Don't Leave Me

Don't Leave Me
Antara Ratih dan Angga



Ratih berjalan bersama Angga, setelah selesai mengirimkan doa dan meninggalkan Erick yang masih ingin menemani Lexa. Mereka sengaja memberi waktu untuk Erick, agar dia tenang dan menerima dengan sepenuh hati kehendak Tuhan.


Tak butuh waktu lama untuk keluar dari area pemakaman, sementara mobil Angga terparkir di samping pagar di sebelah kiri pintu utama pemakaman. Angga mengajak Ratih untuk masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.


Memasangkan sabuk pengaman ke tubuh ramping Ratih, walaupun Ratih menolak. Angga begitu perhatian dengan Ratih, tidak memberi celah Ratih untuk menolak. Sebetulnya Ratih masih merasa tak enak hati untuk selalu bersama Angga, tapi Angga benar-benar tidak mau sedikitpun bergeser menjauh dari Ratih.


Angga sudah mengirim pengajuan cuti selama 2 bulan kepada atasannya saat pertama kali Lexa mendapat perawatan di rumah sakit setelah sekian lama. Ratih menolak keras keinginan Angga untuk menjaga dan merawat Lexa. Ratih tidak mau keluarga Angga tahu, Angga berhubungan kembali dengannya.


Ratih terlalu takut menghadapi keluarga Angga yang pasti akan menolak keberadaan Ratih dalam kehidupan Angga. Itu sebabnya dia selalu berusaha untuk membujuk Angga agar tidak terus menemui dirinya.


Angga menderu mobilnya, melewati jalan naik turun menuju rumah Ratih. Tak ada percakapan berarti dari mereka, hanya sapaan angin yang berhembus masuk ke ruang mobil karena Ratih dan Angga membuka jendela. Sapaan angin pagi selalu menyegarkan, menenangkan suasana hati.


Angga tersentak saat melihat mobil SUV terparkir di depan rumah Ratih. Mobil yang jelas sekali dia kenal. Ratih belum menyadari, karena matanya masih tertutup. Sepertinya semilir angin membawa bius kantuk untuknya.


Angga memarkir mobil pelan berhadapan dengan mobil SUV yang dia kenal. Memperhatikan mobil di depannya, kemudian turun tanpa suara agar tidak membangunkan Ratih.


Angga menelusuri mobil SUV tersebut. Dia melihat mobilnya sudah kosong tak berpenghuni. Pemilik mobil mungkin sudah turun dan menunggu di dalam rumah Ratih.


Benar saja. Belum teralih pandangan Angga ke mobil yang mencuri perhatiannya, Martha sudah menyapanya dari balik pintu rumah Martha.


"Ada tamu mencarimu." Tegas Martha.


Angga sedikit gugup. Dia melirik Ratih yang masih terlelap. Wajah Angga sedikit khawatir, tapi dia berusaha bersikap tenang dan mulai melangkah masuk menuju rumah Ratih dan menemui tamu yang sudah menunggunya.


"Mana Ratih dan Erick?" Tanya Martha penasaran. Karena yang dia tahu, Angga pergi ke makam Lexa bersama Ratih dan Erick.


"Ratih di dalam mobil, dia tidur. Kalau Erick masih di makam." Jawab Angga sambil melempar senyum.


Martha mengangguk mendengar jawaban Angga, dia paham akan situasinya jadi Martha tak sedikitpun protes.


Angga melempar pandangan ke arah dua orang yang sedang duduk di ruang tamu rumah Ratih. Dia kenal betul sosok tamu yang datang.


"Pah? Mah?" Sapa Angga singkat.


Kedua orang tua Angga langsung menatap tajam sosok Angga, anaknya.


"Datang kapan? Mama tahu darimana Angga disini?" Tanya Angga penasaran, tapi masih menjaga jarak dengan mereka.


Mamanya masih menatap tajam, tidak bergerak sedikitpun dari kursinya.


"Kamu sedang apa disini? Kenapa kamu sampai ambil cuti sampai dua bulan?" Tanya sang Ayah begitu kesal.


Angga terdiam dan suasana menjadi tegang.


Martha tahu kondisi di tempat itu tidak kondusif.


"Maaf, permisi. Saya izin untuk berangkat ke tempat kerja saya, Pak, Bu." Pamit Martha menatap orang tua Angga yang masih memasang mode cuek.


Martha sudah tahu konsekuensinya ketika awal pertama menyapa mereka, jadi Martha hanya mengelus pundak Angga saja berusaha membuat Angga tenang dan memberi petunjuk untuk tetap sabar. Angga mengangguk, mempersilahkan Martha pergi untuk mengerjakan urusannya.


Angga menatap orang tuanya lagi. Raut wajah orang tuanya benar-benar menyeramkan, seperti hendak menelan hidup-hidup anaknya. Angga tahu situasinya tidak akan mudah, dia mencoba menghela napas panjang untuk menghampiri orang tuanya.


Angga duduk di samping Mamanya. Dia berusaha menyalami Mamanya, tapi mendapat penolakan. Begitu juga dengan Papanya, sama-sama menolak uluran tangannya.


"Ma, Pa... Angga sedang berduka sekarang." Lirih Angga.


Mama dan Papanya masih memasang muka tak peduli.


"Lexa, keponakan Ratih baru saja meninggal." Tambah Angga.


"Lexa itu siapanya kamu? Sampai kamu harus meninggalkan pekerjaanmu." Lirik sang Mama tajam, menghunus batin Angga.


"Ma... Lexa itu juga pasien Angga, Ma. Disini Angga juga merawat seorang pasien, Angga tidak meninggalkan pekerjaan Angga sebagai dokter." Kilah Angga.


"Alasan saja, kamu! Sudah tahu Mama dan Papamu tidak suka dengan keluarga ini. Tapi coba apa yang kamu lakukan? Kamu bersenang-senang disini, sementara Mama dan Papamu uring-uringan mencari kamu ke seluruh tempat." Keluh Mama Angga.


Papanya hanya menggeleng melihat Angga yang di dalam pikirannya telah menipu mereka.


"Ma... Tidak ada yang bersenang-senang disini. Angga benar-benar merawat pasien." Jelas Angga.


"Mama tidak peduli dengan pasien kamu, Ngga. Sekarang tugasmu sudah selesai kan disini? Bukankah pasienmu sudah mati?! Kalau begitu, ayo pulang!" Tatap Mama Angga melotot kepada Angga.


Angga menghela napas lagi.


"Ma... Angga masih berduka. Lexa sudah Angga anggap sebagai adik Angga sendiri. Angga belum berniat untuk pulang." Kata Angga keras kepala.


"Kamu ini! Benar-benar bikin Mama dan Papa marah. Kamu itu sudah kami jodohkan dengan wanita baik-baik, terpelajar. Kamu mau bikin Mama dan Papa malu?!" Lantang Papa Angga yang kini sudah berdiri kesal.


Angga terdiam menunduk. Mengetahui orang tuanya masih saja memaksakan kehendaknya untuk mengatur masa depannya.


"Angga tidak mau dijodohkan, Pa! Papa dan Mama tahu itu, kan?!" Tolak Angga.


"Anak macam apa kamu, Ngga!!" Tangan sang Papa hampir saja mendarat di kepala Angga, sebelum tarikan tangan sang Mama dan suara teriakan Ratih menghentikannya.


"Tunggu, Om!" Teriak Ratih.


"Tunggu, Om." Teriak Ratih lagi sambil mengatur napasnya. Jelas sekali Ratih juga merasa takut dengan kehadiran orang tua Angga, tapi bagaimanapun Angga dalam keadaan bahaya. Jadi dia harus bertindak untuk menghentikan tindakan Papa Angga.


"Ratih..." Lirih Angga.


Ratih menelan ludahnya dalam-dalam. Masih mengatur napas, karena Papa dan Mama Angga sudah menatap ke arahnya. Berdiri tegap seperti hendak menghakiminya. Tatapannya lebih tajam kepadanya dari pada ke Angga, anaknya sendiri.


Ratih belum siap dengan keadaan ini, walaupun dia pasti akan menghadapinya cepat atau lambat. Dan inilah waktunya. Perlahan Ratih melangkahkan kakinya mendekat ke arah tamu mereka yang malah seperti tuan rumah di matanya.


"Apa kabar, Om dan Tante?" Tanya Ratih gugup, namun tak ada jawaban yang keluar dari mulut orang tua Angga.


Mama Angga malah terlihat membuang muka di hadapan Ratih. Sementara Papa Angga sudah menaruh kedua tangan di pinggangnya.


"Benar kan, kamu memang yang buat anak saya sampai menelantarkan pekerjaannya?! Memang dasar ya, tidak tahu malu. Sudah pernah ditolak tapi tetap saja mendekati anak saya." Bentak Papa Angga.


Ratih hanya diam seribu bahasa, bibirnya kelu. Angga sigap. Dia langsung mengambil langkah menemani wanita yang dia cintai.


"Pah... Tolong! Jangan bersikap seperti kepada Ratih. Dia sedang berduka. Tolong, Pap!" Mohon Angga.


Wajahnya benar-benar memohon dengan sangat kepada orang tuanya. Sementara Ayahnya hanya bisa menggerakkan gigi dalam mulutnya yang terkatup sempurna. Ayah Angga geram.


Mereka terdiam sementara, sama-sama mengatur napas masing-masing.


"Ayo pulang, Ngga!" Pinta Papanya.


"Pa... Angga mau disini dulu. Ratih masih butuh Angga." Ucap Angga memelas.


"Apa yang akan kamu lakukan disini, hakh?" Teriak Ayahnya.


Ratih memejamkan matanya, tak mau menatap kemarahan Ayah Angga.


"Pulang, Ngga! Kamu harus nurut Papa!" Timpal Mama Angga.


"Pa.. Ma... Angga pasti pulang. Tapi Angga mohon, tunggu beberapa hari lagi. Banyak hal yang harus Angga urus disini." Angga masih memohon.


"Angga! Sejak kapan kamu menjadi pembangkang? Berani menentang orang tuamu, hakh?!" Papa Angga masih berbicara dengan berteriak.


"Papa sudah mendidik kamu sampai menjadi dokter seperti sekarang. Papa ikuti kemauanmu. Apa ini balasannya?" Raut wajah Papa Angga merah padam.


"Pa....." Suara Angga parau.


"Pulang, Ngga!" Tegas Ratih.


Wajahnya menahan tangis dan luka. Angga tak tega.


"Tidak! Aku masih harus disini." Jawab Angga menolak tegas.


Ratih meliriknya, airmatanya menetes membuat Angga tak berdaya.


"Pulang sekarang!" Bentak Papa Angga.


Angga berdiri diantara situasi yang tidak menguntungkan untuknya. Hati dan pikiran Angga pun ikut berperang.


"Ayo, Ngga!" Tarik Mamanya.


"Ma... Jangan seperti ini." Angga melepaskan tangan Mamanya yang melingkar di lengannya.


"Pa...Ma... Tolong mengerti! Angga tidak bisa hidup tanpa Ratih. Angga sangat mencintai Ratih." Ucap Angga.


Ratih seperti tersayat, perih sekali rasanya mendengar Angga mengatakan hal seperti itu. Sungguh kata-kata yang tidak pantas dia dengar dalam situasinya yang kacau. Ratih hanya bisa meneteskan airmata tanpa tahu harus berbuat apa.


"Apa kamu bilang? Kamu benar-benar membuat emosi." Bentak Papa Angga melayangkan tangan ke arah pipi Angga. Dan plaaak.


Angga tercengang, begitu juga Mama Angga. Papa Angga mendadak melotot. Pipi Angga yang ingin dia serang berganti pipi Ratih yang penuh airmata.


Ratih berhasil memposisikan diri menggantikan posisi Angga. Pipinya sangat merah, pasti perih. Tapi lebih perih hati dan perasaannya, menyaksikan pertengkaran yang tidak ada guna di rumahnya. Ratih terluka.


"Pulanglah, Ngga. Biarkan semuanya tenang." Ucap Angga yang berpaling menghadap Angga setelah pipinya mendapat tamparan keras dari sang Ayah.


"Tih..." Angga berusaha mengusap pipi Ratih, namun gerakan tangan Ratih lebih cepat menangkisnya.


"Tolong... Pulanglah..." Bujuk Ratih dengan deraian airmata.


Papanya sekarang seperti tidak peduli. Dia lebih memilih berlalu, meninggalkan keluarganya. Mungkin dia merasa bersalah karena sudah menampar Ratih walaupun tak disengaja.


Mama Angga menarik Angga untuk segera berlalu dati hadapan Ratih. Tapi tatapan Angga tak bisa lepas dari pandangan Ratih yang menangis pilu. Ingin rasanya dia mengusap airmatanya dan memberi sedikit pelukan hangat untuk menenangkan batinnya. Tapi tak kuasa.


Angga berlalu meninggalkan Ratih. Tak terasa airmatanya juga jatuh ke pipi, melalui perpisahan yang sangat kejam ini. Mama Angga sempat melirik Ratih dengan tatapan iba, tapi kemudian berlalu tanpa mengungkapkan perasaannya.


Ratih melemas, tubuhnya seperti kehilangan tenaga dan pegangan hidup. Goyah dan terkulai di lantai. Airmata masih terurai di pipinya.


Cobaan datang lagi, tapi kini semakin kuat. Dulu Ratih masih bisa berdiri lagi karena ada Lexa yang masih ada untuknya. Tapi sekarang...