
Setelah kepergian Angga dan orang tuanya, Ratih tak henti-hentinya menangis. Di ruang tamu, sendiri meratapi kehidupannya dengan linangan airmata. Tangannya tak cukup kuat untuk menghapus setiap lelehan airmatanya. Kesedihan benar-benar sedang menggelayuti hati sanubarinya.
Dengan langkah berat, Ratih melangkah menuju kamar Lexa. Mencari kehangatan dan kebahagiaan yang tersisa disana. Setiap sudut tak lepas dari pandangannya. Ratih sedang rindu. Rindu Lexa.
Setiap jengkal kamar Lexa dia selami. Memutar kembali memori tentang Lexa yang ada dalam pikirannya di dalam kamar ini.
Ratih membuka jendela kamar Ratih yang masih berdecit. Menatap pemandangan bunga lavender dari tempatnya berada. Semilir angin merasuk menyapanya. Sedikit mengeringkan pipinya yang basah. Mentari yang tak begitu terik pun ikut menyapa Ratih yang sedang dirundung duka.
Ratih merasa ada kesejukan disana. Di tempat dia berdiri seperti yang sering Lexa lakukan. Apakah ini juga yang dirasakan Lexa? Membuka jendela hati dan pikirannya untuk mengarungi kerasnya takdir. Sedikit melapangkan hati agar berani menghadapi kenyataan. Ada perasaan tenang yang dia rasakan.
Ratih masih memutar pandangannya ke seluruh penjuru kamar Lexa. Kemudian melangkah ke arah meja belajar Lexa yang rapi. Ratih tak pernah menyentuh barang-barang milik Lexa yang ada di kamarnya. Tapi pandangan matanya ke arah meja belajar Lexa sungguh menarik perhatiannya.
Dengan pasti, Ratih langkahkan kakinya mendekat. Meraih kursi yang rapi di tempatnya. Duduk santai menikmati kenyamanan yang ditawarkan sang kursi untuknya.
Koleksi buku bacaan milik Lexa sangat banyak. Hampir seisi meja belajar Lexa dipenuhi buku bacaan. Mulai dari novel, komik, buku-buku ilmiah dan masih banyak lagi terpajang rapi disana. Dan semua bukunya terlihat lusuh, bukti kalau buku-buku itu memang tak hanya pajangan saja tapi benar-benar Lexa baca. Ratih kagum dengan keponakannya itu, sampai dia tak sadar mengutas senyumnya sendiri.
Dia memilah-milih buku koleksi Lexa untuk dia buka sekedarnya. Berusaha menikmati aktivitas yang biasa Lexa lakukan. Beberapa buku koleksi Lexa sudah Ratih jamah. Tapi ada satu buku yang sangat menarik perhatiannya.
Buki bersampul cokelat dengan hiasan bunga kering terselip di antara buku-buku Lexa. Bukunya terlihat sangat mencolok, karena terbuat dari scrapbook. Bukunya pun terlihat lebih tinggi dari buku-buku Lexa yang lain.
Ratih mengambil buku itu dengan rasa penasaran. Buku berwarna cokelat dengan hiasan daun kering itu ternyata bertuliskan "My Diary". Tulisannya Lexa tulis sendiri, tapi terlihat bagus dan rapi. Ada hiasan kertas warna-warni juga yang sepertinya dijadikan pembatas.
Ratih merasa ragu untuk membukanya. Ratih penasaran ingin membacanya, tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sampai kemudian ada secarik kertas yang tiba-tiba jatuh ke pangkuannya, ketika Ratih hendak mengangkatnya. Sepucuk surat rupanya.
Kali ini Ratih benar-benar tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia memberanikan diri untuk membuka sepucuk surat itu. Dan betapa terkejutnya Ratih, karena sepucuk surat itu memang tertuju untuknya.
~~
Dear Tante Ratih Tersayang...
Lexa menulis surat ini khusus untuk tanteku terkasih, Ratih Prameswari.
Tante...
Saat tante membaca surat ini, mungkin Lexa sudah berada di tempat yang jauh..
Tempat yang tidak bisa tante jangkau...
Maaf, karena Lexa sudah berani meninggalkan tante..
Tapi percayalah, tante...
Lexa baik-baik saja. Lexa masih bisa mengawasi tante dari tempat Lexa berada. Lexa masih bisa melihat senyum tante dari sini.
Tante...
Lexa masih ingat, saat Lexa masih kecil dulu.
Lexa tumbuh bersama tante. Di usia tante yang masih muda, tante sudah mengasuh Lexa dengan baik. Menjaga Lexa seperti Ibu Lexa sendiri. Lexa bahkan menganggap tante sebagai Kakak Lexa. Begitu besar kasih sayang tante untuk Lexa, sampai-sampai Lexa seperti tumbuh besar hanya karena kasih sayang berlimpah dari tante seorang.
Tante....
Sungguh Lexa adalah orang yang paling beruntung, karena memiliki tante. Jika memang Tuhan menciptakan malaikat untuk Lexa, maka malaikat itu adalah tante Ratih.
Tante tak pernah sekalipun mengeluh untuk semua keegoisan Lexa selama ini. Tante juga tak pernah sedetik pun merasa marah atas semua sikap Lexa. Bahkan tak pernah terbesit dalam hati dan pikiran tante untuk meninggalkan Lexa sendiri, walaupun tante punya banyak alasan untuk itu.
Tante...
Lexa tahu betul, setiap malam berat yang tante lalui dengan kepedihan. Tante menangis di tengah malam yang sunyi. Mendoakan Lexa dan memohon ampun atas semua yang terjadi kepada Lexa. Itu semua tante lakukan demi menebus kebahagian Lexa.
Tapi di pagi hari, saat mentari datang menyapa...
Tante melupakan semua tangisan tante semalam untuk menyambut Lexa dengan senyuman tante yang hangat. Begitu lapang hati tante, sampai Lexa sendiri tak kuasa membalas semua perlakuan tante untuk Lexa. Bahkan semua materi dan kasih sayang Lexa sampai detik ini, masih belum cukup membalasnya.
Semua itu adalah bukti bahwa tante memang orang yang paling kuat yang pernah Lexa kenal. Bahkan Ibu Lexa saja tidak sekuat dan sehebat tante. Tante harus bangga akan itu.
Tanteku tersayang...
Lexa tahu, betapa beratnya beban dalam kehidupan yang tante jalani. Semua beban itu membuat tante tidak bisa tidur nyenyak. Semua beban itu membuat tante tidak bisa tersenyum lepas. Semua karena beban yang tante tanggung sendiri.
Tante...
Kini bebanmu sudah lepas. Bebanmu sudah ringan. Bebanmu sudah pergi jauh dan tak akan mengganggumu lagi.
Lexa adalah beban itu...
Lexa membuat tante merasa bersalah seumur hidup tante. Bahkan Lexa membuat tante harus merelakan kebahagiaan tante sendiri hanya untuk menjaga Lexa.
Tapi sekarang beban tante sudah hilang. Beban tante sudah menemukan kebahagiaannya sendiri.
Ya, tante...
Lexa benar-benar sudah bahagia sekarang. Lexa sudah bersama orang-orang yang Lexa sayang. Lexa sudah bersama dengan Tuhan yang penyayang. Lexa tak kurang apapun.
Lexa ingin dari sini, dari tempat Lexa berada...
Melihat tante bisa menjalani kehidupan tante kembali dengan suka cita...
Melihat tante mencari lagi kebahagian tante yang sudah lama hilang...
Melihat tante tersenyum senang, tanpa harus berurai airmata lagi...
Sungguh tante....
Tak ada niat Lexa untuk membuat tante sedih...
Semua takdir Lexa adalah kehendak sang pencipta. Lexa tak pernah ingin mengeluh atas jalan hidup Lexa. Sungguh tante... Lexa tak pernah sekalipun mengutuk Tuhan atau Ayah Lexa sekalipun.
Ayah Lexa tetaplah Ayah Lexa... Sampai kapanpun Ayah adalah Ayah Lexa. Kakak tante...
Lexa yakin, Ayah pun sebenarnya tak ingin takdirnya seperti ini...
Tanteku sayang....
Berhentilah menyalahkan diri tante sendiri untuk setiap keadaan yang sudah terjadi. Bukankah tante selalu bilang kalau kita akan bahagia. Dan itu sudah tante lakukan untuk Lexa.
Di akhir perjalanan hidup Lexa, Lexa masih punya tante Ratih yang selalu menemani Lexa dalam keadaan apapun dan bagaimanapun.
Lexa juga ditemani Om Angga yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk Lexa.
Dan sekarang Lexa juga punya Erick yang selalu sedia menjadi teman Lexa.
Bahkan masih ada Ibu Martha yang juga menyayangi Lexa dengan sepenuh hati.
Kurang apalagi tante?
Lexa sudah mendapatkan semuanya...
Tante pasti paham bagaimana bahagianya perasaan Lexa....
Di akhir hidup Lexa...
Lexa hanya sedih karena Lexa akan meninggalkan orang-orang yang Lexa sayang di dunia ini. Serasa baru sebentar Lexa bertemu dengan orang-orang yang sungguh menyayangi Lexa, tapi kenyataannya memang hanya sebentar jatah waktu Lexa bersama kalian.
Lexa ikhlas..
Walaupun Lexa tidak akan bisa lagi mendengar suara tante, Om Angga, Erick ataupun Ibu Martha. Tapi, Lexa bangga dan bahagia karena kalian semua....
Kalian yang menguatkan hati Lexa untuk bisa ikhlas menerima semuanya..
Kalian yang selalu memberikan kasih sayang untuk Lexa tanpa henti...
Terutama tante... Tante Ratihku tersayang...
Tante...
Sudah saatnya tante melanjutkan hidup tante dengan baik.
Sudah saatnya tante bersanding dengan orang yang tante cinta.
Sudah saatnya juga tante merasakan kebebasan dan kebahagiaan milik tante sendiri...
Jangan pedulikan orang lain tante...
Mereka tak akan pernah mau mengerti perasaan dan hati kita. Lexa tahu ini karena Lexa belajar memahami hal itu...
Setiap orang tidak bisa kita paksakan untuk mau menerima kita.
Setiap orang juga tidak bisa kita paksakan untuk menyayangi kita setulus hati.
Karena sikap mau menerima dan menyayangi setulus hati akan datang sendirinya tanpa dipaksakan.
Bahagiakan hati tante sendiri...
Bukan kita egois, tapi kita realistis tante...
Orang lain boleh tidak mengakui keberadaan kita, tapi kita tidak boleh bersikap sama seperti mereka...
Dengan kuasa Tuhan, pasti akan ada jalan...
Jalan dimana mereka akan menerima kita dengan segenap hati.
Tante....
Lexa bukanlah anak yang baik...
Lexa selalu membuat tante menangis.
Bahkan mungkin sekarang tante sedang menangis karena surat ini...
Tapi tante, percayalah...
Lexa amat sangat menyayangi tante...
Lexa tak ingin membuat tante bersedih karena kepergian Lexa...
Tapi Lexa sendiri tidak tahu bagaimana caranya agar tante tidak bersedih lagi...
Jadi, Lexa menulis surat ini untuk meyakinkan tante bahwa Lexa sangat menyayangi tante lebih dari siapapun...
Lexa ingin tante Ratih bahagia bersama orang yang tante sayang...
Lexa juga ingin tante mengingat Lexa dengan senyuman...
Semoga tulisan ini menjadi pengobat rindu tante kepada Lexa....
Salam Sayang selalu...
Alexa....
~~
Sepucuk surat Lexa sudah selesai Ratih baca. Tangan Ratih bergetar, begitu juga dengan hatinya. Ratih tak kuasa menahan tangisnya. Ada rasa haru bahagia disana.
"Terimakasih, Lexa... Tante juga sangat menyayangi Lexa..." Lirih Ratih dalam haru.