Don't Leave Me

Don't Leave Me
Kegelisahan Ratih



Ratih tersenyum menyapa keponakannya yang baru saja pulang dari sekolah.


"Pulang cepat, Nak?"


Tanya Ratih yang dijawab anggukan kecil oleh Lexa.


"Mau makan? Tante siapin makanan ya?!"


"Ga usah, Tan... Tadi aku baru makan bekal yang tante bawa."


Jawab Lexa cepat.


Ratih tersenyum girang, Lexa sedikit berubah. Dia berani menjawab dengan mengutarakan alasan. Hal yang jarang sekali Lexa lakukan.


"Lihatlah, Bu Irma menitipkan seragam ini pas tante mau pulang."


Ratih menunjukkan sebuah kain abu-abu bermotif kotak-kotak yang menjadi seragam khas sekolah Lexa sekarang.


"Tante akan jahitkan ini untukmu."


Senyum Ratih mengembang diikuti senyum Lexa yang juga mekar bersamanya.


"Lexa masuk dulu, tante..."


Sahut Lexa yang ingin segera berlalu meninggalkan Ratih yang masih terlihat gembira. Lexa berusaha menutupi kesalahtingkahannya di depan Ratih atas sikap Erick tadi.


Sementara melihat Lexa yang sudah memasuki kamarnya, Ratih menunjukkan senyum haru. Air mata hampir saja jatuh di pipinya. Melihat Lexa yang begitu terbuka dengan dirinya sekarang. Sungguh hal yang lama dia inginkan. Kadang terpikir dalam lamunannya, kenapa tidak sedari dulu dia boyong Lexa ke tempat yang jauh. Lari dari segala beban yang mereka pikul sendiri dan berjuang bersama menata kehidupan yang layak.


Akh... Ratih mulai menyeka air matanya. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba muncul dalam benaknya, melihat Lexa yang berjalan beriringan dengan seorang lelaki teman sekolahnya yang sekaligus tetangganya.


Ya, Ratih melihat Lexa bersama dengan Erick. Ratih terlihat tidak senang atau lebih tepatnya khawatir dengan Lexa. Tapi buru-buru dia tepis anggapannya itu. Mungkin dia hanya berlebihan menanggapinya. Ratih mencoba berpikir positif, mungkin laki-laki itu bisa menjadi teman Lexa. Akan lebih mudah jika Lexa mendapat teman baru pikirnya. Namun kemudian raut wajahnya terlihat berubah menjadi suram, sambil sesekali menutup mata mencoba menghilangkan perasaan was-was yang tiba-tiba bergelayut dalam hatinya.


****


Lexa sudah selesai belajar. Setelah makan siang dan mencuci semua peralatan makannya dengan mesin pensteril, dia langsung sibuk dengan buku-buku belajarnya, sampai tak terasa waktu sudah hampir sore. Sementara Ratih masih sibuk di teras belakang rumahnya bersama seorang tukang kebun yang dia sewa untuk membereskan taman di belakang rumahnya.


Taman belakang rumahnya berbatasan langsung dengan dinding kokoh sebuah rumah yang menghadap berlawanan dengan rumah mereka, sementara di samping rumah mereka ada jalan yang ditumbuhi pagar kayu menjadi pemisah antara rumah Lexa dan Erick dan di sepanjang pagarnya tertanam bunga lavender yang bermekaran indah. Jaraknya cukup dekat, sekitar 1 sampai 2 meter sehingga Erick bisa dengan leluasa mengamati Lexa dari lantai atas kamarnya.


Lexa melihat Ratih yang memberi komando kepada tukang kebun dari jendela di dekat dapur. Dia lihat ayunan panjang lapuk kini sudah terlihat kokoh. Terlihat kalau mereka sudah memperbaikinya. Ratih mulai menanam beberapa jenis bunga yang dia beli dari toko bunga pagi tadi saat perjalanan pulang dari sekolah Lexa. Ada bunga mawar berbagai warna, ada bunga matahari, ada bunga lavender yang sama yang dia lihat dari balik jendela kamarnya kemarin malam. Mungkin Martha memberikan bibit bunga itu kepada Ratih secara suka rela.


Sungguh indah pemandangan di belakang rumahnya kini. Walaupun masih belum sempurna, tapi Lexa sudah merasakan keindahannya dalam sekejap terlebih saat sinar temaram senja sore itu mulai turun menyapa mereka.


****


Lexa bersiap tidur setelah lelah duduk di atas bangku dekat meja belajarnya. Dia agak merentangkan tangannya untuk melonggarkan otot di lengannya, kemudian mulai merapikan buku-buku yang akan dia bawa besok pagi.


Pandangannya tertuju pada secarik kertas yang bertumpuk di dalam tas Lexa. Dia sadar bahwa kertas itu Lexa dapat dari Erick yang tadi mengganggunya saat berkonsentrasi belajar di kelas.


Lexa coba untuk membuka lipatan kertas yang Erick berikan. Ada nomor dalam setiap kertas yang dia lemparkan. Erick menulis nomor itu dengan jelas, sehingga Lexa bisa membacanya dan mulai membuka secara berurutan.


Kertas 1


'Aku Erick. Tetanggamu.'


Lexa sedikit terkejut membacanya.


Kertas 2


'Erick Erlangga. Ingat ya..'


Sedikit berekspresi geli.


Kertas 3


'Gambar lelaki dengan potongan rambut gondrong'


Gambarnya terlihat lucu.


Kertas 4


'Gambar seorang laki-laki dengan sungut di kepala'


Lexa tersenyum dibuatnya.


'Gambar gadis di sebuah jendela'


Lexa terpaku pada gambar di kertas yang ini. Lexa paham, gadis yang di gambar pastilah dirinya. Di gambar, si gadis terlihat ceria dengan mata yang Erick gambar sengaja berkilauan. Lexa tersentak melihatnya. Tidak ada perasaan yang bisa dia gambarkan. Dia tetap diam dalam pikirannya sendiri, sambil menatap gambar itu penuh makna.


****


Erick sibuk melihat dari balik jendela kamarnya seperti mengharapkan sesuatu muncul dari arah yang sedari tadi dia amati, yaitu jendela kamar Lexa. Dia masih belum bosan, walaupun sudah terasa lama dia mengamati tapi hasilnya masih nihil.


Erick bolak-balik dari kursi ke ranjang. Dari duduk kemudian rebahan. Entah apa yang dia tunggu. Sampai akhirnya Martha dengan berani melongok kamar Erick yang masih menyala.


"Belum tidur??"


Tanya Martha.


"Belum, Ma... Masih belum ngantuk."


Jawab Erick yang sedang berbaring dengan gitar di tangannya.


"Kenapa belum tidur? Udah malam loh, nanti telat ke Sekolah."


Ucap Martha yang masih dalam posisi melongok kamar Erick.


"Iya, Mamaa...."


Jawab Erick santai. Sementara Martha berlalu menuju kamarnya meninggalkan sang anak yang masih bermain dengan gitarnya.


'Kreekkk'


Suara itu segera merubah posisi Erick yang bermalas-malasan di kasur menjadi berdiri tegap di samping jendela kamarnya.


Suara dari Jendela kamar Lexa memang khas, karena suaranya berdecit agak keras, sepertinya kayu-kayu jendelanya agak usang saat pemilik lama meninggalkannya dan belum sempat Ratih benahi karena bukan merupakan prioritas utamanya. Bagi Ratih hal yang terpenting adalah makan sehari-hari, kebutuhan Lexa, peralatan jahit dan tanggungan lain yang mendesak. Jadi untuk membenahi bagian-bagian rumah yang dulu ditinggalkan pemiliknya tidak dia risaukan, terkecuali halaman belakang rumah yang memang sengaja Ratih siapkan untuk Lexa agar Lexa tidak bosan selama berada di rumah.


Erick menatap lekat pemandangan di depan matanya. Jelas sekali ada rasa puas tampak di pelupuk mata tajamnya. Sadar yang dia cari sudah hadir, Erick pun tersenyum. Dan langit malam menjadi saksi kepuasan Erick menatap wajah gadis manis yang menarik perhatiannya.


****


Pagi sudah datang, mentari tak ragu lagi menyerobot masuk ke ruangan kamar Lexa lewat jendela yang kini dia biarkan terbuka lebar. Angin malam tak menggetarkan tubuh kurusnya. Lexa malah senantiasa menikmati semilir angin yang masuk ke dalam ruangannya. Dia merasa segar seakan kepenatan dalam dirinya ikut terbang tertiup angin. Walaupun kadang selimut tebal menutupi tubuhnya di setiap malam, tapi Lexa tetap bisa tertidur pulas di ranjangnya. Dan saat pagi menyapa, dia tahu bahwa hari ini dia yakin masih bisa menikmati hidup yang Kuasa berikan untuknya.


Lexa dan Ratih sudah bersiap untuk ke sekolah. Lexa tidak meminta Ratih untuk mengantarnya, tapi Ratih yang sejak kemarin merasa khawatir tidak kuasa ingin menemaninya berangkat ke sekolah. Lexa pun tak kuasa juga untuk menolak.


Setelah mengunci pintu, Ratih segera menyusul Lexa yang sudah berdiri di teras menunggunya. Keduanya melangkah bersama menuju sekolah Lexa.


Dari jauh sudah terlihat seorang remaja laki-laki sedang berdiri seperti menunggu seseorang dan Lexa sudah paham siapa remaja itu. Lexa sedikit salah tingkah dibuatnya. Ratih merasakan kegelisahan Lexa, tapi Ratih memasang wajah polos seperti tidak tahu apa-apa.


"Pagi tante..."


Sapa remaja itu kepada Ratih dan Lexa yang kini sudah berada di dekatnya.


"Pagi, Nak..."


Jawab Ratih halus.


"Saya Erick tante, teman satu kelas Lexa."


Sapa Erick yang langsung menyalami tangan Ratih.


Ratih dibuat kaget dengan sikap Erick. Dia hanya membalas dengan anggukan yang sedikit tersendat. Memang penuh kejutan remaja ini.


"Tante mau nganter Lexa ke Sekolah?"


Tanya Erick dengan muka polosnya. Dan Ratih masih menjawab dengan gerakan kepalanya yamg naik turun. Masih terlihat terkejut akan sikap Erick yang menyenangkan, jauh dari pikirannya kemarin yang membuat hatinya kalut.


"Ayo, tante.. Kita berangkat bersama."


Tangan Erick mempersilahkan Ratih dan Lexa untuk berjalan. Tak berselang lama, Erick pun menyusul dan mengimbangi langkah kedua wanita itu.


Erick banyak bercerita tentang sekolahnya, tak lupa dia juga menceritakan bagaimana lingkungan tempat tinggalnya. Pun tidak ketinggalan dia menceritakan keluarganya, tentang Martha yang seorang single parent setelah bercerai dengan suaminya yang kini sudah memiliki keluarga baru. Tak lupa Erick juga memperkenalkan Andre kakaknya yang sedang kuliah di Surabaya. Begitu terbukanya Erick kepada Ratih dan Lexa, seperti telah menemukan teman curhat yang bisa diajak berbagi.


Ratih menimpali Erick sebisanya sambil berusaha menilai sosok Erick yang kini menarik perhatiannya. Sementara Lexa terlihat mendengarkan dengan seksama setiap detail ucapan Erick, seperti merekamnya untuk dia ingat sendiri. Sesekali Ratih juga menunjukkan raut kekaguman kepada Erick. Benar-benar di luar pemikirannya. Ratih yang semula was-was, kini agak sedikit melunak hatinya melihat sikap Erick yang begitu menyenangkan.


Dan tanpa sadar ketiganya kini sudah berjalan beriringan, melangkahkan kaki senada mengikuti arah kehidupan yang membawa mereka ke tempat tujuan.