Don't Leave Me

Don't Leave Me
EPILOG



       Ketika kau melangkah, mereka melihatmu.Ketika kau berlari, mereka juga bisa melihatmu. Ketika kau jatuh dan terluka, mereka masih bisa melihatmu. Namun, ketika kau terdiam dan hatimu yang terluka, mereka tidak tahu. 


     Kau tersenyum dan mereka melihatnya. Tanpa tahu bahwa hatimu menangis. Mereka tidak tahu seperti apa dirimu yang sesungguhnya. Kau menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya. 


       Kau sangat kuat dan tangguh. Ketika air matamu tak lagi mampu mengalir, kau terus memejamkan matamu. Namun telingamu masih bisa mendengar. Mendengarkan setiap kosa kata yang terucap dari mulut orang lain. Kau tidak pernah menyalahkan para komentator bermulut pedas itu. Kau terus menatap kedepan ketika matamu bisa kau gunakan. 


       Rasa sakit dan penyesalan datang bertubi-tubi menghantam dirimu. Namun kau masih kuat berdiri dan melawan semua itu. Melawan semuanya tanpa bantuan siapapun. Kau sangat tangguh, kapten. 


*       Ketika rasa sakit*itu semakin bertambah, maka kau tidak bisa menahannya lagi. Aku datang menghampirimu dan memelukmu. Memberikan ketenangan lewat pelukanku. Aku berupaya menyembuhkan lukamu. 


       Kau tersenyum, sesuai dengan perasaanmu yang bahagia. Kita semakin dekat. 


     Kau bilang kau mencintai diriku. Begitupun aku mencintai dirimu. Namun sepertinya kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Tuhan membawamu lebih cepat dariku. Dan aku disini bersama dia yang bisa menjagaku setelah dirimu. 


        Kau sudah pergi membawa lukamu dan menyisakannya untukku. Semua tentang kita sudah berakhir. Namun kenangan ini masih tersimpan abadi dalam memoriku.


        Kisah novel ini telah berakhir disertai perginya salah satu diantara kalian. Aku akan melanjutkan kisahku meskipun tanpa dirimu. Kisah kita sudah berakhir. Aku tidak bisa bilang, apakah ini happy ending atau sad ending. Namun bagiku semuanya sudah selesai. Benciku cintaku juga itu adalah dirimu.. Sakitku bahagiaku juga itu adalah dia.. Terimakasih untuk segalanya.. Aku akan mengakhiri ini.. Sampai jumpa


 


 


The end


        Shica menutup bagian akhir novelnya yang sangat tebal. Dia sudah membaca novel karyanya sampai selesai. Shica mendengar suara langkah kaki menuju perpustakan pribadinya. Dia menoleh ternyata Deva. Shica tersenyum melihat Deva yang masih mengenakan seragam sekolahnya menghampiri dirinya. Dia duduk berhadapan dengan Shica.


      "Bagaimana hari ini di sekolah barumu? Di senior high school pasti lebih menyenangkan, bukan?" tanya Shica. Deva tersenyum. "Begitulah.."


 


 


Sunyi..


        Deva melihat novel yang dipegang ibunya. "Mom? Sebenarnya aku mau minta maaf " kata Deva memecahkan kesunyian diantara mereka. Shica mengerutkan keningnya.


       "Meminta maaf untuk apa?" tanya Shica. "Aku telah meminjam buku ini tanpa bilang dulu sama Mommy." kata Deva sambil memberikan bukunya pada Shica. Shica menerima buku yang berjudul Raihan & Shica. Shica menatap buku tersebut.


        "Sebenarnya aku sangat penasaran dengan Papa.. Jadi ketika aku menemukan buku ini, aku mengambilnya.. Kalo bilang dulu pada Mommy nanti Mommy gak mau minjemin buku ini." kata Deva. Shica tertawa.


        "Kau tidak perlu meminta maaf.. Buku ini untukmu saja." kata Shica. Deva menatap ibunya dengan mata berbinar-binar. "Benarkah? Terimakasih," kata Deva. Shica tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


      "Papa itu.. Baik kan, Mom? " tanya Deva. "Tentu saja." jawab Shica.


        Shica tertawa. "Sebenarnya aku juga tidak tahu.. Kenapa aku mencintainya.. Yang jelas dia selalu melindungiku dan membuatku selalu merasa aman jika bersamanya.. Dia sandaran bagiku dan aku tidak bisa tanpanya.." kata Shica. Deva tersenyum.


        "Lalu.. Apa yang membuat Mom mencintai Dad?" tanya Deva. Shica menarik napas sejenak. "Daddy-mu sangat peka.. Dia juga rela berkorban untuk kebahagiaan siapapun orang yang dia sayangi.. Dia sangat tegas, berkuasa dan adil." kata Shica.


       Deva tersenyum. "Kurasa aku tidak bisa periang seperti Papa atau tegas dan berkuasa seperti Dad.." kata Deva. Shica tersenyum kemudian membelai lembut rambut putranya.


       "Jadilah dirimu sendiri, nak.. Itu akan membuat Mom bahagia." kata Shica.


        "Aku merasa senang setelah tahu siapa Papaku sebenarnya. Tapi meskipun begitu, aku tetap sayang pada dad. Karena selama ini dad yang membantu Mom menjagaku sampai besar. Dad telah menjadi Papa untukku." kata Deva Shica tersenyum. Dia memberikan buku karyanya pada Deva. Deva menerimanya dan menatap sampul buku tersebut. Dia mengerutkan keningnya.


        "Ini.. Novel karya Mom?" tanya Deva. Shica tersenyum kemudian mengangguk. Terlihat sepasang sejoli yang saling bertatapan yang menghiasi sampul tersebut.


       "Ini adalah cerita lengkap yang sebenarnya. Cerita yang tanpa rekayasa. Anggap saja sebagai metamorfosa dari cerita Raihan & Shica." kata Shica. Deva mengangguk semangat.


       "Terimakasih," kata Deva. "Sama-sama." kata Shica.


       "Entah kenapa jika aku membaca novel ini, aku merasa begitu dekat dengan Papa.. Seolah aku masuk le dalam cerita ini dan rasanya aku bahagia sekali." kata Deva. Shica terlihat sedih. Dia mengusap lembut rambut putranya. "Papa selalu berada disini," kata Shica sambil menyentuh dada putranya.


        "Doakan Papamu setiap kau selesai shalat, maka Papamu akan bahagia di alam sana." kata Shica. Deva mengangguk. "Amiiinn.."


        "Ayo kita makan siang." kata Shica kemudian merangkul putranya dan berlalu meninggalkan kedua buku tersebut di meja.


        Sebuah tangan bercahaya menyentuh buku Don't Leave Me, senyuman terpatri jelas tersungging dibibirnya.


"I always in here.. "


DON'T LEAVE ME


by


Ucu Irna Marhamah


THE END


Thanks for you all