
Follow ig aku yaa @ucu_irna_marhamah boleh tukeran nomor wa juga
Adi membawa banyak mainan untuk ketiga cucunya. Tidak ada satu mainan pun untuk Deva. Deva hanya memperhatikan ketiga saudaranya yang membuka mainan baru mereka. Reynaldi menoleh kearah Shica yang terlihat sedih. Reynaldi menautkan alisnya.
"Anak-anak, masuk kamar ya.. " kata Reynaldi. "Tapi, Daddy.. " gerutu Alvin.
"Reynaldi, aku akan mengajak mereka menginap di mansionku," kata Adi. "Anak-anak.. Ke kamar kalian." kata Reynaldi tegas tanpa memperdulikan ucapan ayahnya. Shica membawa mereka berempat ke kamar. Reynaldi menatap ayahnya.
"jika Papa kemari hanya untuk menyakiti salah satu putraku, lebih baik jangan kemari." kata Reynaldi. Adi tersenyum sinis. "Apa salahnya aku kemari untuk menemui cucuku sendiri? Dan aku tidak menyakiti mereka," kata Adi.
Reynaldi menautkan alisnya kesal. "Yang kumaksud adalah Deva," kata Reynaldi. Adi membuang muka. "Jadi anak itu lagi maksudmu."
"Papa.. " potong Reynaldi. ".. Dia anakku juga. Jika Papa tidak bisa bersikap adil, lebih baik jangan kemari lagi," kata Reynaldi.
"Kau berani melawanku hanya demi anak itu? Yang sama sekali bukan anakmu?" tanya Adi. "Papa, aku harus menjalankan amanat Raihan. Deva anak yatim yang seharusnya mendapatkan kasih sayang yang lebih. Dia tidak punya ayah. Dan hanya aku ayahnya sekarang. Papa sebagai.. "
"Cukup!" Adi memotong ucapan putranya. "Jangan menceramahiku. Aku akan membawa cucuku ke mansionku. Karena besok adalah hari ulang tahun Olivia." kata Adi. Dia berlalu. Reynaldi mendengus kesal.
Sementara itu, Shica sedang memperhatikan keempat anaknya yang sibuk dengan mainan mereka. Shica melihat Deva. Shica tahu Deva terluka dengan sikap mertuanya. Namun Shica tidak bisa berbuat banyak.
"Deva, kemarilah, nak" kata Shica. Deva menghampiri ibunya. "Duduklah" kata Shica. Deva duduk disamping Shica. Shica memeluk putranya itu. Alvin yang memperhatikan ibunya yang menangis sambil memeluk Deva.
"Mommy kenapa?" tanya Deva sambil mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi ibunya. "Besok kita beli mainan, ya." kata Shica. Deva tersenyum. "Deva gak mau mainan, Mom." kata Deva.
"Deva mengerti, Opa tidak membelikan Deva mainan karena Deva sudah besar. Deva gapapa, Mom." kata Deva. Shica menyentuh rambut putranya.
"Kamu sangat dewasa, sama seperti Papa kamu." kata Shica sambil membayangkan wajah Raihan. Deva tersenyum. "Tentu saja, Daddy bilang, aku harus dewasa karena aku anak yang paling besar." kata Deva. Yang dia pikirkan adalah Reynaldi. Shica tersenyum.
"Bukan Reynaldi.. Tapi Raihan.." batin Shica.
Alvin menghampiri mereka berdua. "Mommy kenapa?" tanya Alvin sambil duduk disamping ibunya. Shica tersenyum. "Tidak apa-apa, sayang." jawab Shica. Alvin mengambil tangan Shica yang satunya lagi dan meletakkannya dikepalanya.
"Aku juga mau disayang seperti kak Deva" gerutu Alvin dengan manja. Shica tertawa. Dia memeluk kedua pangerannya.
"Kau pencemburu seperti Reynaldi " batin Shica. Farez dan Stela menoleh. Mereka berlari memeluk Shica.
"Mommy kenapa?" tanya Farez. "Ada apa Mommy?" tanya Stela. Shica tertawa. "Kalian ini kenapa? Mommy gapapa sayang." kata Shica. Deva tersenyum melihat tingkah adik-adiknya. Pintu kamar terbuka. Ternyata Adi.
"Wah? Ada apa ini?" tanya Adi. Reynaldi dibelakangnya juga bingung melihat Shica dan anak-anak berpelukan seperti itu.
"Tidak ada, Pa." jawab Shica sambil tersenyum tipis. "Ayo, kita berangkat." kata Adi semangat. Alvin, Farez dan Stela menghampiri kakek mereka. Shica menatap Deva.
Alvin menoleh kearah Deva. "Opa.. Ajak kak Deva juga, ya." kata Alvin. Pandangan Adi tertuju pada Deva. Terselip ketidaksukaan dari tatapan itu. Shica menyadarinya. Dia menggenggam tangan Deva.
"Ayo kak!" kata Stela pada Deva. "Iya kak, ayo kak!" kata Farez. Deva menatap Shica. Reynaldi menghampiri mereka berdua.
"Kalian bertiga pergi saja sama Opa. Deva masih banyak tugas sekolah." kata Reynaldi. Alvin cemberut. "Kalo kak Deva gak ikut, aku juga gak mau ikut." gerutu Alvin sambil melipat tangan didepan dada. Adi menghela napas berat.
"Deva, ikut ya." kata Reynaldi. Deva pun mengangguk. "Yeee!! Ayo kak!!" Stela menarik tangan Deva agar mau ikut bersamanya. Mereka pun berlalu. Shica menghela napas berat.
Keesokan harinya, Olivia merayakan ulang tahunnya yang ke 68. Yang hadir adalah cucu-cucunya termasuk Juliette. Olivia terlihat bahagia.
Setelah semuanya selesai, Deva memilih duduk dan membuka buku cerita milik Olivia. Olivia duduk disamping Deva. "Sayang, kamu suka membaca?" tanya Olivia. Deva tersenyum kemudian mengangguk. "Kau mirip sekali seperti ibumu, ketika pulang dari luar negeri, ibumu selalu membeli novel." kata Olivia.
Deva tersenyum. "Iya, sampai-sampai Daddy membuat ruangan khusus untuk perpustakaan." kata Deva. Olivia tertawa.
"Ayahmu juga suka menulis cerita, kan?" tanya Olivia. "Benarkah? Aku baru tahu," kata Deva. Olivia segera menutup mulutnya.
"Hampir saja keceplosan." batin Olivia. "Iya, dulu ayahmu suka menulis." kata Olivia kemudian mengalihkan pandangannya. Dia melihat ada potongan kue di piring.
"Ya ampun, aku lupa memberikan potongan kue ini untuk Adi. Tadi dia meninggalkan kuenya." gerutu Olivia.
"Aku akan mengantarkannya." kata Deva. Olivia menatap Deva. "Apa tidak apa-apa?" tanya Olivia. Deva tersenyum kemudian membawa piring itu ke ruangan kerja Adi. Dia mengetuk pintu berwarna biru gelap tersebut.
"Masuk"
Deva pun memasuki ruangan tersebut. Adi menoleh kemudian dia kembali membuka berkas-berkas penting ditangannya. Deva memberikan kue itu pada Adi.
"Oma bilang, Opa lupa tidak mengambilnya." kata Deva kemudian berlalu. Namun Adi angkat bicara, "Sebenarnya aku keberadaan karena kau memanggilku Opa." kata Adi. Langkah Deva terhenti. Sesak rasanya mendengar kalimat itu.
"Kemari," kata Adi. Deva pun berbalik dan menghampiri Adi. "Duduk," kata Adi. Deva menurut.
"Aku tahu, sikapku kurang baik padamu, tapi itu ada alasannya." kata Adi. Deva menatap Adi. "Reynaldi bukan ayahmu.. Dia ayah tirimu," kata Adi. Deva tercengang dan menatap tak percaya pada Adi. Tanpa mereka sadari, Alvin menguping percakapan mereka. Air matanya berlinang. Dia tidak mengira Opa yang dia sayangi akan menyatakan hal buruk pada kakak kesayangannya. Adi memberikan sebuah foto. Deva melihatnya. Ternyata foto pernikahan Shica dengan Raihan.
"Dialah ayahmu,"
Deg
Deva yakin Adi tidak berbohong karena pria di foto itu sangat mirip dengannya. Deva menyentuh pipinya sendiri. Adi memperhatikan apa yang dilakukan Deva.
"Kurasa ini jawaban dari sikapku padamu. Sekarang sudah jelas," kata Adi. "Jika kau tidak percaya, kau bisa bertanya pada Reynaldi atau ibumu." sambungnya.
"Jika aku lebih menyayangi Alvin, Farez dan Stela, kau harus memakluminya. Ini juga alasan kenapa Reynaldi memberimu nama belakang Abdurrachman, bukan Adiwijaya, karena kau memang putra dari Raihan Abdurrachman." kata Adi. Alvin berlalu sambil menyeka air matanya.
Deva bungkam seribu kata. Namun kemudian, Deva tersenyum dan menatap Adi. Adi heran dengan apa yang dilakukan anak itu. "Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Adi.
"Terimakasih telah memberitahuku tentang ini, Tuan Adiwijaya, sungguh aku senang karena mengetahuinya. Jika aku tidak tahu, maka aku akan sedih dengan sikapmu. Sekarang aku mengerti dan akan memahami jika aku bukan siapa-siapa bagi anda. Setelah saya tahu anda bukan opa saya, saya tidak akan sedih lagi jika anda lebih menyayangi adik-adik saya. Terimakasih," kata Deva kemudian berlalu sambil membawa foto itu.
Kedua alis Adi terangkat. Entah kenapa dia merasa sedikit terluka dengan ucapan Deva. Namun Adi mengabaikan pikiran tersebut dan kembali bekerja.
By
Ucu Irna Marhamah