Don't Leave Me

Don't Leave Me
Keadaan Lexa



Wajah Erick panik. Dia tak mampu melihat wajah Lexa yang pucat dengan banyak darah mengalir dari hidungnya. Yang dia tahu adalah membawa Lexa sekuat tenaganya, menuruni jalan yang sedikit landai, memperhatikan setiap langkahnya agar dia tak gontai. Kursi roda Lexa dia lupakan, dia hanya ingin secepatnya membawa Lexa pulang agar mendapat pertolongan dari Angga ataupun dari Ibunya, Martha.


Erick berlari secepat kuda, beban yang dia bawa di tangan cukup ringan sehingga tak menyulitkannya untuk berlari cepat. Ya, tubuh Lexa semakin kurus. Wajahnya juga terlihat tirus, bahkan Erick bisa merasakan tulang punggung Lexa dengan jelas. Tapi wajah ayunya belum terkikis, masih terlihat anggun dan sendu.


Dengan napas yang tersengal, Erick berusaha menguasai diri sendiri agar tetap kuat di hadapan Lexa yang mulia terkulai. Dia terdengar mengerang kesakitan, dan dia juga terdengar mengigau. Memanggil sebutan Ibu, kadang menyebut Ratih, dan tak ketinggalan Lexa juga menyebut namanya. Entah kenapa jika Lexa memanggil nama Erick, Erick merasa lega. Erick pasti berpikir bahwa Lexa masih mengingatnya, atau dengan kata lain Erick adalah bagian penting dari perjalanan hidup Lexa.


"Tante Ratih...." Teriak Erick dari luar rumah.


Dengan napas yang masih memburu, berteriak memanggil nama Ratih ketika sudah sampai di depan rumah Lexa.


"Tante...." Teriak Erick lagi.


Dia sudah sampai di teras, sementara Ratih, Angga dan Martha langsung bergegas keluar begitu mendapat sinyal panggilan dari Erick.


Ratih begitu tercengang melihat pemandangan di depan matanya. Melihat Erick yang tergopoh-gopoh membawa Lexa dalam rengkuhannya bermandikan darah. Sementara Angga dengan sigap menggantikan Erick membawa Lexa dalam dekapannya.


Ratih sedikit limbung, mukanya langsung pucat pasi hampir mirip wajah Lexa sekarang. Tubuhnya seakan tak mampu berdiri kokoh. Untung ada Martha yang membantunya untuk tetap tegak. Kemudian sedikit mengarahkan tubuh Ratih agar mengikuti Angga dan Erick yang sudah masuk ke dalam rumah.


Erick mempersiapkan ranjang Lexa. Ranjangnya masih rapi, sehingga Erick hanya perlu mengarahkan Angga agar meletakkan Lexa di atas kasur dengan posisi yang pas untuk Lexa. Ratih terlihat masih syok. Erick tak mampu menjelaskan apa-apa saat ini kepada Ratih.


"Rick, ambil lap dan air hangat untuk membersihkan darah Lexa." Perintah Martha.


Angga masih sibuk menyiapkan selang infus dan peralatan medis lain yang sekiranya dapat membantunya memberikan pertolongan pertama kepada Lexa.


Martha masih mencoba menyadarkan Ratih yang jelas tidak bisa menerima kondisi Lexa seperti yang dia lihat sekarang. Lexa benar-benar memutih. Bibirnya, wajahnya dan telapak tangannya yang dia lihat saat Angga mencoba mengecek denyut nadi Lexa, terlihat sangat putih. Pucat. Pikiran Ratih benar-benar dibuat kalut. Dia hanya bisa menganga. Pandangannya fokus, tertuju ke arah tubuh Lexa. Kemudian sedikit kabur, lama-lama menjadi hilang dan gelap. Ratih pingsan.


****


"Lexa..." Lirih Ratih.


Dia masih belum sadar. Tenaganya masih lemah, tapi tak henti-hentinya menyebut nama keponakan kesayangannya itu.


"Lexa..." Lirih Ratih lagi.


"Tante..." Timpal Erick.


Erick mencoba membangunkan Ratih.


Perlahan Ratih mulai membuka matanya. Dengan susah payah Ratih mencoba untuk sadar, mengamati sekeliling berharap masih menemukan Lexa di sampingnya.


"Lexa..." Nada suaranya terdengar getir bagi Erick.


"Lexa... Mana Lexa, Rick?" Tanya Ratih yang masih lemah.


Erick sampai tak kuasa menatap Ratih. Dia membuang muka di hadapan Ratih. Hati Erick tiba-tiba terasa sakit dan penuh sesak.


"Dimana Lexa, Rick?" Tanya Ratih lagi.


Ratih memegang kepalanya yang terasa begitu berat dan pening. Tapi dia berusaha untuk lekas sadar dan mencari tahu sendiri kondisi Lexa. Badannya yang masih lemah pun dia paksa untuk duduk.


Erick yang mengetahui bahwa Ratih ingin duduk, langsung membantunya agar Ratih bisa duduk dengan baik.


"Tante istirahat saja dulu." Tukas Erick.


Ratih dengan cepat merespon perintah Erick dengan menggelengkan kepalanya.


"Tante ingin melihat kondisi Lexa." Tegas Ratih yang mencoba untuk berdiri sekarang.


"Tante, Lexa sedang istirahat. Ada Om Angga juga yang masih memeriksanya. Tante jangan khawatir, ada Mama yang ikut membantu Om Angga." Jelas Erick kepada Ratih, berharap Ratih hanya rebahan saja untuk memulihkan tenaganya.


Tapi ternyata tetap tidak bisa. Ratih keras kepala, dia ingin melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri kondisi Lexa agar dia tenang.


"Tante ingin melihat Lexa, Rick. Dia pasti membutuhkan tante di sisinya." Tegas Ratih.


Dengan langkah gontai Ratih menemui Lexa yang tengah berada di kamarnya, didampingi Erick yang setia mengawasi langkah Ratih.


Pintu kamar Lexa terbuka. Sosok Angga yang pertama kali Ratih lihat, melempar senyum menawan kepadanya. Ratih membalas secukupnya, kemudian menyusuri pandang lagi di setiap sudut kamar Lexa. Ada Martha yang duduk di pinggir kasur, membawa sebuah handuk berwarna putih nampaknya dia gunakan untuk mengelap tubuh Lexa. Sampai akhirnya sosok yang Ratih cemaskan terlihat dalam pandangannya. Terbujur lemah tak berdaya di ranjang. Dengan selang infus di tangan dan alat bantu pernapasan yang berbentuk selang mengganjal di hidung mancungnya. Lexa nampak sayu dan pucat, sehingga Ratih hanya bisa meneteskan airmata merasa tak berguna melihat kondisi keponakannya yang tampak tak berdaya.


****


Waktu matahari terbit sudah habis, berganti dengan sinar rembulan yang sinarnya meredup tertutup awan. Langit mendung tak tampak jelas karena warnanya berbaur dengan kegelapan malam itu. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ratih, Angga, Martha dan Erick sedang berada di ruang keluarga setelah tadi bersantap makan malam bersama masakan Martha di ruang makan.


Keempatnya terlihat cukup akrab. Martha menceritakan pengalaman-pengalaman luar biasa ketika menjadi seorang asisten perawat di sebuah rumah sakit. Obrolan mereka cukup 'nyambung', karena Angga berasal dari dunia kedokteran, Erick besar di lingkungan pegawai kesehatan, sementara Ratih sudah terbiasa dengan dunia medis semenjak sering bolak-balik mengurus Lexa di rumah sakit. Lama mereka bercengkerama, kemudian Martha meminta izin untuk pulang dulu ke rumah mempersiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan, karena malam ini dia dan Erick akan bermalam di rumah Lexa mengingat kondisi Lexa yang masih belum stabil.


Martha sudah berada di rumahnya, sementara Ratih sedang berada di kamar Lexa. Tinggal Erick dan Angga yang tersisa. Obrolan mereka mulai sedikit kaku, karena Erick belum lama mengenal Angga. Pembicaraan mereka hanya seputar pendidikan dan aktivitas Erick lainnya di luar sekolah.


****


Malam sudah semakin larut tetapi langit terdengar tidak bersahabat, gemuruhnya sampai memecah keheningan malam itu. Erick sampai terperanjat dibuatnya. Dia tertidur di kursi depan televisi yang masih menyala. Di bawah kursinya ada Dokter Angga yang tertidur beralaskan karpet tebal berwarna merah. Begitu Erick sadar dia langsung mematikan televisi, lalu beranjak menuju kamar Lexa. Hendak melihat kondisi Lexa.


Ratih tertidur di samping Lexa. Sikap tidurnya seperti seorang anak yang sedang bermanja di lengan Ibu. Sementara Martha terlihat tidur di karpet bulu abu-abu di pojok kamar Lexa dengan sebuah selimut yang menutupi badannya. Martha dan Ratih terlihat sama-sama nyenyak. Begitupun Lexa yang dia amati dari ambang pintu, tertidur pulas. Erick masih bisa lihat tarikan napasnya, hal itu membuat Erick merasa lega. Kemudian melenggang meninggalkan kamar Lexa untuk melanjutkan tidurnya kembali. Erick merasa langit malam itu sudah mulai menitikkan butiran air hujan lembut yang membuat suasana malam menjadi syahdu.