia juga merasakan hal yang sama.
"Kamu gak mau melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialis?" Tanya Ratih.
Dia menatap Angga dengan lembut.
Angga tersenyum hangat menyambut tatapan Ratih.
"Nanti, kalau hasil laboratorium kamu sudah keluar." Jawab Angga.
Ratih tertegun. Kenapa semua hidup Angga tergantung kepadanya?
"Sampai kapan kamu akan seperti ini? Hidupmu milikmu sendiri. Bukan orang lain. Kenapa kamu sampai sejauh ini? Kamu tidak bisa menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk orang lain." Keluh Ratih.
"Apa kamu menyesal menyerahkan kehidupanmu untuk Lexa?" Tanya Angga yang masih menatap ke depan dengan yakin.
Ratih terdiam. Terhenyak oleh pertanyaan Angga. Kini Angga mulai melirik Ratih di sampingnya. Sedikit mulai meninggalkan jalanan di depannya. Mobilnya ikut terhenti karena lampu lalu lintas memerintahkannya untuk diam tak bergerak.
"Kalau aku gak menyesal. Semua hidupku adalah untukmu. Bahkan ketika kamu menolak, aku tetap menyerahkan hidupku untukmu." Tegas Angga.
Ratih mulai goyah. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Perasaan yang membuat airmatanya meleleh di pipi.
Dengan penuh perasaan Angga mengusap lembut airmata Ratih.
"Sampai kapan kamu akan menghindari perasaanmu? Jangan membuat hatimu semakin terluka. Aku gak rela." Lirih Angga.
Tangan Angga dengan lembut menyeka airmata Ratih yang berjatuhan. Ratih mulai terisak, dan Angga membiarkannya. Membiarkan Ratih yang sedang mengekspresikan perasaannya.
"Menangislah! Tak apa. Itu tidak akan menyakitimu. Biarkan hatimu yang bicara, Ratih. Sudah sangat lama kamu menyiksa hatimu sendiri." Getir Angga.
Tangan Ratih beranjak naik mendekati tangan Angga. Kini tangan mereka saling bersentuhan di pipi Ratih. Tangan mereka bertemu untuk saling memahami luka masing-masing. Angga sampai tak kuasa menahan tangisnya juga karena sentuhan Ratih yang membuatnya bergetar.
Keduanya menjadi cengeng. Mereka tidak bisa menahan airmata mereka sendiri. Mengekspresikan kebahagian mereka dengan tangis adalah suatu hal yang menyentuh jiwa. Tak perlu dihindari ataupun di maki. Cukup nikmati dan tunggulah. Kebahagiaan sebenarnya akan datang.
****
Ratih duduk di depan pusara Danang. Menaruh beberapa kuntum bunga mawar merah untuk menghiasi tanahnya yang sudah nampak kering. Tidak lupa Ratih mengelus nisan kayu milik Danang yang kokoh berdiri.
"Apa kabar, Kak? Maaf baru sempat mengunjungimu. Aku datang untuk menyapa karena aku sedang berkunjung ke kota." Sapa Ratih kepada Danang.
"Aku ingin minta restumu. Aku berharap kamu, Kak Riyanti, dan Lexa berkenan mendoakanku agar aku sehat." Ungkap Ratih.
"Aku ingin memulai kehidupanku yang baru. Aku ingin kalian bahagia disana, karena melihatku bahagia disini" Ucap Ratih.
Dia mulai menangis lagi. Tapi Angga yang berada di sampingnya berusaha menenangkannya dengan mengelus lembut punggungnya.
"Aku membawa bunga mawar merah untukmu, Kak. Kamu paling suka saat Kak Riyanti menanam mawar di depan rumah. Kamu bilang harumnya membuat tenang. Dan ini... Mawar ini, aku hadiahkan untukmu agar kamu tenang di sana." Imbuh Ratih sambil mengangkat mawar di hadapan pusara Danang.
"Aku dan Lexa tidak marah kepadamu. Kak Riyanti juga sama. Kami tidak pernah membencimu, Kak. Kami tahu, kamu melewati masa yang sulit. Maafkan kami yang tidak bisa menyejukkan hatimu. Maafkan kami yang tidak berdaya menjaga perasaanmu. Maafkan aku, Kak..." Ungkap Ratih.
Ratih menangis tersedu di hadapan pusara Angga. Pertama kalinya Ratih benar-benar menangis sejadi-jadinya. Rasanya dia ingin memuntahkan semua tangisnya hari ini, karena dia ingin tangis kesedihan dalam dirinya habis. Kesedihan yang sudah lama sekali menggerogoti hati dan batinnya. Membuat luka yang sangat besar di hatinya. Sudah saatnya Ratih bahagia.
"Ampuni aku, Kak. Selama ini aku tidak pernah mendoakanmu. Aku tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku bukan adik yang baik. Ampuni aku, Kak." Isak Ratih dalam tangisan yang menderu.
Angga sudah tidak tahan. Dia langsung menyeret Ratih dalam dekapannya yang erat dan hangat. Dia yakin Ratih tidak akan menolak. Sekalipun dia menolak, Angga tidak akan pernah mau melepaskannya.
Ternyata tidak ada reaksi penolakan oleh Ratih. Dia malah membalas dekapan Angga. Ratih mencurahkan penyesalannya kepada Danang lewat pelukan Angga. Dia juga tak ragu menenggelamkan kepalanya lebih dalam di dada Angga yang bidang. Hal ini membuat Angga terharu. Dia pun semakin mempererat dekapannya, seperti mengatakan semua akan baik-baik saja selama kamu di sampingku.
****
Hari sudah semakin sore. Sinar matahari juga sudah menunjukan warna jingga. Angga dan Ratih berada di dalam mobil. Ratih masih sedikit terisak, sisa tangis tadi masih belum hilang. Kelopak matanya juga masih sembab.
Angga memandang Ratih yang masih sesenggukan. Ada gurat sedih dalam diri Angga melihat Ratih. Tapi ada rasa bahagia juga dalam hatinya, karena Ratih sudah mau menerimanya. Ya, Angga yakin dan percaya diri bahwa pelukan Angga yang terbalas oleh Ratih adalah sinyal untuk cintanya.
Angga yang tampak percaya diri dengan perasaannya, mulai mengelus rambut Ratih yang halus dan wangi. Dia membelainya dengan lembut. Merasakan harum rambut Ratih di hidungnya, sambil mencuri pandang wajah Ratih yang menawan.
Angga semakin terlena dengan pesona Ratih. Dia agak berani mencondongkan badannya ke tubuh Ratih, hendak memeluk Ratih untuk kedua kalinya setelah sekian lama menunggu saat bahagia seperti ini.
Baru saja dia hampir meraih tubuh Ratih, Ratih langsung bereaksi. Dia sigap meraih ponselnya yang tiba-tiba berdering. Angga pun dibuat salah tingkah. Tangan yang hendak merengkuh tubuh Ratih akhirnya dia jatuhkan ke kepalanya sendiri. Gagal sudah.
"Halo, Kak Martha." Jawab Ratih yang langsung menjawab ponsel yang menunjukkan panggilan Martha.
Ratih melirik Angga yang masih salah tingkah. Ratih sendiri tidak tahu kenapa Angga menjadi salah tingkah.
"Iya, Kak. Sudah. Tinggal menunggu hasilnya saja. Mungkin sekitar satu atau dua minggu lagi kata dokter." Kata Ratih.
Ratih terlihat mengangguk. Sepertinya Martha mengatakan sesuatu yang harus di iyakan oleh Ratih.
"Baik, Kak. Mungkin besok baru bisa pulang." Kata Ratih lagi.
"Baik, Kak. Terimakasih." Jawab Ratih.
Panggilan dari Martha sepertinya berakhir karena Ratih terlihat menyimpan ponselnya. Dia menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Dapat salam dari Kak Martha." Kata Ratih.
"Oh ya?? Terimakasih." Kata Angga yang sudah terlihat normal lagi.
"Aku ingin mencari penginapan dekat sini." Ucap Ratih yang dibalas anggukkan oleh Angga.
Akhirnya keduanya melaju di bawah naungan awan kemerahan, mencari tempat penginapan untuk Ratih.
****
Ratih sudah mendapat kunci kamarnya. Dia menginap di sebuah kamar kos tak jauh dari tempat Danang dimakamkan. Sebenarnya Angga ingin mencarikan sebuah hotel untuknya, tapi Ratih tolak. Dia tidak mau merepotkan Angga. Lagu pula Ratih ingin tidak berjalan cukup jauh jika dia ingin datang untuk menemui Danang. Dan Angga pun menyetujui permintaan Ratih itu.
Rumah kosnya berbentuk lorong. Antara kamar satu dan kamar yang lain saling berhadapan. Hanya ada 8 kamar di sana, dan kebetulan Ratih menempati kamar yang paling depan menghadap ke barat.
Tempatnya cukup sepi, karena baru 5 kamar dengan kamar Ratih yang berpenghuni. sisanya masih kosong belum ditempati. Dan semua yang menempati kamar kos adalah buruh pabrik yang mungkin masih belum pulang berkerja. Begitu menurut penjelasan pemilik kos.
Angga membawakan barang bawaan Ratih yang hanya satu tas saja. Dia ikut masuk ke dalam kamar kos yang ukurannya tak seluas kamarnya di rumah. Di dalam kamar kos sudah ada ranjang busa, satu lemari dan satu kamar mandi yang bersih.
Sepertinya kos-kosan yang ditempati Ratih masih baru. Bau cat masih sedikit tercium di hidung walaupun tidak terlalu menyengat. Tempatnya juga cukup bersih dan tidak terlalu bising dengan keramaian jalanan kota, sehingga cukup nyaman untuk beristirahat.
"Sini tasnya." Pinta Ratih yang ingin tasnya kembali.
"Oh ya.. ini." Sigap Angga yang langsung menyerahkan tas dari genggamannya kepada pemiliknya.
Keduanya jadi tampak canggung. Bagaimanapun mereka sedang berduaan di kamar yang sempit. Jadi mereka tidak bisa dengan leluasa bergerak. Merekapun jadi salah tingkah. Ratih terlihat merapikan rambutnya yang tidak kusut, sementara Angga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tapi suara yang berasal dari perut Angga membuat suasana menjadi lebih santai. Angga nampak malu. Tapi karena tawa Ratih terdengar renyah, membuat Angga menjadi bangga dengan perutnya karena berhasil membuat Ratih bahagia.
"Ayo cari makan?!" Ajak Ratih yang tak tega melihat Angga kelaparan.
Angga mengangguk yakin.
Keduanya berjalan menyusuri jalanan gang yang cukup untuk satu motor ditambah satu mobil dengan obrolan ringan. Mereka sedikit mengenang masa lalu mereka yang sama-sama pernah menyusuri jalanan seperti ini semasa kecil yang penuh dengan kebahagiaan.