
Reynaldi memberikan sebuah map berwarna merah pada Shica didepan Raihan. Shica menatap Reynaldi.
"Ini apa? " tanya Shica.
"Bukalah " kata Reynaldi.
Shica membukanya. Terdapat surat didalamnya. Ternyata surat perceraian.
Shica terkejut. Dia menatap Reynaldi. Raihan melirik Reynaldi dan Shica bergantian.
"Baiklah, aku akan menandatanginya, Aldi.. Jika ini yang kau mau" kata Shica kemudian menandatangani surat tersebut.
"Aku akan pergi dari sini.. Semoga bahagia" kata Shica kemudian berbalik membuka pintu ruangan tersebut, namun dia terkejut mendapati keberadaan mertuanya.
Shica segera menyembunyikan surat cerai tersebut dibalik punggungnya.
"Hai, kau masih disini? " tanya Adi pada Raihan.
"Emm.. Itu.. Dia baru saja kemari.. Kami ingin membicarakan bisnis.. Berhubung pagi ini aku tidak ke kantor jadi dia yang datang kemari" kata Reynaldi menjawab pertanyaan ayahnya.
Shica perlahan memasukkan map itu ke laci meja di belakangnya.
"Oh begitu ya.. Reynaldi, Shica sepertinya kami tidak bisa lama-lama.. Kami akan ke Indonesia.. Ingat kamu selalu menunggu pewaris kecil Adiwijaya" kata Adi.
Raihan terkejut dia menatap Reynaldi. Sementara reaksi Reynaldi tak jauh berbeda dari Raihan.
"Baiklah.. Jaga diri kalian baik-baik ya" kata Olivia. Mereka berdua pun pergi setelah berpamitan.
Sementara itu, kesunyian melanda mereka bertiga setelah perginya Adi dan Olivia.
"Aku akan pergi" kata Shica pada Reynaldi kemudian berlalu. Namun, Reynaldi menggenggam tangan Shica.
"Kau tidak akan pergi kemanapun kecuali bersama Raihan " kata Reynaldi.
Shica menatap Raihan. "Baiklah, sesuai kemauanmu, Tuan Adiwijaya" kata Shica kemudian menepis tangan Reynaldi dan berlalu.
Reynaldi menghela napas panjang kemudian dia menghampiri Raihan. "Aku ingin kau menjaganya dengan baik, jangan sakiti dia seperti apa yang sudah aku lakukan padanya " kata Reynaldi.
Raihan menatap Reynaldi. "Apa kau baik-baik saja dengan semua ini? " tanya Raihan.
"Percayalah.. Aku sudah memikirkannya dengan matang " kata Reynaldi.
Sore itu, para pelayan pria memasukkan barang-barang milik Shica ke dalam mobil Raihan.
Kemudian Shica duduk di kursi kemudi dan Raihan duduk di sampingnya. Karena Raihan sedang sakit, jadi Shica yang akan menyetir.
Reynaldi berdiri di depan. Dia menatap mobil Raihan yang melaju meninggalkan mansion Adiwijaya.
"Maafkan aku.. Rastani.. " gumam Reynaldi.
Sementara itu, di perjalanan, Shica tampak fokus menyetir dan Raihan terdiam sesekali melirik kearah Shica.
"Besok aku akan membawamu menemui keluargaku.. Keluarga Abdurrachman " kata Raihan.
Shica terkejut dan dia menoleh kearah Raihan. "Apa? " tanya Shica.
"Kita akan menikah secepatnya " kata Raihan. Shica kembali menatap jalanan. Dia juga belum memberitahu kedua orang tuanya tentang perceraiannya dengan Reynaldi.
"Aku tidak bisa mengambil keputusan secepatnya, kita perlu bicara lagi sebelum ini" kata Shica.
"Baiklah.. Aku mengerti.. Tapi jika boleh aku bertanya, kita akan kemana? " tanya Raihan.
Seketika Shica menghentikan mobil tersebut. Dia tampak berpikir kemudian menatap Raihan.
"Aku tidak tahu" kata Shica pelan dengan ekspresi sedih.
"Tidak.. Tidak.. Jangan memperlihatkan ekspresi seperti itu.. Atau aku akan sedih juga.. Maksudku, arah ke mansionku bukan kesini.. Tapi kelewatan tadi" kata Raihan.
Shica menatap jengkel pada Raihan. Kemudian dia memutar balik mobil tersebut.
"Di mansionmu ada siapa? " tanya Shica.
"Hanya ada beberapa pelayan.. Selama ini aku tinggal sendirian.. Kamu mungkin akan merasa asing pas pertama datang.. Tapi nanti kamu akan terbiasa" kata Raihan.
"Emm.. Baiklah.. " kata Shica.
Mobil itu pun terhenti didepan mansion yang begitu megah. Mereka berdua pun turun dari mobil. Raihan menyuruh beberapa penjaga mansion untuk membawakan barang-barang milik Shica.
"Apa kau perlu ku bantu untuk berjalan? " tanya Shica sambil mengulurkan tangannya pada Raihan.
Raihan menerima uluran tangan Shica. Shica mengalungkan tangan Raihan ke lehernya dan dia merangkul pinggang kokoh Raihan.
"Tidak" jawab Shica.
Pintu mansion di bukakan oleh penjaga mansion. Mereka berdua terkejut mendapati satu keluarga berdiri di depan pintu.
"Raihan.. " gumam pria paruh baya itu.
"Shica" gumam wanita yang tak lain adalah Riska.
Shica dan Raihan saling pandang.
"Wah.. Apa ini menantu Mama? " tanya Nadhira antusias sambil merangkul Shica. Dia bicara dengan bahasa Indonesia.
"Emm.. Saya.. " Shica bingung harus bicara apa. "Raihan bilang dia tinggal sendirian, kenapa ini banyak orang? " batin Shica menjerit.
Raihan segera melepaskan dirinya dari Shica. "Emm.. Kami.. " Raihan juga terlihat bingung.
"Masuklah " kata Riska. Didalam terlihat gadis cantik duduk bersama ayahnya. Dia menoleh kearah keluarganya yang membawa Raihan dan Shica.
"Raihan? Dan kamu Shica ya? " tanya pria yang tak lain adalah Rizal, kakak iparnya Raihan.
Shica tersenyum kaku. "Assalamualaikum " sapa Shica sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Wa'alaikum salam" jawab keluarga besar itu serempak. Shica tersipu malu.
"Duduklah.. " kata Nadhira sambil mengajak Shica duduk disampingnya.
"Shica.. Apa kau mengingat gadis ini? " tanya Riska sambil merangkul gadis manis yang duduk di samping Riska.
"Emm.. Entahlah.. Aku tidak begitu ingat" jawab Shica ragu.
"Ini putriku, Lala" kata Riska. Shica terkejut. "Benarkah, kak? Wah kamu tumbuh jadi gadis manis ya sayang " kata Shica semangat.
Gadis yang tak lain adalah Lala itu tersenyum manis.
"Lala kelas lima " kata Riska. Shica tersenyum. "Oh Lala bersekolah disini? " tanya Shica.
"Tidak, kami tinggal di Singapura dan sore ini kami mengunjungi rumah Raihan.. Tapi dia tidak ada di rumah dan kebetulan dia pulang bersamamu" kata Riska.
Shica tersenyum kaku.
"Kenapa kalian datang kemari tanpa memberitahuku sebelumnya? " tanya Raihan.
"Karena kami mau memberimu kejutan" kata Hariz ketus. Raihan menghela napas panjang.
"Dan ya, kami pernah melihatmu ke rumah Rizal dulu waktu kalian masih SMA untuk menjemput Raihan ke sekolah" kata Nadhira pada Shica.
"Emm.. Iya dulu kami berteman karena kami satu kelas, sebelum Raihan pindah " kata Shica.
"Maafkan kami telah memisahkan kalian.. Dan kami harap kalian kembali lagi dan menjalin hubungan yang lebih serius " kata Hariz tanpa beban. Itu membuat Shica dan Raihan terkejut.
"Aku.. Emm.. " Shica bingung harus bilang apa.
"Sebenarnya kami memang akan menjalin hubungan, tapi Shica baru saja bercerai dengan suaminya " kata Raihan yang membuat mereka terkejut. Namun tidak ada yang berniat menyela ucapan Raihan.
"Kami akan menikah itupun setelah mendapat restu dari kalian dan orang tuanya Shica " sambung Raihan.
Nadhira membelai lembut rambut panjang Shica. "Jika kebahagiaan kalian adalah bersama, kenapa tidak ada restu? " kata Nadhira.
Raihan tersenyum bahagia. "Iya.. Tentu saja.. Kita akan memeriahkan pesta pernikahan putra dari Hariz Abdurrachman " kata Hariz dengan bangganya.
"Emm.. Tapi aku tidak mau ada pesta.. Aku mau pernikahanku dengan Shica dijalankan dengan beberapa anggota keluarga utama yang hadir, namun tetap sakral " kata Raihan.
Hariz tampak berpikir. "Baiklah.. Jika itu yang terbaik" kata Hariz.
"Tapi kita harus menjalankan tradisi, dimana wanita yang telah berpisah dengan suaminya harus menunggu empat puluh hari baru setelah itu dia bisa menikah dengan pria lain " kata Nadhira.
Raihan tersenyum. Dia merasa sangat terharu dengan situasi seperti itu.
Mereka ternyata memang ditakdirkan untuk bersama..
By
Ucu Irna Marhamah