
Reynaldi dan Shica sampai di mansion. Mereka terlihat mesra dan memasuki mansion.
Mereka terkejut melihat keberadaan seorang pria berjas membelakangi mereka.
Shica dan Reynaldi saling pandang.
"Selamat sore, kalian lama sekali.. Aku bosan menunggu" kata pria itu kemudian berbalik dan merentangkan kedua tangannya.
Shica dan Reynaldi terkejut ternyata Raihan. Mereka berdua saling pandang.
Raihan menghampiri mereka. "Apa kabarmu, sayang? " tanya Raihan sambil mengecup pipi Shica. Shica terkejut dan segera menjauh memeluk lengan Reynaldi.
Reynaldi kesal dengan tingkah menyebalkan Raihan.
"Kenapa kalian malah bengong begitu? Kalian tidak mengerti bahasa Indonesia? " tanya Raihan.
Shica menjauh dan menarik lengan Reynaldi karena takut.
"Penjaga! " teriak Reynaldi.
"Tidak perlu memanggil mereka, aku sudah bertemu mereka tadi.. Dan lihat aku menunjukkan surat izin memasuki mansionmu pada mereka.. Ada tanda tanganmu disini" kata Raihan sambil menunjukkan sebuah map merah berisikan surat izin.
Reynaldi melihatnya. Ternyata benar. Namun dia tidak ingat kapan menandatangani surat konyol itu.
"Emm.. Aku juga bolehkan tinggal disini beberapa hari? " tanya Raihan sambil menaik turunkan alisnya pada Reynaldi.
"Menjijikan! Apa kau tidak punya mansion? " gerutu Reynaldi.
"Aku tentunya punya yang lebih besar dari ini.. Tapi aku bosan dan ingin tinggal disini.. Anggap saja sebagai tanda kerja sama perusahaan Abdurrachman dan Adiwijaya" kata Raihan.
"Konyol! Kerja sama macam apa ini" gerutu Reynaldi.
Raihan menarik tangan Reynaldi dan merangkulnya kemudian berjalan menjauhi Shica.
"Apa-apaan kau merangkulku seperti ini, apa kau sudah tidak normal? " gerutu Reynaldi kesal.
"Dengar.. Aku pernah bilang padamu kan kalau aku akan membawa Shica darimu" kata Raihan.
"Lalu, apa dengan ini caranya.. Dasar bodoh" gerutu Reynaldi.
"Memangnya salah? Terserah aku mau bagaimana yang penting Shica jadi milikku.. " kata Raihan.
"Terserah.. Tapi Rastani tidak akan pernah jadi milikmu, sampai kapanpun.. " kata Reynaldi sambil menepis tangan Raihan kemudian berlalu menghampiri Shica.
"Kenapa dia disini? Apa kau tidak mau mengusir dia? " tanya Shica pelan.
"Setelah ku pikir-pikir, mungkin tidak ada salahnya orang gila itu tinggal disini" kata Reynaldi.
"Apa? Tapi.. " Shica tidak melanjutkan kata-katanya. Dia terlihat sedih.
"Maafkan aku, Rastani.. Aku harus melihatmu membuktikan kesetiaanmu padaku sebagai seorang istri.. Apa kau akan tetap memilihku, meskipun dia disini? " batin Reynaldi.
Raihan tersenyum. "Aku akan merebut Shica dengan cara bersih.. Ya.. Sedikit bercanda tidak masalah kan? Semua orang tahu Raihan Alfarizi adalah pria tampan yang humoris" batin Raihan.
Reynaldi menyentuh pipi Shica dan membuatnya menatap dirinya.
"Dia tidak akan berani macam-macam disini.. Ini mansionku.. Dia harus mentaati peraturan mansionku " kata Reynaldi.
Raihan tersenyum sambil membuang muka mendengar ucapan Reynaldi.
".. Bagaimana? " tanya Reynaldi sambil menoleh kearah Raihan.
"Hmm.. Ya.. Seperti yang kau katakan.. Aku akan mentaati peraturan mansion ini" kata Raihan.
"Kamu mendengarnya kan? " kata Reynaldi pada Shica. Shica mengangguk pelan. Mereka berdua saling menatap.
Raihan menautkan alisnya. "Semakin lama aku disini, maka aku semakin sakit melihat kemesraan mereka.. Namun aku akan tetap berusaha mendapatkan cintaku " batin Raihan.
Raihan bergerak menghampiri mereka dan merangkul mereka berdua. Mereka berdua terkejut dengan apa yang dilakukan Raihan.
Shica menatap Raihan. Raihan menoleh sebentar pada Shica, kemudian dia tersenyum. Shica mengalihkan pandangannya.
"Kurasa kau sudah tahu ruangan ini" gerutu Reynaldi. Mereka bertiga pun duduk dengan posisi Raihan diantara mereka berdua.
"Wah.. Sudah lama aku tidak memakan masakanmu, sayang.. Apa kau mau memasak untukku? " tanya Raihan pada Shica.
"Apa? Jadi dia pernah merasakan masakanmu juga? " tanya Reynaldi menggerutu.
"Ya, aku yang pertama" kata Raihan. Reynaldi menautkan alisnya.
"Kalian berhenti bicara.. Aku akan memasak.. Tapi jangan ribut" gerutu Shica kemudian bangkit dari duduknya dan mulai memasak.
"Hmm.. Kau tampak cemburu.. Apa kau takut dia akan menjadi milikku? Oh tentu saja " bisik Raihan.
Reynaldi menautkan alisnya. "Jangan banyak berharap.. Kau bisa menangis jika apa yang kau mimpikan itu tidak terjadi" bisik Reynaldi.
"Hmm.. Lihat saja.. Aku akan mewujudkan mimpiku sekarang " kata Raihan kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Shica.
"Aku akan membantumu.. Kau tahu masakanku sangat lezat karena aku pernah berjualan nasi goreng " kata Raihan dengan percaya dirinya.
Shica pun memberikan tugas pada Raihan. Melihat kedekatan mereka, Reynaldi tidak mau kalah dan dia menghampiri mereka kemudian mengambil alih tugas Raihan.
"Hei ini tugasku " gerutu Raihan.
"Kau bisa mengambil tugas yang lain " kata Reynaldi.
"Aku mau yang ini.. Kau mengiris bawang saja" gerutu Raihan.
"Ini mansionku.. Kau harus menuruti kataku" gerutu Reynaldi.
Alhasil, daging yang sudah di goreng itu jatuh ke lantai.
Mereka berdua terkejut dan menoleh kearah Shica yang terlihat begitu marah.
"Kalian menjatuhkannya! Menyebalkan! Kalau begitu masak sendiri! Makan sendiri! " gerutu Shica kesal kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Dia marah.. " gumam Raihan.
"Yah.. Dagingnya jatuh.. " gerutu Reynaldi.
"Baru kali ini aku melihatnya semarah itu " gumam Raihan.
"Dia sedang PMS" kata Reynaldi.
"Kadang wanita PMS lebih mengerikan dari preman" gumam Raihan.
"Ini karenamu! " gerutu Reynaldi.
"Hei! Ini karenamu! Kau sudah merebut tugasku tadi.. Seharusnya kau mencari tugas lain" gerutu Raihan.
"Hei! Pria mana yang akan membiarkan istrinya didekati pria lain" gerutu Reynaldi.
"Marahnya pasti akan lama" gumam Raihan.
"Aku bisa membujuknya" kata Reynaldi.
"Lalu bagaimana denganku? " tanya Raihan.
"Siapa peduli! "
Pemilihan suara untuk kedua pasangan sudah di tutup. Saya harap pembaca puas dengan endingnya nanti. Karena saya memilih sesuai vote terbanyak.
By
Ucu Irna Marhamah