
Raihan Alfarizi
Aku selesai mengenakan kemeja putihku dan celana hitam panjangku. Aku melihat pantulan diriku di cermin.
Ya aku sangat tampan..
Reynaldi menghampiriku dan menepuk bahuku membuatku cukup terkejut.
"Kenapa kau terkejut? Kau melamun? " tanya Reynaldi.
"Tidak.. Aku hanya mengagumi ketampananku " jawabku asal. Dia mengerling sekejap.
"Baiklah.. Aku mau bicara hal yang penting" kata Reynaldi.
"Katakan saja" kataku.
"Aku pernah bilang kan kalau aku tidak akan pernah membiarkan Rastani pergi dari hidupku.. Aku akan membiarkanmu tinggal beberapa hari saja disini dan aku tidak melarangmu menggoda istriku.. " kata Reynaldi. Dia menggantung kata-katanya sejenak dan tampak berpikir.
Aku menunggu kelanjutan kalimatnya. Aku tidak berniat memotong ucapan dia.
".. Tapi jangan sampai diluar batas.. Aku ingin melihat, apa dia akan memilihmu atau tetap hidup bersamaku" sambung Reynaldi.
"Lalu.. Jika dia memilihku, apa kau akan tetap memaksanya untuk hidup bersamamu, atau kau akan merelakannya bersamaku? " tanyaku serius.
Dia tersenyum. "Kita lihat saja nanti " jawab Reynaldi sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Ini hanya simbolis.. Bahwa kita menyetujui rencana ini " kata Reynaldi.
Aku pun meraih tangannya dan kami pun bersalaman cukup lama.
"Apa kau tidak berpikir dengan kehadiranku membuat rumah tanggamu hancur? " tanyaku.
"Kau percaya diri sekali.. Ayolah kita buktikan.. " kata Reynaldi sambil berlalu keluar dari kamar.
Aku menyusulnya.
Aku dan Reynaldi menuruni tangga dan melihat Shica sedang menyajikan hidangan untuk sarapan ke meja makan di bantu para pelayan.
Kami pun menghampiri Shica. Aku dan Reynaldi mengecup pipi Shica. Dan berkata, "Selamat pagi"
Kedua pipi Shica blushing dia menoleh kearahku dan tersirat kesedihan didalam tatapannya.
Kemudian dia mengalihkan pandangannya dan melanjutkan menyajikan makanan.
Kami pun sarapan pagi bersama. "Hari ini kita akan ke tempat hiburan " kata Reynaldi.
"Apa? Bukankah seharusnya kau pergi ke kantor? " tanya Shica menggerutu.
"Tidak ada kantor.. Jika aku pergi ke kantor, dan kau disini bersama dia.. " kata Reynaldi sambil menunjuk wajahku dan menggantung kalimatnya.
".. Bisa-bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan" kata Reynaldi.
Aku terkekeh kecil. "Memangnya apa yang bisa dilakukan diriku dengan wanita PMS? " tanyaku.
"Apa? Kenapa kau tahu? " tanya Shica menggerutu sambil menatap diriku.
Aku melirik Reynaldi yang memberikan kode padaku. Shica melirik Reynaldi.
"Apa kau yang mengatakannya? " tanya Shica menggerutu pada Reynaldi.
"Tenang saja.. Kau tidak perlu khawatir.. Aku tidak mungkin bilang pada orang lain lagi.. Anggap saja kau memiliki dua orang suami" kataku enteng.
"Apa kau bilang? " gerutu Shica padaku kemudian dia menoleh kearah Reynaldi.
"Kau mau mempermainkan pernikahan kita? " tanya Shica menggerutu.
"Tidak ada yang berniat mempermainkan pernikahan kalian.. Aku tidak berniat mengubah surat keluarga milik kalian.. Apa salahnya aku menjadi bagian dari kalian.. Reynaldi saja tidak keberatan.. " kataku.
"Aldi, kita perlu bicara " kata Shica sambil menarik tangan suaminya dan berlalu dari hadapanku. Mereka terlihat berbicara pelan jauh dariku.
Aku melihat pasangan itu sangat romantis. Ya, rasanya sakit sekali melihatnya. Tapi, aku juga bahagia melihat ada pria yang serius mencintai Shica, meski aku yakin cintaku padanya lebih besar.
Mereka kembali..
"Baiklah.. Jadi apa keputusanmu, sayang? " tanyaku pada Shica.
"Jangan memanggilku sayang " gerutu Shica.
"Baiklah, lalu bagaimana sayang? " tanyaku pada Reynaldi.
"Apa? Kenapa kau memanggilku sayang? " tanya Reynaldi kesal.
"Ide yang konyol, aku tidak suka ide itu" gerutu Shica.
"Baiklah.. Aku akan pergi" kataku kemudian bangkit dari dudukku. Lalu aku berlalu.
Aku melihat Shica menatapku sedih. Reynaldi menyadari ekspresi istrinya.
"Emm.. Kau tidak perlu kemana-mana, Raihan.. Jika kau mau bersama kami sebagai teman.. Emm tidak apa-apa " kata Reynaldi.
Aku menghentikan langkahku kemudian berbalik dan melihat Shica yang menatap tidak percaya pada Reynaldi.
Reynaldi tersenyum padaku.
"Hmm.. Apa kau yakin? " tanyaku pada Reynaldi.
"Iya.. Kami menganggapmu teman kami.. Bukankah kau juga temannya Rastani dulu" kata Reynaldi sambil merangkul Shica. Shica mendongkak menatap suaminya kemudian dia menatap diriku.
"Baiklah.. Tapi jangan melanggar norma yang berlaku " kata Shica.
Aku senang sekali mendengarnya
"Memangnya norma apa yang bisa aku langgar? " tanyaku sambil mendekati Shica.
"Kau sering melanggar aturan, melanggar janji dan masih banyak lagi.. Apa kau melupakannya? " gerutu Shica.
"Aku tidak ingat" kataku sambil memasang ekspresi berpikir.
"Sama saja kau melupakannya.. Dasar" gerutu Shica.
Setelah sedikit berdebat, kami menaiki mobil Reynaldi menuju tempat hiburan.
Entah tempat hiburan apa yang dia maksud. Aku duduk di kursi belakang sementara Shica dan Reynaldi didepan.
Mobil yang kami tumpangi terhenti di tempat parkir umum. Kami pun keluar dari mobil.
Aku masih menatap ke sekeliling. Aku tidak tahu dimana tempat hiburan yang dimaksud oleh Reynaldi.
"Jadi.. Dimana tempat hiburannya? " tanyaku pada Reynaldi.
"Didepanmu " jawab Reynaldi.
Yang kulihat saat ini adalah gedung perpustakaan Negara. Jadi?
"Yeee!!! Aku mencintaimu! " seru Shica sambil mencium pipi Reynaldi kemudian dia berlari masuk kedalam gedung.
"Apa maksudmu tempat hiburannya adalah.. Ini? Perpustakaan Negara? " tanyaku pada Reynaldi.
"Iya.. Shica menyukai buku dibandingkan barang mewah.. Dan kurasa kau juga menyukainya.. Bukankah kau sudah menerbitkan dua buah novel? " jawab Reynaldi diakhiri pertanyaan.
Iya..
Dia benar..
Aku memang menerbitkan novelku, yang merupakan metamorfosa dari buku harianku. Aku menulisnya selama sembilan tahun. Dan hasilnya lumayan.
Meskipun isinya tidak sesuai dengan kenyataan.
Tidak ada kebahagiaan..
"Aku pernah membaca novel yang kau berikan pada Rastani saat dia tertidur.. Isinya membuatku muntah.. Tapi kata-katanya lumayan" kata Reynaldi yang membuat lamunanku buyar.
"Hmm.. Aku menerbitkan novel bukan berarti aku menyukai novel.. " kataku.
"Kau itu aneh sekali" kata Reynaldi.
"Reynaldi! Raihan! " seru Shica dari dalam perpustakaan.
Kami berdua saling pandang kemudian segera memasuki gedung menyusul Shica.
Bagi yang mau pesan novel
"Psychopath Doctor" dan "The Beautiful Spy" bisa PC aku. Buruan ya, keburu kehabisan.
WA : 085524677955
By
Ucu Irna Marhamah