Don't Leave Me

Don't Leave Me
138



Reynaldi Adiwijaya


Aku sangat bahagia karena Shica kembali padaku. Ya, meskipun dia juga istrinya Raihan. Yang penting dia bersamaku. Aku tidak bisa jauh darinya. Selama hampir satu tahun aku berpisah darinya. Rasanya sangat menyakitkan. Apa ini Cinta yang sesungguhnya?


Aku baru menyadari, kalau Cinta sangat Indah dan menyakitkan..


Aku mencintai Shica.


Saat ini, Shica sedang memilih susu formula ibu hamil untuknya. Dia membawa beberapa kotak dan di masukkan kedalam troli belanjaan.


"Emm.. Rastani" kataku memanggilnya. Dia menoleh kearahku.


Dari dulu aku selalu memanggil Shica dengan panggilan Rastani. Aku nyaman memanggilnya dengan nama itu.


"Ada apa? " tanya Shica.


"Emm.. Sekalian beli obat gosok untuk kakimu yang sering bengkak " kataku. Dia tersenyum kemudian mengangguk.


Setelah membeli beberapa barang, kami pun memilih untuk pulang. Namun Shica mau berhenti dulu di toko buku. Dia bilang dia rindu ingin membaca novel. Shica pun memilih beberapa novel dan membacanya.


Cukup lama. Seperti biasa, dia akan membaca novelnya sampai setengahnya dan jika menurutnya novel tersebut menarik, dia akan membelinya. Sementara novel yang dia baca tidak hanya satu.


Ya, aku sabar..


Karena dia juga sabar memiliki suami semacam diriku ini. Aku duduk di sampingnya dan memperhatikannya.


Dia sangat manis. Apalagi saat hamil begini. Dia memang terlihat semaki gemuk. Namun bagiku dia malah terlihat lucu.


Kedua pipinya yang bulat semakin bulat saja. Tubuhnya juga. Seandainya dia mengandung anakku juga. Aku pasti akan sangat bahagia dan akan sangat memanjakannya.


"Aku sudah memilih yang ini" kata Shica sambil memperlihatkan novel dengan cover seorang pria berjas. Dia begitu tampan.


"Apa isinya? " tanyaku penasaran. "Tentang seorang laki-laki yang hidup sendirian.. Dia merasa sangat kesepian dan akhirnya dia menemukan cintanya.. " kata Shica.


"Cerita kuno" kataku. Dia tersenyum. "Kau benar.. Ini cerita kuno.. Tapi sampai sekarang masih banyak terjadi cerita semacam itu " katanya sambil tesenyum simpul.


Aku melihat jam tanganku. Menunjukkan pukul lima sore. Wah, waktu berjalan begitu cepat tanpa aku sadari.


"Kita pulang.. " kataku. Dia mengangguk. Aku membawa novel tersebut ke kasir dan membayarnya.


Kemudian kami memasuki mobil. Selama di perjalanan, Shica menatap lurus ke jalan. Dia mengusap perutnya.


"Apa sakit lagi? " tanyaku. Dia mengangguk pelan. Aku pun menyentuh perutnya kemudian membelainya dengan lembut.


"Kamu fokus nyetir aja" kata Shica. "Gapapa.. Aku juga masih fokus kok" kataku sambil masih mengusap perutnya. Lampu merah menyala. Aku pun mengerem mobilku.


"Masih sakit? " tanyaku. Shica mengangguk.


Aku mengecup perut Shica. "Hei.. Kamu lagi main bola didalam? Lihatlah Mama kamu kesakitan " kataku. Shica tersenyum melihat tingkahku.


"Masih sakit? " tanyaku lagi pada Shica. Shica mengangguk.


"Bayi manis.. Jangan nakal ya, nanti Daddy bilangin sama Papa Raihan biar Papa Raihan yang nasehatin kamu" kataku lagi.


Shica tertawa. "Aku rasa dia mengerti dengan apa yang kau katakan.. Sekarang sakitnya berkurang" kata Shica.


Aku tersenyum. "Dia hanya akan mendengarkan ayahnya.. Aku harus mengatakan ini pada Raihan nanti kalau anaknya tidak menurut padaku" kataku. Shica tertawa.


Lampu hijau menyala. Aku pun melajukan kembali mobilku. Jalanan cukup macet. Tidak biasanya.


Aku menghela napas panjang. Kami pasti akan pulang terlambat.


Aku menyentuh tangan Shica. Shica menatapku.


"Rastani" kataku.


"Iya? " tanya Shica.


"Aku juga ingin kamu mengandung anakku" kataku.


"Tentu saja.. " kata Shica pelan.


"Terimakasih " kata Shica.


"Iya.. "


Setelah melewati kemacetan, akhirnya mobilku sampai di apartemen saat jam menunjukkan pukul tujuh malam.


Kami pun memasuki apartemen. Dan mendapati Raihan berdiri membelakangi kami dengan kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana.


Shica menoleh kearahku. Aku juga menatapnya. Raihan berbalik dan ekspresinya terlihat kesal.


"Kalian dari mana? Kenapa pulang jam segini? " tanyanya dengan nada bicaranya yang sedikit menggertak.


"Kami dari mall untuk membeli susu formula kehamilan kemudian ke toko buku untuk membeli novel " jawab Shica semangat.


Raihan menautkan alisnya dan menghampiri Shica. Kemudian dia menyentuh kedua lengan Shica.


"Aku mencemaskanmu, lain kali jika mau pergi, bilang dulu padaku dan jangan pulang terlambat" kata Raihan.


"Aku bersamanya" kataku.


"Aku tahu.. Dan mulai sekarang, aku mohon jangan keluar dari tempat ini" kata Raihan.


"Memangnya kenapa? Kenapa kau mengambil keputusan sepihak? Aku juga berhak membawa Rastani " kataku yang merasa tersinggung.


"Aku tahu, tapi bukankah kau tahu Sean meneror kita? " tanya Raihan.


"Aku tahu, tapi bukan berarti kita mengalah pada situasi dan hanya karena dia, kita jadi tidak bisa bebas.. Dia hanya tikus kecil bagiku" kataku kesal.


"Akan lebih baik jika kita mengantisipasi agar hal buruk tidak terjadi " kata Raihan.


"Kau benar.. Tapi kami hanya ke mall dan ke toko buku.. Kami tidak pergi jauh " kataku. Raihan mendekat kearahku.


"Bahkan pria sialan itu bisa memasuki kantorku tanpa ada yang mencegah.. " katanya menggertak.


Aku tidak terima dia marah padaku. Usianya bahkan tiga tahun lebih muda dariku.


"Mungkin keamanan kantormu kurang maksimal, dia bahkan tidak akan mampu menembus mansionku" kataku.


"Jangan menghinaku, Tuan Adiwijaya, dan jangan remehkan dia" geram Raihan.


"Disini bukan hanya kau suaminya Rastani, aku juga.. Bukan hanya kau yang bisa menjaganya.. Aku juga" kataku penuh penekanan.


"Kalian berdua.. Hentikan.. " kata Shica seraya menghalangiku dari Raihan.


"Sudahlah.. Jangan mempermasalahkan masalah kecil, yang penting aku sudah disini.. Aku baik-baik saja.. Selama kalian berdua bersamaku, aku tidak apa-apa.. Aku merasa aman bersama kalian.. Sekarang aku akan memasak.. Kalian duduklah" kata Shica.


"Aku tidak lapar" kata Raihan kemudian berlalu. Shica menatap punggung Raihan dengan sedih.


"Sudahlah.. Kamu gak perlu masak.. Lebih baik kamu tidur aja" kataku.


"Tapi, kalian berdua pasti lapar.. Aku harus menyiapkan makan malam" kata Shica.


Aku mengecup bibirnya. Seketika dia bungkam dan menatapku. Aku tersenyum. Apalagi ketika melihat kedua pipinya yang memerah.


By


Ucu Irna Marhamah