
Erick benar-benar hilang dari pandangan mata Ratih yang semakin sayu, tubuh Erick sudah sempurna masuk ke dalam rumahnya.
Ratih langsung lemas, lunglai tak berdaya. Angga sedikit panik melihat Ratih yang tiba-tiba saja hampir roboh, dan reflek langsung memapahnya untuk segera masuk ke dalam.
Angga dudukkan Ratih di kursi tamu. Tangis Ratih pecah. Meremas ujung baju yang dia kenakan.
"Kenapa??" Tanya Angga heran.
Tapi Ratih masih saja terisak. Tangisnya sangat memilukan hati.
"Kamu kenapa Ratih? Lexa baik-baik saja kan?" Angga semakin dibuat penasaran oleh tangis Ratih.
Pertanyaan penasaran Angga belum terjawab oleh Ratih. Akhirnya dia putuskan sendiri untuk melihat kondisi Lexa di dalam kamarnya.
Pintu kamar Lexa pelan sekali Angga buka, sambil terus mengambil napas dalam.
'Kreekkk'
Angga mulai masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat istirahat Lexa. Pandangannya langsung menuju ranjang tempat Lexa tertidur.
Wajah Lexa masih pucat. Bahkan terlalu pucat. Angga yakinkan langkahnya menuju tempat Lexa berada. Memastikan sendiri kondisi Lexa sesuai dengan kacamata medis.
Angga mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Lexa. Keningnya sedikit berkerut saat mencoba memastikan denyut nadi Lexa yang dia rasakan lewat jari jemarinya.
Berulang kali Angga memastikannya. Kemudian raut wajahnya berubah. Tampak gurat lega terpancar dari wajahnya yang kalem dengan aksesoris kacamata yang dia kenakan.
Tak lupa Angga juga mengecek kedua bola mata Lexa yang bersembunyi di dalam kelopak matanya yang terlihat cekung. Aman. Lexa masih ada bersamanya. Dia hanya berisitirahat.
Angga merapikan kembali selimut Lexa yang sempat dia singkap untuk memastikan denyut nadi di pergelangan tangannya. Kemudian memilih menemani Ratih yang masih sesenggukan.
"Ratih... Kenapa kamu?" Tanya Angga lagi.
Masih penasaran apa yang membuat wanita yang disayanginya menangis tersedu.
Ratih mengambil napas dalam, berusaha untuk menghentikan tangisnya untuk menjelaskan kepada Angga apa yang menjadi alasannya sampai meneteskan airmata.
"Lexa muntah darah. Tangannya dingin seperti es. Wajahnya semakin pucat. Aku takut, Ngga.." Ratih menjelaskan dengan nada yang sangat berat menahan tangis.
Angga memahami betul apa yang dia rasakan, terlebih lagi dia sudah memastikan sendiri bagaimana keadaan Lexa. Angga hanya mengucapkan kata sabar berulang kali sambil menepuk punggung Ratih perlahan. Dan Ratih meneruskan tangisannya kembali.
****
Erick masih belum bisa memejamkan matanya yang tajam tapi hangat. Sudah dia coba untuk memejamkan mata agar bisa terbawa ke alam mimpi dan beristirahat dengan layak malam itu, tapi belum berhasil. Rasa kantuk seperti tidak datang menghampiri matanya. Mungkin karena pikirannya masih berkeliaran kemana-kemana, sehingga membuat hatinya tak tenang.
Erick juga hampir bergulang-guling saja di atas kasur empuknya. Seperti mencari posisi yang pas untuk tidur nyaman yang dia inginkan, tapi tetap saja tidak membuahkan hasil.
Akhirnya Erick putuskan untuk duduk setelah mendengus kasar mengutuk pikirannya yang tidak mau tenang sehingga membuat dirinya tak mengantuk dan susah tidur.
Matanya langsung tertuju ke arah jendela yang masih terbuka. Lalu Erick berinisiatif untuk menghampiri sang jendela berharap ada kekuatan yang bisa membuatnya tertidur dengan pikiran tentram.
Dia amati jendela kamar Lexa dalam-dalam dengan tatapan penuh harap. Banyak sekali permasalahan yang seakan tersirat dalam tatapan sendunya itu. Erick benar-benar terpaku menatap jendela kamar Lexa yang tertutup rapat itu. Bahkan suara gelegar petir dan guntur tak bisa menggoyahkan pandangan Erick yang lekat seperti malam hari itu.
Rintik hujan sudah mulai turun agak kasar. Sedikit membuat kulit tangan Erick yang dia tenggerkan di kayu jendela terkena cipratan hujan malam itu. Tapi beruntung, Erick jadi tersadar dan mulai berpikir jernih. Dia hela napasnya dalam-dalam. Mencoba menetralkan isi pikirannya agar tidak semakin kalut.
Erick perlahan mundur menjauh dari jendela kamarnya hendak merebahkan diri ke atas ranjang yang sudah menantinya. Tapi terhenti sejenak karena tangannya menyentuh pot bunga berwarna kuning yang menyejukkan hati.
Lamunannya kembali beradu. Kali ini bukan dengan jendela kamar Lexa tetapi dengan bunga daisy yang menawan itu. Dia bawa sang pot yang bertahtakan bunga daisy ke arah meja belajar Erick yang sedikit berantakan.
Dipandanginya bunga daisy miliknya penuh rasa. Badannya dia sandarkan di kursi belajarnya yang mempunyai empat roda di kaki-kakinya. Sesekali kursi itu dia gerak memutar searah jarum, sehingga berputar juga badannya mengikuti pergerakan kursi miliknya.
Lama sejak Erick bermain-main dengan kursinya, sampai akhirnya dia benar-benar terlelap dengan kepala yang sedikit mendongak dan kaki terbuka lebar dengan telapak kakinya menyentuh lantai keramik. Pasti karena kelelahan yang begitu menguras tenaga, sampai membuat Erick tertidur dengan ekspresi mulut menganga.
*
"Lexa, mau kemana?" Tanya Erick kepada Lexa yang berjalan anggun dengan gaun berwarna putih bersih.
Lexa melempar senyum ke arah Erick.
"Lexa, mau kemana?" Tanya Erick lagi.
Lexa kini tak menoleh, dia melenggang pergi menjauh dari Erick membuat Erick bergegas menyusul Lexa.
"Lexa, tunggu!" Ucap Erick yang berhasil memegang tangan Lexa.
Lexa pun berhenti melenggang. Dia berbalik ke arah Erick, masih melepas senyum manis untuk Erick.
Belum lagi gaun putih bersih milik Lexa yang terlihat pas dikenakan. Tubuhnya tak begitu kurus seperti yang terakhir kali dia lihat. Pipinya agak berisi, bisa untuk Erick cubit.
"Mau kemana?" Erick masih penasaran.
Tatapan Erick mulai menunjukkan rasa khawatir.
Lexa tersenyum menangkap sinyal perasaan Erick ternyata.
Entah ada perasaan apa tiba-tiba hatinya berdesir hebat ketika tangan mulus Lexa menyentuh pipinya. Wajah Erick terlihat memerah, merasa malu tetapi menikmati sentuhan tangan Lexa.
Lexa masih saja memasang senyum hangat untuknya, sambil terus mengelus pipi Erick. Diperlakukan seperti itu oleh Lexa membuat Erick sedikit memberanikan diri untuk membalas sentuhan Lexa.
Dengan gerakan terbata-bata, Erick beranikan diri memegang tangan Lexa yang masih setia menyentuh pipinya. Dengan perlahan Erick menyentuh tangan Lexa yang terasa hangat.
Tidak ada ekspresi matah dalam raut wajah Lexa, sehingga membuat Erick memgembangkan senyum sempurna untuk Lexa.
Perlahan tapi pasti Erick mulai menarik tubuh Lexa dalam dekapannya. Ya, Erick akhirnya bisa memeluk tubuh Lexa. Erick sampai merasakan haru yang membuncah sampai ke ubun-ubun.
Mata Erick terpejam menikmati kehangatan tubuh Lexa yang kini berada dalam dekapan tangannya. Wangi tubuh Lexa benar-benar bisa dicium dengan baik, bukan hanya samar-samar lagi.
Erick merengkuh tubuh mungil Lexa dengan sangat erat. Rambut hitam Lexa juga tidak dia lewatkan, Erick mengelus rambut Lexa penuh kasih sayang. Lexa sama sekali tidak menolak, bahkan Lexa membalas dekapan Erick dengan sempurna.
Erick merasakan tangan kecil Lexa mengelus punggungnya. Dia juga membenamkan wajahnya di dada Erick. Hal ini membuat Erick semakin percaya diri, lebih mengeratkan dekapannya dan mengecup rambut Lexa hangat sehingga membuat Erick benar-benar merasa bahagia.
"Erick..." Sapa Lexa hangat.
"Mmm.." Erick menjawab begitu saja.
Dengan mata yang masih terpejam merasakan kebahagiaan yang Lexa berikan untuknya.
"Terimakasih..." Ucap Lexa.
Erick membalasnya dengan mempererat dekapannya.
"Erick..." Sapa Lexa lagi.
"Iya..." Erick pun menjawab lagi.
Tapi Lexa melepaskan rangkulannya dari tubuh Erick sehingga Erick pun melakukan hal yang sama.
Kedua mata muda-mudi itu bertemu untuk saling menatap. Pandangan mata yang bertemu itu sangat dalam seperti menumpahkan segala rasa yang ada dalam hati mereka.
Erick semakin berani, mendekatkan wajahnya ke wajah Lexa yang terlihat sangat berseri. Dia belai pipi Lexa dengan lembut. Lexa sampai memejamkan matanya merasakan sentuhan lembut Erick, membuat Erick lebih berani. Dia langsung mengecup bibir merah muda Lexa.
Tak ada gairah atau nafsu membara dalam keduanya. Mereka hanya saling mengecup saja. Sampai akhirnya Lexa menundukkan kepala menyudahi aktivitas mereka.
Erick dan Lexa merasa malu, tapi Erick bisa menguasai diri. Dia masih menatap Lexa lekat. Dia melihat butiran airmata sudah mengalir ke pipinya yang halus. Dengan cepat Erick hapus airmata itu dari wajah ayu Lexa.
Lexa menahan tangan Erick di pipinya. Dengan tatapan sendu Lexa menatap Erick.
"Erick, aku ingin pergi..." Ucap Lexa dengan sangat jelas.
Erick tertegun. Apa yang dikatakan Lexa tadi? Dia tak paham.
Lexa kini yang berani mendekatkan diri ke wajah tampan Erick. Dia mengecup pipi Erick walau dengan kaki yang bertumpu pada jari jemari. Lexa mendaratkan sebuah kecupan singkat tapi dalam. Kemudian berlalu meninggalkan Erick yang mematung.
Erick masih diam. Tubuhnya seperti tak bisa dia gerakkan dia hanya bisa terpaku mengantat tubuh Lexa yang semakin jauh dari jangkauannya.
*
"Lexa..." Gumam Erick.
"Tunggu Lexa..." Tangannya terangkat hendak merengkuh sesuatu.
Tapi pot daisy miliknya yang malah terdengar jatuh ke lantai.
"Lexa..." Spontan Erick langsung terbangun.
Mendapati dirinya yang ternyata tertidur di kursi belajarnya. Pot bunga daisy sudah terkulai di lantai.
Segera Erick memungutnya, memastikan bunga itu masuh aman.
Matanya berputar ke sekeliling, mencari tempat yang tadi masih dia rasakan. Menyadarkan dirinya, ternyata semuanya hanya mimpi belaka.