Don't Leave Me

Don't Leave Me
Kenapa Tuhan?



Semua mata teman-teman Erick terbelalak. Termasuk Ana yang sampai menutup mulutnya yang tiba-tiba saja menganga mendengar berita bak petir di siang bolong.


Sementara Ari hanya bisa memejamkan matanya. Menyimpan penyesalan yang dalam. Dia tak begitu kaget mendengar kabar itu. Raut wajah kagetnya sudah dia habiskan saat bertemu dengan Irma tadi sebelum masuk ke ruang kelas. Helen pun tak kalah kaget mendengar kabar dari Irma. Dia sampai tak kuasa menahan airmatanya.


Suasana kelas mendadak menjadi ramai karena isak tangis. Irma pun sampai tak kuasa lagi berdiri dengan kedua kakinya, dia terduduk di kursinya.


Di pojok, sosok Erick masih terpaku. Raut mukanya masih datar. Tatapan tajamnya kini sudah berubah kosong. Tapi gigi dalam mulutnya tak berhenti bergerak. Geram rasanya. Tangannya pun mengepal, entah apa yang Erick rasakan.


Erick merasa muak dengan pemandangan di kelasnya saat ini. Akhirnya dia putuskan untuk meraih tas usang kesayangannya.


"Erick pamit pulang dulu, Bu." Izin Erick, sebagai bukti bahwa Erick masih menghargai Irma.


Erick melenggang keluar ruang kelas. Jalannya santai tapi mantap, menyusuri setiap koridor di sekolahnya sampai menuju gerbang utama sekolah.


Setelah tubuhnya keluar sempurna dari sekolah. Erick langsung berlari sekencang yang dia mampu. Erick yang tadinya santai, kini berubah menjadi orang yang tidak waras.


Dia belari bak kuda liar, menerjang apapun yang ada di hadapannya. Matanya memerah. Raut wajahnya pun juga sama.


Erick menabrak orang yang sedang berjalan di depannya. Erick tak sengaja. Orangnya sempat oleng, untung tak sampai jatuh.


"Maaf, Pak." Ucap Erick sambil memungut sebuah kardus yang tergolek di trotoar.


"Hati-hati, dek!" Ucap sang pria dengan kasar.


Erick benar-benar mengucapkan permintaan maaf dengan tulus. Erick sampai meneteskan airmata.


Pria di hadapannya merasa heran melihat Erick menangis sampai sesenggukkan.


"Dek, sudah tidak apa-apa. Saya baik-baik saja." Kata sang Pria sambil menepuk punggung Erick yang sedang menunduk.


"Sudah, lanjutkan perjalananmu." Pinta sang pria.


Erick masih tersedu. Tapi kini tubuhnya sudah dia tegakkan. Matanya benar-benar sembab. Wajahnya menyiratkan rasa haru dan pilu.


Pria yang tadi ditabrak Erick sudah menaiki motor dan pergi meninggalkan Erick. Erick menepi di sebuah tembok ruko yang masih tertutup rapat. Erick duduk di sana, sambil menutup wajahnya. Lama Erick diam disana.


Erick sadar, tujuannya bukan berhenti disini, perjalanannya masih panjang. Dengan langkah pasti tak seperti kuda liar, Erick mulai menyusuri setiap jalan menuju rumahnya. Kemudian mengingat kembali bahwa jalan ini pernah dia lalui bersama Lexa.


****


Erick dengan langkahnya yang pasti, kini sudah sampai di tujuan yaitu rumah Lexa. Di teras rumah Lexa sudah banyak kursi dan perabotan yang sudah berada di luar, tujuannya agar di dalam rumahnya menjadi lega.


Erick tampak ragu untuk melangkahkan kaki ke dalam rumah yang sudah terpasang bendera kuning. Napasnya menjadi sangat tidak beraturan, padahal dia sudah tidak berlari kencang tadi. Jantung Erick juga berirama tidak menentu. Erick terlihat gusar.


Dengan menelan ludahnya pelan, perlahan dia mulai melangkahkan kaki yang masih berbalut sepatu untuk menginjak teras depan rumah Ratih.


Baru satu tangga dia tapaki, Erick sudah menciut. Erick malah melangkah mundur. Rasanya Erick tidak berani menghadapi kenyataan yang akan dia lihat di dalam sana.


Saat ini dia hanya0 ingin berbalik dan berlari entah kemana asal pergi jauh dari tempat ini, tetapi suara Martha menghentikannya. Martha terlihat mengenakan blus berwarna hitam dengan celana bahan juga berwarna hitam. Sebuah selendang juga terlihat menutup rambutnya.


"Erick.." Sapa Martha pelan dengan wajahnya yang sembab.


Erick menatap Martha dengan tatapan berkaca-kaca. Erick tak kuasa menahan perasaannya lagi, akhirnya Martha hanya bisa menyambutnya dengan pelukan hangat untuk anak laki-laki keduanya itu.


Tanpa ada ucapan apapun yang keluar dari Martha, dia menuntun Erick untuk masuk ke dalam rumah Ratih tanpa ada penolakan dari Erick yang sepertinya sudah pasrah.


Erick berjalan dengan digandeng Martha, melewati ruang tamu yang sudah kosong tidak ada perabotan. Kemudian melirik Angga yang sedang mengobrol dengan Pak RT rupanya. Angga belum sempat melihat kedatangannya, karena asyik membahas hal serius dengan Pak RT.


Kini Erick sudah diajak Martha untuk berhenti. Di salah satu ruangan yang sering dia kunjungi untuk berjumpa dengan Lexa, yaitu kamar Lexa. Erick belum berani menatap kamar Lexa yang sudah tercium bau wangi.


Martha melihat anaknya memejamkan mata, pertanda tak berani menatap ke dalam kamar Lexa. Martha pun tak kuasa memeluk anak laki-lakinya itu. Dielusnya punggung Erick dan dia kecup rambut Erick yang masih kaku karena gel rambut yang tadi dia pakai sebelum berangkat ke sekolah.


"Sabar ya, Nak... Kamu harus ikhlas. Ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa.." Ucap Martha dengan suara parau menahan isak tangis agar tidak pecah dihadapan Erick.


Erick tak menjawab, matanya masih saja terpejam.


"Bu Martha, saya sudah selesai dengan tugas saya." Ucap seorang perempuan yang masih terlihat muda kepada Martha.


"Oh ya... Silahkan, kamu boleh pulang." Jawab Martha.


Perempuan itu adalah petugas puskesmas tempat Martha bekerja. Rupanya Martha meminta bantuannya untuk mensucikan dan mendandani Lexa.


Martha akhirnya benar-benar menarik Erick untuk masuk ke dalam kamar Lexa. Disana ada Ratih yang masih terduduk di kursi belajar Lexa. Wajahnya sungguh menyiratkan kepiluan yang mendalam. Erick sampai tak kuasa melihatnya.


"Rick... Sapa Lexa untuk yang terakhir kalinya." Pinta Martha dengan linangan airmata.


Tapi Erick masih belum bisa melihat Lexa yang sudah berada dalam kotak besar. Erick masih menatap Martha kemudian dia malah mengalihkan pandangannya ke arah Ratih yang sayu.


Erick melangkah pasti ke arah Ratih berada. Dia bersimpuh di hadapan Ratih. Menggenggam tangan Ratih yang basah karena lelehan airmata. Ratih masih menatap kosong. Sampai akhirnya dia tersadar akan keberadaan Erick yang dengan lembut menyeka airmatanya.


Kedua mata Erick dan Ratih bertemu. Erick melempar senyum penuh ketegaran di hadapan Ratih. Sementara Ratih mengembangkan senyum kepada Erick dengan airmata yang malah tambah berderai.


Erick langsung memeluknya, sehingga Ratih tak kuasa lagi menahan duka dalam batinnya. Tangisnya pecah seketika. Membuat ngilu di hati Erick. Tangis Ratih benar-benar menyayat hatinya. Martha juga tak kuasa diam mematung menyaksikan Ratih menangis. Dia hampiri Erick dan Ratih, kemudian memeluk mereka. Merasakan kepiluan yang sama seperti yang Ratih dan Erick rasakan.


****


Erick berdiri di dekat jendela. Pandangan matanya tertuju ke arah jendela kamar Lexa yang tertutup. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi raut murung jelas tampak disana.


"Rick..." Sapa Martha lembut.


Dia menghampiri Erick yang sedari tadi tak menjawab sahutannya.


"Kamu yakin tidak mau melihat Lexa untuk terakhir kalinya?" Tanya Martha.


Erick tak menjawab. Dia seperti mengunci rapat mulutnya.


Martha merasa khawatir kepada Erick. Dia masih belum melihat Lexa. Tadi sesaat mereka berpelukan bersama Ratih, Erick memilih untuk berlalu dari kamar Lexa dan bergegas pulang ke rumah tanpa menoleh ke arah Lexa berada.


"Rick.. Lexa akan dimakamkan hari ini juga. Jam sepuluh. Ini sudah jam setengah sepuluh, kamu beneran tidak mau melihat Lexa??" Tanya Martha meyakinkan Erick.


Tapi Erick masih tak bersuara. Dia menunjukkan sikap keras kepalanya kini. Martha menyerah. Dia hanya menepuk pundak Erick dan berlalu meninggalkannya menuju rumah Lexa, karena Ratih lebih membutuhkannya saat ini.


Erick meremas jendela yang menjadi pijakan jemarinya. Tatapannya berubah tajam. Erick merasa marah. Entah dia ingin merasa marah kepada siapa. Mungkin dia marah kepada takdir.


Erick memandang jauh ke atas langit yang mulai sedikit menghitam. Dia ingin menumpahkan rasa yang ada di hatinya, tapi dia tak kuasa. Akhirnya Erick hanya berteriak, kemudian memukul kepalanya. Airmata pun jatuh. Dadanya mulai sesak. Dia benci dengan keadaan ini. Dia benci kenyataan ini.


"Kenapa tuhan??? Kenapa????" Teriaknya menantang langit.


Airmatanya berlinang tanpa bisa dia bendung.


"Aaaaaaaa...." Teriak Erick geram.


Tubuhnya dia dudukkan ke lantai. Terduduk dalam isak tangis yang pilu.