Don't Leave Me

Don't Leave Me
147



Baca cerita baru aku, yaaaa




8 Bulan Kemudian...


Shica duduk di sofa. Perutnya sudah sangat besar. Sedari tadi Dia memperhatikan ibu mertuanya yang sedang bermain dengan Deva. Ya, bagaimanapun juga, Olivia mengakui Deva sebagai cucunya, karena dia juga seorang ibu yang mengerti perasaan Shica. Dia tidak ingin Shica merasa tertekan apalagi sebentar lagi Shica akan melahirkan. Sudah tiga minggu Olivia tinggal di mansion Reynaldi. Dia selalu mencemaskan keadaan Shica yang sudah seperti putrinya sendiri.


"Omaa.. Liat.. " kata Deva. Dia membangun sebuah menara dari balok. Deva sudah bisa berbicara walau tidak terlalu lancar.


"Wahh.. Itu namanya menara apa sayang? " tanya Olivia.


"Eiffel " jawab Deva kemudian dia menoleh kearah jendela. Terlihat menara gagah itu berdiri disana.


"Wahh bagus.. " kata Olivia sambil bertepuk tangan. Deva tersenyum.


Shica tersenyum melihat keakraban mereka. Setidaknya Olivia mau mengakui Deva, meskipun Adi belum memperlihatkan sedikitpun simpatinya pada Deva. Keluarga besar Abdurrachman selalu menanyakan kabarnya dan kabar Deva. Mereka juga peduli pada Deva dan Shica. Namun hubungan Shica dengan Riska sudah terlanjur renggang. Jadi mau tidak mau, Shica memilih mendidik Deva sesuai dengan ajaran Mahali dan Adiwijaya. Namun tetap nama belakangnya Abdurrachman.


"Nanti kalo Deva udah besar, Deva mau bikin menara Deva sendiri" kata Deva membuyarkan lamunan Shica. "Benarkah? Apa nama menara-nya? " tanya Olivia.


"Rastani.. " kata Deva. Shica tersenyum mendengar kepolosan putranya. Olivia juga tersenyum kemudian menoleh kearah Shica.


"Baiklah.. Kenapa namanya Rastani? " tanya Olivia. "Karena Mommy adalah ibuku.. Ibu adalah cinta.. " kata Deva. Shica terharu mendengar ucapan putranya. Dia memeluk putranya itu.


"I love you, Deva.. "


"Love you too, Mommy.. "


Olivia tersenyum. Dia mengusap punggung Shica. Reynaldi memasuki ruangan dia terkejut mendapati adegan mengharukan itu.


"Wah? Apa aku ketinggalan sesuatu? " tanya Reynaldi. Olivia tertawa. Shica melepaskan pelukannya dan menoleh kearah suaminya.~~~~


"Kau ketinggalan banyak" kata Olivia sambil tertawa kecil.


"Daddy! " Deva melompat ke pangkuan ayahnya. "Wah.. Jagoan Daddy berat sekali.. " kata Reynaldi.


"Deva sudah besar.. " kata Deva semangat. "Wah benarkah? " tanya Reynaldi antusias. Deva mengangguk cepat.


"Daddy tidak membawa apa-apa? " tanya Deva sambil celingukan mencari sesuatu yang mungkin saja dibawa ayahnya. Karena hampir setiap hari Reynaldi membawa sesuatu yang baru ke rumah.


"Tidak ada.. Daddy lupa.. " kata Reynaldi. Deva terlihat sedih. "Yah.. "


"Gapapa Deva.. Deva kan mainannya banyak" kata Olivia. Deva tersenyum kemudian mengangguk. Shica beruntung putranya tidak rewel. Mungkin itu sifat Raihan waktu kecil yang selalu tabah.


"Memangnya Deva mau apa? " tanya Reynaldi. Deva tampak berpikir kemudian dia menghampiri Shica dan menyentuh perut besar ibunya.


"Deva mau dede bayi " kata Deva dengan polosnya. Reynaldi tertawa. "Tidak lama lagi, adikmu akan lahir Deva.. Dia akan bermain bersamamu" kata Reynaldi.


"Deva bosen main sendiri " kata Deva sambil cemberut. "Kan ada Oma" kata Olivia. "Iya, tapi Deva mau banyak orang " kata Deva.


Shica tersenyum geli melihat tingkah putranya. "Deva mau dede perempuan ya Daddy" kata Deva. Reynaldi tertawa. "Jika adik kamu yang lahir laki-laki, bagaimana? " tanya Reynaldi.


Deva tampak berpikir. "Deva mau juga kok adek laki-laki.. Tapi harus baik seperti Deva ya" kata Deva yang berhasil membuat Olivia dan Reynaldi tertawa dengan kepolosan Deva.


"Raihan.. Putramu sangat mirip denganmu.. "


Beberapa hari kemudian..


Tibalah hari dimana Shica melahirkan anak keduanya. Reynaldi tidak diperbolehkan untuk menemani Shica saat kelahiran. Dia berdiri didepan ruang persalinan bersama Deva di pangkuannya.


Reynala, Olivia dan Adi juga tampak cemas. Mereka duduk di kursi sambil sesekali saling menenangkan.


Reynaldi makin cemas saat mendengar teriakan Shica. Deva memegang erat kemeja ayahnya. Ekspresi takut dan cemas terpancar di wajah anak yang berusia hampir dua tahun itu.


"Mommy" gumam Deva.


"Mommy gapapa.. Mommy pasti baik-baik saja" kata Reynaldi. Deva mengangguk-angguk. "Dede bagaimana? " tanya Deva.


Reynaldi tersenyum. "Dede juga akan baik-baik saja " kata Reynaldi.


Terdengar tangisan bayi yang memenuhi ruang persalinan. Reynaldi terkejut. Dia segera menghampiri pintu. Olivia dan Adi saling pandang kemudian tersenyum haru.


Seorang dokter keluar dari ruang persalinan tersebut.


"Bagaimana dok? " tanya Reynaldi. "Selamat, bayi anda lahir dengan sehat.. " kata dokter sambil menjabat tangan Reynaldi.


"Terimakasih, apa aku boleh menemui istriku dan bayiku? " tanya Reynaldi. Dokter mengangguk. Reynaldi segera memasuki ruangan tersebut bersama Deva. Yang pertama dia lihat adalah Shica yang terbaring lemah.


"Mommy" Deva memeluk Shica. Shica membelai lembut rambut putranya. Reynaldi mengecup kening Shica.


"Apa kau masih merasa sakit? " tanya Reynaldi. Shica menggeleng pelan. Suster membawa bayi di pangkuannya. Reynaldi menoleh. Suster itu memberikan bayinya pada Shica.


"Selamat Nyonya.. Putra anda sangat tampan" kata suster. Shica menatap bayi kecilnya. Bayi dengan mata sapphire seperti ayahnya dan hidung mancung. Shica menyentuh pipi putranya dengan telunjuknya. "Mirip sekali denganmu" kata Shica.


"Manis sekali" kata Deva. "Ini adik Deva, sekarang Deva punya teman main " kata Reynaldi Deva tersenyum lebar.


"Terimakasih, telah memberikanku pangeran baru dan adik baru untuk Deva" kata Reynaldi. Shica tersenyum.


"Nyonya harus menyusui bayinya " kata suster. Reynaldi dan Deva pun berlalu untuk memberikan privasi untuk Shica.


Reynala segera menghampiri Reynaldi saat melihatnya keluar. "Bagaimana? Apa Shica baik-baik saja? Dan bagaimana bayinya? " tanya Reynala.


"Dia baik-baik aja.. Begitupun putra kami" jawab Reynaldi. Reynala tersenyum, "Syukurlah " kata Reynala kemudian dia menggendong Deva.


"Kamu pasti seneng kan punya adik baru" kata Reynala. Deva mengangguk cepat. "Nanti Deva punya teman main" kata Reynala.


Adi menghampiri Reynaldi. "Aku ingin melihat cucuku" kata Adi. "Papa.. Saat ini bayiku sedang butuh ASI ibunya.. Jadi kita harua memberikan privasi " kata Reynaldi.


Adi mengangguk.


By


Ucu Irna Marhamah