Don't Leave Me

Don't Leave Me
Ratih dan Kenangannya



Raut wajah Ratih lesu. Duduk di ruang tunggu yang berada di pojok lorong tempat rawat inap Lexa, dengan latar belakang kaca besar berhiaskan lampu-lampu jalanan Ibu Kota di malam hari. Cahayanya bak lilin dari tempat Ratih, yang berada di lantai lima.


Duka jelas terlihat dari sorot matanya yang sembab. Jaket rajut berwarna krem masih setia membalut tubuhnya. Jaketnya tampak lusuh, karena berkali-kali Ratih meremas kain itu untuk mengekspresikan jeritan hatinya yang lara. Tanpa suara, Ratih memendam dukanya sendiri.


Danang adalah Kakak satu-satunya yang dia miliki. Keluarga Ratih dari Ayah berada di luar jawa dan sudah lama tidak berkomunikasi dengan Ratih sejak Ayahnya meninggal dunia. Sedangkan keluarga dari Ibunya, walaupun berada satu kota dengannya sikap mereka terhadap Ratih dan keluarganya berubah. Malah lebih seperti orang asing.


Danang menjadi tulang punggung keluarga saat Ayahnya meninggal. Danang yang dulu adalah seorang pekerja keras, ulet dan penyayang. Dia adalah sosok kakak yang sempurna di mata Ratih. Usianya belum genap tiga puluh tahun, tapi Danang berhasil mengembangkan bisnis di bidang tekstil. Itulah salah satu alasan yang membuat Ratih ingin menjadi seorang designer.


Sering diajak kakaknya untuk melihat cara pembuatan kain dan memilih kain berkualitas adalah pengalaman yang tak ternilai untuknya. Danang pernah berkata, "Setiap kain punya sentuhannya sendiri. Setiap kain akan memberi energi tersendiri bagi si pemakai. Ada ruh dari kain yang akan membuat seseorang tampak anggun ketika mengenakannya. Jadi buatlah pakaian berdasarkan ruh kain itu. Maka kain akan menunjukkan jalan kepadamu untuk berkreasi."


Ratih muda sudah terkagum-kagum dengan pemikirannya. Sehingga cita-citanya menjadi seorang designer semakin membulat. Di Sekolah Menengah Atas, Ratih sudah memilih jurusan tata busana. Bukti kesungguhan cita-cita yang ingin dia wujudkan.


Danang menikah di usia muda. Bertemu dengan Riyanti di salah satu toko kain yang menjadi langganan Danang menjual kain hasil produksinya. Pertama melihat sosok Riyanti, membuat Danang jatuh hati. Riyanti adalah wanita yang lembut. Tutur katanya saja sopan walaupun berbicara dengan Ratih yang jauh lebih muda darinya.


Ratih dan Riyanti menjadi kakak dan adik ipar yang kompak. Mereka rukun dan saling membantu dalam segala hal, bahkan mereka lebih terlihat seperti saudara kandung. Ratih yang terbiasa hidup mandiri sejak kecil pun tak sungkan untuk membantu Riyanti di dapur.


Riyanti sempat mengandung bayi sebelum Lexa. Tapi takdir masih belum mengizinkannya untuk menjadi seorang Ibu. Dua kali Riyanti mengalami keguguran. Riyanti di vonis sakit liver. Tubuhnya yang rentan menjadikannya belum siap secara matang menjadi seorang Ibu.


Beruntungnya di tahun keempat pernikahan mereka, Lexa hadir diantara mereka. Membuat suasana keluarga kecil mereka menjadi lengkap dan harmonis. Ratih masih duduk di sekolah menengah pertama saat Lexa lahir. Tapi dia bisa menjadi kakak yang baik untuknya. Dia merawat Lexa dengan baik. Lexa hampir tumbuh besar dengan Ratih.


Ratih sempat tak meneruskan sekolah ke jenjang kuliah. Alasannya klise, ingin membantu perusahan Danang. Tapi Riyanti menginginkan hal lain, Riyanti ingin Ratih kuliah. Dengan paksaan yang terus menerus oleh Riyanti, akhirnya Ratih pun luluh dan berniat meneruskan kuliah. Danang pun berani membiayai kuliah Ratih.


Sampai pada waktunya, roda kehidupan yang terus berputar mengantarkan Ratih dan keluarganya berada di titik terendah dalam perjalanan hidupnya. Perusahaan Danang yang berkembang dengan tiga buah anak perusahaan yang dia kelola tiba-tiba mendapat musibah yang tak terduga.


Di tahun-tahun yang sulit itu, Riyanti dan Ratih dengan sabar menemani langkah Danang agar tetap bertahan dengan segala ketidak pastian nasib perusahaannya. Sampai akhirnya perusahaan yang dipimpin Danang tutup satu persatu. Ditambah penyakit Riyanti yang sering mengharuskan dirinya bolak-balik berobat. Membuat ekonomi mereka menjadi semakin sulit.


Sejak saat itu, perangai Danang berubah. Dunia malam menjadi kawan baiknya untuk lari dari kenyataan. Danang tak siap dengan takdirnya. Setegar apapun anak buah kapal jika nahkodanya sudah kehilangan arah, maka kapal pun akan karam. Begitu juga yang dialami Ratih.


Sekuat apapun Riyanti bertahan untuknya, tetapi melihat sang suami sudah menjadi orang lain yang tak dia kenali lagi membuat kesehatannya semakin memburuk. Tekanan lahir dan batin yang dia terima tak sanggup membuat hidupnya bertahan.


Danang menjadi sosok laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Sering bersikap kasar terhadap Riyanti. Bahkan Danang melakukan kekerasan kepada Riyanti di ranjang. Ratih tak tega melihatnya. Sering sekali dia mendengar Riyanti yang merintih di dalam kamar, sementara suara Danang terdengar menggelegar.


Ratih sudah sering mengingatkan Danang atas sikapnya yang buruk. Tapi malah Ratih mendapat siksaan fisik dari Danang. Lexa pun tak luput dari amukan Danang. Dia yang membela ibu dan tentenya juga tak bisa mengelak dari kerasnya tangan Danang. Hampir dua tahun mereka mengalami kekerasan lahir dan batin yang diakibatkan oleh Danang.


Puncaknya saat Danang sering terlihat di sebuah klub malam. Mabuk, berjudi dan main dengan wanita sembarangan disana dan pulang dalam keadaan setengah sadar memperlakukan Riyanti dengan kasar dan tak beradab. Ratih pun dengan sigap membawa Lexa keluar dari rumah, agar tidak perlu melihat neraka dalam rumahnya.


Manusia memang sulit untuk ditebak. Hatinya cepat sekali berubah bahkan lebih cepat dari kedipan mata. Danang yang dulu dipuja, tapi hanya karena keadaan yang tak sesuai rencana, bisa membuatnya berubah menjadi biadab dan tak bermoral.


Ratih miris sekali mengingatnya. Bukankah Ayah mereka sudah cukup baik? Ayah berusaha membesarkan Ratih dan Danang dengan baik. Meski tumbuh tanpa seorang Ibu yang siap menemani satu hari penuh, nyatanya Ratih dan Danang tak pernah kekurangan suatu apa. Ratih dan Danang tak kurang kasih sayang. Bahkan Ayahnya selalu mendidik mereka penuh dengan kehangatan, kesabaran dan kemandirian.


Ratih masih terus merasa miris. Setelah tahu hanya karena urusan duniawi, manusia sampai tak punya hati dan melupakan harga diri. Dia belajar banyak dari Danang. Laki-laki tekun dan penyayang yang dia kenal dan dia sayangi setulus hati, berubah menjadi monster kejam berwujud manusia hanya karena gagal berkuasa atas dunia.


Dan Ratih menjadi sangat miris, melihat takdir sang kakak. Sendiri jauh dari keluarga. Terasi g dari dunia yang dia puja. Menahan sakit dan rindu yang pasti dia rasakan. Atau mungkin menahan sesal yang tak bisa dia sampaikan. Membeku kedinginan tanpa kehangatan suara keluarga di sisinya. Dan musnah tanpa gelar sosok Ayah yang dulu dia sandang.


Pilu sekali hati Ratih.


Melihat akhir dari keluarganya yang menyedihkan.


Hanya isak tangis yang semakin kencang dia gemakan.


Tak ada seorang pun yang berani datang.


Malam sunyi menenggelamkan rasa yang tak mampu dia hadang.


Menangis kencang.


Sungguh Ratih yang malang...


****


Angga duduk di ruangannya. Membuka sebuah file yang disusun rapi di sebuah map tebal. Menyusuri mencari nama seseorang yang pasti dia kenal. Kacamatanya mengamati setiap deretan tulisan rapi yang tercetak disana. Berkonsentrasi penuh dengan pencariannya. Raut wajahnya berubah berbinar. Apa yang dia cari ketemu.


Setiap detail tulisan dia baca dengan seksama. Keningnya sedikit berkerut membaca catatan yang tertulis disana. Sepertinya ekspresinya berubah tak percaya dengan apa yang dia baca.


Angga menutup file catatannya itu sedikit lemah. Kacamatanya dia letakkan di meja. Wajahnya dia usap perlahan dengan kedua tangannya. Kemudian menarik napas panjang, seperti orang yang merasa kecewa.


Angga menyandarkan dirinya di sandaran kursi. Menatap langit-langit ruangan dokternya dengan tatapan jauh dan dalam. Kemudian memejamkan matanya, menelusuri perasaannya yang paling dalam. Mencari celah untuk menghirup sedikit udara yang tak membuatnya sesak.