
Shica dan Reynaldi tengah memasuki mall besar di tengah-tengah kota London.
"Jadi, apa lagi yang mau kita beli? " tanya Reynaldi.
"Aku mau novel" kata Shica cepat. Reynaldi memutar bola matanya. Mereka pun memilih untuk mencari novel.
Shica memilih novel yang ingin dia baca. Sementara Reynaldi memilih untuk duduk saja memperhatikan istrinya.
Shica memilih dari rak satu ke rak lainnya.
Shica berpapasan dengan seorang pria. Mereka saling pandang.
"Shica? " tanya pria itu.
"Sean? " gumam Shica.
Sean akan melangkah memeluk Shica. Namun Shica segera menghindar. Sean terlihat sedih. Namun dia harus menjaga sikapnya.
Reynaldi menautkan alisnya melihat ada pria yang menyapa istrinya.
"Wah kita bertemu lagi ya.. Bagaimana kabarmu? " tanya Sean.
"Aku baik.. Bagaimana denganmu? " tanya Shica. Reynaldi menghampiri mereka.
"Aku juga baik.. Kau kemari dengan siapa? " tanya Sean.
"Aku kesini dengan.. "
"Suaminya" kata Reynaldi memotong ucapan Shica. Dia sudah berada di belakang Shica. Reynaldi merangkul Shica.
Shica dan Sean menoleh kearahnya.
"Wah.. Kau sudah menikah? Dan dengan Tuan Adiwijaya? Ini kejutan" kata Sean. Reynaldi dan Shica saling pandang.
"Memangnya kenapa? Kau Tuan Jansen? " tanya Reynaldi.
"Ya, bukankah perusahaan kita bekerja sama? Tidak mungkin kita tidak saling mengenal " jawab Sean.
Shica melirik Sean dan Reynaldi bergantian.
"Emm baiklah, aku harus pergi.. Sampai jumpa " kata Sean kemudian berlalu.
"Kenapa dia mengenalmu? " tanya Reynaldi.
"Kami pernah satu kelas di kampus dulu.. Apa kau ingat? Aku pernah kuliah disini " kata Shica.
"Tentu saja aku ingat, bukankah pertemuan pertama kita juga disini? " jawab Reynaldi diakhiri pertanyaan.
Shica tersenyum.
Mereka pun kembali ke mobil menuju mansion di daerah perbukitan.
Reynaldi fokus menyetir sementara Shica memperhatikan jalanan yang mereka lalui.
"Kau tahu, kenapa ibuku memilih membangun mansion di perbukitan yang jauh dari kebisingan kota? " tanya Reynaldi memecah kesunyian diantara mereka berdua.
"Entahlah.. Mungkin menyukai kesejukan daerah perbukitan" jawab Shica.
"Ya, ibuku tidak suka keramaian.. Ibuku sudah kehilangan rasa kehidupannya setelah ayahku mencampakkannya" kata Reynaldi terlihat sedih.
"Ibuku sangat mencintai Papa, namun tidak dengan Papa" kata Reynaldi.
Shica memeluk Reynaldi. "Ibu pasti seorang wanita yang kuat.. Karena ibu mampu menjaga hatinya selama puluhan setelah berpisah dengan Papa Adi" kata Shica.
"Ibuku tidak sekuat itu, Rastani" kata Reynaldi.
"Ibu hanya ingin satu.. Yaitu cucu dari kita" kata Reynaldi.
"Jika itu yang diinginkan ibu, kenapa tidak" kata Shica.
"Sekarang kau bicara seperti itu, tapi nanti malam kau akan berubah pikiran " gerutu Reynaldi.
Shica terkekeh.
Mereka pun sampai di mansion. Shica dan Reynaldi melihat Olivia sedang membaca majalah.
"Ibu, lihatlah menantu kesayanganmu" kata Reynaldi.
Olivia menoleh kearah pasangan itu. Reynaldi memberikan tiga buku novel pada Olivia.
"Benda ini yang dia beli" kata Reynaldi. Olivia tertawa.
"Memangnya kenapa? Apa kau keberatan? Novel memang menyenangkan bukan? " tanya Olivia.
Shica tertawa kecil melihat ekspresi kesal dari wajah Reynaldi.
"Baiklah, aku harus pergi dulu" kata Reynaldi kemudian berlalu keluar.
"Mungkin dia marah.. Kemarilah duduk, sayang " kata Olivia sambil menepuk tempat kosong disampingnya.
Shica pun duduk di samping Olivia. Olivia membelai lembut rambut Shica.
"Beginilah suasana di tempat ini.. Kau pasti merasa kesepian disini, makanya Reynaldi ingin segera ke Perancis.. Karena selama disini, dia tidak pernah merasa betah " kata Olivia.
Shica mendengarkan kata-kata Olivia dengan serius.
"Tapi aku suka disini.. Disini, aku bisa melupakan semuanya.. Kenangan bersama Adi.. Aku bisa sedikit demi sedikit melupakan semua itu" kata Olivia.
"Aku mencintai Adi saat aku masih SMA.. Ya aku bersekolah di Indonesia.. Waktu itu, Adi seorang ketua osis.. Dia sangat cerdas, otoriter dan.. Tampan.. Aku mengagumi dia.. " kata Olivia dengan ekspresi menerawang.
".. Tapi.. Akhirnya aku tahu reputasinya dimata wanita.. Dia suka memainkan wanita sejak SMP.. Namun bodohnya aku tetap menyukai dia meski kutahu seperti apa dia.. " kata Olivia.
Shica menggenggam erat tangan Olivia.
".. Aku menyatakan perasaanku.. Dia menatapku dan dia bilang dia mau menjadi kekasihku, apabila aku rela menjadi pacar keduanya.. " sambung Olivia.
Shica terlihat sedih.
".. Dan aku pun mau.. Dia memiliki dua orang kekasih.. Dia lebih menyayangi pacar pertamanya.. Bahkan dia tidak pernah melirikku sedikitpun, seolah aku bukan siapa-siapa bagi dia" kata Olivia.
".. Hubungan yang jelas namun tak terlihat itu berjalan sampai kami kuliah dan bekerja.. Selama itu kami bertemu.. Namun dia tetap tidak pernah menganggapku.. Sampai suatu hari, orang tua kami menjodohkan kami.. Sungguh aku tidak tahu dan tidak mengira kalau kami akan di jodohkan.. Dia tidak suka dengan perjodohan ini.. Dia bilang dia benci padaku.. Dia bilang dia tidak akan pernah mau menikah denganku.. " sejenak Olivia menarik napas.
".. Lalu aku bertanya, kenapa dia benci padaku? Apa salahku? Dan dia bilang, dia sangat membenci cintaku yang membuatnya gila.. Dia tidak bisa mempermainkan perasaan tulusku padanya.. Itulah sebabnya dia selalu mengabaikan diriku.. Dia bilang dia mencintaiku dalam diam.. Dan kami pun menikah.. Namun bukan pernikahan yang seperti di pikiranku.. Dia tetap suka bermain wanita.. Aku baru tahu kalau dia pernah bermain wanita sampai mereka mengandung dan melahirkan.. Aku benci mengetahui semua itu.. Aku memilih untuk bercerai dengan Adi saat aku mengandung Reynaldi namun Adi tidak tahu.. Saat usia kandunganku tujuh bulan, Adi meminta haknya sebagai seorang ayah dan meminta bayiku apabila dia sudah lahir.. Dan benar saja.. Dia membawa Reynaldi dariku.. Tapi Reynaldi memiliki hati dan pemikiran yang cerah.. Dia memilihku meskipun ayahnya sering memaksanya dan mengancamnya.. Reynaldi tahu semuanya dari Francesca, ibunya Aryatama.. " kata Olivia.
Shica menghela napas berat.
"Dan.. Ya sifat buruk Adi memang menurun pada Reynaldi.. Suka mempermainkan wanita, tapi saat aku melihat cara dia menatapmu, dia terlihat begitu mencintaimu.. Mungkin dia memang sedikit nakal, tapi aku yakin, dia akan jatuh pada satu pilihan.. Yaitu dirimu " kata Olivia.
Shica tersenyum.
"Berbahagialah " kata Olivia.
"Amin"
By
Ucu Irna Marhamah