Don't Leave Me

Don't Leave Me
Sebuah Permintaan



"Bagaimana keadaan Lexa?" Tanya Martha.


Ratih tak menjawab sepatah katapun. Dia hanya menggeleng, airmata jatuh bercucuran dari dalam kelopak matanya yang sudah sangar sembab.


Martha hanya memeluk Ratih, mencoba memberi perhatian lewat pelukan hangat semampu Martha.


Angga terlihat mendorong Lexa di kursi roda. Mereka baru saja datang dari rumah sakit kota. Martha yang sudah mendapat kabar kepulangan Lexa dari Ratih sudah siap menyambut di depan rumah, dia juga membereskan kamar Lexa. Martha tak kuasa membangunkan Erick yang terlelap. Dia tahu Erick kurang tidur karena memikirkan Lexa.


Martha sedikit miris melihat tubuh kurus Lexa. Wajah ayunya juga menjadi begitu pucat, sehingga tak kuasa menahan airmata.


"Tante Martha.." Sapa Lexa ramah.


Begitu mendengar sapaan Lexa, Martha langsung memeluk Lexa yang duduk di kursi roda.


"Iya, Lexa sayang... Yang kuat ya..." Hanya itu yang bisa Martha katakan.


Lexa pun membalas hangat pelukan dari Martha untuknya.


"Ayo, masuk!" Ajak Angga kepada Martha dan Lexa begitu mereka selesai berbagi pelukan.


"Erick mana tante?" Tanya Lexa.


"Erick masih tidur, Nak... Dia kelelahan memikirkan Lexa. Nanti tante bangunkan dia, ya?!" Jawab Martha.


Mereka pun berlalu dari teras dan menuju ke dalam rumah, berisitirahat setelah perjalanan panjang dari rumah sakit kota.


"Boleh Lexa istirahat sendiri di kamar?" Pinta Lexa kepada tiga orang dewasa di sekitarnya.


Ratih menoleh ke arah Angga, ada rasa khawatir dalam mata Ratih. Tapi Angga memberi isyarat agar kepada Ratih agar mengabulkan permintaan Lexa. Begitu juga dengan Martha yang mengajak Ratih keluar dari kamar Lexa dan menurutinya menuju ruang tengah. Ratih pun pasrah. Dia kecup hangat kening Lexa, pertanda kasih yang teramat dalam untuknya. Lexa membalas dengan menggenggam tangan Ratih semampu tenaganya.


Lexa sendirian di ruangan yang dia sebut kamar. Mengamati sekitar, mencoba memutar kenangan apa saja yang sudah dia buat disana. Kemudian memutar roda di kursi yang dia duduki agar bergerak menuju meja belajar Lexa yang tampak bersih dan rapi.


Merasakan sentuhan dari sang meja tempatnya mengerjakan tugas dan membaca buku favoritnya. Pandangannya teralihkan pada secarik kertas yang bergambar wanita dari balik jendela dengan mata yang bersinar. Sebuah gambar yang Erick berikan untuknya. Walaupun digambar di sebuah kertas robek, Lexa membingkainya indah dengan sebuah frame yang dia buat sendiri dari kertas kardus. Ditambah hiasan mika sebagai pengganti kaca pelindung pigura, dan ada hiasan pita juga di ujung bagian atasnya. Gambar itu amat bermakna bagi Lexa.


Matanya mencoba memandang lagi ke arah sekitar, kemudian terhenti pada sebuah foto dirinya bersama Ibu kandungnya, Riyanti. Dia coba gerakan lagi roda di kursinya untuk mengarah ke dinding tempat frame foto dirinya dan ibunya berada.


Dengan mengumpulkan tenaga yang ada dalam dirinya, dia mencoba meraih pigura itu dengan tangannya sendiri, setelah kursi roda yang dia duduki dalam kondisi berhenti karena tuas rem. Susah payah Lexa mengambil foto tersebut, setelah berhasil dia rengkuh foto itu dalam dekapannya, mengamati setiap senti wajah Ibunya dalam foto tersebut.


Tak ada raut wajah pilu yang Lexa tunjukkan, malah raut wajah bangga dan senang ketika melihat wajah sang Ibu yang mirip sekali dengannya.


Lexa memutar kembali kursi rodanya menuju meja belajar miliknya. Dia ambil sebuah buku cokelat dengan hiasan daun kering di sampul depannya. Mengambil sebuah pena dan menuliskan sesuatu di atasnya.


Di ruang tengah, Martha, Ratih dan Angga berkumpul. Raut muka ketiganya terlihat sangat serius. Martha memilih duduk disebelah Ratih, memegang tangan Ratih yang seperti membutuhkan dia sebagai tempat untuk berbagi rasa. Sementara Angga duduk di depan kedua wanita tersebut.


"Apa kata dokter disana, Bu Ratih?" Tanya Martha penasaran.


Lama Ratih mencoba menjawab pertanyaan Martha tersebut. Matanya berkaca-kaca. Tangannya membalas genggaman tangan Martha.


"Lexa hanya menunggu waktu saja..." Suara Ratih sangat parau. Dan tak lupa melelehkan airmata di pipinya.


Sungguh hanya kesedihan saja yang bisa Ratih rasakan jika membahas soal Lexa.


Martha mengerti. Dia mencoba merangkul Ratih memberi kekuatan.


"Kekebalan imunnya semakin menurun. Hal itu membuat Lexa lemah. Apalagi virus yang ada dalam tubuh Lexa sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Jadi, tindakan medis belum mampu membuat Lexa..." Kata-kata Angga terhenti. Dia melanjutkannya dengan menggelengkan kepala saja. Ratih pun menjadi cengeng. Tangisannya sedikit tersedu, tapi sebisa mungkin dia coba untuk menguatkan diri sendiri agar tidak terlihat rapuh di depan Lexa sehingga Lexa tidak akan merasa sedih melihat dirinya.


Tiba-tiba pintu kamar Lexa terbuka, terlihat Lexa dengan senyum kecil mengembang menyapa mereka dari balik pintu yang sudah terbuka lebar agar kursinya bisa ikut keluar dari kamarnya.


"Tante... Boleh Lexa duduk di kebun belakang?" Izin Lexa kepada Ratih.


Ratih pun dengan cepat merespon dengan menganggukkan kepala.


"Om antar, ya..." Ucap Angga yang langsung merespon cepat, menuntun kursi roda Lexa menuju ke kebun belakang.


"Om..." Sapa Lexa lirih.


"Iya..." Jawab Angga santai.


"Boleh Lexa minta sesuatu?" Tanya Lexa.


"Lexa mau minta apa?" Tutur Angga dengan halus.


Lexa mendongak ke arah Angga, menatap Angga penuh harap. Angga mencoba menangkap sinyal serius dari binar mata Lexa. Mungkin soal Ratih. Angga mencoba menyapa tatapan Lexa dengan senyum kecil terkembang tulus.


Angga menghentikan laju kursi Lexa, padahal mereka baru sampai dapur. Tapi pertanyaan Lexa kepadanya seperi sebuah rem.


"Kenapa Lexa bicara seperti itu? Memangnya Lexa mau kemana? Kamu masih akan terus bersama tante Ratih. Hanya kehadiran Lexa yang buat tante Ratih bahagia." Jawab Angga dengan ramah, sambil menepuk pelan pundak Lexa.


Tapi Lexa menggeleng seakan menolak pernyataan Angga.


"Om... Lexa tahu. Lexa sudah lama sakit. Lexa juga tahu, tubuh Lexa sudah tidak seperti dulu. Lexa merasakannya, Om. Tubuh Lexa terasa linu. Napas Lexa sudah semakin tidak karuan. Pandangan Lexa sudah mulai kabur. Mungkin Tuhan tidak lama lagi akan mengirim malaikatnya kepada Lexa." Tegas Lexa.


Angga kembali mendorong kursi Lexa yang sudah sampai di depan pintu belakang. Mengambil napas panjang, mencoba tetap tenang menghadapi Lexa. Dia mengambil posisi di depan Lexa, bersiap mengatur kursi roda lexa untuk menuruni tiga anak tangga.


"Om... Lexa bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Penyakit Lexa tidak ada obatnya. Mau sekeras apapun usaha tante dan om Angga, Lexa tetap akan mati seperti Ayah." Suara Lexa terdengar pilu.


Baru menuruni dua anak tangga, Angga mulai goyah. Perkataan Lexa membuat dia sadar. Lama Angga terdiam. Kemudian lekas menyadarkan diri sendiri dan mulai menuruni satu anak tangga tersisa. Kemudian dengan berani menatap Lexa yang matanya sudah terlihat berkaca-kaca.


"Lexa... Om jauh lebih tahu, seberapa kuatnya kamu. Om juga lebih tahu, betapa besarnya harapan tante Ratih untuk membuat Lexa sembuh. Apa Lexa tega meninggalkan tante Ratih sendiri?" Pertanyaan Angga membuat airmata Lexa jatuh bercucuran. Angga berusaha menyeka airmata Lexa. Diusapnya rambut Lexa yang hitam berkilau.


"Lexa harus kuat. Memang.. Takdir kehidupan ada di tangan Yang Maha Kuasa, tapi bukankah sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk berusaha? Setidaknya biarkan kami membantu sebisa kami untuk keselamatan Lexa. Karena kami sayang..." Ucap Angga mempertegas perkataannya.


Lexa semakin tak kuasa menahan pilu dalam hatinya. Hanya airmata yang mampu menjelaskan isi dalam hatinya.


****


"Tante, Mama?"


Ucap Erick yang masih terlihat berantakan. Memakai kaos abu-abu bergambar grup band rock and roll luar negeri dan celana berbahan jeans yang terlihat sobek di lutut. Rambutnya juga masih terlihat kusut. Tapi napasnya sedikit terengah-engah, akibat cara dia menuju rumah Lexa dengan berlari sekencang mungkin tak mempedulikan penampilannya yang masih kacau karena baru saja terbangun dari tidur yang lelap.


"Lexa mana??" Tanya Erick yakin.


Ratih terlihat melempar senyum ke arah Erick.


Sementara Martha menggelengkan kepala sambil berdecak melihat anak bungsunya yang selalu cuek apa adanya.


"Lexa di kebun belakang, Rick" Jawan Ratih masih dengan senyum yang tersungging di wajahnya.


Mendengar jawaban Ratih, dengan segera Erick mengambil langkah ke arah belakang rumah Ratih untuk menemui Lexa.


"Lexa ingin duduk di ayunan, Om." Pinta Lexa.


"Oke. Sini biar Om bantu turun, ya.." Ucap Angga menurut.


Angga sedikit memapah Lexa dengan kedua tangannya, mengantar Lexa ke ayunan yang ingin dia duduki dan mengarahkan gaya duduk Lexa agar nyaman berada di ayunan.


"Terimakasih, Om.." Ucap Lexa yang sudah terlihat nyaman duduk di ayunan.


"Iya, sama-sama. Mau Om ambilkan apa? Susu, jus, air putih, atau Lexa mau minum apa? Biar Om Angga siapkan." Rentetan pertanyaan Angga hanya dijawab gelengan kepala dari Lexa. Dia benar tidak ingin meminum apapun.


Tatapan Lexa jauh ke depan. Melihat bunga-bunga yang dulu dia tanam bersama Erick bergoyang riang diterpa hembusan angin yang sepoi-sepoi.


"Om temenin Lexa disini ya?" Tanya Angga.


"Tapi Om harus janji, Om Angga harus menjaga tante Ratih. Lexa tahu Om, tante Ratih masih menyayangi Om Angga. Tante Ratih juga pasti akan bahagia jika hidup bersama Om Angga." Jelas Lexa dengan sangat yakin.


Tapi Angga masih terdiam.


"Om... Om janji ya sama Lexa?!" Rengek Lexa.


Tangan Lexa menggenggam tangan Angga, mengharapkan agar Angga mau mengabulkan permintaan Lexa.


Angga tahu, genggaman tangan Lexa di tangannya tidak akan lepas jika dia belum mengiyakan permintaan Lexa. Dengan sedikit ragu-ragu, Angga perlahan menganggukkan kepalanya sebagi pertanda menyetujui permintaan Lexa kepadanya.


"Iya, Lexa.. Om janji, akan menjaga tante Ratih." Jawab Angga dengan nada suara berat.


Dia sebenarnya tidak yakin, Ratih mau menerimanya. Karena yang kemarin saja, Ratih belum menjawab pernyataan cintanya. Tapi demi kebahagiaan Lexa, Angga memberanikan diri untuk siap menjaga Ratih.


Lexa mengembangkan senyum manis untuk Angga, sebagai ungkapan rasa syukurnya karena Angga mau menerima permintaannya.


"Lexa....." Sapa sebuah suara yang tak asing di telinga mereka.


Bersamaan, Lexa dan Angga menoleh ke arah Erick. Si pemilik suara yang mereka kenali.