
Shica dan Reynaldi duduk berhadapan dengan Ratna dan Ridan. Shica terlihat cemas berbanding terbalik dengan Reynaldi yang terlihat santai-santai saja.
"Apa selama di Perancis, kalian juga.. Ehmm.. Sering tidur bersama?" tanya Ridan.
Shica terkejut mendengar pertanyaan konyol ayahnya. Dia memang pernah tidur bersama Reynaldi. Dalam arti yang sebenarnya, bukan tidur seperti yang ada di pikiran ayahnya.
"Kalian salah paham, tadi pagi Reynaldi membangunkanku, dia mengajakku lari pagi." kata Shica.
"Lalu yang merah di lehermu itu?" tanya Ridan.
Skakmat..
Shica bungkam seribu kata.
"Emm.. Kami tidak pernah melakukan hubungan diluar batas.. Percayalah." kata Reynaldi yang kali ini angkat bicara.
Ridan dan Ratna menoleh kearah Reynaldi.
"Kami mengerti, kamu berasal dari negeri bebas itu, tapi kami tidak mau kamu melakukan.. Ehmm.. Hal yang menurut mereka bebas pada putri kami." kata Ratna pada Reynaldi.
Shica mendelik kesal kepada Reynaldi. Reynaldi tersenyum menanggapi ucapan Ratna.
"Maafkan aku, Nyonya Mahali.. Putrimu begitu cantik sehingga aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.. Tapi tenang saja, sumpah demi Tuhan aku tidak melakukan sesuatu yang melebihi batasku." kata Reynaldi.
"Ya, memang tidak.. Namun hampir! " batin Shica menjerit.
"Anggap saja kami percaya padamu.. Dan ya.. Sepertinya kalian memang harus segera menikah." kata Ridan.
Shica menunduk. Reynaldi tersenyum.
"Tapi kalian juga harus menunggu Regar yang menikah lebih dulu." kata Ratna.
Terdengar suara mobil terhenti di pelataran rumah besar Mahali.
"Itu pasti Regar." kata Ratna sambil beranjak dari duduknya. Begitupun dengan Ridan. Mereka segera keluar menyambut kedatangan putra mereka.
"Ini karenamu." gerutu Shica sambil beranjak dari duduknya menyusul kedua orang tuanya.
Reynaldi tersenyum. Dia juga menyusul Shica.
Regar keluar dari dalam mobil sport itu. Ratna dan Ridan menyambut kedatangannya. Begitupun dengan Shica dan Reynaldi.
Regar terlihat begitu tampan dengan rambut-rambut halus yang menghiasi rahangnya yang kokoh. Menambah kesan dewasa pada pria itu.
Seorang wanita bersama anak kecil juga keluar dari dalam mobil yang sama membuat Ridan dan Ratna heran.
Shica mengerutkan keningnya.
Regar bersama wanita dan anak kecil perempuan itu menghampiri mereka.
"Selamat datang, nak." Ridan memeluk Regar.
Regar membalas pelukan ayahnya. Ratna tersenyum sambil membelai rambut putranya. Regar memeluk Ratna dengan erat.
Regar melirik Shica. Shica tersenyum. Mereka pun berpelukan.
"Aku merindukanmu, adikku." bisik Regar.
"Aku juga." kata Shica.
Regar menatap Reynaldi. "Siapa ini?" tanya Regar. Reynaldi mengulurkan tangannya. Regar menerima uluran tangan Reynaldi.
"Reynaldi Alexander Adiwijaya," kata Reynaldi. "Regar Mahali, senang bertemu denganmu." kata Regar.
Reynaldi tersenyum.
"Dia temanmu?" tanya Regar pada Shica.
"Calon suamiku," jawab Shica dengan kepala tertunduk. Regar terbelalak.
"Lalu.. Raihan? " batin Regar.
Reynaldi merangkul Shica. "Kami akan segera menikah, setelah kakak menikah." kata Reynaldi.
Ratna terkejut. Ridan mengerutkan dahinya. Shica terbelalak kaget.
"Ini Priyanka, istriku dan ini Megha putriku." kata Regar.
Ratna terkejut. Dia pun tersungkur tak sadarkan diri. Shica terkejut. Regar juga.
Lagi-lagi Ratna pingsan.
"Astaga, sayang." Ridan mengangkat tubuh Ratna.
Mereka pun segera membawa Ratna ke rumah sakit.
Shica duduk di ruang tunggu bersama Reynaldi di sampingnya. Regar juga bersama istri dan anaknya.
Ridan berdiri cemas didepan pintu kamar pemeriksaan.
"Kasihan Mama." gumam Shica pelan. Namun Reynaldi bisa mendengarnya. Dia merangkul Shica.
"Ibumu akan baik-baik saja.. " bisik Reynaldi menenangkan hati Shica.
Dokter keluar. Ridan segera bertanya pada dokter itu. "Bagaimana dok? Apa tidak terjadi sesuatu pada istri saya?" tanya Ridan.
"Pasien mengalami shock.. Silakan anda bisa menemuinya." kata dokter. Ridan segera memasuki ruangan rawat itu.
Ratna yang terbaring diatas ranjang menoleh. Ridan pun duduk di kursi yang sudah tersedia di samping ranjang.
Ridan menggenggam tangan Ratna. "Kamu merasa lebih baik?" tanya Ridan.
"Aku mau ketemu anak-anak.. " tangis Ratna.
"Tapi janji kamu jangan pingsan lagi.. Aku khawatir." kata Ridan. Ratna mengangguk.
Ridan mencium kening Ratna kemudian berlalu keluar. Ratna menatap ke sekeliling ruangan yang serba putih itu.
Regar dan Shica memasuki ruangan dengan kepala tertunduk. Ratna menoleh.
"Kemarilah anak-anakku."
Shica duduk di tepi ranjang sementara Regar duduk di kursi yang tersedia di sana bekas duduk Ridan tadi.
Ratna menggenggam tangan Regar dan Shica.
"Kalian putra dan putri yang sangat Mama sayangi.. Kalian berdua adalah buah hati Mama.. Mama sayang sama kalian.. " kata Ratna.
"Maafin aku Ma.. Ini salahku." kata Regar menyesal.
"Aku juga.. Ini kesalahanku." kata Shica.
"Tidak.. Tidak.. Kalian tidak salah.. Mama yang salah.. Mama tidak memperhatikanmu Regar.. Dan Mama terlalu memaksamu, Shica.. Ini salah Mama.. Kalian jadi menderita.. Namun Mama lihat, Regar sudah bahagia dengan istrimu." kata Ratna sambil membelai lembut pipi Regar.
Pandangan Ratna teralihkan pada Shica. Dia membelai lembut pipi Shica.
"Tapi Shica.. " Ratna tidak melanjutkan kata-katanya karena dia menangis.
"Mama." Shica memeluk ibunya.
"Maafin Mama.. Batalkan pernikahanmu dengan Reynaldi.. Karena Mama tidak yakin kamu mencintai dia.. " kata Ratna.
Shica melepaskan pelukannya dan menatap Ratna.
"Aku tidak akan membatalkan pernikahanku.. " kata Shica pelan.
"Aku akan membantumu.. Aku yang akan bicara pada Reynaldi " kata Regar.
"Itu tidak perlu, kak." kata Shica.
"Tapi kenapa?" tanya Regar.
"Aku sudah siap.. Menikah dengan dia."
By
Ucu Irna Marhamah