Don't Leave Me

Don't Leave Me
125



Raihan Alfarizi


Kami tengah makan malam di rumah besar Mahali. Jujur, kedua orang tua Shica menyambutku dengan baik, padahal mereka belum tahu siapa aku.


Ya itu adalah rencana Shica. Dia ingin aku melamarnya dengan keadaan seperti dulu. Dimana aku seorang pedagang nasi goreng yang mereka kenal.


Shica bilang, dia ingin menguji sebesar apakah Cinta kedua orang tuanya pada dirinya. Apakah mereka akan tetap menolak diriku meski itu kebahagiaan untuknya?


Dan ternyata diluar dugaan..


Mereka menerimaku dengan baik..


Sungguh aku merasa senang. Begitupun Shica.


Kami akan menikah dibulan depan. Orang tua kami sudah tahu kami akan menikah, tapi kami tidak tahu apakah orang tua Reynaldi tahu kalau Shica dan putra mereka telah berpisah?


Itu yang sampai saat ini menjadi kebingungan bagiku dan bagi Shica. Namun mungkin saja Reynaldi sendiri yang akan mengatasinya.


Selesai makan malam, kami berbincang singkat.


"Maaf.. Jika Mama boleh tahu, apa yang menyebabkanmu berpisah dari Reynaldi? " tanya Nyonya Mahali pada putrinya.


"Kami sudah tidak cocok.. Reynaldi yang menceraikan diriku" kata Shica pelan dengan ekspresi sedih. Aku tahu, bagaimanapun juga, Shica mencintai Reynaldi. Dan dia masih merasa sangat terluka.


Nyonya Mahali membelai lembut rambut putrinya.


"Kenapa kau tidak memberitahu kami sebelumnya? Kapan dia menceraikan dirimu? " tanya Tuan Mahali.


"Karena aku takut.. Dia menceraikanku dua minggu lalu, waktu aku masih di Perancis " jawab Shica.


"Dan.. Bagaimana kalian berdua bisa bertemu lagi? Sementara Raihan kan di Indonesia dan waktu itu Regar bilang Raihan pindah rumah" tanya Tuan Mahali.


Shica melirik diriku. Seolah dia meminta aku yang menjawab pertanyaan ayahnya.


"Emm.. Sebenarnya kami bertemu di terminal tempat saya berjualan" kataku gugup.


"Oh begitukah? Hemm.. Oh ya bagaimana sidang perceraianmu? Apa Reynaldi tidak mempersulit perceraian itu?" tanya Tuan Mahali.


"Emm.. Tidak.. Dia hanya menyuruhku menandatangani surat perceraian " jawab Shica.


Kulihat Tuan dan Nyonya Mahali malah saling pandang.


"Semudah itu? Bukankah sidang perceraian bisa lebih rumit dari itu? " tanya Tuan Mahali.


"Biarlah, mungkin Reynaldi yang menyelesaikan semuanya, seharusnya kita bersyukur karena putri kita tidak dipersulit" kata Nyonya Mahali.


"Raihan, kami harap kamu menginap saja disini malam ini karena sudah larut " mata Nyonya Mahali padaku.


"Emm.. Apa tidak merepotkan? " tanyaku ragu.


"Tentu tidak, kami senang.. " kata Nyonya Mahali sambil tersenyum bijaksana.


Malam itu, aku pun menginap di rumah besar Mahali. Aku mengabari kedua orang tuaku kalau orang tua Shica sudah merestui hubunganku dengan Shica.


Mereka sangat bahagia dan mereka bilang, mereka ingin segera melangsungkan pernikahan.


Aku juga merasa sangat bahagia. Aku benar-benar bahagia. Wanita yang kucintai sejak remaja akan menjadi istri sah ku.


Semoga Reynaldi bisa mendapatkan wanita yang baik seperti Shica.


Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar menuju balkon. Kulihat Shica disana melamun. Aku menghampirinya.


"Shica.. " kataku lirih.


Dia menoleh kemudian tersenyum. "Belum tidur? " tanya Shica.


"Kamu juga belum tidur? " tanyaku balik bertanya. Sungguh baru kali ini lagi aku bicara bahasa Indonesia. Selama ini di Perancis aku menggunakan bahasa Inggris dan kadang memakai bahasa Perancis.


"Hemm.. Aku masih berpikir bagaimana statusku, Mama dan Papa benar.. Perceraianku dengan Reynaldi tidak sesimpel itu.. Butuh waktu dalam persidangan.. Aku rasa Reynaldi belum menceraikan diriku secara sah" kata Shica dengan ekspresi bingung.


Aku menyentuh kedua bahunya. "Reynaldi memiliki segalanya.. Dia pasti mempermudah semuanya agar kau tidak kesulitan.. Karena dia sendiri yang menginginkan perceraian ini" kataku menenangkan perasaannya.


"Semoga benar.. " gumam Shica.


Sejenak kami saling menatap. Manik hazelnya begitu tenang dan membuatku nyaman ketika melihatnya seolah dia adalah tempatku untuk pulang.


Shica mengalihkan pandangannya.


"Kenapa kau selalu memutuskan kontak mata diantara kita? " tanyaku menggodanya.


"Matamu menenggelamkanku dan kau tahu aku tidak bisa berenang" kata Shica.


Kami pun tertawa.


"Aku ingat.. " kataku.


"Setelah kita menikah, kita akan menetap dimana? " tanya Shica.


"Kurasa kita tinggal di Perancis saja.. Di mansionku.. " kataku.


"Apa tidak terlalu berlebihan? Aku dan kamu hanya tinggal berdua" kata Shica.


"Kamu sama Reynaldi juga tinggal berdua " kataku.


"Itu beda lagi, dia memang berlebihan setengah mati.. " kata Shica menggerutu.


Aku tersenyum mendengarnya. "Baiklah.. Kita mau bulan madu kemana? " tanyaku.


Seketika kedua pipinya memerah. "Bulan madu? Oh aku bahkan tidak ingin berbulan madu.. Aku ingin pernikahan yang sederhana dan cepat.. Aku tidak mau pernikahan yang ribet seperti dulu " gerutu Shica.


"Mau cepat? Wah kamu gak sabaran ya" kataku menggodanya. Kedua pipinya yang memerah itu semakin merah seperti kepiting rebus.


"Bu.. Bukan itu maksudku" gerutu Shica.


Aku mendekatkan wajahku. "Lalu, apa maksudmu? " tanyaku.


"Aku ya.. Aku.. Hanya.. " aku semakin mendekat. Shica menahan dadaku.


"Jangan macam-macam, nanti orang tuaku melihat.. Bagaimana jika mereka mengira kau itu mesum" gerutu Shica.


Aku pun kembali ke posisi semula. "Baiklah, sekarang tidurlah.. Nanti kamu sakit" kataku.


Shica mengangguk. "Baiklah.. Kamu juga.. " kata Shica.


"Selamat malam " kataku.


"Selamat malam.. " kata Shica kemudian berlalu.


Terimakasih.. Ya Allah..


By


Ucu Irna Marhamah